Al-Minahus saniyah

الحمد لله – الحمد لله الذى نحمده و نستعينه ونستغفره, ونعوذ باالله من شرور انفسنا وسيئات اعمالنا, من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلن تجدله وليا مرسدا, اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له, واشهد ان محمدا عبده ورسوله, بلغ الرسالة وادى الامانة ونصح الامة وجاهد فى الله حق جهاده حتى اتاه اليقين. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين
اما بعد : فيا ايهاالحاضرون الكرام اوصيكم ونفسى بتوى الله وافعلوا الخير لعلكم تفلحون
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Marilah kita selalu berusaha dan berupaya untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah SWT yaitu dengan melaksanakan perintahNya dan sekaligus meninggalkan laranganNya.
Pada kesempatan khotbah jum’at kali ini kami akan menyampaikan materi khotbah yang khotib nukil dari Kitab Al-Minahus Saniyah tentang Pasal yang berhubungan Kejujuran dalam bekerja.
Disebutkan dalam kitab tersebut bahwa bagi seorang muslim wajib hukumnya bekerja dengan jujur dalam upaya mendapatkan rezeki yang halal karena hanya barang dan penghasilan yang halal itulah yang dapat mengantarkannya kedudukan yang diinginkan di sisi Allah SWT

Ma’asyiral jumu’ah rahimakumullah.
Dalam hal kita bekerja apapun jenis/profesi pekerjaan kita apakah sebagai pedagang, pengusaha, pegawai negeri, guru, petani, buruh nelayan dan lain-lain pekerjaan, apabila dilakukan atau bercampur dengan modus penipuan atau curang dalam melaksanakan pekerjaan tersebut maka adalah ini merupakan perkara yang tercela menurut ajaran hukum syariat Islam.
Rasulullah SAW bersabda :
ان النبي صلى الله عليه وسلم مر فى السوق على صبرة طعام, فادخل يده فيها فنالت بللا, فقال ما هذا يا صاحب الطعام ؟ فقال يا رسول الله : اصابته السماء قال : افلا جعلته فوق الطعام حتى يراه الناس, ثم قال صلى الله عليه واله وسلم :من غشنا فليس منا
Artinya :
“ Pada suatu ketika Rasulullah SAW berjalan-jalan dipasar beliau melewati setumpuk bahan makanan. Kemudian beliau memasukkan tangannya kedalam tumpukan bahan makanan itu. Ternyata di bagian dalamnya basah. Kemudian beliau bertanya : Apakah ini…? wahai…pemilik makanan ?. Jawab orang itu : Wahai Rasulullah makanan ini terkena hujan.
Baginda Rasulullah SAW bersabda lagi : Mengapa makanan yang basah ini tidak kamu taruh di atas saja, sehingga orang-orang yang ingin membeli bisa melihatnya ? Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya : Barang siapa menipu umat kami, niscaya dia bukan termasuk golonganku “ (HR. Muslim)

Orang yang dalam pekerjaannya melakukan modus penipuan atau berlaku curang, maka berarti orang tersebut telah menyimpang/melanggar dari ajaran Rasulullah SAW dan sudah barang tentu dia akan tersesat.
Pada dasarnya setiap hati kecil (nurani) seseorang atau setiap kita ini dapat mengetahui dengan pasti terhadap penyimpangan pekerjaan yang kita lakukan karena kita sendiri yang melakukan pekerjaan tersebut, apakah kita dapat berhati-hati pada pekerjaannya sesuai ketentuan agama atau malah terjerumus dalam kejurang penipuan atau kecurangan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Allah SWT telah menjadikan manusia sebagai orang yang dapat dipercaya dalam pekerjaannya, maka jika ia menipu atau berlaku curang berarti ia telah menghianati agamanya, dirinya dan manusia lain seluruhnya.
Setiap orang yang berlaku baik dan jujur dalam pekerjaannya, niscaya Allah SWT akan memberi keberkahan di dalam modal tanpa terasa olehnya sehingga ia menjadi orang yang merasa paling berkecukupan dalam hartanya dan kehidupannya.
Dan barang siapa melakukan penipuan atau berlaku curang dalam pekerjaan niscaya akan terbuka dengan sendirinya tingkah lakunya tersebut. Dan pada waktu yang relative singkat atau dalam waktu lama namun berjalan dengan pasti akan terbongkar rahasia pekerjaan yang tercela yang dilakukanya tersebut.
Sesungguhnya Allah SWT baik cepat maupun lambat telah menjadikan kemiskinan/kemudharatan dibalik penipuan atau kecurangan dan menjadikan keberkahan di balik kebaikan dan kejujuran.
Sebab itulah setiap orang Islam diwajibkan berbuat jujur dalam segala pekerjaan yang diusahakan, agar keberkahan selalu menyertai, sehingga ridho Allah SWT senantiasa berada disisinya.
Para Ulama sejak zaman dulu atau yang terkenal dengan istilah Ulama Mutaqadimin selalu mengajarkan atau meng-Ijazah-kan kepada murid-muridnya agar bekerja sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Al-qur’an dan Sunnah Rasul.
Sebagai contoh hal ini dianjurkan oleh guru-guru tariqot yang menganut aliran Naqsabandiyah maupun aliran Asy-Syadzaliyah yang mashur terutama Imam Abul Hasan Ali Asy-Syadzali mengatakan :
من اكتسب وقام بفرائض ربه تعالى عليه فقد كملت مجاهدته
Artinya :
“ Barang siapa bekerja dan teguh menjalankan perintah-perintah Allah SWT, maka benar-benar sempurna perjuangannya melawan hawa nafsu “
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Kesepakatan para jumhur ulama tentang kewajiban manusia bekerja itu memang wajib adanya, sebab manusia hidup tidak bisa terlepas dari hajat dan kebutuhan, lebih-lebih mereka yang punya tanggungan keluarga, memberi nafkah kepada keluarga terhadap anak isteri untuk biaya hidup sehari-hari, rumah tangga,biaya pendidikan, biaya kesehatan dan biaya kegiatan sosial lainya sesuai dengan kadar kemampuan nya.
Nafkah untuk keluarga hanya diperolah oleh seseorang yang mau bekerja, bekerja menurut bidang dan kemampuannya. Dengan bekerja sesorang dapat terhindar dari dari tamak dan menggantungkan diri kepada orang lain atau pihak lain, serta terhindar dari meminta-minta yang hal itu dilarang olej agama. Sebab itulah Allah SWT berfirman :
فاذا قضيت الصلوة فانتشروا فى الارض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون
Artinya :
“ Apabila telah ditunaikan seruan sholat, maka bertebaranlah dimuka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung ( QS. Al-Jumu’ah : 10)

Orang yang bekerja dapat mengetahui secara pasti bahwa hasil pekerjaannya adalah halal baik zatnya maupun sumber dan cara memperolehnya. Dan juga didalam bekerja tidak diniatkan atau dimaksudkan untuk menumpuk harta kekayaan dan kesombongan dimata orang lain sebab perkara itu dilarang oleh Agama. Sebagaimana yang telah disabda oleh Baginda Rasulullah SAW
من طلب الدنيا حلالا مكاثرا مفاخرا القى الله تعالى وهو عليه غضبان
Artinya :
“ Barangsiapa mencari dunia yang halal dengan tujuan untuk menumpuk kekayaan dan kemegahan, niscaya dia akan menghadap Allah SWT dalam keadaan Allah murka kepadanya “ (Al-Hadits)

Kemudian Imam Syafi’I mengatakan bahwa :
طلب الزيادة من الحلال عقوبة ابتلى الله بها اهل التوحيد

Artinya :
“ Mencari tambah dari keperluan sehari-hari jalan yang halal merupakan siksa Allah SWT yang dijadikan cobaan bagi orang yang ahli tauhid “

Ma’asyiral jumu’ah rahimakumullah.
Mungkin kita sedikit bingung bahkan bisa menjadi ragu-ragu lebih tragis lagi keimanan kita bisa turun gara-gara melihat fenomena kehidupan seseorang atau masyarakat yang kehidupan sangat berkecukupan, bahkan kaya dalam harta dan benda dan kehidupannya tampak senang gembira dan sehat lahir bathin….padahal mereka mengkonsumsi barang yang haram dari sumber penghasilan dari pekerjaan yang bertentangan dengan hukum agama….kenapa demikian…?
Jawabnya adalah bahwa kehidupan mereka mendapat Istidraj dari Allah yaitu bahasa mudahnya adalah diberi tangguh atau dilanjurkan sesuai kehendaknya atau dalam bahasa banjarnya dirujungi…kemudian akhirnya Allah tiba-tiba menghukumnya dengan tragis dalam kehidupan didunia…bisa menimpa dirinya…anak dan isterinya…turunan selanjutnya…dapat juga menimpa harta bendanya…atau persoalan yang berat sekali
Dalam hadits Nabi SAW definisi istidraj ini diberikan secara gamblang:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Dari Uqbah bin Amir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Jika kalian melihat Allah memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia sukai, maka sesungguhnya itu hanyalah merupakan istidraj.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”. (HR. Ahmad, Ayat yang dibacakan nabi saw adalah QS. Al-An’am: 44).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Sebagai kesimpulan khotbah kali ini bahwa haramnya sesuatu, pertama: apabila wujud/asalnya benda itu memang haram (seperti daging babi). Kedua: (atau) apabila cara mendapatkannya bathil, meskipun wujud/asalnya halal
hadits shahih yang diriwiyatkan oleh Imam Ad-Darimi rahimahullah berikut ini :
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ
Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari makanan haram.” (HR. Darimi, sanadnya shahih)

Demikian khotbah jum’at ini disampaikan semoga bermanfaat terutama untuk pribadi saya sendiri dan semoga bermanfaat bagi hadirin jemaah jum’at sekalian aamiin allhumma aamiin

واذ قرئ القران فاستمعوا له وانصتوا لعلكم ترحمون
اعوذبالله من الشيطان الرجيم
ولا تاكلوا اموا لكم بينكم بالباطل وتدلوا بها الى الحكام لتاكلوا فريقا من اموال الناس بالاثم وانتم تعلمون – صد ق الله العظيم
با رك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني واياكم بما فيه من الايات والذكرالحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هوالسميع العليم اقول قولي هذا واستغفرالله العظيم لي ولكم ولسائرالمسلمين والمسلمات والمؤ منين والمؤمنات فاستغفروه انه هو الغفورالرحيم

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s