Harta haram untuk beribadah

الحمد لله – الحمد لله الذى جعلنا من القائمين  وافهمنا من علوم الدين  اشهد ان لا اله الله وحده لا شر يك له  واشهد ان محمدا عبده ور سو له  افضل الخلق اجمعين  اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحا به ومن تبعه الى يوم الدين اما بعد : فيا ايهاالحاضرون الكرام  اوصيكم ونفسى بتوى الله وافعلوا الخير لعلكم تفلحون

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Marilah kita selalu berusaha dan berupaya untuk meningkatkan  kualitas iman dan kualitas takwa kita kepada Allah SWT yaitu dengan melaksanakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya tanpa reserve atau tanpa syarat.

Dalam hukum Islam ada tiga jenis barang, yaitu halal, haram dan syubhat (tidak jelas halal dan haramnya).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mengajarkannya dalam sebuah hadits:

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَأَهْوَى النُّعْمَانُ بِإِصْبَعَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

Dari An-Nu’man bin Basyir dia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda -Nu’man sambil menunjukkan dengan dua jarinya kearah telinganya-: ‘Sesungguhnya yang halal telah nyata (jelas) dan yang haram telah nyat(jelas). Dan di antara keduanya ada perkara yang tidak jelas, yang tidak diketahui kebanyakan orang, maka barangsiapa menjaga dirinya dari melakukan perkara yang meragukan, maka selamatlah agama dan harga dirinya, tetapi siapa yang terjatuh dalam perkara syubhat, maka dia terjatuh kepada keharaman’.” (HR. Bukhari, Muslim)

Halal itu jelas, syaratnya ada dua, yaitu: Pertama : adalah apa-apa yang baik, tidak dilarang syariat dan kedua : adalah diperoleh dengan cara yang haq pula. Ke-dua syarat ini harus terpenuhi kedua-duanya.

Haram itu jelas, syaratnya ada dua, yaitu: adalah apa-apa yang diharamkan oleh syariat dan kedua : adalah apa-apa yang diperoleh tidak dengan cara yang haq. Dua syarat ini, jika terpenuhi salah satu saja, sudah cukup untuk membuat sesuatu itu menjadi haram.

 

Ketika dihadapkan kepada daging babi, biasanya seorang muslim dengan mudah menolaknya, dengan alasan haram. Sesuai dengan syarat keharaman yang pertama, yaitu apa-apa yang diharamkan oleh syariat.

Tetapi ketika disodorkan uang, barang atau makanan semisal buah mangga, sebagian kaum muslimin ‘lupa’ untuk menimbang apakah ini halal atau haram. Hukum asal mangga adalah halal, tapi bisa menjadi haram dimakan jika diperoleh dengan cara yang batil, seperti hasil curian atau hasil korupsi atau sogokan kepada pejabat dan dari kegiatan hasil ekonomi ribawai.

Allah menegaskan larangan ini di dalam Quran:

…وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil …” (QS. Al-Baqarah [2] : 188)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Jadi kesimpulan tentang haramnya sesuatu, pertama: apabila wujud/asalnya benda itu memang haram (seperti daging babi). Kedua: (atau) apabila cara mendapatkannya bathil, meskipun wujud/asalnya halal (seperti uang dan barang hasil sogokan).

Lain ceritanya jika itu dalam keadaan darurat, maka diperbolehkan seperlunya sampai keadaan daruratnya hilang. Syarat keadaan darurat pun tidak sembarangan, misalnya ketika nyawa terancam. Hal ini dijelaskan oleh Allah di dalam surah Al Baqarah ayat 173, bahwa situasinya terpaksa, dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas. Sehingga ulama merumuskan kaidah fiqih, keadaan darurat membolehkan yang haram/dilarang. Pembahasan darurat ini bab tersendiri, tapi mudah-mudahan cukuplah firman Allah di atas menjelaskan buat kita.

Jika halal dan haram itu jelas, maka syubhat adalah hal yang tidak jelas, hal yang meragukan. Berada di tengah-tengah antara halal dan haram. Gawatnya hal seperti ini tidak sedikit kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana sikap seorang muslim terhadap barang syubhat ini?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa menikmati syubhat berarti jatuh kepada yang haram. Menjaga diri dari syubhat, berarti menjaga agama dan harga diri. Terjatuh ke dalam perkara syubhat, maka terjatuh kepada keharaman. Sengaja menerima uang tak jelas (atau pura-pura tidak tahu), berarti menerima uang haram. Jika ada manusia menerima dan menikmati uang tak jelas dengan argumen bahwa toh itu tidak haram (secara jelas), maka sama saja dengan menegaskan bahwa dia makan uang haram.

Di dalam hadits lain yang diriwayatkan dari cucu kesayangan beliau Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhuma, nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan bagaimana cara menghadapi hal-hal yang meragukan ini.

 

 

Kiat nabi saw amat sederhana: “tinggalkanlah.”

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ

“Tinggalkanlah apa yang meragukan kamu dan lakukan apa yang tidak meragukan kamu.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata hadits hasan shahih)

Setelah jelas bagi kita bahwa perkara syubhat atau meragukan itu jatuh ke jurang keharaman dan jelas pula kiat menghadapi hal itu, sekarang kita bahas apa akibatnya jika nekat tetap menikmati hal-hal yang haram itu.

Ada pertanyaan, bagaimana kalau uang haram atau syubhat itu digunakan untuk amal shalih? mulai dari berzakat atau sedekah, mendirikan masjid, naik haji atau mendanai kegiatan dakwah? Di zaman ini, tidak aneh ada orang korupsi atau merampok tapi dia rajin sedekah, menyumbang masjid, mensponsori kegiatan dakwah atau naik haji dan umroh berkali-kali. Akankah diterima Allah amalnya? Akankah menjadi penghapus atau pengurang dosanya? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab secara tuntas dan singkat dalam khotbah jum’at kali ini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Jika seorang tersangka koruptor mengatakan, “amal saya diterima atau tidak itu urusan Tuhan, bukan manusia.”

Argumen (alasan) seperti ini lazim dilontarkan oleh orang yang sudah biasa menikmati uang haram, ketika mereka tidak terima dinasehati. Betul, bahwa diterima atau tidaknya amal seorang manusia adalah hak prerogatif Allah, tapi dengan catatan itu memang amal yang haq. Misalnya, jika itu sedekah, maka itu sedekah dari uang halal. Bahkan, sedekah dengan uang halal pun belum tentu diterima Allah, misalnya kalau dengan niat membanggakan diri (ria) tentu tidak akan menjadi pahala.

Lalu bagaimana dengan sedekah atau kegiatan dakwah Islam dengan uang haram was- syubhat ?  Sekali lagi, diterima atau tidaknya suatu amal memang urusan Allah semata, tapi Allah melalui perantaraan lisan rasulNya sudah menegaskan penolakannya terhadap hal seperti ini. Mari kita simak hadits shahih berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula.” (HR. Muslim)

 

 

Artinya sangat jelas bahwa Allah tidak akan menerima sesuatu dari yang tidak baik, seperti sedekah dari uang korupsi, kegiatan dakwah dari dana syubhat, dlsb.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Sah kah berhaji dari uang haram atau syubhat? Ada perbedaan pendapat ulama tentang hal ini. Sebagian ulama menyatakannya sah selama manasiknya benar tapi dia tetap berdosa. Imam Ahmad rahimahullah menyatakannya tidak sah (Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq).

Di sini, kami tidak akan membahas masalah khilafiyah ini panjang lebar. Mari ambil satu pendapat, katakanlah hajinya sah, jika dia sudah melakukan semua rukun haji secara baik dan benar. Tapi apakah akan diterima oleh Allah? Pertanyaan ini, jawabannya kita kembalikan kepada kegamblangan hadits di atas, yang disepakati shahih dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Allah itu baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik. Dengan kata lain Allah hanya menerima yang baik. Jadi sungguh rugi repot-repot ke tanah suci padahal sudah ada kepastian ibadah hajinya tidak akan diterima Allah karena dibiayai dengan uang haram/syubhat. Sudah badan penat, keluar duit, haji tidak diterima, berdosa pula.

Demikian khotbah jum’at ini disampaikan semoga bermanfaat terutama untuk pribadi saya sendiri dan semoga bermanfaat bagi hadirin jemaah jum’at sekalian aamiin allhumma aamiin

 

واذ قرئ القران فاستمعوا له وانصتوا لعلكم ترحمون

  اعوذبالله من الشيطان الرجيم

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ – صد ق الله العظيم

با رك الله لي ولكم في القران العظيم  ونفعني واياكم بما فيه من الايات والذكرالحكيم  وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هوالسميع العليم  اقول قولي هذا واستغفرالله العظيم لي ولكم ولسائرالمسلمين والمسلمات والمؤ منين والمؤمنات فاستغفروه انه هو الغفورالرحيم

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s