MENGHINDARI KERUSAKAN

Kaidah Fiqih: Menghindari kerusakan lebih utama daripada mencari kebaikan.

Perang Saudara di Suriah

Perang Saudara di Suriah

Karena itulah banyak ulama menentang bughot karena kerusakan yang ditimbulkannya itu pasti. Sementara kebaikan berupa mendapat pemimpin yang adil, belum tentu didapat. Contohnya di Libya bukannya mendapat Khalifah yg adil dan menjalankan Syari’ah, malah didapat pemimpin boneka AS yg bersalaman dgn Hillary Clinton, wanita yg bukan muhrimnya dan menyerahkan minyak Libya ke AS.

Hillary dan Abdurrahim Al Kaib
“Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” [Al Baqoroh 11-12]
Lihat korban Perang Saudara di Suriah yang berlangsung 2 tahun lebih. Meski Mujahidin mengaku berjaya, namun 70 ribu rakyat Suriah tewas, 5 juta orang terusir dari rumahnya karena kena bom dan 1 juta orang terpaksa mengungsi ke luar negeri (Al Jazeera). Dari 70 ribu korban yang tewas, 15 ribu dari pihak pemerintah, 14 ribu dari pemberontak, dan 41 ribu warga Sipil yang tewas akibat aksi pihak pemerintah dan pemberontak. Ini terjadi dari Maret 2011-April 2013. Padahal penduduk Suriah hanya 21 juta jiwa:
Kalau Indonesia yang penduduknya 240 juta jiwa, itu setara dengan 770 ribu orng tewas, 55 juta orang terusir dari rumahnya, dan 11 juta orang mengungsi ke luar negeri. Itulah kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh Bughot.
Suriah Dirusak Asing
Bagaimana solusi untuk Bughot?
“Kalau dua golongan dari golongan orang-orang Mukmin mengadakan peperangan, maka damaikanlah antara keduanya. Kalau salah satunya berbuat menentang perdamaian kepada lainnya, maka perangilah orang-orang (golongan) yang menentang itu sehingga mereka kembali ke jalan Allah. Kalau mereka kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan memang harus berbuat adillah kamu sekalian. Sesungguhnya Allah itu mencintai pada orang-orang yang berlaku adil. (Al-Hujuraat: 9).
Jika pemimpinnya zhalim, pemimpin tsb dinasehati agar tidak zhalim dan memperbaiki sikapnya. Sebaliknya jika tidak zhalim, dan pemberontak bughot hanya karena nafsu untuk berkuasa menjadi pemimpin, pemberontak harus meletakkan senjata. Jika tidak mau, wajib diperangi:
Keterangan tentang persoalan ini dapat dijumpai dalam sepucuk surat yang dikirim oleh khalifah ali kepada kaum Bughat
احدا فان فعلتم نفدت اليكم بالحرب (رواه احمد والحكم)
Dari Abdullah bin Syaddad ia berkata, berkata Ali R.A. kepada kaum khawarij, “kamu boleh berbuat sekehendak hatimu dan antara kami dan antara kamu hendaklah ada perjanjian, yaitu supaya kamu jangan menumpahkan darah yang diharamkan (membunuh). Jangan merampok di jalan, jangan menganiaya seseorang. Jika kamu berbuat itu, penyerangan akan diteruskan terhadap kamu sekalian (HR. Ahmad dan Hakim)

LIBYA OILMinyak Libya dikuras AS dan Eropa

Bagi pemberontak bersenjata yang sudah menumpahkan darah, hukumnya adalah mati. Kecuali jika mereka menyerah.

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengangkat senjata melawan kita, bukanlah termasuk golongan kita.” Muttafaq Alaihi.

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa keluar dari kepatuhan dan berpisah dari jama’ah, lalu ia mati, maka kematiannya adalah kamatian jahiliyyah.” Riwayat Muslim.

Dari Ibnu Umar Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apakah engkau tahu wahai anak Ummu Abd, bagaimana hukum Allah terhadap orang yang memberontak umat ini?”. Ia menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Tidak boleh dibunuh orang yang luka dan tawanannya, tidak boleh dikejar orang yang lari, dan tidak boleh dibagi hartanya yang dirampas.” Riwayat Al-Bazzar dan Hakim. Hakim menilainya hadits shahih

Arfajah Ibnu Syuraih Ra berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa datang kepadamu ketika keadaanmu bersatu, sedang ia ingin memecah belah persatuanmu, maka bunuhlah ia.” Riwayat Muslim.

Jadi seandainya 6 juta ummat Islam di AS berontak terhadap pemerintah AS yang jumlah penduduknya 300 juta jiwa. Itu haram. Bisa menimbulkan banyak korban. Alih-alih umat Islam “Merdeka”, malah bisa habis dibantai karena jumlah dan senjata tidak seimbang.

Peperangan hanya dibolehkan antar negara. Saat negara Islam Madinah sudah terbentuk, maka begitu “Negara” kafir Mekkah menyerang, Negara Islam berhak membela diri. Pertempuran hanya terjadi di Medan Perang. Rakyat aman di rumah mereka masing-masing. Musuh yang mundur dari medan perang pun aman. Sementara yang menyerah ditawan untuk kemudian dibebaskan setelah perang usai. Pada perang Badar, hanya 84 orang yang tewas. Pada Perang Uhud, hanya 102 orang yang tewas. Sementara pada Futuh Mekkah tidak ada korban yang tewas (Wikipedia). Itulah Islam yang sebenarnya. Menghindari Fitnah/Pembunuhan. Bukan “Mujahidin” yang harus darah apalagi sampai membunuh sesama Muslim yang mereka kafirkan terlebih dahulu.

Pada perang antar negara, umumnya perang berlangsung di perbatasan atau di medan perang. Sehingga rakyat punya banyak waktu untuk menyelamatkan diri. Pada Bughot/pemberontakan, perang terjadi di dalam negeri. Di rumah-rumah rakyat. Sehingga rakyat jadi korban. Itulah sebabnya bughot itu haram.

Saat Futuh Mekkah, Negara Islam memberi ultimatum/pilihan sehingga musuh bisa menyerah dengan selamat. Tak ada korban dalam Futuh Mekkah. Pada saat mengepung Yerusalem pun sultan Shalahuddin Al Ayubi memberi ultimatum terlebih dahulu sehingga pihak musuh bisa menyerah dengan selamat. Itulah ajaran Islam.

Sebagaimana an- Nisa’: 59 henaknya kita taat kepada pemimpin. Sezalim apa pun selama mereka sholat, kita tidak boleh bughot.

Meski demikian, kita harus melihat APA YANG MEREKA PERINTAHKAN. Kalau perintahnya adalah maksiat kepada Allah, misalnya membunun manusia, kita tidak boleh mentaati mereka. Tidak ada ketaatan untuk maksiat kepada Allah meski kita tetap tidak boleh bughot:

Tidak ada ketaatan kepada orang yang tidak taat kepada Allah. (Abu Ya’la)

Ketaatan hanya untuk perbuatan makruf. (HR. Bukhari)

Tiada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Pencipta (Allah). (HR. Ahmad dan Al Hakim)

Sebaik-baik pemimpin adalah yang kamu cintai dan mereka mencintaimu. Kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakanmu. Sejahat-jahat pemimpin adalah yang kamu benci dan mereka membencimu. Kamu kutuk mereka dan mereka mengutukmu. Para sahabat bertanya, “Tidakkah kami mengangkat senjata terhadap mereka?” Nabi Saw menjawab, “Jangan, selama mereka mendirikan shalat. Jika kamu lihat perkara-perkara yang tidak kamu senangi maka bencimu terhadap amal perbuatannya dan jangan membatalkan ketaatanmu kepada mereka.” (HR. Muslim)

Di bawah kita saksikan berapa banyak korban tewas akibat Bughot / Perang Saudara. Ratusan ribu nyawa dan harta ribuan trilyun rupiah tak sebanding dengan kekuasaan yang akan diraih.

Saat PKI bughot di tahun 1965, tentara dan rakyat bergerak cepat. 1 juta orang tewas. Tapi pemberontakan padam hanya dalam 2 hari. Padahal jumlah penduduk Indonesia saat itu hanya 105 juta jiwa.

Perang Saudara di AS (April 1861-May 1865 (4 years, 1 month))

618.222: tewas dari 31.443.321 penduduk AS di tahun 1860 (hasil sensus terakhir sebelum perang)

Perang Saudara di Spanyol (July 1936-April 1939 (2 years, 9 months))

500,000: tewas dari 24.849.298 penduduk di tahun 1935 (menurut the National Statistics Institute of Spain)

Perang Saudara di Libya (February 2011-October 2011 (8 months))

30,000: tewas dari 6.461.454 penduduk Libya di tahun 2011 (Menurut CIA World Factbook)

http://edition.cnn.com/2013/01/08/world/meast/syria-civil-war-compare

Dari situ kenapa kita paham kalau Bughot itu haram. Menimbulkan banyak korban jiwa dan juga kerusakan material.

Seluruh negara saat ada pemberontak bersenjata, termasuk AS yang katanya menjunjung HAM, pasti membasmi pemberontak dengan tegas. Tak peduli nyaris 2% dari penduduknya tewas. Begitu pula pemerintahan negara Islam. Karena itu tak pantas para Ulama Bughot menuduh penguasa Muslim seperti Qaddafi sebagai zhalim karena memenjara/menghukum mati para pelaku bughot. Lebih baik menghukum mati 100 orang pelaku Bughot daripada 100.000 orang mati karena bughot.

Sumber:

Riyadhush Shalihin

http://www.benderaaswaja.com/2013/03/hukum-memberontakbughot.html#.UWM2zLJ4Omo

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_wars_and_anthropogenic_disasters_by_death_toll

Advertisements
Posted in Uncategorized

HUKUM BUGHOT

Hukum Bughot / Pemberontakan dalam Islam

April 23, 2013  Media Islam

Salma

Dalam jihad/bughot hendaknya kita punya ilmu lebih dahulu. Sebab amal tanpa ilmu ditolak. Bukannya masuk surga, malah masuk neraka. Kita harus paham Hukum tentang Bughot, Membunuh Muslim, Mengkafirkan Muslim, Bersekutu dengan Kafir membunuh Muslim, dsb. Hendaknya kita bertanya pada Ulama yg adil seperti Syekh Al Buti agar tidak tersesat.

Bughot itu haram bahkan thd Fir’aun sekalipun (Thaahaa 43-44) dan hukumannya adalah mati:

Arfajah Ibnu Syuraih Ra berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa datang kepadamu ketika keadaanmu bersatu, sedang ia ingin memecah belah persatuanmu, maka bunuhlah ia.” Riwayat Muslim.

Terhadap seorang rakyat yang menghina dirinya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata:
“Aku tidak seburuk Fir’aun
Dan Kamu tidak sebaik Musa.
Apa firman Allah kepada Musa:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [Thaahaa 43-44]

Membunuh sesama Muslim tempatnya neraka:

Jika terjadi saling membunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Itu untuk si pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?” Nabi Saw menjawab, “Yang terbunuh juga berusaha membunuh kawannya.” (HR. Bukhari)

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/02/07/larangan-mencaci-dan-membunuh-sesama-muslim/

Mengkafirkan orang yang mengucapkan Salam itu haram:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia…” [An Nisaa’ 94]

Haram bersekutu dengan Yahudi dan Nasrani untuk bughot membunuh sesama Muslim”

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani),..” [Al Maa-idah 52] Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Peristiwa Isro & Mi’raj dalam perspektif IPTEK

angkasa luarManusia dalam keistimewaan akalnya dan memiliki kemampuan untuk menjelajah seantero jagat raya dengan kekuasannya

يمعشر الجن والانس ان استطعتم ان تنفذوا من اقطارالسموت والارض فانذوا  لا تنفذون الا بسلطن

Artinya :  Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. (QS.Ar Rahman:33).

Menurut Mufassirin (ahli afsir) seperti : Khazin, Al Baidlawi, dan An Nasai telah memberi tafsiran bahwa arah kata سلطن (sulthan)  atau kekuasanannya ialah ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh kecerdasan otak lahir dan ilmu pengetahuan yang dihasilkan otak batin. Otak lahir disebut juga indera badani atau jasmani, sedangkan otak batin disebut indra rohani.

Rasulullah SAW sebelum DIJALANKAN   اسرى pada diri beliau telah diproteksi (dioperasi) dibedah untuk diisi dengan iman dan hikmah sebagai media proteksi  terhadap  situasi dan kondisi (ruang & waktu) lingkungan yang sangat ekstrim dan adaptasi terhadap  alam Syahadah maupun alam ghoib (yg tdk terikat ruang & waktu tadi)  dalam perjalanan misi isro & mi’raj disamping juga bahwa adalah dalam kata asraa, yang telah memperjalankan. Ini berarti bahwa perjalanan Isra Mi’raj bukan atas kehendak Rasulullah, melainkan kehendak Allah. Dengan kata lain, kita juga memperoleh ‘bocoran’ bahwa Rasul tidak akan sanggup melakukan perjalanan itu atas kehendaknya sendiri. Saking dahsyatnya perjalanan ini, jangankan manusia biasa, Rasul sekali pun tidak akan bisa tanpa diperjalankan oleh Allah.

Allah SWT dengan Qudrat & IradatNya mengutus malaikat Jibril untuk membawa Nabi melanglang ‘ruang’ dan ‘waktu’ didalam alam semesta ciptaan Allah. Mengapa Jibril? Sebab Jibril merupakan makhluk dari langit ke tujuh yang berbadan cahaya. Dengan badan cahayanya itu, Jibril bisa membawa Rasulullah melintasi dimensi-dimensi yang tak kasat mata.

Dalam beberapa catatan dalam beberapa postingan disebutkan bahwa :

Menurut ilmu Fisika bahwa suata zat yang bernama eter menjadi zat pembawa sekaligus pelantara daya elektromagnetik. Eter adalah udara yang ringan sekali, lebih ringan dari udara yang dihirup oleh manusia: O2. Dalam bahasa Arab disebut dengan “Itsir”. Jika eter bergetar, niscaya membutuhkan pula zat pembawa yang lebih halus lagi dari eter itu sendiri, agar getaran eter itu bisa tersebar ke mana-mana.

Sedangkan menurut Ilmu Metafisika, Rasul naik ke ruang angkasa melakukan perjalanan Mi’rajnya tentu membutuhkan zat pembawa yang lebih halus dari jiwa atau rohaninya. Oleh karena itu, makhluk hidup yang memiliki dua jasad: jasmani dan rohani, maka diperlukan zat pembawa yang lebih halus dari rohani itu sendiri dan mampu mengangkat jasmani Rasul sekaligus. Dan ternyata makhluk yang sangat halus itu bernama Jibril.

Selain Jibril, perjalanan super istimewa itu disertai juga oleh kendaraan spesial yang didesain Allah dengan sangat spesial bernama Buraq. Ia adalah makhluk berbadan cahaya yang berasal dari alam malakut yang dijadikan tunggangan selama perjalanan tersebut. Buraq berasal dari kata Barqum yang berarti kilat. Maka, ketika menunggang Buraq itu mereka bertiga melesat dengan melebihi kecepatan cahaya sekitar 300.000 kilometer per detik (Mustofa, 2006).

Kalau masalah cerita israiliyat,,,kami mohon maaf tidak punya ilmu yang memadai utk membedakannya (mana yang cerita israiliyat mana yang tidak) hal ini sudah menyangkut ilmunya orang Muhaditsiin (ahli ulumulhadits) yang menyangkut tentang shahih-daif, hasan, mutawair, marfu-mardut,asbabulwurud (sebab2 turunnya hadits itu sendiri) nasikh wal mansukh hadist, sanad,mudawwin, perawi, dabith tidak dabith, putus dk putus sanadnya, rawi cacat , thariqatul tarjih, -jami, tawaqquf , mujmal-mutlaq, , dll yang menyangkut lingkup bahasan ulumulhadist Yang jelas masyarakat kita lebih suku cerita2 non logical karena kita masih punya tradisi taklid buta (ingin yang serba instan) tanpa mau sedikit menyelidiki belajar disiplin ilmu agama yang cukup membebaskan kita dari jahil-murakab ke taklid yang dianggap benar (kompetent)

Seperti contoh  kutipan (nukilan) berikut ini
1. Berita yang disahkan oleh Islam dan disahkan benar.
Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahawa daripada Ibnu Mas’ud
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : جاء حبر من الأحبار إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا محمد ، إنا نجد أن الله يجعل السماوات على إصبع ، وسائر الخلائق على إصبع فيقول : أنا الملك ، فضحك النبي صلى الله عليه وسلم حتى بدت نواجذه تصديقا لقول الحبر ، ثم قرأ رسول الله صلى الله عليه وسلم : (وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ) (الزمر:67)

Maksud : “Telah datang seorang pendita Yahudi kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya kami dapati (dalam kitab kami) bahawa Allah meletakkan tujuh petala langit atas satu jari, tujuh petala bumi atas satu jari, segala pokok atas satu jari, air dan tanah atas satu jari dan seluruh makhluk atas satu jari lalu berkata, “Akulah raja.”

Mendengar itu, Nabi tergelak sehingga ternampak gusinya, membenarkan kata-kata pendita itu. Kemudian Baginda membaca (ayat 67 surah al-Zumar 39 yang bermaksud):

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNya. Maha suci Tuhan dan maha tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (H/R Bukhari)
2. Berita yang ditolak oleh Islam dan disahkan bohong.
Contohnya seperti
Sesungguhnya bumi berada di atas sebiji batu. Batu tersebut berada di atas tanduk seekor lembu jantan. Apabila lembu jantan itu menggerakkan tanduknya, maka batu tersebut pun bergerak dan bergeraklah bumi. Itulah gempa bumi.” (Disahkan palsu oleh Ibnul Qayyim dalam al-manar al-munif)
3. Berita yang tidak diiktiraf dan tidak pula ditolak
Dari Abu hurairah
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : كان أهل الكتاب يقرؤون التوراة بالعبرانية ، ويفسرونها بالعربية لأهل الإسلام ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم ، وقولوا: ( آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ)(العنكبوت: من الآية
Maksud : “Dahulu Ahli Kitab membaca al-Taurat dalam bahasa Ibraniyah dan mentafsirkannya dalam bahasa Arab untuk orang Islam. Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jangan percaya Ahli Kitab dan jangan dustakan mereka. Katakanlah “Kami telah beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada kamu.” (al-Ankabut 29:46). (H/R Bukhari)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kaganangan

KH. Aswadie  Syukur, (Alm)

Aswadie

Nama lengkap beliau Prof. Drs. KH. Muhammad Asywadie Syukur, Lc beliau dilahirkan di Banua Hulu, Lahei, Barito Utara, Kalimantan Tengah pada tanggal 18 Agustus 1930, dari pasangan Syukur  dan Iyah.

KH. M. Asywadie Syukur memulai pendidikannya dasarnya di Benua Hulu, lulus tahun 1953, melanjutkan ke Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP) di Martapura, Kalimantan Selatan. Setamat dari SMIP melanjutkan studi ke Ma’had Buuth Islamiyah Al Azhar di Mesir. Pada tahun 1960 melanjutkan ke Fakultas Syari’ah Universitas Al-Azhar, selesai pada tahun 1965.

Selesai pendidikan, KH. M. Asywadie Syukur ditugaskan sebagai dosen Fakultas Syariah IAIN Antasari sejak tahun 1967. Setahun di kampus, beliau dipercaya sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Tarbiyah yaitu sejak 1968 – 1970. Sejak 1970 – 1975, beliau terpilih sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah.

Tahun 1975, beliau melanjutkan studi Universitas Al Azhar Jurusan Ushul Fiqh. Selesai studi, beliau kembali menjabat Dekan Fakultas Dakwah IAIN Antasari periode 1981 – 1983. Pada periode yang sama, beliau terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan periode 1982 – 1987. Selepas tugas sebagai Anggota DPRD, beliau kembali menjabat Dekan Fakultas Dakwah periode 1995 – 1997. Belum habis masa jabatan sebagai Dekan, kemudian dipercaya sebagai Rektor IAIN Antasari sejak tahun 1997 sampai tahun 2001. Ketika menjadi Rektor, beliau membuka Program Pascasarjana (S2) untuk Ilmu Tasawuf dan Filsafat Hukum Islam. Pada periode ini, beliau juga tercatat sebagai Anggota MPR sebagai Utusan Daerah periode 1997 – 2002.

Selain itu, KH. M. Asywadie Syukur juga dipercaya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Selatan sejak tahun 1980 – 1990. Kemudian periode 1995 s/d 2011 beliau kembali dipercaya sebagai Ketua MUI.

Selain aktif di MUI, KH. M. Asywadie Syukur juga aktif di beberapa organisasi seperti Pengurus Palang Merah Indonesia  (PMI) Kalimantan Selatan  tahun 1986 – 1992, Ketua Majelis Dakwah Islamiyah Provinsi Kalimantan Selatan tahun 1983 – 1988, Ketua Dewan Mesjid Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan tahun 1985 – 1992, Pengurus GAKARI Provinsi Kalimantan Selatan tahun 1983 – 1993, Pengurus Persatuan Pertahanan Takekat Islam (PPTI) Provinsi Kalimantan Selatan tahun 1984 – 1993, Pengurus Ikatan Cendekiaawan Muslim Indonesia (ICMI) tahun 1991 – 2001, Ketua Badan Amil zakat, Infaq dan Shadaqah (BAZIS) Provinsi Kalimantan Selatan tahun 1995 – 1998.

KH. M. Asywadie Syukur merupakan seorang ulama yang produktif. Banyak tulisan beliau yang diterbitkan, diantaranya Filsafat Al-Qur’an (1969), Filsafat Islam (1969), Islamologi (1970), Pengantar Ilmu Agama Islam (1975), Ilmu Tasawuf (1980), Perbandingan Mazhab (1980), Apakah Hukum Islam Dipengaruhi oleh Hukum Romawi (1981), Studi Perbandingan tentang Masa dan Lingkungan Berlakunya Hukum Positif dan Fikih Islam (1990), Sejarah Perkembangan Dakwah Islam dan  Filsafat Tasawuf di Indonesia (1982), Studi Perbandingan tentang Beberapa Macam Kejahatan dalam KUHP dan Fikih Islam (1990), Filsafat Tasawuf dan Aliran-alirannya (1981), Bimbingan Ibadah Bulan Ramadhan (1982), Asas-Asas Hukum Perdata Islam (1970), Asas-asas Hukum kebenaran dan Perjanjian dalam Fikih Islam (1984), Intisari Hukum Pewarisan dalam Fikih Islam (1992), Intisari Hukum Wasiat dalam Fikih Islam (1992), Intisari Hukum Perkawinan dalam Fikih Islam (1985), Pengantar Ilmu Fikih dan Ushul Fikih (1990), Khotbah Sebagai Media dan Metode Dakwah (1982), Strategi dan Teknik Dakwah Islam (1982), Ilmu Dakwah (1970), Hukum Konstitusi dalam Fikih Islam (1990), Hukum Keuangan dalam Fikih Islam (1990), Internasional Dalam Fikih Islam (1990), Ringkasan Ilmu Perbandingan Mazhab (1983), Laporan Penelitian tentang Naskah Risalah Tuhfatur Raghibin (1990), Konsultasi Hidup dan Kehidupan 1 (2002).

Selain itu beliau juga menterjemahkan beberapa buku, seperti Dasar-Dasar Ilmu Dakwah (1979), Metodologi Ilmiah (1986), Allah Menurut Syari’ah Islam (1982), Beberapa Petunjuk untuk Juru Dakwah (1982), Kitab Sabilal Muhtadin (1967), Lima Kaidah Pokok dalam Fikih Mazhab Syafi’I (1986), Risalah Syarah Fathil Rahman (1991), Risalah Kanzil Ma’rifah (1991), Ummil Barahim (1992), Syarah Hududhi ‘ala Ummil Barahin (1992), Kitab Tanwirul Qulub (1992), Kitab Aqidatin Najin (1992), Kitab Tahqiqul Maqam ‘ala Kifayatil Awam (1992), Kritik terhadap Hadits Nur Muhammad Riwayat Abdurrazak (1983), Tasawuf dan Kritik terhadap Filsafat Tasawuf (1983), Pemikiran-pemikiran Tauhid Syekh Muhammad Sanusi (1994), Al-Milal wa Al-Nihal (2005).

KH. M. Asywadie Syukur dikenal masyarakat luas karena beliau sering mengisi siaran RRI dalam acara Konsultasi Hidup dan Kehidupan. Acara ini berisi Tanya jawab tentang syariat Islam yang sering terjadi dikehidupan sehari-hari. Jawaban beliau terasa lugas dan mengena terhadap persoalan. Sehingga masyarakat sangat menyukai acara ini, selain itu suara khas beliau sangat meneduhkan hati.

KH. M. Asywadie Syukur meninggal diusianya 71 tahun, beliau meninggal  Sabtu petang, 27 Maret 2010 di rumahnya Jalan Sultan Adam Kompleks Madani Nomor 5 Banjarmasin. Kemudian beliau dimakamkan di Martapura. Saat ini sedang dibangunkan kubah di atas areal pemakaman beliau.

( Terakhir hasupa beliau…waktu jadi imam sholat jenazah paman ulun (Drs.H. Aswad Sudjani) …aken hagian yawi beliau (ulu bakas te)..

http://bumibanjar.blogspot.com/2012/04/kh-m-aswadie-syukur.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Masalah me-lafadz-kan niat pada Sholat

Kupas Tuntas ; Kesunnahan Melafadzkan (Mengucapkan) takbir-31Niat Ketika Akan Memulai Shalat

Alhamdulillah Puji dan syukurku tak henti-hentinya kepada pemilik alam semesta ini, pengatur hidup makhluk ini, pengasih dan penyayang setiap makhluknya, maha adil, maha bijaksana, maha pengampun hambanya yang kembali kepadanya. Sholawat dan Salam Allah, Malaikat dan semua makhluk, tetap tercurah tanpa henti-hentinya kepada makhluk yang paling mulia, kekasih raja alam, pemimpin manusia, Nabi muhammad SAW, beserta keluarga, para sohabat, tabi’in, tabi’u tabi’in, dan semua yang mengikuti mereka hingga Akhir alam ini.
Dari : KAJIAN KITAB KLASIK PESANTREN SUNNI (SALAFIYAH)
Melafadzkan niat sudah masyhur dikalangan masyarakat, hal ini bukan tanpa dasar tapi Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jawaban Allah

قَالَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ حِكَايَةً عَنِ اللهِ تعَاَلىَ : قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ

Nabi saw bersabda bahwa Allah swt berfirman : “Shalat Kubagi dua bagian  antara Aku dan Hambaku”.

فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Apabila seorang hamba berkata : “Dengan nama Allah Yanng Maha Pengasih Maha Penyayang”

يَقُوْلُ الله ُتَعَالىَ : ذَكَرَنِى عَبْدِى

Allah menjawab : “Hamba-Ku telah mengingat-Ku”.

وَإِذَاقَالَ : الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالمَِيْنَ

Bila sang hamba berkata : “Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam”.

يَقُوْلُ الله ُ: حَمِدَنِى عَبْدِى

Allah menjawab : “Hamba-Ku telah memuji-Ku”. 

 وَإِذَا قَالَ : الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Bila sang hamba berkata : “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” 

 يَقُوْلُ الله ُ: عَظَّمَنِى عَبْدِى

Allah menjawab : “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”. 

وَإِذَا قَالَ : مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

Bila sang hamba berkata : “Raja yang menguasai hari pembalasan”. 

يَقُوْلُ الله ُ: مَجَّدَنِى عَبْدِى

Allah menjawab : “Hamba-Ku telah memuliakan-Ku”.

وَإِذَا قَالَ:  إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

Bila sang hamba berkata : “Hanya kepada Engkau kami menyembah dan kepada Engkau kami memohon pertolongan”.

يَقُوْلُ الله ُتَعَالىَ : هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَاسَأَلَ

Allah menjawab : “Ayat ini antara Aku dan hamba-Ku; dan hamba-Ku berhak atas apa yang ia minta”.

 وَإِذَا قَالَ : اِهْدِنَاالصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِيْنَ

Sang hamba berkata : “Tunjukilah aku ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engaku beri nikmat, bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jalannya orang-orang sesat”.

 يَقُوْلُ الله ُ: هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَاسَأَلَ.

Allah menjawab : “Ini semua untuk hamba-Ku dan hamba-Ku berhak atas apa yang ia minta”.

KH.Husin Nafarin, Lc.MA : al Tafsir al Kabir, oleh Imam al Fakhru al Razi Juz I hal. 270.

Aside | Posted on by | Leave a comment