Zuhud

KISAH TIGA ULAMA ZUHUD

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ
Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia. (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan).
Ali berkata : “Barangsiapa yang berlaku zuhud di dunia, maka akan terasa ringan musibah-musibah yang menimpa dirinya”.
ZUHUD Tapi Gemuk

IMAM WAQI’ BIN AL JARAH adalah seorang ulama zuhud dari Iraq. Ulama mujtahid yang berfatwa dengan pendapat Imam Abu Hanifah ini rajin berpuasa dan qiyam lail. Suatu saat beliau mengunjungi Makkah dan kala itu tubuh beliau tambun, hingga Fudhail bin Iyadh bertanya,”Bagaimana anda gemuk, sedangkan anda adalah “rahib” Irak?”

Imam Waqi’ pun menjawab,”Ini karena saya bahagia dengan Islam.” Memperoleh jawaban demikian, Fudhail bin Iyadh pun diam. (lihat, Tadzkirah Al Huffadz, 1/306-309)

1.    Umair bin Sa’ad: Kisah Gubernur yang Zuhud

Khalifah Umar bin Khaththab mengutus Umair bin Sa’ad untuk menjadi gubernur Himsha. Namun setelah memerintah selama satu tahun Umar tidak pernah mendapat kabar darinya sedikit pun. Lalu Umar meminta kepada sekretarisnya, “Tulislah surat untuk Umair, demi Allah dia telah mengkhianati kita.”

Surat itu berbunyi, “Jika engkau telah menerima suratku ini maka segeralah menghadap membawa pajak kaum muslimin, langsung setelah engkau melihat surat ini.”

Umair bergegas mengambil kantong kulitnya. Ia memasukkan bekal perjalanannya dan tempat makannya. Kemudian menggantungkan peralatan-peralatan tersebut pada bahunya, juga membawa tongkat besi. Ia berjalan kaki dari Himsha menuju Madinah.

Diriwayatkan bahwa saat tiba di Madinah beliau kelihatan pucat wajahnya, lusuh dengan rambut panjang. Kemudian beliau menghadap Umar seraya mengucapkan salam.

Umar bertanya, “Bagaimana kabarmu?” Umair menjawab, “Sebagaimana yang Anda lihat! Bukankah badanku sehat, darahku suci, aku membawa kebaikan isi dunia!”

Umar bertanya, “Apa yang kau bawa?” (Umar mengira ia telah membawa harta pajak). Umair menjawab, “Aku membawa kantong kulit, tas tempat aku menaruh bekal perjalananku; mangkuk besar yang aku gunakan untuk makan atau aku jadikan sebagai tempat air ketika aku mandi dan mencuci pakaian, ember tempat aku membawa air wudhu dan air minumku, tongkat yang aku gunakan untuk bersandar atau melawan musuh jika sewaktu-waktu bertemu. Demi Allah sesungguhnya tiada barang dunia kecuali telah aku bawa bersama bawaanku.”

Umar bertanya, “Kamu datang kemari dengan berjalan kaki?” Umair menjawab, “Betul.”
Umar bertanya, “Apakah tidak ada orang yang memberi kendaraan kepadamu untuk engkau tunggangi?” Umair menjawab, “Mereka tidak memberi karena aku tidak meminta mereka untuk itu.” Umar berkomentar, “Mereka adalah seburuk-buruknya orang Islam.” Umair berkata kepada Umar, “Bertawakallah kepada Allah wahai Umar, sesungguhya Allah melarangmu berghibah. Padahal aku senantiasa melihat mereka melaksanakan shalat Shubuh.”

Umar berkata, “Lalu mana laporanmu? Dan apa yang telah engkau lakukan?” Umair menjawab, “Apa maksud pertanyaanmu wahai Amirul Mukminin?”

Umar mengucapkan, “Subhanallah!” Umair berkata, “Kalau bukan karena aku khawatir membuatmu susah hati aku tidak akan melaporkan kepadamu. Engkau mengutusku ke suatu wilayah sehingga setibanya aku di negeri itu aku mengumpulkan orang-orang shalih dari penduduk tersebut, aku memungut pajak dari mereka, sampai jika mereka telah mengumpulkannya, maka aku bagikan kepada yang berhak. Kalau engkau berhak menerima bagiannya pasti aku membawakan bagian itu untukmu.”

Umar berkata, “Lalu engkau datang tidak membawa sesuatu?” Umair menjawab, “Tidak.”
Umar berkata, “Perpanjanglah masa tugas Umair.” Umair berkata, “Sesungguhnya tugas ini tidak akan saya tunaikan untukmu juga pemimpin sesudahmu. Demi Allah, dengan jabatan tersebut aku tidak selamat juga tidak pernah akan selamat. Telah aku katakan kepada stafku, ‘Allah telah merendahkan martabatmu wahai Umair, dengan jabatan itu,’ apakah untuk hal demikian itu engkau tawarkan jabatan kepadaku lagi wahai Umar? Sesungguhnya hari-hariku yang paling tidak menguntungkan adalah saat aku menjadi wakilmu.” Kemudian Umair minta pamit untuk pulang ke rumahnya, Umar pun mengizinkan.

Seorang perawi berkata, “Jarak antara Himsha dengan Madinah adalah beberapa mil. Ketika Umair pulang ke Himsha Umar berkata, ‘Sepertinya Umair menghianati kami.’ Kemudian Umar mengutus seorang ajudan yang sering dipanggil dengan nama al-Harits dan dibekali 100 dinar. Umar berpesan, ‘Pergilah ke tempat Umair usahakan engkau menginap di rumahnya sebagai seorang tamu. Apabila engkau melihat bukti-bukti kekayaan, kembalilah! Namun jika kondisinya memprihatinkan berikanlah 100 dinar ini kepadanya.’

Kemudian al-Harits berangkat menuju Himsha. Setibanya di kediaman Umair, ia lihat Umair sedang duduk menenun jubahnya dengan disandarkan ke sisi dinding. Al-Harits mengucapkan salam kepadanya, lalu Umair berkata, ‘Mampirlah kemari, semoga Allah mencurahkan kasih sayangNya kepadamu.’ Benar lelaki tersebut mampir, Umair menyapa, ‘Dari mana anda datang?’ Ia menjawab, ‘Dari Madinah.’

Umair berkata, ‘Bagaimana kondisi Amirul Mukminin ketika kamu berangkat kemari?’
Ia menjawab, ‘Baik-baik saja.’
Umair bertanya, ‘Bagaimana pula kondisi umat Islam?’ Ia menjawab, ‘Mereka juga baik-baik saja.’

Umair bertanya, ‘Bukankah beliau (Khalifah Umar) akan menegakkan hudud (hukuman)?’ Ia menjawab, ‘Benar. Beliau memukul anaknya yang melakukan pelanggaran, sehingga meninggal dunia karena kerasnya pukulan itu.’

Umair berkata, ‘Ya Allah, tolonglah Umar. Sesungguhnya aku tidak mengenalnya kecuali ia seorang yang tegas (keras) karena kecintaanya kepadaMu.’

Diriwayatkan bahwa al-Harits tinggal di rumah Umair selama tiga hari. Keluarga ini tidak memiliki bahan makanan kecuali gandum sedikit, mereka sengaja menyisihkan untuk disuguhkan pada tamu. Sampai datang suatu hari mereka kelihatan sangat susah, ketika itu Umair berkata, ‘Kamu tinggal di sini tapi kami tidak mampu melayani dengan baik, jika ingin berpindah dari sini silahkan.’

Kemudian al-Harits mengeluarkan uang dinar tersebut dan memberikan kepada Umair. Al-Harits berkata, ‘Uang dinar ini diberikan Amirul Mukminin kepadamu, gunakanlah untuk memenuhi kebutuhanmu.’ Seketika itu Umair berteriak sambil berkata, ‘Saya tidak membutuhkan uang ini, kembalikan.’

Isteri Umair berkata, ‘Kalau engkau membutuhkan ambillah, jika tidak maka berikan pada yang berhak.’

Umair berkata, ‘Demi Allah aku tidak memiliki kepentingan dengan dinar itu.’ Kemudian Isteri Umair merobek bagian bawah pakaiannya, lalu ia memberikan sobekan kain itu kepada suaminya. Uang itu dimasukkan Umair ke dalam kain sobek tersebut lalu keluar rumah untuk membagi-bagikannya kepada anak-anak para syuhada dan fakir miskin. Setelah selesai ia pulang ke rumah.

Ajudan Umar mengira dirinya akan mendapat bagian dinar itu sekalipun sedikit (ternyata tidak -pent). Umair berkata, ‘Aku berkirim salam kepada Amirul Mukminin.’
Sekarang al-Harits kembali menghadap Umar. Ketika itu Umar bertanya, ‘Apa yang kamu saksikan di sana?’ Al-Harits menjawab, ‘Wahai Amirul Mukminin, aku lihat kondisinya sangat memprihatinkan.’

Umar bertanya, ‘Bagaimana dia menggunakan dinar tersebut?’ Al-Harits menjawab, ‘Aku tidak tahu.’

Lalu Umar menulis surat kepada Umair, ‘Jika suratku ini datang kepadamu, janganlah engkau letakkan dari tanganmu kecuali engkau segera menghadap kepadaku.’

Umair pun datang menghadap Umar, setelah ia masuk ruangan, Umar bertanya, ‘Apa yang engkau lakukan dengan uang dinar tersebut?’ Ia menjawab, ‘Terserah aku bagaimana memanfaatkannya, mengapa engkau menanyakan kegunaan uang dinar itu?’

Umar berkata, ‘Aku mohon padamu, berikan laporan kepadaku tentang penggunaan uang dinar itu!’ Umair menjawab, ‘Aku pergunakan untuk diriku.’

Umar berkata, ‘Semoga Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepadamu.’ Kemudian Umar memerintahkan agar Umair dibekali tepung makanan dan dua helai pakaian. Umair berkata, ‘Kalau berupa makanan, aku tidak membutuhkannya, karena aku telah meninggalkan dua sha’ gandum untuk kebutuhan keluargaku, makanan itu akan cukup sampai aku pulang lagi dan memakannya karena Allah senantiasa melimpahkan rizkiNya.’ Umair tidak mengambil makanan yang ditawarkan tadi. Adapun mengenai dua helai pakaian, Umair berkata, ‘Ummu fulan tidak memiliki pakaian,’ lalu beliau mengambil keduanya kemudian pulang ke rumah (Himsha).

Tidak berselang lama, Umair meninggal dunia, semoga Allah mencurahkan rahmatNya. Berita wafatnya sampai ke Umar. Beliau merasa terpukul dan iba. Kemudian pada suatu hari beliau keluar dengan berjalan kaki bersama para sahabat menuju Baqi’ul Garqad. Umar berkata kepada para sahabat, ‘Hendaknya setiap kalian mempunyai harapan (cita-cita).’ Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin aku ingin sekiranya aku mempunyai harta maka harta itu akan aku gunakan untuk memerdekakan budak karena Allah Ta’ala sekian dan untuk anu sekian.’

Sahabat yang lain berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin aku ingin sekiranya mempunyai harta maka akan aku infakkan di jalan Allah.’ Yang lain berkata, ‘Sekiranya aku mempunyai kekuatan tentu aku akan membuka saluran air Zam-zam untuk jamaah haji Baitullah.’

Lalu Umar berkata, ‘Kalau aku, ingin memiliki seseorang seperti Umair bin Sa’ad, aku meminta pertolongan kepadanya dalam urusan kaum Muslimin’.” (Al-Hilyah, 1/247-250.)

(dari kisahislam.net, sumber : Buku “99 Kisah Orang Shalih”, Penerbit Darul Haq)

2. Abdullah bin Mubarak bin Wadhih al Handzaly at Tamimy

Abdullah bin Mubarak bin Wadhih al Handzaly at Tamimy atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Mubarak dilahirkan pada tahun 118 Hijriyah, di sebuah kota wilayah Khurasan bernama Maru. Pada masa khalifah Umayyah, Hisyam bin Abdul Malik. Dan wafat pada tahun 181 Hijriyah (797 Masehi), di masa khalifah Abbasiyyah, Harun ar Rasyid. Ibnu Mubarak merupakan salah seorang dari pengikut tabiin.

Ibnu Mubarak tumbuh dan berkembang di kota kelahirannya. Saat itu kota Maru merupakan pusatnya ilmu dan ulama. Ia tumbuh dari keluarga Muslim yang taat kepada ajaran Islam. Ayahnya bekerja sebagai penjaga kebun, yang kemudian beralih profesi sebagai pedagang. Masa kecil Ibnu Mubarak ia habiskan dengan mempelajari berbagai ilmu dengan berguru kepada para ulama. Sehingga dasar-dasar ilmu keislaman tertanam kuat dalam dirinya.

Ibnu Mubarak adalah orang yang beruntung bisa merasakan masa-masa kejayaan Dinasti Abbasiyyah. Di zaman itu berkembang pesat berbagai disiplin ilmu, mulai dari Fiqih, Hadist dan Sastra. Tercacat beberapa ulama besar yang hidup saat itu seperti Imam Al Auza’i, Sufyan at Tsauri, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, serta beberapa ulama besar lainnya.

Ibnu Mubarak melakukan perjalanan mencari ilmu keseluruh penjuru jazirah Arab. Yaman, Syam, Hijaz, Bashrah, Kuffah dan Mesir adalah negeri-negeri yang pernah didatanginya. Abu Usamah dalam Tazkiratu-l Huffadz mengatakan, “aku tidak melihat seseorang yang paling giat mencari ilmu keseluruh penjuru negeri selain Ibnu Mubarak.” Dalam riwayat lain disebutkan Ibnu Mubarak mengunjungi kurang lebih seperempat dunia untuk mencari hadist-hadist.

Disebabkan kesungguhannya mencari ilmu dan banyaknya bertemu dengan para ulama, menjadikan Ibnu Mubarak sebagai orang yang berwawasan luas. Ia dikenal sebagai ahli Hadist yang tsiqah, ahli Fiqih dan juga seorang sastrawan. Dari semua disiplin ilmu yang ia kuasai, ilmu hadist-lah yang paling menonjol darinya. Karena pengetahuannya tentang hadist yang mendalam, orang-orang menjulukinya dengan sebutan “dokter”. Kata-katanya yang termasyhur dikalangan ulama hadist yaitu, “sanad bagian dari agama. Kalaulah bukan karena sanad, niscaya orang akan berbicara semaunya.” Satu waktu ia juga mengatakan, “seorang yang menuntut ilmu tanpa sanad bagaikan naik atap tanpa memakai tangga.” Guru-gurunya dalam bidang hadist tidak terhitung, sebuah riwayat menyebutkan Ibnu Mubarak berguru kepada 800 orang ulama. Sementara itu dalam bidang fiqih ia berguru kepada Sufyan At Tsauri, Malik bin Anas dan Abu Hanifah. Karya Ibnu Mubarak yang sangat populer adalah kitab Az Zuhd.

Dan yang membuat pribadi agung ini lebih istimewa adalah peranannya di medan jihad. Adalah Ibnu Mubarak semasa hidupnya berkali-kali terlibat dalam peperangan. Ia sering mengajarkan pasukan Islam tentang keberanian dan teknik berperang. Ibnu Mubarak memiliki keyakinan manisnya iman hanya bisa didapat dengan berjihad di jalannya. Maka ketika ia melihat al Fudhail bin ‘Iyyad hanya larut dalam beribadah di mesjid Nabawi, ia mengirim bait-bait puisi yang salah satu baitnya berbunyi:

Wahai Abid Haramain
Jika engkau melihat kami,
Niscaya engkau akan tahu,
Sesungguhnya ibadahmu hanya main-main.

Sang Zahid yang Hartawan

Banyak ulama menyebut Ibnu Mubarak sebagai imamnya ahli zuhud. Gelar itu memang sangat layak, ia bukan saja mengetahui hakikat zuhud, akan tetapi menerapkannya dalam segenap jiwa dan raganya. Terkadang orang salah memahami makna zuhud, bahwa zuhud adalah meninggalkan dunia, hidup dalam kemiskinan, mengasingkan diri dari kehidupan sosial, lalu menggantungkan hidupnya pada belas-kasih para dermawan. Inilah zuhud yang salah.

Ibnu Mubarak adalah seorang zahid yang hartawan. Kecerdasannya dalam berbisnis berasal dari ayahnya dan gurunya Imam Abu Hanifah, yang juga seorang pebisnis sukses. Ibnu Mubarak memiliki harta yang banyak dan bisnis yang beragam. Ibnu Katsir dalam al Bidayah wa an Nihayah, menyebutkan bahwa Ibnu Mubarak memiliki modal sekitar 400 ribu Dinar. Jumlah yang sangat banyak pada waktu itu. Modal itu ia kembangkan untuk berbisnis di beberapa negeri yang ia kunjungi. Dari keuntungan bisnisnya yang berkisar sekitar 100 ribu Dinar itu ia infaq-kan semuanya di jalan Allah.

Ketika ditanya mengapa ia masih berbisnis, bukankah ia mengajarkan orang untuk senantiasa zuhud pada dunia? Simaklah jawaban Ibnu Mubarak berikut ini, “aku berbisnis untuk menjaga kehormatanku—dari para penguasa dan meminta-minta. Dengan harta, membantuku semakin taat kepada Allah. Tidak satu pun hak Allah yang aku ketahui, kecuali segera aku melaksanakannya.”

Abdullah bin Mubarak suatu hari menjamu makan orang-orang miskin, lalu setelah itu dia berkata,

لَوْلاَكَ وَأَصْحَابَكَ مَا اتَّجَرْتُ

“Kalau bukan kalian dan orang-orang seperti kalian, saya tidak akan berdagang….”
(Siyar A’lam An-Nubala..)

3.     Nenek Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz, itulah dia mukjizat Islam! Sebuah lembaran putih di antara lembaran-lembaran hitam dinasti Bani Marwan. [1] Sosok manusia pilihan yang lahir dari perpaduan antara dua unsur yang amat bertolak belakang!

Ya, sekali lagi amat bertolak belakang! Mengapa demikian?

Ia terlahir dari keluarga Bani Umayyah yang terhitung keluarga ningrat, pemegang tampuk kekuasaan. Ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan, seorang gubernur Mesir yang diangkat oleh saudaranya, Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan. Abdul Aziz memerintah Mesir selama 20 tahun.

Sebagai gubernur, hidupnya tentu penuh dengan kenikmatan. Hidangan lezat, istana megah, pakaian indah, dan kendaraan mewah. Adapun ibunya bernama Ummu ‘Ashim, Laila binti ‘Ashim bin Umar bin Khaththab. Seorang wanita dari keluarga Umar bin Khaththab yang tersohor dengan kezuhudan dan pola hidupnya yang amat bersahaja.

Nah, dari perpaduan dua unsur inilah terlahir sosok Umar bin Abdul Aziz, si Mukjizat Islam. Sungguh, riwayat hidupnya merupakan fenomena yang sangat luar biasa. Menggambarkan sosok pribadinya, sungguh merupakan suatu hal yang sulit dilakukan.

Memang benar, terhadap suatu sejarah besar, selalu ditemui pertanyaan dan keraguan yang mengharubirukan kita tentang diri seorang besar dan pemimpin adil semisal beliau ini.

Sebenarnya, kesulitan sesungguhnya yang kita hadapi ialah dari sekian banyak kumpulan fakta yang berhubungan dengan kebesaran dan kelebihannya, sisi mana yang mesti diambil dan mana yang mesti ditinggalkan. Ketaatan dan ketekunannya dalam beribadah, ketinggian jiwanya, kewibawaannya, keadilannya, atau sepak terjangnya yang mengagumkan itu? [2]

Akan tetapi, agar pembaca tak terlena karena terlalu asyik mengikuti cerita ini, maka kali ini penulis hanya ingin menitikberatkan pada salah satu faktor utama yang ikut mewarnai pribadi seorang Umar bin Abdul Aziz. Faktor tersebut bermula dari keshalihan istri ‘Ashim bin Umar bin Khaththab, yang merupakan nenek dari Umar bin Abdul Aziz.

Khalid Muhammad Khalid, seorang penulis mesil kondang menuturkan dalam bukunya Khulafaur Rasul sebagai,

Waktu itu, malam gelap gulita. Kota Madinah telah tertidur lelap. Semua orang sedang terbuai dalam mimpi di rumahnya masing-masing. Namun, di sana masih ada seseorang yang tetap terjaga karena gelisah diusik rasa tanggung jawabnya yang demikian besar, dan memang ia selalu gelisah seperti itu, sehingga tak pernah barang sekejap pun dapat berdiam diri.

Ditelusurinya jalan-jalan dan lorong kota Madinah yang sempit itu, yang terasa hanyalah kegelapan malam yang hitam pekat bagai tinta, dan angin dingin yang menusuk tulang.

Orang itu keluar dan berjalan mengendap-endap. Setiap rumah diamatinya dari dekat dengan seksama. Dipasangnya telinga dan matanya baik-baik, kalau-kalau ada penghuninya yang masih terjaga karena lapar, atau yang tak dapat memicingkan matanya karena sakit, atau yang merintih dalam penderitaan, atau barangkali ada seorang pengelana yang terlantar.

Ia selalu mengamati kalau-kalau ada kepentingan rakyatnya yang luput dari perhatiannya, karena ia yakin betul bahwa semuanya itu nanti akan dimintakan pertanggungjawaban kepadanya. Diperhitungkan inci demi inci, butir demi butir, dan tak mungkin ada yang terlewatkan di hadirat Allah Ta’ala.

Orang itu adalah khalifah kaum muslimin, sosok yang selama ini mereka panggil dengan Amirul Mukminin. Benar! Ia tiada lain adalah Umar bin Khaththab.

Sudah panjang jalan dan lorong yang ditelusurinya malam itu, sehingga tubuhnya terasa letih, keringat pun mengucur dari sekujur tubuhnya meskipun malam itu begitu dingin. Oleh sebab itu, ia menyandarkan tubuhnya pada sebuah dinding rumah kecil nan reot.

Karena letih, ia duduk di tanah sambil mencoba beristirahat barang sejenak. Setelah letih kedua kakinya mulai terasa berkurang, ia bermaksud melanjutkan langkah menuju ke mesjid. Sebab, tidak lama lagi fajar segera menyingsing.

Tiba-tiba, di saat duduk bertumpu pada kedua tangannya, didengarnya ada suara lirih dalam gubuk itu. Suara itu merupakan percakapan yang terjadi antara seorang ibu dengan anak gadisnya. Yaitu tentang susu yang baru saja mereka perah dari kambing mereka, untuk dijual di pasar pagi hari nanti.
Si Ibu meminta agar anaknya mencampur susu itu dengan air, sehingga takarannya lebih banyak dan keuntungan yang diperolehnya nanti dapat mencukupi kebutuhan mereka hari itu.

Amirul Mukminin memasang telinganya lebih baik lagi untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

“Nak, campurlah susu itu dengan air!” kata si ibu.

“Tidak boleh, Bu. Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu yang akan dijual dengan air,” jawab gadis itu.

“Tetapi semua orang melakukan hal itu, Nak. Campur sajalah! Toh Amirul Mukminin tidak melihat kita melakukannya.”

“Bu, sekalipun Amirul Mukminin tidak melihat kita, namun Rabb Amirul Mukminin pasti mengetahuinya,” jawab gadis itu.

Mendengar ucapan si gadis tadi, berderailah air mata Amirul Mukminin, ia tak kuasa menahan tangis saking harusnya. Bukan air mata kesedihan, melainnkan air mata ketakjuban dan kegembiraan.

Bergegas ia bangkit dan melangkah menuju mesjid, lalu shalat fajar bersama para sahabatnya. Seusai menunaikan shalat, ia segera pulang ke rumahnya. Dipanggillah putranya, ‘Ashim, dan diperintahkannya untuk berkunjung kepada ibu si gadis di rumah reot itu, dan menyelidiki keadaan mereka.

‘Ashim kembali seraya menyampaikan kepada bapaknya perihal penghuni rumah yang didatanginya. Amirul Mukminin kemudian menceritakan percakapan yang didengarnya malam tadi kepada putranya, sehingga ia memerintahkan kepadanya untuk menyelidiki keadaan keluarga itu.

Di akhir percakapan itu, Amirul Muminin lalu berkata kepada putranya yang saat itu sudah waktunya untuk berumah tangga, “Pergilah temui mereka, dan lamarlah gadis itu untuk jadi istrimu. Aku melihat bahwa ia akan memberi berkah kepadamu nanti. Mudah-mudahan pula ia dapat melahirkan keturunan yang akan menjadi pemimpin umat!”

‘Ashim pun akhirnya menikahi gadis miskin tapi mulia dan suci hati. Mereka berdua dikaruniai seorang putri yang mereka beri nama Laila, yang kemudian lebih terkenal dengan panggilan Ummu ‘Ashim.

Ummu ‘Ashim ini tumbuh menjadi seorang gadis yang taat beribadah dan cerdas, yang akhirnya diperistri oleh Abdul Aziz bin Marwan, dan dari keduanya terlahirlah Umar bin Abdul Aziz.

Demikianlah silsilah keturunan mereka, dan nyatalah bashirah Amirul Mukminin Umar bin Khaththab tentang diri gadis yang membawa berkah itu. [3]

  1. وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman lalu anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Qs. Ath-Thur: 21)

Sosok Umar bin ‘Abdul ‘Aziz

Beliau dilahirkan pada tahun 60 Hijriah, bertepatan dengan tahun mangkatnya Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan, pendiri Daulah Umawiyah. ‘Umar adalah lelaki yang berparas elok, berkulit putih, berjambang tipis, bertubuh kurus, dan bermata cekung. Pada wajahnya terdapat bekas tapal kuda. Memang sewaktu kecil ia pernah masuk ke kandang kuda lalu ditendang pada bagian kepalanya, karenanya ia disebut Asyaj Bani Umayyah, artinya orang dari Bani Umayyah yang terluka kepalanya. [4]

Kecerdasan Umar bin Abdul Aziz

Salah seorang tokoh ahlul bait yang bernama Muhammad bin ‘Ali al-Baqir pernah ditanya tentang ‘Umar, maka jawabnya, “Dialah orang cerdasnya Bani Umayyah, kelak ia akan dibangkitkan sebagai umat seorang diri.”

Maimun bin Mihran berkata, “Para ulama di samping ‘Umar tak ubahnya seperti santri.” Imam Ahmad pernah berkata, “Diriwayatkan dalam hadits, bahwa Allah akan membangkitkan di penghujung tiap abad seorang alim yang akan memperbaharui keberagaman umat ini. Setelah kami perhatikan, ternyata pada seratus tahun pertama Umarlah orangnya. Sedangkan pada seratus tahun berikutnya ialah asy-Syafi’i.” [5]

Ketawadhuan Umar bin Abdul Aziz

Usai memakamkan Sulaiman bin Abdil Malik, ‘Umar mendengar suara gemuruh dan derap kuda. Ia pun bertanya, “Ada apa ini?”

“Ini adalah kendaraan resmi kekhalifahan, wahai Amirul Mukminin. Ia sengaja didatangkan kemari agar Anda menungganginya,” jawab seseorang.

“Aku tak membutuhkannya, jauhkan ia dariku. Kemarikan saja bighalku,” [6] jawab ‘Umar enteng.

Maka, mereka mendekatkan bighalnya dan `Umar pun menungganginya. Tapi tiba-tiba datanglah kepala keamanan yang mengawal ‘Umar dari depan sembari memegang tombak. “Apa-apaan ini? Aku tak perlu pengawal. Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin,” kata ‘Umar. [7]

Maimun bin Mihran meriwayatkan bahwa suatu ketika ia bertemu dengan ‘Umar bin Abdul Aziz, lalu ‘Umar memintanya untuk menyampaikan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka, Maimun menyebutkan satu hadits yang amat berkesan hingga ‘Umar menangis sejadi-jadinya, lalu kata Maimun, “Wahai Amirul Mukminin, kalau saja aku tahu Anda bakal menangis niscaya akan kubawakan hadits lain yang lebih ringan.”

“Wahai Maimun, ini gara-gara kami terlalu banyak makan kacang adas, dan sejauh yang kuketahui, ia bisa melunakkan hati, memperbanyak air mata, dan melemaskan badan,” sanggah ‘Umar.

Al-Ishami mengomentari kisah ini dengan mengatakan, “Dia benar, memang kacang adas memiliki sifat-sifat itu, akan tetapi rahasia sesungguhnya yang menyebabkan ‘Umar menangis ialah karena hatinya amat takut kepada Allah. Akan tetapi, ia punya alasan untuk menisbatkan sebab tangisnya pada adas, karena pengaruhnya yang memang seperti itu. Seakan ia ingin menjauhkan dirinya dari sesuatu yang mungkin menimbulkan riya’.” [8]

Mutiara Hikmah ‘Umar bin Abdul Aziz

Begitu terpilih menjadi Khalifah, ‘Umar langsung berpidato di depan rakyatnya. Ia menghaturkan puji-pujian kepada Allah dan salawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian berkata, “Kuwasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah karena takwa adalah pengganti segalanya, namun segalanya tak bisa menggantikan takwa. Beramallah untuk akhirat kalian, karena barangsiapa beramal untuk akhiratnya pastilah Allah mencukupi baginya perkara dunianya.

Perbaikilah batin kalian, niscaya Allah akan memperbaiki lahiriah kalian. Perbanyaklah mengingat kematian dan bersiap-siaplah sebelum ia datang, karena kedatangannya merupakan penghapus setiap kenikmatan.

Sesungguhnya orang yang tahu bahwa leluhurnya telah tiada semua, mestinya sadar bahwa dirinya amat pantas untuk mati. Ingatlah bahwa umat ini tidak berselisih lantaran Tuhan mereka, tidak pula lantarang Nabi-Nya atau kitab suci-Nya. Akan tetapi mereka berselisih lantaran dinar dan dirham, dan sungguh, demi Allah, aku tak akan memberikan yang batil pada seorang pun, dan tidak pula menahan yang haq darinya,” kemudian ‘Umar mengangkat suaranya keras-keras hingga terdengar semua orang, “Saudara sekalian, siapa yang taat kepada Allah, maka ia wajib ditaati, dan siapa yang bermaksiat kepada-Nya, maka tak ada ketaatan baginya. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah, namun jika aku bermaksiat maka janganlah kalian menaatiku!” [9]

Catatan kaki:

[1] Penulis sengaja menyebutnya sebagai Bani Marwan dan bukan Bani Umayyah, agar ungkapan ini tidak mencakup pendiri Daulah Umawiyah yang merupakan seorang sahabat Rasulullah yang mulia, yaitu Mu’awiyah bin Abi Sufyan, karena sepeninggal Mu’awiyah dan putranya Yazid, tampuk kekuasaan beralih kepada Marwan bin Abdul Hakum dan keturunannya, yang terkenal suka mengakhirkan shalat hingga keluar dari waktunya dan para khalifahnya gemar berfoya-foya, serta sederetan rapor merah lainnya yang menjadi ciri khas pemerintahan mereka. Jadi, merekalah yang kami maksudkan di sini, pen.

[2] Lihat: Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah, oleh Khalid Muhammad Khalid, hlm. 605–608.

[3] Lihat: Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah, hlm. 614–617, dengan sedikit penyesuaian.

[4] Lihat: Al-Wafi bil Wafayat: 7/157.

[5] Lihat: Shifatush Shafwah: 1/199.

[6] Bighal adalah hasil perkawinan silang antara keledai jantan dan kuda betina.

[7] Lihat: Shifatush Shafwah: 1/199.

[8] Lihat: Samthun Nujumil Awali, oleh al-Ishami.

[9] Tarikh Dimasyq: 45/358, oleh Ibnu Asakir.

Sumber: Ibunda para Ulama, Sufyan bin Fuad Baswedan, Wafa Press, Cetakan Pertama, Ramadhan 1427 H/ Oktober 2006.
(Dengan pengubahan tata bahasa oleh redaksi http://www.kisahmuslim.com)

Al-Imam Malik bin Anas berkata, Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullahu berkata, “Rosulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dan para para pemimpin sepeninggal beliau telah menetapkan sunnah-sunnah. Mengambil sunnah-sunnah tersebut adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan kekuatan diatas agama Allah ‘Azza wa Jalla. Siapapun tidak berhak mengganti sunnah-sunnah tersebut, merubahnya dan melihat perkara yang bertentangan dengannya. Barangsiapa berpetunjuk kepadanya, maka ia mendapatkan petunjuk. Barangsiapa meminta pertolongan dengannya, ia ditolong. Barangsiapa meninggalkannya dan mengikuti jalan yang bukan jalan kaum mukminin, Allah ‘Azza wa Jalla menguasakannya kepada apa yang Dia kuasakan kepadanya dan memasukannya ke dalam Jahannam yang merupakan tempat kembali yang paling buruk.” [Ad-Durrul Mantsur 2/686]

Al-Imam Asy-Syafi’i Rohimahulloh berkata: ” aku tidak pernah kenyang semenjak 16 tahun yang lalu. karena, banyak makan akan menyebabkan banyak minum, sedangkan banyak minum akan membangkitkan untuk tidur, menyebabkan kebodohan dan menurunnya kemampuan berpikir, lemahnya semangat, serta malas badan. Ini belum termasuk makruhnya banyak makan dalam tinjauan syari’at dan timbulnya penyakit jasmani yang membahayakan.”
Tadzkirotus Sami’ Wal Mutakallim Fi Abadil ‘Alim Wal Muta’alim, hal.73-74, Al-Imam Badrudin Muhammad bin Ibrohim bin Sa’dillah bin Jamaah AL-Kinani Rohimahulloh)

Qasim bin Ashim “Bertakwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jadikanlah orang tertua di antara kalian sebagai pemimpin. Sungguh apabila suatu kaum mengangkat orang tertua mereka sebagai pemimpin niscaya pemimpin tersebut akan menggantikan peran orang tua mereka dalam memberikan/melakukan yang terbaik bagi mereka. Jikalau orang termudanya yang dijadikan sebagai pemimpin yang ditaati tentu akan menyebabkan berkurangnya penghormatan terhadap orang-orang tuanya, berakibat pada pembodohan mereka, peremehan, serta sikap tidak merasa butuh terhadap orang-orang tua tersebut.
Hendaklah kalian memiliki harta dan mengembangkannya melalui pekerjaan/usaha yang baik, karena hal itu akan menjadikan kalian memiliki kemuliaan serta kedudukan yang tinggi serta mencukupkan kalian dari meminta-minta. Hati-hatilah kalian, jangan sampai mengemis-ngemis kepada manusia, karena hal itu merupakan batasan terakhir dari usaha seseorang. Jika aku mati, janganlah kalian melakukan niyahah (meratap), sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah diniyahahi. Jika aku mati, kuburkanlah di tanah yang tidak diketahui oleh Bani Bakr bin Wail, karena di masa jahiliah dulu, aku pernah menyerang mereka secara tiba-tiba pada saat mereka lengah.”
(Syarh Shahih Al-Adabul Mufrad hal. 475)

Hamdun bin Ahmad pernah ditanya: “Mengapa ucapan-ucapan para salaf lebih bermanfaat daripada ucapan-ucapan kita?” beliau menjawab: “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan mencari ridha Ar-Rahman, sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia dan mencari ridha manusia!”

Imam Adz-Dzahabi berkata: Ya`qub bin Ishaq Al-Harawi menceritakan dari Shalih bin Muhammad Al-Hafizh, bahwa ia mendengar Hisyam bin Ammar berkata:
Saya datang menemui Imam Malik, lalu saya katakan kepadanya: “Sampaikanlah kepadaku beberapa hadits!”
Beliau berkata: “Bacalah!”
“Tidak, namun tuanlah yang membacakannya kepadaku!” jawabku.
“Bacalah!” kata Imam Malik lagi. Namun aku terus menyanggah beliau.
Akhirnya ia berkata: “Hai pelayan, kemarilah! Bawalah orang ini dan pukul dia lima belas kali!”
Lalu pelayan itu membawaku dan memukulku lima belas cambukan. Kemudian ia membawaku kembali kepada beliau.
Pelayan itu berkata: “Saya telah mencambuknya!” Maka aku berkata kepada beliau: “Mengapa tuan menzhalimi diriku? tuan telah mencambukku lima belas kali tanpa ada kesalahan yang kuperbuat? Akutidak sudi memaafkan tuan!”
“Apa tebusannya?” tanya beliau. “Tebusannya adalah tuan harus membacakan untukku sebanyak lima belas hadits!” jawabku.
Maka beliaupun membacakan lima belas hadits untukku. Lalu kukatakan kepada beliau: “Tuan boleh memukul saya lagi, asalkan tuan menambah hadits untukku!”
Imam Malik hanya tertawa dan berkata: “Pergilah!”

Seorang lelaki pernah bertanya kepada Tamim Ad-Daari tentang shalat malam beliau. Dengan marah ia berkata: “Demi Allah satu rakaat yang kukerjakan di tengah malam secara tersembunyi, lebih kusukai daripada shalat semalam suntuk kemudian pagi harinya kuceritakan kepada orang-orang!”

Ar-Rabi` bin Khaitsam berkata: “Seluruh perbuatan yang tidak diniatkan mencari ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak!”

Imam Mujahid pernah berkata: “Apabila seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, maka Allah akan menghadapkan hati manusia kepadanya.”

Sahal bin Abdullah berkata: “Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-akan -red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.”

Abu Sulaiman Ad-darani berkata: “Beruntunglah bagi orang yang mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali mengharap ridha Allah!”

Ayyub As-Sikhtiyaani berkata: “Seorang hamba tidak dikatakan berlaku jujur jika ia masih suka popularitas. Yahya bin Muadz berkata: Tidak akan beruntung orang yang memiliki sifat gila kedudukan.”

Abu Utsman Sa`id bin Al-Haddad berkata: “Tidak ada perkara yang memalingkan seseorang dari Allah melebihi gila pujian dan gila sanjungan.”

Ar-Rabi` bin Shabih menuturkan: “Suatu ketika, kami hadir dalam majelis Al-Hasan Al-Bashri, kala itu beliau tengah memberi wejangan. Tiba-tiba salah seorang hadirin menangis tersedu-sedu. Al-Hasan berkata kepadanya: “Demi Allah, pada Hari Kiamat Allah akan menanyakan apa tujuan anda menangis pada saat ini!””.

`Aisyah Radliyalloh anha berkata: “Beruntunglah bagi orang yang buku catatan amalnya banyak diisi dengan istighfar.”

Al-Hasan Al-Bashri pernah berpesan: “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan!”

Ketika membaca firman Allah: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” (QS. Al-Ahzab : 33) `Aisyah menangis tersedu-sedu hingga basahlah pakaiannya.

Ibnu Umar ketika membaca ayat yang artinya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” (QS. Al-Hadid :16) Beliau menangis hingga tiada kuasa menahan tangisnya.

Pernah disebut-sebut tentang tawadhu` di hadapan Al-Hasan Al-Bashri, namun beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada mereka: “Saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu`!” Mereka berkata: “Apa itu tawadhu` wahai Abu Sa`id?” Beliau menjawab: “Yaitu setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya.”

Ibnul Mubarak pernah ditanya tentang sebuah masalah di hadapan Sufyan bin Uyainah, ia berkata: “Kami dilarang berbicara di hadapan orang-orang yang lebih senior dari kami.”

Al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya: “Apa itu tawadhu`?” Ia menjawab: “Yaitu engkau tunduk kepada kebenaran!”

Mutharrif bin Abdillah berkata: “Tidak ada seorangpun yang memujiku kecuali diriku merasa semakin kecil.”

Pada suatu malam yang gelap Umar bin Abdul Aziz memasuki masjid. Ia melewati seorang lelaki yang tengah tidur nyenyak. Lelaki itu terbangun dan berkata: “Apakah engkau gila!” Umar menjawab: “Tidak”, Namun para pengawal berusaha meringkus lelaki itu. Namun Umar bin Abdul Aziz mencegah mereka seraya berkata: “Dia hanya bertanya: Apakah engkau gila! dan saya jawab: Tidak.”

Seorang lelaki melapor kepada Wahab bin Munabbih: “Sesungguhnya Fulan telah mencaci engkau!” Ia menjawab: “Kelihatannya setan tidak menemukan kurir selain engkau!”

Yusuf bin Asbath pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan, minuman, harta dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka iapun akan mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya.”

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seribu dinar apakah termasuk zuhud? Beliau menjawab: “Bisa saja, asalkan ia tidak terlalu gembira bila bertambah dan tidak terlalu bersedih jika berkurang.”

(oleh Ust. Abu Ihsan Al Atsari, ditulis ulang dari Majalah As Sunnah Edisi 04/VI/1423H)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s