Takhalli (selesai)

Takhalli (Selesai)

Mesucikan diri dari dosa batin

Maksiat batin yang menimbulkan dosa batin adalah sangat berbahaya, karena dia tidak kelihatan dan berada pada diri manusia itu sendiri. Maksiat batin inilah yang menimbulkan dan membangkitkan maksiat lahir yang berbentuk kejahatan-kejahatan, yang dilakukan oleh anggota badan lahir. Maksiat batin tumbuh dan berkembang oleh sebab jarang disucikan atau tidak pernah disucikan.

Syekh Amin Al Kurdi mengatkan bahwa maksiat batin itu sebagai sifat-sifat tercela dan itu merupakan najis-najis maknawiyah yang tidak mungkin orang mendekatkan diri kepada Allah sebelum disucikan. Sebagaimana halnya tidak mungkin seorang mendekatkan diri kepada Allah, kalau najis-najis As Shuriyah (najis materi) disucikan terlebih dahulu. Sifat-sifat tercela yang mengotori diri rohani manusia itu banyak sekali, antara lain, hasad (iri hati), haqad (dengki), kibir (sombong, takabur), ujub (bangga diri), bakhil (kikir), riya (pamer), hubbul mal (cinta harta), hubbul jah (cinta pangkat), tafaakhur (bangga diri), ghadlab (pemarah), ghibah (pengumpat), namimah (ngerumpi keburukan orang), kizib (dusta), kasratul kalam (banyak bicara), dan lain-lain.

Pusat dari segala sifat yang tercela tadi adalah hati nurani atau diri rohani manusia itu sendiri. Dalam kajian tasauf dan tarekat, dinamakan latifatul qalbi yang merupakan latifatul rabbaniyah, yaitu roh yang suci yang paling halus yang menjadi hakikat dari diri manusia. Itulah yang dinamakan diri yang sebenar diri. Latifatul qalbi merupakan induk latifah-latifah yang lain. Dengan dialah kita dapat mendekaatkan diri kepada Allah SWT, manakala dia telah dibersihkan dari kotoran-kotoran lahir dan batin, kemudian diisi dengan zikrullah.

Sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya pada diri jasad itu ada segumpal daging, yang kalau dia baik (artian maknawi) maka akan baiklah jasad seluruhnya, dan kalau dia rusak, maka akan rusak pulalah jasad seluruhnya. Ketahuilah ia itu adalah hati”.

Dalam hadits ini jelas yang dinilai oleh Tuhan adalah hati, yang merupakan kunci untuk dekat kepada Allah SWT dan mengenal-Nya. Hati inilah secara maknawi telah berhubungan langsung berdialog dengan Allah SWT.

Allah berfirman, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab, “Betul”(Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi” (Q.S. AL A’raf &:172).

Para sufi ahli tarekat menjadikan ayat ini sebagai salah satu dasar  tentang musyahadah, berintai-intaian dan dasar ikhsan.

Cara mensucikan/memberantas maksiat batin yang menimbulkan dosa batin adalah dengan berzikir pada 7 (tujuh) tempat lataif, yaitu : latifatul qalbi, latifatul ruh, latifatul sirri, latifatul khahfi, latifatul akhfa, latifatul nafsun natikah dan latifatul kullul jasad. Cara berzikir pada latifah-latifah itu dan buahnya akan dijelaskan pada bagian zikir lataif.

Sabda Rasulullah SAW : “Bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap sesuatu itu ada alat dan cara mencucinya, maka sesungguhnya alat dan cara mencucikan hati nurani adalah dengan zikirullah”.

Sabda Rasulullah SAW dalam Hadits Qudsi : “Tidak dapat bumi dan langit-Ku menjangkau/ memuat akan zat-Ku (yang membawa asma-Ku/Kalimah-Ku), melainkan yang menjangkaunya/ memuatnya ialah hati Hamba-Ku yang mukmin/suci, lunak dan tenang”. (Hadits Qudsi R. Ahmad dari Wahab bin Munabbih).

Bersambung, Tahalli…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s