Tahalli

Tahalli

Diri rohani yang yang telah dikosongkan dari sifat-sifat mazmumah yang tercela harus segera diisi dengan sifat-sifat mahmudah (terpuji). Seorang yang terus menerus mengisi diri rohaninya dengan sifat-sifat terpuji, yaitu dengan melaksanakan amalan-amalan saleh, baik yang wajib maupun yang sunat, yang dilaksanakan dengan penuh ikhlas dengan perasaan syukur, penuh tawakal seraya menghadapkan ridla Allah SWT, itulah yang dinamakan Tahalli.

Tahalli secara harfiah berarti mengisi dan menghiasi diri atau menyibukkan diri dengan sifat-sifat dan amal-amal terpuji yang digariskan dan ditetapkan dalam syariat Islam.

Pengisian diri rohani dengan sifat-sifat mahmudah dengan kegiatan-kegiatan ‘akmalush shalihat, adalah amat penting, karena kesibukan-kesibukan yang berbentuk amalan-amalan maksiat selama ini harus segera diganti dengan kesibukan-kesibukan baru, yaitu kegiatan amal kebaikan. Inilah yang dinamakan inabah. Inabah artinya kembali ke jalan yang hak atau benar,  menggantikan kebiasaan yang buruk dengan kebiasaan yang baik.

Menurut  Imam Al Ghazali, jiwa manuasia itu dapat dilatih, dapat dikuasai, sehingga bentuk dan arahnya  berubah-ubah sesuai dengan yang kita kehendaki. Kita bentuk dan kita rubah sikap mental yang buruk menjadi sikap mental yang baik dan luhur dengan riyadhah dan mujahadah yang sungguh-sungguh.

Menurut ulama sufi, mengubah dan membentuk sikap mental itu, adalah dengan melaksanakan seluruh pola ajaran dan amalan Islam itu dengan sebaik-baiknya. Terutama sekali melaksanakan syariat, tarekat, hakikat dan makrifat dengan metode dan peramalan yang benar.

Pelaksanaan

Firman Allah SWT : “Sesungguhnaya Allah meyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi pada kaum kerabat (apa yang mereka perlukan), dan melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberikan pengajaran kepada kamu, agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (Q.S. An Nahl 16 : 90).

Ayat ini menjadi  dasar utama supaya kita berakhlakul karimah atau berakhlak mulia. Seseorang berakhlakul karimah merupakan manifestasi diri rohaninya yang bersih, bersih dari sifat-sifat tercela dan telah menerima pancaran Nur cahaya Tuhan.

Nur Uluhiyah memancarkan Nurul Iman, Nurul Islam dan Nurul Ihsan.

Nurul Iman mengusir gelapnya  kemusyrikan yang sekaligus menampakkan pancaran ikhlas berserah diri hanya kepada Allah SWT. Mata hati dengan Nur Iman melihat kebenaran hakiki yaitu mentauhidkan Allah SWT.

Nurul Islam mengusir gelapnya kekafiran dan kemaksiatan yang sekaligus menampakkan Nur keimanan dan ketaatan. Dengan jalan ini melalui Nur Uluhiyah, seseorang dapat melihat kebenaran yang hakiki datang dari Allah SWT.

Nurul Ihsan mengusir gelapnya kesamaan yang menduakan Allah SWT. Mata hati ketika itu melihat kebesaran yang hakiki, sehingga tampak olehnya Nur wujud Allah.

Syekh Amin Al Kurdi  mengatakan, sifat-sifat terpuji itu banyak sekali, antara lain, akidah yang sahih (yang haq), taubat, menjauhkan diri dari maksiat, menyesal atas perbuatan maksiat, malu dengan Allah, ta’at, sabar, wara’, zuhud, qana’ah, ridla, syukur, memuji Allah, perkataan yang benar, menempati janji, melaksanakan amanah, meninggalkan khianat, baik dalam bertetangga, memberi makan, menyebar salam serta baik dalam pergaulan, cinta  akhirat serta benci dunia, hati yang tumakninah, menahan diri dari mengikuti hawa nafsu, cemas dan harap, tawakal, dan berserah diri kepada Allah, cinta hanya kepada Allah, ingin sampai kepada-Nya, dan takut berpisah dengan-Nya, dan sebagainya.

Apabila seseorang murid berakhlak dengan akhlak mahmudah ini, menjadi dekatlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapat kebahagian di dunia dan di akhirat.

Selanjutnya Syekh Amin Al Kurdi  menjelaskan, bukanlah yang dimaksud dengan mengosongkan (takhalli) dari sifat-sifat tercela dan mengisi (tahalli) dengan sifat-sifat terpuji  itu, menghabiskan atau memusnahkan semua sifat-sifat tercela tadi dan menggantikan dengan sifat-sifat terpuji yang baru. Sifat-sifat tercela dan sifat-sifat terpuji, kedua-duanya ada tertanam bibitnya pada diri manusia, yang tidak mungkin kita musnahkan secara total dan menggantikannya dengan yang baru. Yang dapat dilakukan manusia adalah mengarahkan dan membentuk suatu sifat kebiasaan tercela menjadi suatu sifat kebiasaan terpuji. Sifat-sifat tercela itu ibarat suatu penyakit menahun yang harus terus menerus diobati dibawah pengawasan seorang dokter ahli, sehingga penyakitnya tidak selalu kambuh. Demikian pulalah halnya untuk mengobati sifat-sifat yang tercela tadi, dilaksanakan di bawah pengawasan Syekh Mursyid (Amin Al Kurdi 194 : 390-391).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s