Qadha atau Fidyah Puasa

Qadha atau Fidyah? 
Berhubung tidak ada nash sharih (yang jelas) dalam masalah ini maka banyak perbedaan pendapat soal apakah wanita hamil (menyusui) saat tidak berpuasa wajib meng-qadha atau membayar fidyah atau keduanya qadha dan fidyah?

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS Al Baqarah 184)

Berdasarkan ayat di atas, maka ada 2 pendapat yang paling mendekati kesesuaian, yaitu:

Pendapat PERTAMA, wajib qadha bagi wanita hamil atau menyusui. Dasar pendapatnya adalah meng-qiyaskan wanita hamil atau menyusui dengan orang sakit. Orang sakit boleh tidak puasa dan harus meng-qadha (mengganti) di hari lain sebagaimana jelas disebutkan dalam surat Al Baqarah 184 di atas (barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain)

Pendapat KEDUA, wajib fidyah bagi wanita hamil dan menyusui. Dasar pendapatnya adalah orang tua lanjut usia, wanita hamil dan menyusui adalah termasuk golongan orang-orang yang berat menjalankannya sehingga wajib membayar fidyah sebagaimana jelas disebutkan dalam surat Al Baqarah 184 di atas (wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah). Serta Ibnu Abbas, ia berkata: “Wa ‘alalladzii yuthiiquunahu fidyatun tha’aamu miskiin (dan bagi orang yang berat menjalankanya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin)”, ia berkata: “hal tersebut merupakan keringanan bagi laki-laki tua dan wanita tua, dan mereka -sementara kedua mampu melakukan puasa- agar berbuka dan memberi makan setiap hari satu orang miskin, dan keringanan bagi orang yang hamil dan menyusui apabila merasa khawatir“. Abu Daud berkata: “yaitu khawatir kepada anak mereka berdua, maka mereka berbuka dan memberi makan”
(HR Abu Daud/1974: Syeikh Al Albani: Syadz)

Beberapa penjelasan lain berkaitan dengan kedua pendapat di atas, yaitu:

  • Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah ta’ala telah menggugurkan setengah shalat serta puasa dari seorang musafir, wanita yang menyusui dan wanita yang hamil (HR Abu Daud/2056: Syeikh Al Albani: Hasan Shahih, Nasa’i/2237: Syeikh Al Albani: Hasan, Ibnu Majah/1657: Syeikh Al Albani: Hasan Shahih dan Ahmad/18270)

Berdasarkan hadits di atas, menurut pendapat PERTAMA, keringanan puasa bagi wanita hamil dan menyusui sama halnya dengan keringanan puasa bagi musafir. Dan telah diketahui bahwa keringanan puasa bagi musafir yang tidak berpuasa adalah meng-qadha-nya, tanpa adanya fidyah. Maka berlaku pula yang demikian pada wanita hamil dan menyusui. Dengan kata lain ‘konsekuensi’-nya sama bagi musafir dan wanita hamil atau menyusui.

Namun, menurut pendapat KEDUA, hadits tersebut hanya menjelaskan tentang bebasnya wajib puasa bagi musafir dan wanita hamil atau menyusui namun tidak merinci lebih jauh tentang bagaimana ‘konsekuensi’-nya wanita hamil dan menyusui (sedangkan ‘konsekuensi’ bagi musafir adalah jelas yaitu qadha sebagaimana surat Al Baqarah 184 di atas). Sehingga yang dipakai oleh pendapat KEDUA dalam merinci ‘konsekuensi’ bagi wanita hamil dan menyusui adalah fatwa dari sahabat Ibnu Abbas di atas, yaitu fidyah.

  • Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
  • “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS Al Baqarah 184)
  • “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS Al Baqarah 185)

Berdasarkan kedua ayat di atas, menurut pendapat PERTAMA, surat Al Baqarah ayat 185 telah meng-‘hapus’ (nasakh/mansukh) ayat 184 (sebelumnya), sehingga ‘semua umat muslim‘ yang mendapati bulan ramadhan wajib berpuasa. Dan hanya ada satu ‘konsekuensi’ bagi yang tidak menjalankannya yaitu qadha tidak ada yang lain. Itupun berlaku bagi yang sakit atau musafir, yang sekali lagi disini wanita hamil atau menyusui di-qiyas-kan termasuk orang-orang yang sakit.
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] Telah menceritakan kepada kami [Bakr bin Mudlar] dari [Amru bin Al Harits] dari [Bukair bin Abdullah] dari [Yazid] budak yang dimerdekakan Salamah bin Al Akwa’ dari [Salamah], ia berkata: “Tatkala turun ayat: “Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya maka wajib membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin”, hingga turunlah ayat setelahnya yang me-nasakh (menghapus) ayat tersebut. Abu Abdullah berkata: “Bukair meninggal sebelum Yazid” (HR Bukhari/4147)

Namun, menurut pendapat KEDUA , surat Al Baqarah ayat 185 bukanlah meng-‘hapus’ (nasakh/mansukh) tapi lebih memperjelas (menambah) ayat 184 (sebelumnya) tentang pentingnya dan wajibnya berpuasa bagi seluruh umat muslim terkecuali bagi orang-orang yang sakit dan musafir -yang harus diganti qadha- dimana kalimat tersebut diulang sama persis di kedua ayat 184 dan 185. Terkecuali kalimat di ayat 185 disebutkan berbeda dari ayat 184 dalam artian sudah mencakup juga bagi ‘orang-orang yang berat menjalankannya’ dimana orang tua lanjut usia, wanita hamil dan menyusui termasuk golongan ini maka kewajiban fidyah masih berlaku sebagaimana disebutkan dalam ayat 184. Bila wanita hamil dan menyusui ‘masih bisa’ di-qiyas-kan dengan orang sakit yang diharapkan suatu saat nanti akan kembali normal sehingga mampu untuk mengganti puasanya (qadha)…bagaimana dengan orang tua lanjut usia yang karena kondisinya sudah lemah? apakah wajib mengganti puasanya di hari-hari esok (qadha) sedangkan kondisinya tidak bisa diharapkan kembali normal seperti masih muda (sediakala)?. Dengan demikian, orang tua lanjut usia masih termasuk di dalam golongan ‘orang-orang yang berat menjalankannya’ sebagaimana disebutkan di ayat 184 (yang berarti tidak di-mansukh di ayat 185). Kemudian bagi wanita hamil dan menyusui jika khawatir mendapat bahaya, maka dia boleh berbuka (tidak berpuasa) dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.
Telah menceritakan kepadaku [Ishaq] Telah mengabarkan kepada kami [Rauh] Telah menceritakan kepada kami [Zakaria bin Ishaq] Telah menceritakan kepada kami [Amru bin Dinar] dari [Atha] dia mendengar [Ibnu Abbas] membaca ayat: “Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya maka wajib membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin (QS  Al Baqarah 184)”, Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini (Al Baqarah 184, pen.) tidak di-manshukh, namun ayat ini hanya untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin” (HR Bukhari/4145)

Pendapat lain menyatakan, kondisi cukup meng-qadha tanpa menunaikan fidyah berlaku bagi keadaan wanita hamil dan menyusui yang masih mampu menunaikan qadha. Dalam kondisi ini dia dianggap seperti orang sakit yang diharuskan untuk meng-qadha di hari lain ketika ia tidak berpuasa. Namun apabila mereka tidak mampu untukk meng-qadha puasa, karena setelah hamil atau menyusui dalam keadaan lemah dan tidak kuat lagi, maka kondisi mereka dianggap seperti orang sakit yang tidak kunjung sembuhnya. Pada kondisi ini, ia bisa pindah pada penggantinya yaitu menunaikan fidyah, dengan cara memberi makan pada satu orang miskin setiap harinya.

Demikian pembahasan tentang qadha dan fidyah. Semoga dapat menjadi landasan bagi kita untuk beramal. Adapun ketika ada perbedaan pendapat, maka ketika saudari kita menjalankan salah satu pendapat tersebut dan berbeda dengan pendapat yang kita pilih, kita tidak berhak memaksakan atau menganggap saudari kita tersebut telah melakukan suatu kesalahan … wallahualam bi shawab

Bagaimana cara Membayar Fidyah?

Dalam beberapa riwayat dari Ibnu Umar disebutkan bahwa fidyah puasa Ramadhan dibayarkan dengan 1 mudd (segenggam penuh tangan orang dewasa) burr (gandum terbaik). Sedangkan dalam riwayat Ibnu Abbas adalah 1/2 sha’ = 2 mudd gandum. Berhubung tak ada nash juga dalam masalah ini maka saya pribadi cenderung memilih pendapat Ibnu Abbas, yaitu 1/2 sha’ bentuk bahan makanan menurut daerahnya masing-masing atau 1 1/2 kg makanan pokok (beras misalnya) dan tidak boleh diganti dalam bentuk uang karena dalil yang ada dalam ayat menunjukkan dalam bentuk makanan dan bukan uang,  “… dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin …” (QS Al Baqarah 184)

Fidyah ini boleh dibayarkan sekaligus atau dibayarkan setiap harinya kepada orang miskin, dengan syarat harus sudah melewati/melalui hari di mana tidak berpuasa. Dalam sebuah riwayat dari Ayyub, ia berkata: “Anas bin Malik rahimahullah ketika sudah tua dan tak mampu puasa beliau membayar dengan cara mengundang 30 orang miskin untuk satu kali makan di rumahnya, dan itu adalah pembayaran untuk 30 hari tidak puasa” (HR Ad Daruquthni/2415)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s