Peranan Ulama dalam pencegahan korupsi

PERSPREAKTIF ISLAM TENTANG ANTI KORUPSI

BAB I
PENDAHULUAN
A.       LATAR BELAKANG
Tindak Pidana Korupsi ditinjau dari Preaktif Hukum Islam adalah  korupsi telah dianggap sebagai salah satu masalah yang kompleks dalam budaya manusia Modern. Mengukur korupsi tidak hanya dilihat dalam konteks sosial, tetapi juga dalam konteks diri dan individu manusia. Islam menekankan bahwa Korupsi adalah jenis tindakan penyangkalan bahwa hal tersebut harus dihapuskan dari Masyarakat. Islam juga memahami Korupsi bukan hanya dilihat dari aspek Hukum, tetapi juga dari Aspek Sosial-Budaya, Psikologis, dan Keyakinan.
Perilaku korupsi yang dilakukan oleh hanya segelintir pejabat negara akhirnya ‘berpindah’ dilakukan oleh masyarakat biasa. Hal yang lebih berbahaya lagi, korupsi ini tidak hanya dilakukan oleh per individu melainkan juga dilakukan secara bersama-sama tanpa rasa malu. Misalnya korupsi yang dilakukan seluruh atau sebagian besar anggota DPR/DPRD. Jadi korupsi dilakukan secara berjamaah. Yang lebih berbahaya lagi sebenarnya adalah korupsi sistemik yang telah merambah ke seluruh lapisan masyarakat dan sistem kemasyarakatan. Dalam segala proses kemasyarakatan, Korupsi bisa terjadi apabila karena faktor-faktor sebagai berikut:
a.      Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan dalam posisi-posisi kunci yang mampu memberikan ilham dan mempengaruhi tingkah laku yang menjinakkan korupsi.
b.      Kelemahan pengajaran-pengajaran agama dan etika.
c.      Kolonialisme.
d.      Kurangnya pendidikan.
e.      Kemiskinan.
f.        Tiadanya hukuman yang keras.
g.      Kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku anti korupsi.
h.      Struktur pemerintahan.
i.        Perubahan radikal.
j.         Keadaan masyarakat
Sementara Soejono memandang bahwa faktor terjadinya korupsi, khususnya di Indonesia, adalah adanya perkembangan dan perbuatan pembangunan khususnya di bidang ekonomi dan keuangan yang telah berjalan dengan cepat, serta banyak menimbulkan berbagai perubahan dan peningkatan kesejahteraan. Di samping itu, kebijakan-kebijakan pemerintah, dalam upaya mendorong ekspor, peningkatan investasi melalui fasilitas-fasilitas penanaman modal maupun kebijaksanaan dalam pemberian kelonggaran, kemudahan dalam bidang perbankan, sering menjadi sasaran dan faktor penyebab terjadinya korupsi.
Berikut ini saya akan menjelaskan tentang Perspreaktif Islam tentang Anti Korupsi.
1.         Hubungan antara Agama dan Korupsi
Bagi kaum moralis, fenomena koruptor yang rajin beribadah akan dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap agama. Dalam Islam, sejak awal stigma munafik telah diberikan kepada orang-orang yang sengaja memfungsikan Islam sebagai kedok. Dalam Islam, orang munafik dipandang sebagai musuh yang paling berbahaya bahkan dalam Al-Qur’an dan hadits pun banyak disebutkan bahwa kaum munafik adalah sangat dikutuk oleh Allah Swt. ……..…………………
Faktanya sekarang di Indonesia banyak koruptor yang beragama Islam. Mereka mengobarkan api kebencian kepada Barat untuk mengalihkan perhatian publik sehingga terbentuk opini bahwa musuh Islam adalah Barat dan bukan korupsi itu sendiri. Sedangkan kalo kita mau meneliti lebih jauh lagi bahwa penyebab kemelaratan Indonesia bukanlah Barat melainkan korupsi yang merajalela.
Banyaknya fakta bahwa para koruptor rajin beribadah, khususnya mengadakan acara doa bersama atau syukuran naik haji menunjukkan kesan bahwa para kyai/ulama seolah-olah mengamini tindakan korupsi. Kesan tersebut bisa saja menyakitkan, tapi layak diungkapkan. Sebab itu didukung oleh fakta yang cenderung semakin fenomenal.
Fenomena memfungsikan agama sebagai kedok serta kemunafikan para koruptor sering sangat mudah dilihat setiap menjelang kampanye Pemilu dan Pilkada. Betapa banyak elit politik yang terindikasi korup berlomba-lomba memberikan sumbangan dana pembangunan Masjid atau Pesantren untuk mendapatkan fatwa dan dukungan politik dari kyai/ulama dan pengikutnya. Gilanya, semua kyai/ulama tersebut justru gembira dan tidak ada yang keberatan atau sekedar mengkritik perilaku munafik . Contoh lain adalah elit politik yang terindikasi korup banyak yang masuk menjadi anggota partai yang berasaskan agama  yg bermaksud membuat UU penyadapan yang mengkebiri KPK  yang tersangkut kasus korupsi dsb.). Kisruh KKN yang terjadi setiap Penyelenggaraan Ibadah Haji yang melibatkan para pejabat Departemen Agama. Siaran langsung dari televisi tentang hari2 besar agama dan sholat bersama di masjid Istiqlal yang dihadiri para elit politik yang terindikasi korup yang bersanding dengan para kyai/ulama.………………………
Adanya fenomena ini merupakan kontradiksi nyata yang membingungkan masyarakat awam. Bagaimana mungkin para kyai/ulama bisa akur dengan para koruptor?. Namun sayangnya kontradiksi tersebut belum pernah dikaji serius oleh komunitas- komunitas  agama di Indonesia secara terbuka.
Fenomena semakin merajalelanya korupsi cenderung dibiarakan oleh para kyai/ulama bahkan melalui pengajian para kyai/ulama tersebut senantiasa sengaja berkhotbah tentang hal-hal yang sama sekali tidak menyentuh fenomena korupsi yang semakin merajalela saat ini lucunya para ulama/tersebut sering memperlakukan jama’ahnya seperti anak kecil, mereka sering mendongeng cerita tentang nabi2 terdahulu dengan tujuan menggembosi kemampuan kritis para jama’ahnya terhadap masalah korupsi yang notabene merupakan akar dari segala masalah yang terjadi di Indonesia. Lihat saja sekarang kasus Bank Century, tidak ada kyai/ulama yang berdiri mendukung dibelakang gerakan massa yang menuntut penuntasan kasus Bank Century yang melibatkan banyak elit politik. Tentu saja hal ini menyedihkan karena diberbagai kesempatan kita selalu terbuai dengan jargon-jargon “Inidonesia adalah Negara dengan mayoritas muslim”
2.         Nilai Normatif Islam dan Anti Korupsi
Salah satu strategi yang dilakukan untuk memerangi korupsi adalah dengan dirancangnya pendidikan antikorupsi oleh beberapa lembaga pendidikan. Gagasan ini lahir dimaksudkan untuk membasmi korupsi melalui persilangan (intersection) antara pendidikan watak dan pendidikan kewarganegaraan. Disamping itu, pendidikan untuk mengurangi korupsi berupa pendidikan nilai, yaitu pendidikan untuk mendorong setiap generasi menyusun kembali sistem nilai yang diwarisi.
Dengan demikian manusia-manusia yang lahir melalui sektor pendidikan adalah manusia-manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, beriman, berakhlak mulia, memiliki kompetensi dan profesionalitas serta sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Dan disaat institusi lain tidak berdaya melakukan perlawanan terhadap korupsi, maka institusi pendidikan (Islam) dapat dijadikan benteng terakhir tempat menyebarkan nilai-nilai antikorupsi.
Nilai-nila Normatif Islam dan Anti Korupsi juga terbagi atas tiga perkara antara lain yaitu:
a.         Larangan suap dan hadia bagi Pejabat.
Menyuap  dalam masalah hukum adalah memberikan sesuatu, baik berupa uang maupun lainya kepada penegak hukum agar terlepas  dari ancaman hukum atau mendapat hukum ringan.
Perbuatan seperti itu sangat dilarang dalam Islam dan disepakati oleh para ulama sebagai perbuatan haram. Harta yang diterima dari hasil menyuap tersebut tergolong dalam harta yang diperoleh melalui jalan batil. Allah SWT berfirman dalam al Qur’an
Artinya:Dan janganlah sebagian kamu memakan sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil,(janganlah kamu)membawa (urusan )harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian pada harta benda orang lain dengan(jalan) berbuat dosa padahal kamu mengetahui.(al Baqarah:188)
Suap-menyuap sangat berbahaya dalam kehidupan masyarakat karena akan merusak berbagai tatanan atas sistem dalam masyarakat, dan menyebabkan terjadinya kecerobohan dan kesalahan dalam menetapkan ketetapan hukum sehingga hukum dapat dipermainkan dengan uang. Akibatnya terjadi kekacauan dan ketidakadilan .  dengan suap, banyak para pelanggar yang seharusnya diberi hukuman berat justru mendapat hukuman ringan, bahkan lolos dari jeratan hukum. sebaliknya, banyak pelanggar hukum kecil, yang dilakukan oleh orang kecil mendapat hukuman sangat berat karena tidak memiliki  uang untuk menyuap para hakim. Tak heran bila seorang pujangga sebagaimana yang dikutip yusuf al Qardawy, menyindir tentang suap dalam kata-katanya:
Jika anda tidak dapat mendapat sesuatu
Yang anda butuhkan
Sedangkan anda sangat menginginkan
Maka kirimlah juruh damai
Dan janganlah pesan apa-apa
Juruh damai itu adalah uang
Bagaimanapun juga, seorang hakim yang  telah mendapatkan uang suap tidak mungkin dapat berbuat adil. Ia akan membolak balikkan supremasi hukum. Apalagi kalau perundang–undangan yang digunakannya hasil buatan manusia, Mudah sekali baginya untuk megutak atiknya sesuai dengan kehendaknya. Lama-kelamaan masyarakat terutama golongan kecil tidak akan
percaya lagi pada penegak hukum karna selalu menjadi pihak yang dirugikan.. Dengan demikian, hukum rimbah yang berlaku,yaitu siapa yang kuat siapa yang menang.
Islam melarang perbuatan tersebut, bahkan menggolongkannya sebagai salah satu dosa besar, yang dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya.karna perbuatan tersebut tidak hanya melecehkan hukum, tetapi lebih jauh lagi melecehkan hak seseorang untuk mendapat perlakuan yang sama didepan hukum. Oleh karena itu, seorang hakim hendaklah tidak menerima pemberian apapun dan dari pihak siapapun selain gajinya sebagai hakim.
Untuk mengurangi perbuatan suap-menyuap dalam masalah hukum, jabatan hakim lebih utama diberikan kepada orang yang berkecukupan dari pada dijabat oleh mereka yang hidupnya serba kekurangan karena kemiskinan seorang hakim akan mudah membawa dirinya untuk berusaha mendapatkan sesuatu yang bukan haknya.
Sebenarnya, suap-menyuap  tidak hanya dilarang dalam masalah hukum saja, tetapi dalam berbagai aktifitas dan kegiatan. dalam beberapa hadis lainnya, suap-menyuap tidak dikhususkan terhadap masalah hukum saja, tetapi bersifat umum, seperti dalam hadis:
Artinya: Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah SAW. Melaknat penyuap dan orang yang disuap(H.R turmudzi)
Misalnya dalam penerimaan tenaga kerja, jika didasarkan pada besarnya uang suap, bukan pada profesionalisme dan kemanpuan, hal ini diyakini akan merusak kualitas dan kuantitas hasil kerja, bahkan tidak tertutup kemugkinan bahwa pekerja tersebut tidak  manpu melaksanakan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, sehingga akan merugikan rakyat.
Demikian juga larangan bagi pejabat untuk menerima hadiah “Abu Humaid Assa’id r.a. berkata, Rasulullah SAW.,mengankat seorang pegawai untuk menerima sedekah /Zakat’kemudian setelah selesai ia datang kepada Nabi SAW. Dan berkata, ini untukmu dan yang ini  untuk hadiah yang diberikan orang kepadaku. ‘maka Nabi SAW bersabda kepadanya,’ mengapakah andah tidak duduk saja dirumah ayah dan ibu anda untuk melihat apakah diberi hadiah atau tidak(oleh orang)?kemudian sesuadah shalat , Nabi SAW , berdiri, setelah tasyahhud memuji Allah selayaknya, lalu bersabda,”Amma ba’du mengapakah seorang pegawai yang diserahi amal kemudian ia datang lalu berkata, ini hasil untuk kamu dan ini aku diberi hadiah, mengapa ia tidak duduk saja dirumah ayah dan ibunya untuk melihat apakah diberi hadiah atau tidak. Demi Allah yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, tiada seseorang yang menyembunyikan sesuatu(korupsi), melainkan ia akan menghadap di hari kiamat memikul diatas lehernya, jika berupa untah bersuara, atau lembuh yang menguak, atau kambing yang mengembik, maka sungguh aku telah menyampaikan. Abu HUmaid berkata, kemudian RAsulullah mengankat kedua tangannya sehingga aku dapat melihat putih kedua ketiaknya.(H.R.Bukhari)
penjelasan hadis dalam Islam,hadiah dianggap sebagai salah satu cara untuk lebih merekatkan persaudaraan atau persahabatan, sebagaimana yang disebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam al malik dalam kitab Muwatta dari Al Al khurasani:
artinya:
“saling bersalamanlah kamu semua, niscaya akan menghilangkan kedengkian, saling memberi hadialah kamu semua, niscaya akan saling mencintai, dan menghilangkan percekcokan.(H.R.Imam Malik)
 Bagi orang yang diberi hadiah, disunnahkan untuk menerimanya meskipun hadiah tersebut kelihatannya hina dan tidak berguna, Nabi bersabda yang artinya:
“dari anas r.a. bahwa NAbi SAW bersabda,’kalau saya diberi hadiah keledai, pasti akan saya terima.’(H.R.Turmudzi)
Hal itu dinyatakan pula dalam hadis lain dari khalid bin adi.
Artinya”Dari khalid bin adi bahwa NAbi SAW bersabda,”siapa yang mendapatkan dari saudaranya suatu kebaikan (hadiah) tanpa berlebih-lebihan dan tanpa mendatangkan masalah,maka hendaklah ia menerimanya dan tidak boleh menolaknya, hal itu merupakan rezeki yang diturunkan Allah kepadanya,”
Dari keterangan-keterangan di atas, jelaslah bahwa pada dasarnya memberikan hadiah pada orang lain sangat baik dan dianjurkan untuk lebih meningkatkan  rasa saling mencintai begitu pula bagi yang diberi hadiah disunahkan untuk menerimanya.
Akan tetapi, Islam pun memberi ranbu-ranbut tertentu dalam masalah hadiah, baik yang berkaitan dengan pemberi hadiah maupun penerimanya. Dengan kata lain, tidak semua orang diperbolehkan menerima hadiah. Misalnya bagi seorang pejabat atau pemegang kekuasaan.
Hal itu ditujukan untuk kemaslahatan dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang ingin sekali mengenal bahkan akrab dengan orang-orang yang terpandang, baik para pejabat maupun orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi lainnya. Mereka menempuh berbagai jalan untuk dapat mendekati  orang-orang tersebut dengan cara memberi hadiah kepadanya padahal pejabat tersebut hidup berkecukupan, bahkan tak pantas diberi hadiah, karena masih banyak orang lainnya yang lebih membutuhkan hadiah tersebut.
Oleh karena itu, Islam melarang seorag pejabat atau petugas Negara dalam posisi apapun untuk menerima atau memperleh hadiah dari siapapun karena hal itu tidaklah layak dan dapat menimbulkan fitna.Disamping sudah mendapatkan gaji dari negara , alasan pemberan hadiah tersebut berkat kedudukannya. Bila ia tidak memiliki kududukan atau jabatan ,belum tengtu orang-orang tersebut akan memberinya hadiah. Sebagaimana dalam hadis diatas bahwa jika ia hanya tidak menjabat dan hanya diam dirumah, tidak ada seorangpun yang memberi hadiah kepadanya.
Dengan demikian, hadiah yang diberikan kepada para pejabat atau yang berwenan, kecil atau besar wewenangnya apabila sebelumya tidak bisa terima dinilai sebagai sogokan terselubung. Dengan kata lain, hadiah yang diberikan kepada seseorang pejabat sebenarnya bukanlah haknya. Disamping itu, niat orang orang-orang memberikan hadiah kepada para pejabat atau para pegawai, dipastikan tidak didorong dan didasasrkan pada keiklasan sehingga perbuatan mereka akan sia-sia dihadapan Allah SWT.
Jadi  sangatlah pantas kalau Rasulullah melarang seorang pegawai atau seorang petugas negara untuk menerima hadiah karena menimbulkan kemudaratan walaupun pada asalnya menerima hadiah itu dianjurkan.
b.        Larangan Ifsad dan Gulul
Di sini saya mungkin tidak hanya menjelaskan tentang Ifsad dan Gulul tapi untuk menambah wawasan kita  ada beberapa istilah yang digunakan oleh Islam untuk menyebut apa yang kemudian disebut dengan korupsi. Istilah-istilah tersebut adalah:
1.        Ghulul yang secara leksikal berarti penghianatan. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan perbuatan seseorang yang melakukan penghianatan dengan menggelapkan harta. Dalam QS Ali Imrah ayat 161, kata “ghulul” digunakan dalam pengertian penggelapan harta rampasan perang ssebelum harta tersebut didistribusikan. Deeb al-Khudrawi dalam kamus al-Alfazh al-Islamiyah mengartikannya sebagai “stealing from the war booty before its distribution.” Ayat ini turun berkenaan dengan tuduhan orang-orang munafik terhadap Nabi bahwa beliau telah mengambil harta rampasan berupa selimut merah yang biasa digunakan pada musim dingin. Ayat ini diturunkan untuk menolak tuduhan tersebut. Dalam konteks korupsi, ghulul merupakan jenis korupsi otogenik, yakni korupsi yang dilakukan oleh seorang diri tanpa melibatkan orang lain.
Rasulullah sendiri kemudian memperluas makana ghulul pada beberapa bentuk: (a) Komisi, yakni tindakan mengambil sesuatu penghasilan di luar gaji yang telah ditetapkan untuk jabatannya. Tentang komisi ini Nabi menyatakan “Siapa saja yang telah aku angkat dalam satu jabatan kemudian aku berikan gaji, maka sesuatu yang diterima di luar gajinya adalah korupsi (ghulul)” HR Abu Dawud (b) Hadiah, yakni pemberian yang diperoleh seseorang karena jabatan yang melekat pada dirinya. Mengenai hal ini Rasulullah SAW menyatakan “Hadiah yang diterima para pejabat adalah korupsi (ghulul)” HR Ahmad. Sedangkan Ifsad adalah Merusak
2.        Risywah. Secara leksikal kata “risywah” berarti upah, hadiah, pemberian atau komisi, sedangkan secara termonologis berarti memberikan harta atau yang semacamnya untuk membatalkan hak milik pihak lain atau mendapatkan atas hak milik orang lain, atau dalam bahasa al-Shan’ani, “mempersembahkan sesuatu untuk memperoleh sesuatu.” Abdullah bin Abdul Muhsin al-Turki mengartikan suap dengan pemberian seseorang kepada seorang hakim atau orang lain dengan tujuan untuk memperoleh kepastian hukum atau hal-hal yang lain.
Al-Syaukani menyebut suap sebagai kebobrokan moral yang sangat luar biasa (ghayah al-suquth), karena bukan saja suap akan merugikan orang lain namun yang paling mengerikan adalah bahwa suap akan menghancurkan tata nilai dan system hukum. Rasulullah sendiri secara moral membenci tindakan suap ini dengan sabdanya “Allah melaknat orang-orang yang melakukan dan menerima suap” (HR Ibn Majah).
Al-Qur’an menyebut istilah suap denga “ad-Dalw” yang diartikan sebagai memperoleh harta dari orang lain dengan jalan suap. Dalam QS Al-Baqarah: 188 kalimat “la tudlu biha ila al-hukkam” dalam ayat tersebut diartika oleh al-Zamakhsyari sebagai larangan membawa urusan harta kepada hakim dengan maksud untuk memperoleh harta dari orang lain dengan cara suap-menyuap. “janganlah kamu memakan harta orang lain dengan jalan suap-menyuap.”
3.        Al-Suht yang secara leksikal berarti membinasakan dan digunakan untuk melukiskan binatang yang sanat rakus dalam memperoleh makanan. Seseorang yang melahap harta dan tidak peduli dari mana harta tersebut didapat, ia disamakan dengan binatang yang melahap segala macam makanan yang akhirnya membinasakannya. Dalam QS. Al-Maidah: 42, kata “al-suht” diartikan dengan suap. Para mufassir pun seperti al-Zamakhsyari, al-Maraghi, al-Qurtubi dan Ibnu Katisr cenderung mengartikan kata
al-suht” ini sebagai suap. Menurut Ibnu Mas’ud, “al-suht” adalah seseorang dating menemui saudaranya dengan satu kepentingan, lalu ia member hadiah kemudian itu menerimanya. Hamka memberikan penjelasan, bahwa haarta sogokan dinamai suap karena jika sudah disuapi mulut seseorang akan terkatup dan tidak mampu mengeluarkan kalimat apapun, sehingga mulut mereka diangap membisu karena tidak berani menegur yang salah dan menegakkan hukum keadilan.
4.        Al-hirabah, yang berarti merampas harta orang lain. Kata “yuharibuna” dalam QS al-Maidah: 33 dimaknai sebagai aksi hirabah atau perampasan ini . aksi hirabah dapat dilakukan oleh seseorang atau segerombolan orang untuk melakukan kekacauan, pembunuhan, perampasan harta yang secara terang-terangan mengganggu keamanan dan ketertiban social. Sebagian ahli fiqh meyebut pelaku hirabah sebagai “qathi’u al-thariq” atau penyampun dan “al-syariqa al-kubra” atau pencuri besar. Korupsi yang dilakukan dengan cara paksa seperti pungutan liar, meminta komisi, jasa perantara, penerima hadiah, uang pelican dan lain-lain bisa saja dikategorikan ke dalam istilah “hirabah” ini.
5.        As-Saraqah yang berarti mengambil harta orang lain secara rahasia dan melawaqn hukum. Mengambil harta secara tersembunyi sendiri tentu berkembang modus operasinya, bisa dengan penggelapan, penggelembungan harga, pengutan secara tidak resmi, pencurian karya cipta, plagiat dan lain sebagainya. QS. Al-Maidah: 38 berkaitan dengan hukuman bagi para pencuri ini, yakni potongan tangan.
6.        Ghasab yang berarti merampas harta orang lain dengan cara zhalim atau mengabil hak orang lain yang berharga dan berniat mengembalikannya. QS Al-Kahfi: 79 menceritakan kisah perompak yang merampas perahu anak yatim sehingga Khaidir menyelamatkannya dengan cara merusaknya. Meskipun berniat mengembalikan harta yang dikorupsinya, seorang yang melakukan korupsi tetap saja disebut sebagai koruptor.
7.        Khasr dan bakhs yang berarti melakukan kecurangan sehingga merugikan orang lain sebagaimana terapat dalam QS Al-Muthafifin: 1-3 di mana Tuhan mengancam orang yang berbuat curang dalam melakukan penimbangan atau QS Al-Syu’ara: 183 yang melarang manusia berbuat kecurangan yang bisa merugika orang lain.
c.         Keharusan Jujur dan Amanah bagi Pemimpin atau Pejabat Publik
Pemimpin terkadang didefinisikan sebagai orang yang mampu dan memiliki kemampuan mengatur, mengelola, serta menggiring diri, kelompok, agama, bangsa, atau bahkan dunia. Tapi, lebih dari itu, pemimpin merupakan sebuah konsep keteladanan.
Ketika setiap orang mampu meneladani apa yang ia lakukan tanpa sedikitpun rasa keraguan. Ketika tak hanya pengikutnya atau orang-orang terdekatnya yang mau dan mampu untuk ia rangkul, untuk kemudian meneladani serta berdecak kagum dengan apa yang ia lakukan. Bahkan, musuhnya sekalipun mengakui bahwa ia teladan yang baik bagi siapapun.Kiranya begitulah yang ia ajarkan. Ia ajarkan melalui perbuatannya, ia ajarkan dengan menjadi modelnya sendiri. Ialah wali Allah, Rasulullah Saw.
Siapa tak kenal dengan beliau. Pesona serta karisma kepemimpinannya membuat semua orang berdecak kagum dengan sifat dan sikapnya. Semua? Ya, tidak hanya menjadi teladan bagi semua kaum Muslimin dan Muslimat, tetapi juga bagi seluruh alam, karena ia diutus untuk menjadi Rahmat bagi seluruh alam.
Namanya tak lekang oleh waktu, ajarannya tak usang oleh zaman. Bahkan, seorang keturunan Yahudi, Michael H. Hart, dalam bukunya yang berisi 100 orang berpengaruh di dunia menempatkan dirinya di posisi pertama sebagai orang yang paling berpengaruh di dunia.
Lihat, bagaimana semua ini bekerja jika bukan karena dampak dari keteladanannya. Fanatik? Tentu saja bukan. Jikalau memang konsep kepemimpinannya telah diakui oleh dunia, lantas mengapa kita menjadi ragu untuk selalu menyebutnya sebagai contoh, teladan terbaik bagi seluruh pemimpin dunia.
Siapa tak kagum dengan kesopanannya, yang membuat seluruh musuh menaruh rasa hormat padanya. Siapa yang tak takjub apabila sebelum datang amanah langit padanya, lalu ia telah mendapat gelar Al-Amin, sebuah gelar yang hanya dimiliki oleh orang yang benar-benar jujur dalam kesehariannya. Beliau manusia biasa, sama diciptakan oleh Allah melalui kedua orang tuanya. Apa yang menjadikannya berbeda? Tak lain tak bukan adalah pesona kepribadiannya.Apa sebenarnya yang beliau lakukan? Apa resep rahasia untuk pemimpin yang ajarannya sampai lebih dari 1000 tahun lamanya, masih kuat tertanam pada diri pengikut-pengikutnya? Tidak, tidak rahasia. Karena sudah amat sering kita baca dalam buku bacaan, empat sifat yang setidaknya ada pada diri seorang Utusan Allah.1. Siddiq

Siddiq, berkata benar. Seorang pemimpin memang sudah seharusnya memiliki sifat ini. Setiap perkataannya mengandung sebuah kebaikan dan kebenaran.Bagaimana mungkin kita dapat meneladani seorang pemimpin yang suka berbohong kepada rakyatnya. Hari ini berkata tentang A, besok berdalih ke B.
Ketika seorang pemimpin sudah tak dapat lagi dipegang kata-katanya, maka apalagi yang perlu kita teladani dan dipatuhi. Oleh sebab itu, pemimpin yang seperti ini tidak akan mendapat simpati dari masyarakatnya, dari pendukungnya, apalagi dari pihak oposisinya.
Ciri pemimpin yang sering mendustai rakyatnya tentu saja tidak akan memimpin dengan baik, karena ia sering membohongi nuraninya untuk berkata dusta. Sebaliknya, pemimpin yang berkata benar, maka ia tidak akan tega membohongi rakyatnya.
Saat pemimpin atau kelompok pendukungnya melakukan kesalahan, apabila ia mengakuinya dan kemudian tidak berusaha mencari pembenaran akan apa yang telah ia lakukan, maka sesuatu yang keluar dari lisannya adalah sebuah kebenaran. Pemimpin seperti ini menempatkan kebenaran di atas segala-galanya. Yang baik adalah baik dan yang salah adalah salah.
Seperti yang sudah Rasulullah Saw. katakan, apabila putrinya (Fatimah) mencuri, maka ia sendiri yang akan memotong tangannya. Begitulah kebenaran diletakkan di fase terbaik sepanjang zaman, yakni fase ketika Rasulullah menjadi khalifah atau pemimpin. Perkataan yang benar, tentu saja akan melahirkan sebuah keadilan dan kebaikan-kebaikan lain.2. Amanah
Amanah adalah menjalankan tugas dan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Amanah ini memang selayaknya melekat dalam diri seorang pemimpin. Karena saat mengemban tugas sebagai seorang pemimpin, maka pertama kali yang harus ia pegang adalah amanah.
Amanah akan melahirkan banyak sekali sifat-sifat keteladanan. Amanah dapat berbuah keyakinan, ketegasan, peduli serta memahami siapa yang dipimpinnya. Bahkan, sudah semestinya amanah dapat berbuah pada ketenangan dan kesejahteraan bagi rakyat yang dipimpinnya.
Amanah inilah yang tertanam kuat pada pribadi Rasulullah Saw. yang berjanji menjadi orang pertama yang merasakan lapar sebelum rakyat yang dipimpinnya. Selain itu juga menjadi orang yang terakhir merasa kenyang setelah rakyatnya.
Amanah ini jugalah yang melahirkan totalitas dalam memimpin. Tulus dan ikhlas dalam membela kepentingan rakyatnya. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, apabila belum memastikan bahwa seluruh rakyatnya mendapat tempat yang layak untuk bisa tidur dengan nyenyak. Ia tidak bisa makan-makanan mewah sementara rakyatnya banyak yang tidak bisa makan. Ia tidak bisa menikmati fasilitas mewah yang diberikan negara begitu saja, sementara banyak di antara rakyatnya yang hidup dalam kesusahan.
Tidak alasan lain bagi seorang pemimpin, jika ia tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh seorang pemimpin yang dengan kesungguhan hatinya telah menetapkan, serta meneguhkan hatinya untuk bersikap amanah terhadap tugas besar yang diembannya.
Kesadaran akan amanah ini yang menjadi kunci keberhasilan dalam memimpin. Jika pun pemimpin tersebut tidak berhasil, maka sesungguhnya kesungguhan hatinya akan dapat dirasakan oleh rakyatnya. Sehingga, bukan cacian serta hujatan yang ia terima, akan tetapi dukungan moril dari rakyatnya.3. Tabligh
Tabligh adalah menyampaikan. Bagi seorang utusan Allah, menyampaikan artinya memberi pesan pada kaumnya, untuk melakukan apa-apa yang Allah perintahkan dan mencegah dari apa-apa yang Allah larang.
Apakah berbeda dengan pemimpin lainnya? Tentu saja secara esensi tidak. Pemimpin adalah orang pertama yang harus menyampaikan tentang suatu kebaikan. Pemimpin menjadi model bagi rakyatnya untuk bersikap, bergerak, dan bertindak.
Ketika menyampaikan sesuatu hal, tidak ada hal lain yang disembunyikan dari rakyatnya kecuali rahasia-rahasia yang memang tidak boleh diketahui banyak orang dan apabila diketahui banyak orang maka dampak buruk yang timbul lebih besar, misalnya seperti strategi perang dan sebagainya.
Pemimpin yang baik, harusnya menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan, walaupun pahit untuk disampaikan, misalnya dalam memberantas korupsi. Katakan dan sampaikan dengan tegas, apabila ia mengetahui apabila ada rekannya atau bawahannya yang melakukan tindakan ini. Maka dengan ketegasan, sampaikan pembuktian yang sebenarnya. Hitam adalah hitam dan putih adalah putih.4. Fathonah
Fathonah adalah cerdas. Pemimpin memang sudah seharusnya memiliki kecerdasan, baik dari segi intelektualitas maupun dalam kecakapannya dalam memimpin.
Kecerdasan ini akan terwujud dari keprofesionalitasannya dan kemampuannya dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh rakyatnya. Jangan sampai pemimpin yang kita pilih tidak memiliki pengetahuan mengenai siapa yang dipimpinnya dan seperti apa negara yang dipimpinnya.
Kolaborasi empat sifat ini apabila dimiliki oleh Presiden Indonesia di masa mendatang, akan menghasilkan sosok pemimpin idaman. Inilah yang selama ini dinanti-nantikan kehadirannya untuk mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik.
Semua rakyat Indonesia pasti memimpi-mimpikan pemimpin atau presiden yang memiliki keempat sifat ini. Sifat ini merupakan sifat yang satu sama lain saling terkait dan tidak dapat dilepaskan. Sifat yang satu akan mempengaruhi kuatnya sifat yang satunya.
Dengan keempat sifat tersebut, tentu saja akan menghasilkan negara atau rakyat yang dipimpinnya lebih maju dan lebih baik lagi. Semoga saja, pemuda-pemuda yang akan menjadi calon pemimpin masa depan dapat merenungi keempat sifat ini, dan mencoba mengaplikasikannya untuk bekal Indonesia di masa mendatang.
B.       RUMUSAN MASALAH
Solusi dari masalah diatas adalah dengan Revitalisasi agama yang meliputi :
1.        Kyai/Ulama harus netral kalo perlu Golput sekalian di setiap Pemilu dan Pilkada
2.        Pemuka agama serta umat beragama harus segera memutuskan hubungan dengan semua pejabat Negara/elit politik yang terindikasi korup. Dengan jalan, menolak tegas undangan acara doa bersama atau syukuran yang diselenggarakan oleh pejabat Negara/elit politik yang terindikasi korup.Dengan cara demikian, ada kemungkinan kaum koruptor tidak semakin ugal-ugalan menjadikan agama sebagai kedok.
Dengan revitalisasi agama, fenomena koruptor tampak religius yang identik dengan merajalelanya kauam munafik yang mengadakan korupsi berjama’ah mungkin akan segera dapat dibabat habis.
Sebagai pejabat harus bisa memahami dan mengkaji lebih dalam tentang pandangan Islam dalam kehidupan sehari-hari agar tidak menjadi seorang Korupsi
Bagis seorang korupsi harus tahu dan paham tentang larangan suap dan hadiah bagi pejabat dan juga larangan ifsad dan gulul agar bisa menjadi seseorang yang jujur dan amanah menjalani tugasnya sebagai pemimpin.
BAB II
PEMBAHASAN
Hubungan antara Agama dan Korupsi adalah tindakan yang tidak baik bagi kaum moralis, fenomena koruptor yang rajin beribadah akan dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap agama. Dalam Islam, sejak awal stigma munafik telah diberikan kepada orang-orang yang sengaja memfungsikan Islam sebagai kedok. Dalam Islam, orang munafik dipandang sebagai musuh yang paling berbahaya bahkan dalam Al-Qur’an dan hadits pun banyak disebutkan bahwa kaum munafik adalah sangat dikutuk oleh Allah Swt.
Nilai-nilai normative Islam dan anti Korupsi salah satu strategi yang dilakukan untuk memerangi korupsi adalah dengan dirancangnya pendidikan antikorupsi oleh beberapa lembaga pendidikan agar bisa memahami tentang larangan bagi seorang korupsi antra lain, Larangan-larangan suap bagi seorang korupsi dan hadia bagi seorang pejabat adalah sangat tidak dibernarkan dalam islam karna itu sangat menjatuhkan harga diri seseorang dan bisa menjatuhkan moral agama. Maka dari itu sebagai seorang pemimpin diharuskan dan diwajibkan agar memiliki sifat jujur dan menjalankan amanah yang dikerjakannya.
BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Melihat dari pemaparan sebelumya maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hubungan antara agama dan korupsi sangat tidak dibenarkan dalam islam seperti suap, hadiah, ifsad dan gulul :
Suap (sogok)adalah perbuatan yang dicelah oleh Islam dan disepakati oleh para ulama sebegai perbuatan haram.Ø
Ø Suap adalah sebuah perbuatan yang berpotensi merusak sistem yang ada dalam masyarakat karena sogok dapat berpengaruh pada keputusan yang diambil para penegak hukum.
Ø Hadiah adalah sesuatu yang diapresiasi dalam Islam karena dapat menubuhkan rasah cintah kasih diantara umat Islam namun hadiah kepada pejabat atau pegawai yang berwenang tidak diperbolehkan karena dapat menimbulkan kemudaratan setelahnya.
Ø Ifsad adalah suatu tindakan yang sangat merusak dan menjatuhkan harga diri seseorang
Ø gulul adalah yang secara leksikal berarti penghianatan. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan perbuatan seseorang yang melakukan penghianatan dengan menggelapkan harta.
Oleh karna itu kita harus memiliki sifat jujur dan amanah agar kita menjadi seorang pemimpin yang bijaksana.
B.       SARAN
Adapun saran yang bisa kita ambil dari pembahasan kematangan dan pengalaman dalam perkembangan Anak
1.         Diharapkan kepada para Pejabat memahami dan mengerti tentang hubungan antara Agama dan Korupsi dan Nilai-nilai Normatif Islam dan Anti Korupsi.
2.         Penulis mengharapkan kritk dan saran dari teman-teman atau pun pembaca semoga makalah ini kedepannya bisa lebih baik lagi dari sekarang. Amin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s