Dosa beruntun

 
 
 
Adapun yang dimaksud dengan dosa beruntun dalam tulisan ini adalah melakukan perbuatan yang mengandung dosa dan kemudian dari dosa yang satu ini lahir pula dosa-dosa yang lain secara beranak-pinak. Hal yang paling fatal lagi adalah terlibatnya orang lain seperti isteri, anak dan keluarga dalam perbuatan dosa yang dilakukan.

Oleh Drs. Achyar Zein, M.Ag
Adapun yang dimaksud dengan dosa beruntun dalam tulisan ini adalah melakukan perbuatan yang mengandung dosa dan kemudian dari dosa yang satu ini lahir pula dosa-dosa yang lain secara beranak-pinak. Hal yang paling fatal lagi adalah terlibatnya orang lain seperti isteri, anak dan keluarga dalam perbuatan dosa yang dilakukan.
Tindakan korupsi adalah contoh yang paling tepat dalam hal dosa beruntun ini.

Kuat dugaan bahwa para koruptor selalu menggunakan dalih jika ada pihak-pihak yang mecurigainya. Dalih yang selalu digunakan ialah bahwa harta yang diperolehnya hasil dari keringatnya sendiri atau sengaja membohongi publik dengan menggunakan identitas dan rekening orang lain. Dosa beruntun ini juga dapat ditandai melalui belanja yang diberikan para koruptor kepada anak dan isteri mereka. Konsekwensi dari nafkah haram ini merupakan tanggung jawab para koruptor bila muncul prilaku buruk dari salah seorang penerima nafkah. Disadari atau tidak, nafkah haram yang diberikan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap  prilaku seseorang.

Anak, isteri dan keluarga para koruptor tetap saja terlibat dalam dosa jika mengetahui bahwa yang mereka konsumsi adalah hasil korupsi. Demikian juga orang lain tetap saja terlibat jika mengetahui bahwa yang memberi adalah tukang korup. Dalam konteks ini tidak berlaku ‘hilah’ (akal-akalan) dengan membuat-buat anggapan bahwa yang dikonsumsi adalah bagian dari hasil yang halal saja.

Dosa Beruntun dalam Tinjauan Kewahyuan
Ibadah yang dilakukan oleh para koruptor -khususnya ibadah yang berkaitan dengan material seperti zakat dan haji- tetap saja mengandung dosa karena berupaya mengelabui masyarakat dan sekaligus hendak mengibuli Tuhan. Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan ibadah semacam ini maka dosa-dosa mereka akan terhapus.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa tujuan asasi dari zakat adalah untuk membersihkan harta dan jiwa. Akan tetapi perlu dipahami bahwa tujuan ini hanya berlaku bagi muzakki yang mendapatkan harta dari usaha yang halal.

Adapun bagi koruptor maka pernyataan ayat ini sama sekali tidak berlaku karena harta yang dizakatinya bukan miliknya pribadi, kecuali hanya sekadar menzakati harta milik orang lain. Oleh karena itu, para koruptor bukan mendapatkan pahala akan tetapi yang mereka dapatkan adalah dosa. Demikian juga halnya ketika para pewaris Fir’aun ini menunaikan ibadah haji, sedikitpun tidak akan mendapat pahala dan bahkan yang mereka dapat adalah dosa karena melakukan haji setelah mengadakan penindasan. Memang dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang-orang yang mendapatkan haji mabrur maka kesuciannya bagaikan bayi yang baru lahir.

Hadits ini hanya berlaku bagi peserta ONH plus halal dan sama sekali tidak menyentuh ONH plus korupsi. Alasan yang selalu dikedepankan para musuh Allah ini terkesan dibuat-buat, di mana harta yang mereka zakati dan ongkos naik haji yang mereka lakukan adalah hasil dari tabungan gajinya yang halal. Inilah salah satu contoh kelicikan dari para koruptor, sehingga dengan alasannya ini pun dia sudah terjebak kepada dosa, karena membuat paham yang sebenarnya tidak pernah ada. Implikasi dari semua ini sangat mudah dirasakan yaitu tidak adanya perubahan moral pasca pembayaran zakat dan pelaksanaan haji. Oleh karena itu, sekalipun para koruptor mengeluarkan zakat dan menunaikan haji atau menghajikan orang lain, namun sedikitpun tidak akan ada pengaruhnya dalam kehidupan spritual mereka. Dan bahkan kadang-kadang lebih ‘ganas’ pula bila dibanding dengan masa sebelum pengeluaran zakat dan pelaksanaan haji.

Perintah Al-Qur’an mencari harta secara halal dan mendistribusikannya kepada hal-hal yang halal serta memakan makanan yang halal, dapat dijadikan sebagai isyarat dan langkah awal untuk membangun generasi yang shalih. Bagi pelakunya, Allah akan memberikan imbalan pahala ketika di akhirat dan memberikan imbalan ketenangan ketika hidup di dunia. Sebaliknya, orang-orang yang mendapatkan dan menggunakan harta secara haram telah mengingkari perintah Al-Qur’an dan pelakunya akan berhadapan dengan berbagai konsekwensi baik di dunia maupun di akhirat. Contoh harta haram ini adalah harta hasil korupsi yang sekalipun didistribusikan kepada yang halal namun pelakunya tetap saja tidak terlepas dari jeratan dosa.

Mengingat banyaknya implikasi dosa dari hasil korupsi, khusus bagi pelakunya dan juga melibatkan banyak orang, maka sudah sewajarnya jika perbuatan ini dianggap merupakan musuh. Oleh karena itu, kuat dugaan bahwa seorang koruptor dapat melahirkan dosa beruntun yang dapat membuat reputasinya anjlok di hadapan masyarakat terlebih lagi di hadapan Tuhan. Dalam Q.S. al-An’am ayat 160 dan Q.S. al-Qashash ayat 84 disebutkan bahwa orang-orang yang membawa kejahatan akan mendapat pembalasan Tuhan sesuai dengan kadar kejahatannya. Kata yang digunakan adalah jaa yang arti dasarnya ‘datang’. Kemudian kata ini diidiomkan dengan huruf bi yang artinya berubah menjadi ‘membawa’ atau ‘mendatangkan’ demikian al-Ashfahani.

Dengan demikian, maka pengertian ayat di atas menunjukkan adanya dosa beruntun yang melibatkan munculnya dosa-dosa lain atau melibatkan banyak orang. Korupsi dengan segala implikasinya mirip dengan kejahatan yang seperti ini dan secara otomatis kepada para koruptor berlaku pula ketentuan-ketentuan Tuhan, sama halnya dengan pelaku dosa-dosa yang lain. Menurut al-Syawkani dalam tafsirnya Fath al-Qadir, bahwa dimaksud dengan ‘mendatangkan kejahatan’ adalah mendatangkan segala perbuatan jahat. Meminjam pengertian al-Syawkani ini maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengannya adalah dosa beruntun, dimana pelakunya seolah-olah menawarkan kejahatan untuk ditiru orang lain.

Para koruptor khususnya di Tanah Air ini sudah tidak segan-segan lagi melakukan perbuatan jahat tersebut dan bahkan secara kasat mata sangat mudah diketahui karena mereka melakukannya dengan terang-terangan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki beban moral jika kejahatannya ini akan ditiru oleh generasi sesudahnya. Balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang menjajakan kejahatan seperti ini ialah bahwa Allah akan menyungkurkan muka mereka ke dalam neraka, demikian disebutkan dalam Q.S. al-Naml ayat 90. Bentuk pembalasan yang seperti ini dapat pula dipahami sebagai ungkapan rasa kebencian Allah terhadap perbuatan jahat yang mereka lakukan.

Penutup
Hasil haram yang didapatkan oleh para koruptor akan tetap saja haram sekalipun didistribusikannya untuk hal-hal yang baik sehingga terjadi keharaman kumulatif. Selain itu, jika perbuatannya ini ditiru atau dinikmati oleh sebagian orang, maka selama itu pula para koruptor larut dengan dosa-dosa mereka. Inilah yang dimaksud dengan dosa beruntun yang lahir dari rahim para koruptor karena perselingkuhan dosa yang mereka lakukan.

(Penulis adalah Dosen Fak. Tarbiyah IAIN-SU).
(wns)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s