Mengapa harus ber-madzhab

Dalam satu periwayatan hadits disebutkan bahwa suatu ketika ada seorang sahabat bertanya pada Nabi SAW.  Sahabat: “Wahai Nabi,anda adalah manusia biasa.dan suatu ketika akan wafat.maka kalau anda wafat,siapa yg harus kami ikuti?” Nabi: “bukankah masih ada Abu Bakar dan Umar?” Sahabat: “mereka juag manusia,yang pasti akan wafat juga kalau mereka wafat,pada siapa lagi kmi harus mengikuti?” Nabi: “bukankah sahabatku banyak? merrka semua seperti Bintang, ikutilah mereka maka kamu akan mendapat petunjuk” sahabat: “lalu kalau mereka semua meninggal,padaa siapa lagi?”

Nabi: “Al ‘ulama warotsatul anbiya’.para ulama itu adalah pewaris para Nabi”

lalu setelah Nabi wafat,mulailah para ulama dari golongan sahabat dan kurun waktu setelahnya berijtihat dengan menggali hukum dari Alqur’an & Hadits.namun tidak sembarang orang boleh berijtihad.adaa syarat2 tertentu yang harus dipenuhi bagi seorang sebelum diperbolehkan untuk menggali hukum dengan menafsiri Alqur’an & Hadits.diantaranya, Hafal Alqur’an+tafsirnya,Hafal minim ratusan ribu Hadits beserta sanad2nya,mengetahui mana-mana  yang Nashih/Manshuh,mampu menciptakan Kaidah ushul fiqh sendiri sebagai metode untuk mengistinbathkan (menggali) hukum,menguasai Gramatika & sastra Arab,mengetahui mana2 hukum yg telah diijma’kan para ulama pendahulunya,dan masih banyak syarat-syarat lainya. sedang bagi mereka yang belum memenuhi syarat-syarat sebagai mujtahid maka diwajibkan baginya untuk taqlid.

Pada kurun waktu awal Madzahibil fiqhiyyah sebanarnya tidak terbatas pada madzahibil arba’ah saja seperti yang kita kenal sekarang ini.semenjak jaman sahabat telah banyak bermunculan madzhab-madzah Fiqh,seperti Madzhab Ibnu Abbas, Mu’adz bin Jabal, Ibnu Umar dll

Hal ini berlanjut sampai pada kurun Tabi’it tabi’iin dan sastranya.namun untuk kurun-kurun waktu selanjutnya (th 400 H keatas) kecenderungan berijtihad menampakan gejala-gejala kelesuan.hal ini disebabkan semakin langkanya Ulama yang mmpunyai kapasitas keilmuan yg mutafannin (mumpuni) yang memenuhi syarat sebagai mujtahid.dengan sendirinya taqlid menjadi kcenderungan baru bagi masa selanjutnya.

Pada kurun ini, sejarah masih mencatat sebelas Madzhab yang masih mempunyai pengaruh kuat,yaitu Hanafiy,Malikiy,Syafi’iy,Hanbaliy,Sufyan ats-tsauri,Sufyan bin Uyainah,Allaits bin sa’ad,Ishaq bin Jarir,Daud Ad dhohiri,Ja’far shodiq dan Al-auza’iy.

Namun semakin berjalanya waktu satu persatu dari madzhab-mahzhab tersebut dipaksa untuk takluk dibawah usia zaman yang semkin modern.pengikut & pendukung madzhab-madzhab tersebut mengalami pasang surut mengikuti seleksi zaman yg semakin ketat.kemudian untuk kurun-kurun berikutnya hanya madzhab 4 saja yang masih Eksis hingga saat ini. ditambah lagi para ulama mensyaratkan madzhab yang boleh diikuti hanya madzhab-madzhab yang Mudawwan (didokumentasikan) saja.

Hal ini karna pemahaman-pemahaman yang berkembang dikhawatirkan sudah tidak asli lagi sebagai produk madzhab.sementara itu kecurigaan terhadap kejujuran intelektual memang sangat diperlukan untuk memilih & memilah riwayat-riwayat  madzhab yang beragam.pada akhirnya para ulama mutaakhirin lebih mempertajam fenomenologi diatas dengan pernyataan bahwa Almadzahib Al-arba’ah (Hanafi,Maliki,Syafi’iy,Hanbaliy) saja yang boleh diikuti,cz realita sejarah telah membuktikan hanya madzhab 4 saja yg mempunyai rujukan berupa Al-Kutub Almudawwanah (dokumentasi madzhab)

Mengapa kita harus bermazhab dari salah satu yang empat?
Berbicara mengenai taklid kepada salah satu madzhab yang empat berarti kita berbicara mengenai bagian yang sangat urgen. Sebab, bagaimanapun “bermakmum” kepada salah satu mujtahid merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindari oleh siapa saja yang masih belum memiliki otoritas untuk berijtihad.
Pola hubungan mujtahid-muqallid dianggap penting untuk mengantarkan proses hubungan vertikal yang lurus dan benar antara hamba dengan Tuhannya, atau hubungan horizontal yang teratur antara hamba dengan sesamanya. ”Man qallada ‘âliman laqiya Allâha sâliman”, barang siapa mengikuti orang alim maka ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan selamat.

Lalu apa yang menjadi dalil akan keharusan kita untuk bertaklid? Allah berfirman dalam al-Qur’an:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (الأنبياء [21]: 7)

Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (QS. Al-Anbiya’ [21]: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa bagi siapa saja yang tidak tahu tentang sesuatu maka bertanyalah kepada orang yang membidanginya. Lebih tegas lagi dijelaskan dalam ayat berikut:
وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ (النساء [4]: 83)

Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang yang ingin mengetehui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka. (QS. an-Nisa’ [4]: 83).
Menurut para ulama, ayat ini menegaskan bahwa orang yang bisa melakukan istinbath (menggali hukum dari sumbernya) hanyalah orang yang memiliki keahlian berijtihad. Sementara sejarah berbicara bahwa pada masa kini sudah tidak ditemukan seorangpun yang mencapai posisi mujtahid. Bahkan Ibnu Hajar menegaskan, bahwa setelah priode asy-Syafi’i tidak pernah ditemukan lagi seorang mujtahid muthlaq atau mujtahid mustaqil.
***

Sebenarnya, madzhab yang boleh diikuti tidak terbatas pada empat saja. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Sayyid Alawi bin Ahmad as-Seggaf dalam Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah:”Sebenarnya yang boleh diikuti itu tidak hanya terbatas pada empat madzhab saja. Bahkan masih banyak madzhab ulama (selain madzhab empat) yang boleh diikuti, seperti madzhab Sufyan ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Ishaq bin Rahawaih, Daud azh-Zhahiri dan al-Auza’i (Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah, hlm 59).

Namun mengapa yang diakui serta diamalkan oleh golongan Ahlussunnah wal-jamaah hanya empat madzhab saja? Sebenarnya, yang menjadi salah satu faktor adalah tidak lepas dari murid beliau-beliau yang kreatif, yang membukukan pendapat-pendapat imam mereka sehingga semua pendapat imam tersebut dapat terkodifikasi dengan baik, akhirnya validitas dari pendapat-pendapat tersebut tidak diragukan lagi. Di samping itu, madzahibul arba’ah ini telah teruji keshalihannya sepanjang sejarah, sebab memiliki metode istinbat yang jelas dan sistematis, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Sebagaimana masih ditegaskan oleh Sayyid ‘Alawi bin Ahmad as-Seggaf dalam Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah: “Sekelompok ulama dari kalangan ashhab kita (ashhâbina) mengatakan bahwa tidak diperbolehkan bertaklid kepada selalin madzhab yang empat, karena selain yang empat itu jalur periwayatannyatidak valid, sebab tidak ada sanad (mata rantai) yang bisa mencegah dari kemungkinan adanya penyisipan dan perubahan. Berbeda dengan madzhab yang empat. Para tokohnya telah mengerahkan kemampuannya untuk meneliti setiap pendapat serta menjelaskan setiap sesuatu yang memang pernah diucapkan oleh mujtahindnya atau yang tidak pernah dikatakan, sehingga para pengikutnya merasa aman dari terjadinya perubahan, distorsi pemahaman, serta meraka juga mengetahui pandapat yang shahih dan yang lemah.” (Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah, hlm 59)

Jadi kesimpulannya, kita tidak diperbolehkan melakukan ijtihad sendiri, sebab kita tidak mempunyai bekal yang memadai untuk sampai pada tingkatan itu, kendati pintu ijtihad masih terbuka selebar-lebarnya. Dan yang boleh diikuti pada saat ini madzhab yang empat, sebab madzhab di luar madzhab yang empat tidak mudawwan (terkodifikasi), dan mata rantai periwayatannya telah terputus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s