Masalah Munafik

MENGAPA RASULULLAH TIDAK MEMBUNUH ORANG MUNAFIK
Oleh: Abdurrahman
Segala puji hanya bagi Alloh, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam, keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat, amma ba’du.
Definisi Nifaq
Nifaq secara bahasa berasal dari kata ‘nafiqaa’ yaitu salah satu lubang tempat keluarnya yarbu (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lubang yang satu maka akan keluar dari lubang yang lain. Di katakan pula, ia berasal dari kata ‘nafaq’ yaitu lubang tempat bersembunyi. (Lihat, An Nihayah, Ibnu Al Atsir, 5/98)
Nifaq menurut syara’ yaitu menampakkan Islam dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian karena dia masuk pada syari’at dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain. Karena itu Alloh memperingatkan dengan firman-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu mereka adalah orang-orang yang fasiq” (QS. At Taubah:67)
Yaitu mereka adalah orang yang keluar dari syari’at.
Alloh menjadikan orang-orang munafik lebih jelek dari orang-orang kafir. Alloh Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An Nisaa:145)
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu mengatakan, “Karena itu, di awal surat Al Baqarah, Alloh menyifati orang-orang kafir hanya dengan dua ayat, sedang orang-orang munafik di sifatinya dengan tiga belas ayat.”
Jenis Nifaq
Nifaq ada dua jenis, yaitu Nifaq I’tiqadi dan Nifaq ‘Amali.
1. Nifaq I’tiqadi
Nifaq I’tiqadi (keyakinan) merupakan nifaq besar, dimana pelakunya menampakkan keIslaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Nifaq i’tiqadi adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal keyakinan.
Nifaq jenis ini ada empat macam, yaitu
1. Mendustakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam atau mendustakan sebagian apa yang beliau bawa.
2. Membenci Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam atau membenci sebagian apa yang beliau bawa.
3. Merasa gembira dengan kemunduran agama Islam.
4. Tidak senang dengan kemenangan Islam.
2. Nifaq ‘Amali
Nifaq amali (perbuatan), yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih ada iman di dalam hati. Nifaq amali ini adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal perbuatan, bukan dalam hal keyakinan.
Nifaq jenis ini tidak mengeluarkan dari agama, tetapi merupakan wasilah (perantara) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam iman dan nifaq. Lalu jika perbuatannya nifaqnya banyak, maka akan bisa menjadi sebab terjerumusnya dia ke dalam nifaq sesungguhnya.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wassalam bersabda, “Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji tidak menepati, dan jika dipercaya khianat.” (Muttafaq ‘Alaih)
Beliau Shallallahu ‘Alaihi wassalam juga bersabda, “Empat perkara, jika ada pada diri seseorang maka ia seorang munafik sejati. Dan jika salah satu dari padanya ada pada seseorang maka ia memiliki satu sifat munafik, sehingga ia meninggalkannya, yaitu: bila berbicara dusta, bila berjanji tidak menepati, jika membuat persetujuan ia khianat dan bila berbantah ia (beragumentasi secara) dusta.” (Muttafaq ‘Alaih)
Perbedaan Antara Nifaq Besar Dengan Nifaq Kecil
Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan menyebutkan empat perbedaan antara nifaq besar (nifaq i’tiqadi) dengan nifaq kecil (nifaq ‘amali) yaitu:
1. Nifaq besar mengeluarkan pelakunya dari agama, sedangkan nifaq kecil tidak mengeluarkannya dari agama.
2. Nifaq besar adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal keyakinan, sedangkan nifaq kecil adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal perbuatan, bukan dalam hal keyakinan.
3. Nifaq besar tidak terjadi dari seorang mukmin, sedangkan nifaq kecil bisa terjadi dari seorang mukmin.
4. Pada galibnya, pelaku nifaq besar tidak bertaubat, seandainya pun bertaubat, maka ada perbedaan pendapat tentang diterimanya taubatnya di hadapan hakim. lain halnya dengan nifaq kecil, pelakunya terkadang bertaubat kepada Alloh, sehingga Alloh menerima taubatnya.
Mengapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam Tidak Membunuh Orang-Orang Munafik?
Setidaknya ada empat hikmah mengenai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam menahan diri tidak membunuh orang-orang munafik (dalam hal ini mereka yang memiliki jenis nifaq i’tiqadi), padahal beliau mengetahui sendiri tokoh-tokoh mereka itu. Berikut adalah diantara hikmahnya:
1. Agar jangan sampai ada yang mengatakan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wassalam membunuh sahabatnya sehingga menimbulkan fitnah.
Disebutkan dalam kitab Shahih Al Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam pernah mengatakan kepada Umar bin Khaththab radhiallahu ‘ahu:
“Aku tidak suka kalau nanti bangsa Arab ini memperbincangkan, bahwa Muhammad telah membunuh sahabat-sahabatnya.”
Artinya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wassalam mengkhawatirkan terjadinya perubahan pada banyak orang Arab untuk masuk Islam, karena mereka tidak mengetahui hikmah dari pembunuhan tersebut. Padahal pembunuhan yang beliau lakukan terhadap orang munafik itu karena kekufuran. Sedang mereka hanya melihat pada yang mereka saksikan, lalu mereka mengatakan, “Muhammad telah membunuh sahabat-sahabatnya.”
2. Sebagai pelajaran bagi seorang penegak hukum agar tidak memutuskan perkara dengan pengetahuannya semata, namun membutuhkan saksi-saksi yang menguatkan.
Sebagaimana yang dikatakan Imam Malik : “Sebenarnya Rasulullah menahan diri tidak membunuh orang-orang munafik itu dimaksudkan untuk menjelaskan kepada umatnya bahwa seorang hakim tidak boleh memutuskan berdasarkan pengetahuannya semata.”
Al-Qurthubi mengatakan bahwa para ulama telah sepakat bahwa seorang hakim tidak boleh memutuskan suatu perkara berdasarkan pengetahuannya semata, meskipun mereka berbeda pendapat mengenai hukum-hukum lainnya.
3. Sebagai dalil bahwasanya yang dinilai adalah zhahir (yang nampak), adapun batinnya adalah urursan Alloh Ta’ala.
Imam asy-Syafi’i mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam menahan diri tidak membunuh orang-orang munafik atas tindakan mereka menampakkan keislaman, meskipun beliau mengetahui kemunafikan mereka itu, karena apa yang mereka tampakkan itu mengalahkan apa yang sebelumnya (kemunafikan) .
Pendapat tersebut diperkuat dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam dalam sebuah hadits yang terdapat di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim:
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Alloh dan Muhammad adalah Rasul Alloh. Apabila mereka mengatakannya, maka darah dan harta kekayaan mereka mendapat perlindungan dariku kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka berada di tangan Alloh.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Artinya, barangsiapa telah mengucapkan kalimat “Laa ilaha Illallaah” itu, maka berlaku baginya secara zhahir seluruh hukum Islam, dan jika ia meyakininya, ia akan mendapat pahala di akhirat kelak. Dan jika ia tidak meyakininya, maka tidak akan mendapatkan manfaat baginya (di akhirat nanti) perlakukan hukum terhadapnya di dunia. Adapun keadaan mereka yaitu bercampur baur dengan orang-orang yang beriman, sebagaimana Alloh Tabaraka wa Ta’ala berfirman:
“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: ‘Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?’ mereka menjawab: ‘Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Alloh..’” (QS. Al Hadid:14)
Maksudnya, mereka bersama-sama dengan orang-orang mukmin di beberapa tempat di padang mahsyar, dan jika hari yang telah ditetapkan Alloh itu tiba, maka perbedaan mereka tampak jelas dan akan terpisah dari orang-orang mukmin. Alloh Ta’ala berfirman, “Dan dihalangi antara mereka dan apa yang mereka inginkan…” (QS. Saba’:54)
4. Keberadaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam, menjadikan orang munafik tidak dapat berbuat apa-apa.
Di antaranya adalah apa yang dikatakan sebagian ulama, bahwa Nabi tidak membunuh orang-orang munafik itu, karena kejahatan mereka tidak dikhawatirkan dan disebabkan keberadaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wassalam di tengah-tengah mereka, beliau membacakan ayat-ayat Alloh yang memberikan penjelasan. Adapun setelah beliau wafat, mereka dibunuh jika mereka menampakkan kemunafikkannya dan hal itu diketahui oleh umat Islam.
Imam Malik mengatakan: “Orang munafik pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam adalah zindiq pada hari ini.”
Mengenai hal itu Ibnu Katsir berkata, para ulama telah berbeda pendapat mengenai pembunuhan terhadap zindiq. Jika ia menampakkan kekufuran, apakah ia harus diminta bertaubat atau tidak, atau apakah harus dibedakan antara penyeru (kepada kezindikkannya) atau tidak, atau apakah kemurtadan berulang-ulang pada dirinya atau tidak? Ataukah ke-Islaman serta keluarnya dari Islam karena kemauan sendiri atau dipengaruhi orang lain? Mengenai hal ini terdapat beberapa pendapat yang menjelaskan dan penetapannya sudah diberikan dalam kitab-kitab fiqih.
Daftar Rujukan:
Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Al Sheikh. 2003. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1. Terjemahan oleh Abdul Ghaffar, Bogor: Pustaka Imam Asy Syafi’i
Muhammad bin Jamil Zainu. 2003. Jalan Golongan yang Selamat. Terjemahan oleh Ainul Harits Umar Arifin Thayib. Jakarta: Yayasan Al Sofwa
Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan. 2002. Kitab Tauhid 3. Terjemahan oleh Ainul Haris Arifin. Jakarta: Darul Haq.
Yazid bin Abdul Qadir jawas. 2005. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Bogor: Pustaka At Taqwa
Dikutip dari Buletin Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah Malang Edisi-50, 3 Shafar 1429H/10 Februari 2008,
Penasehat: Ustadz Abdullah Shaleh al Hadromi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s