Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir sering menggunakan al Maidah 44 untuk menyerang mereka yang tidak sepaham. Tentu saja dengan tafsiran menurut hawa nafsu mereka. Benarkah tuduhan mereka itu ? Benarkah Alloh menjanjikan khilafah ? Sebelumnya, agar lebih jelas seperti apa dalil yang sering digunakan oleh pemuja khilafah itu mari kita lihat selengkapnya mulai dari QS al Maidah 40 hingga 47
QS. al-Mai’dah (5) : 40
Wahai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.
QS. al-Mai’dah (5) : 41
Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.
QS. al-Mai’dah (5) : 42
Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman.
QS. al-Mai’dah (5) : 43
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
QS. al-Mai’dah (5) : 44
Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.
QS. al-Mai’dah (5) : 45
Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.
QS. al-Mai’dah (5) : 46
Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.
QS. al-Mai’dah (5) : 47
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.
Al Maidah (5):48
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian [421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu [422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, [421] Maksudnya: Al Qur’an adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. [422] Maksudnya: umat Nabi Muhammad s.a.w. dan umat-umat yang sebelumnya.
Anyway, dengan ayat itu, hizbut tahrir menyatakan bahwa jika tidak berhukum dengan hukum Alloh maka kafirlah dia. Hal ini namanya salah letak keliru pasang. Mari kita lihat dimana salah letak keliru pasangnya. Adapun sababun nuzul (sebab turun) ayat di atas yaitu:
“Bahwasanya didatangkan kepada Rasulullah SAW sepasang laki-laki dan perempuan Yahudi berzina, lalu Rasulullah SAW pergi sampai datang orang-orang Yahudi. Beliau bertanya kepada mereka: ‘Apa hukuman dalam Taurat bagi orang yang berzina?’ Mereka menjawab: ‘Kami hitamkan kedua wajahnya dan kami arak-arak keliling kota.’ Rasulullah SAW berkata: ‘Datangkan Taurat padaku dan bacalah jika kalian benar.’ Orang-orang Yahudi pun membawa Taurat, salah seorang pemuda membacanya. Ketika sampai pada ayat rajam, pemuda itu meletakkan tangannya (untuk menutupi ayat rajam). Abdullah bin Salam berkata padanya: ‘Suruh dia mengangkat tangannya!’ Maka pemuda itu mengangkat tangannya dan terdapat ayat rajam, maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk merajam kedua pezina itu, sehingga mereka dirajam. Abdullah bin Umar berkata: ‘Aku termasuk orang yang ikut merajam dan aku lihat laki-laki itu melindungi perempuan itu dengan tubuhnya.’ ” (Riwayat Imam Muslim)
Ibnu Umar mengatakan:
“Orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah SAW, mereka menceritakan ada sepasang laki-laki dan perempuan Yahudi berzina. Rasulullah bertanya: ‘Apa yang kalian dapati di Taurat tentang rajam?’ Mereka menjawab: ‘Kami cambuki dan pertontonkan mereka.’ Abdullah bin Salam berkata: ‘Kalian dusta! Sesungguhnya Taurat menyebut hukum rajam.’ Lalu mereka mendatangkan Taurat dan salah satu dari mereka membacanya dan menutupi ayat rajam dengan tangannya. Abdullah bin Salam berkata: ‘Angkat tanganmu!’ Setelah tangannya diangkat, mereka berkata: ‘Benar wahai Muhammad. Di dalamnya ada ayat rajam.’ Maka Rasulullah memerintahkan untuk merajam kedua pezina itu. Saya melihat laki-laki itu memiringkan badannya untuk melindungi sang perempuan dari lemparan batu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
“Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas: ‘Bahwasanya ayat-ayat ini turun berkenaan dengan dua orang Yahudi yang berzina, sebagaimana disebutkan dalam hadist-hadist di depan. Dan bisa jadi dua peristiwa itu terjadi secara bersamaan dalam satu waktu, lalu ayat ini turun dengan semua peristiwa tersebut.’” (Ibnu Katsir, dalam Umdadut Tafsir IV/148-155)
Al-Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya, menyatakan bahwa ayat ini mengandung takwil sebagaimana dinyatakan oleh sahabat Abdullah ibn Abbas dan sahabat al-Bara’ ibn Azib. Al-Qurthubi sebagai berikut:
“Seluruh ayat ini turun di kalangan orang-orang kafir (Yahudi). Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam Shahih Muslim dari hadits sahabat al-Bara’ ibn Azib. Adapun seorang muslim, walaupun ia melakukan dosa besar [selama ia tidak menghalalkannya], maka ia tetap dihukumi sebagai orang Islam, tidak menjadi kafir. Kemudian menurut satu pendapat lainnya; bahwa dalam ayat di atas terdapat makna tersembunyi (izhmar), yang dimaksud ialah: “Barang siapa tidak memakai hukum Allah, karena menolak al-Qur’an dan mengingkarinya, maka ia digolongkan sebagai orang-orang kafir”. Sebagaimana hal ini telah dinyatakan dari Rasullah oleh sahabat Abdullah ibn Abbas dan Mujahid. Inilah yang dimaksud dengan ayat tersebut” [al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 6, h. 190].
Selain penafsiran sahabat Abdullah ibn Abbas dan al-Bara’ ibn Azib di atas, terdapat banyak penafsiran serupa dari para sahabat lainnya. Di antaranya penafsiran Abdullah ibn Mas’ud dan al-Hasan yang menyebutkan bahwa ayat tersebut berlaku umum bagi orang-orang Islam, orang-orang Yahudi maupun orang-orang kafir, dalam pengertian bahwa siapapun yang tidak memakai hukum Allah dengan menyakini bahwa perbuatan tersebut adalah sesuatu yang halal maka ia telah menjadi kafir. Adapun seorang muslim yang berbuat dosa atau tidak memakai hukum Allah dengan tetap menyakini bahwa hal tersebut suatu dosa yang haram dikerjakan maka ia digolongkan sebagai muslim fasik. Dan seorang muslim fasik semacam ini berada di bawah kehendak Allah; antara diampuni atau tidak.
Pendapat lainnya dari al-Imam al-Sya’bi menyebutkan bahwa ayat ini khusus tentang orang-orang Yahudi. Pendapat ini juga dipilih oleh al-Nahhas. Alasan pendapat ini ialah :
1. Bahwa pada permulaan ayat ini yang dibicarakan adalah orang-orang Yahudi, yaitu pada firman Allah; “Lilladzin Hadu.”. Dengan demikian maka dlamir [kata ganti] yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi, bukan orang-orang Islam.
2. Bahwa pada ayat sesudah ayat ini, yaitu pada ayat 45, adalah firman Allah; “Wa Katabna ‘Alaihim.”. Ayat 45 ini telah disepakati oleh para ahli tafsir, bahwa dlamir yang ada di dalamnya yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. Dengan demikian jelas antara ayat 44 dan 45 memiliki korelasi kuat bahwa yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi [sebagaimana hal ini dapat dipahami dengan ‘Ilm Munasabat al-Ayat].
Kemudian diriwayatkan bahwa sahabat Hudzifah ibn al-Yaman suatu ketika ditanya tentang ayat 44 ini; “Apakah yang dimaksud oleh ayat ini adalah Bani Isra’il?” sahabat Hudzaifah menjawab menjawab; “Benar, ayat itu tentang Bani Isra’il”. Sementara menurut al-Imam Thawus [murid Abdullah ibn Abbas] bahwa yang dimaksud “kufur” dalam ayat 44 ini bukan pengertian kufur yang mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi yang dimaksud “kufur” disini adalah dosa besar. Tentu berbeda, masih menurut Imam Thawus, dengan apa bila seseorang membuat hukum dari dirinya sendiri kemudian ia meyakini bahwa hukumnya tersebut adalah hukum Allah [atau lebih baik dari hukum Allah], maka orang semacam ini telah jatuh dalam kufur; yang telah benar-benar mengeluarkannya dari Islam. Al-Imam Abu Nashr al-Qusyairi, [dan Jumhur Ulama] berkata bahwa pendapat yang menyatakan orang yang tidak memakai hukum Allah maka ia telah menjadi kafir adalah pendapat kaum Khawarij. [Kelompok Khawarij terbagi kepada beberapa sub sekte. Salah satunya sekte bernama al-Baihasiyyah. Kelompok ini mengatakan bahwa siapa saja yang tidak memakai hukum Allah, walaupun dalam masalah kecil, maka ia telah menjadi kafir; keluar dari Islam].
A. Maftuh Abegebriel yang menyimpulkan bahwa kekeliruan dalam memahami QS. al-Ma’idah: 44 tersebut adalah salah satu akar teologis dan politis dari berkembangnya gerakan radikal di beberapa negara timur tengah, seperti gerakan Ikhwan al-Muslimin pasca kepempinan dan wafatnya Syaikh Hasan al-Banna (Rahimahullah). Padahal di negara Mesir, yang merupakan basis awal gerakan al-Ikhwan al-Muslimun, belakangan menolak keras kelompok yang dianggap ekstrim ini bahkan memejarakan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Faham Sayyid Quthub di atas seringkali dijadikan “ajaran dasar” oleh banyak gerakan, seperti Syabab Muhammad, Jama’ah al-Takfir Wa al-Hijrah, Jama’ah al-Jihad, al-Jama’ah al-Islamiyyah dan banyak lainnya. Muara semua gerakan tersebut adalah menggulingkan kekuasan setempat dan mengklaim mereka sebagai orang-orang kafir dengan alasan tidak memakai hukum Islam. [Lebih luas tentang ini baca di antaranya; A. Maftuh Abegebriel, Fundamentalisme Islam; Akar teologis dan politis (Negara Tuhan; The Thematic Incyclopaedia), h. 459-555].
Dengan ayat ini, pemuja khilafah mengatakan sistem demokrasi itu kafir, orang-orang yg tidak setuju dengan khilafah itu kafir, pemerintah menggunakan sistem toghut, dan lain sebagainya. Tapi kemudian terjadi kekonyolan akibat pola pikir yang salah letak keliru pasang ini. Ambil contoh paling sederhana :
Makanan
Di Qur’an jelas tertulis bahwa hewan yang disembelih dengan tidak menyebut asma Alloh maka haram dimakan. Nah, jika yang memotong hewan itu tidak setuju dengan paham khilafah, maka menurut paham khilafah tukang potong hewan itu ketika memotong hewan berada dalam kondisi kafir, artinya daging yang dipotong oleh tukang potong itu menjadi barang haram. Bukankah itu artinya mereka para pemuja khilafah harusnya khawatir memakan daging haram? Padahal daging itulah yang menjadi konsumsi sehari – hari. Lha kalau makannya barang haram, lalu bagaimana ibadahnya ?
Lantas kalau ibadah haji gimana? Wong konsep khilafah ditolak di negara timur tengah, yang memotong hewan tentu saja kafir (menurut dalil yg sering mereka gunakan). Persoalan makan dan minum adalah persoalan prinsip. Bahkan saking pentingnya banyak sejarah dalam Al Qur’an yang disampaikan kepada manusia, adalah sejarah awal kejatuhan manusia karena kebutuhan perut inilah yang paling awal disajikan dalam Al Quran, yakni sejarah kejatuhan Nabi Adam As.
Menikah
Di Indonesia, untuk urusan menikah, Kantor Urusan Agama adalah lembaga legitimasi pernikahan yang diakui pemerintah Indonesia. Mengingat paham khilafah yang menganggap bahwa pemerintah ini toghut alangkah aneh jika pemuja khilafah menjadikan petugas KUA sebagai modin alias hakim pernikahan. Karena modin yang kafir jelas membatalkan syarat sah-nya pernikahan secara Islam, bukankah itu sama saja artinya para pemuja khilafah sebenarnya tidak menikah melainkan berzina ?
Dua hal sederhana di atas tampaknya memang sepele, namun itu adalah hal mendasar dalam kelangsungan kehidupan manusia. Dua – duanya adalah kebutuhan mutlak manusia, yakni kebutuhan untuk bertahan hidup dan meneruskan keturunan. Bagaimana mau menegakkan syariat Islam jika persoalan sepele ini dipandang sebelah mata ? Lalu dimana sebenarnya pandangan HT dalam masalah agama sebenarnya ?

2 Responses to Hizbut Tahrir

  1. Abu Hubbina says:

    Saya pikir penulis artikel ini tidak memahami fakta yang ada.Penulis artikel hanya mendasarkan pada asumsi2 yang dibangun oleh penuilis itu sendiri.Kewajiban menegakkan Khilafah itu semua ulama telah bersepakat hukumnya adalah wajib.Semua Imam Madzhab telah mewajibkannya.Terkait masalah sistem demokrasi status hukumnya adalah Kufur bukan kafir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s