Alif washal

Alif Washal Yang Agak Membingungkan (Bagian Keempat): Pengecualian

Fi’il atau kata kerja dalam bahasa arab hampir semuanya berasal dari tiga huruf. Kata ٱرْكُضْ berasal dari رَكَضَ, kata ٱقْتُلُوا۟ berasal dari قَتَلَ, kata ٱسْتُهْزِئَ berasal dari هَزَأَ dan seterusnya. Dalam pelajaran bahasa arab, ketiga huruf ini dibuat pola dengan huruf fa’-‘ain-lam ف -ع – ل. Dari tiga huruf ini, suatu kata bisa berubah-ubah bentuknya tergantung jenis katanya dan pelakunya menurut suatu pola, yang dalam bahasa arab disebut wazan, tertentu. Misalnya pola/wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ – اِفْعِلْ. Kata فَعَلَ adalah bentuk kata kerja waktau lampau (fi’il madhi), kata يَفْعِلُ adalah kata kerja waktu sekarang atau akan datang (fi’il mudhori’), sedangkan kata اِفْعِلْ adalah kata kerja perintah (fi’il amar) dan huruf alif di awal kata adalah alif washal (di mushaf Al-Qur’an cetakan timur tengah ditulis dengan ٱ tanpa tanda kasroh). Kata perintah اِفْعِلْ adalah perintah untuk 1 orang laki-laki. Bila yang diperintah adalah banyak orang, lebih dari 2 orang laki-laki, maka bentuknya berubah menjadi اِفْعِلُوا. Dengan wazan ini kita bisa mengubah bentuk (biasa disebut dengan mentashrif) kata رَجَعَ menjadi bentuk lainnya. Pada kata رَجَعَ huruf pertama, biasa disebut fa’ fi’il, adalah ro (ر); huruf kedua, biasa disebut ‘ain fi’il, adalah jim (ج); huruf ketiga, biasa disebut lam fi’il, adalah ‘ain (ع). Dengan menggunakan wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ – اِفْعِلْ kita bisa mengubah kata رَجَعَ yang merupakan bentuk fi’il madhi menjadi يَرْجِعُ untuk fi’il mudhori’nya, dan اِرْجِعْ untuk fi’il amarnya. Sedangkan fi’il amar untuk lebih dari 2 orang laki-laki adalah اِرْجِعُوا.

Ada banyak pola (wazan) perubahan bentuk kata dalam bahasa arab. Satu wazan cocok untuk kata tertentu, tetapi belum tentu cocok untuk kata lainnya. Misalnya untuk kata ضَرَبَ cocok menggunakan wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ – اِفْعِلْ, tetapi kata قَتَلَ cocoknya menggunakan wazan فَعَلَ – يَفْعُلُ – اُفْعُلْ. Berbagai wazan ini dipelajari dipelajari secara khusus dalam cabang ilmu bahasa arab yang bernama ilmu shorof atau tashrif.

Bentuk, atau disebut juga bina, fi’il dibagi dua: bina salim dan bina ghair salim. Kalau diterjemahkan, bina salim adalah bentuk yang selamat, bina ghair salim adalah bentuk yang tidak selamat. Yang dimaksud tidak selamat ini adalah karena adanya satu atau lebih dari tiga hal ini: ada huruf ‘illat yaitu alif, ya’ dan wau, misalnya قَضٰى yang mana lam fi’ilnya adalah huruf ya’; ada huruf hamzah, misalnya أَذِنَ yang mana fa’ fi’ilnya adalah huruf hamzah; ada huruf yang dobel yang kemudian disatukan dengan tanda tasydid, misalnya مَدَّ yang mana ‘ain fi’il dan lam fi’ilnya sama sehingga disatukan dengan tanda tasydid.

Aturan pembacaan alif washal yang saya tulis di bagian ketiga, tidak selalu berlaku untuk fi’il bina ghair salim. Karena itu, saya buat tulisan tersendiri di bagian keempat ini yang merupakan pengecualian untuk fi’il bina ghair shalim tersebut. Yang saya temukan di dalam Al-Qur’an pengecualian itu untuk bentuk fi’il amar dengan lam fi’il ya’ dan fi’il amar dengan fa’ fi’il hamzah.

Di atas saya memberi contoh fi’il dengan lam fi’il huruf ya’ yaitu قَضٰى. Bentuk fi’il amarnya adalah ٱقْضِ, alif washalnya bila tidak disambung dengan bacaan sebelumnya dibaca “i” jadi “iq-dhi”. Contoh di Al-Qur’an adalah QS Thoha 20:72
Ini adalah kata perintah untuk 1 orang laki-laki. Bila yang diperintah lebih dari 2 orang laki-laki, bentuknya berubah menjadi ٱقْضُوا, alif washalnya tetap dibaca “i” jadi “iq-dhuu”. Contoh di Al-Qur’an adalah QS Yunus 10:71
Kalau dilihat huruf ketiga dari kata ٱقْضُوا, yaitu huruf dhod (ض) yang berharakat dhommah, menurut aturan mestinya alif washalnya dibaca “u”. Disinilah pengecualiannya, yaitu untuk fi’il dengan lam fi’il huruf ya’ pada fi’il amar untuk banyak orang laki-laki, walaupun huruf ketiganya berharakat dhommah alif washalnya dibaca “i”.

Yang berikutnya adalah fi’il dengan fa’ fi’il hamzah, di atas saya memberi contoh أَذِنَ. Bentuk fi’il amarnya adalah ٱئْذَنْ. Contoh di Al-Qur’an adalah QS At-Taubah 9:49
Menurut aturan, karena huruf ketiga yaitu dzal (ذ) berharakat fathah, maka huruf alif atau hamzah washal pada kata ٱئْذَنْ dibaca “i” jadi “i’-dzan”. Namun, dalam ilmu shorof atau tashrif, apabila dua hamzah bertemu dalam satu kata dan hamzah kedua disukun, hamzah kedua ini biasanya diganti dengan huruf yang sesuai dengan harakat huruf sebelumnya, yaitu bila harakat kasroh diganti dengan huruf ya’ dan bila dhommah diganti dengan huruf wau. Karena itu, kata ٱئْذَنْ bila tidak disambung dengan bacaan sebelumnya bukan dibaca “i’-dzan”, tetapi dibaca”ii-dzan” (اِيْذَنْ).

Bagaimana bila suatu kata fa’ fi’ilnya hamzah dan lam fi’ilnya ya’? Misalnya kata أَتٰى. Bentuk fi’il amarnya adalah ٱئْتِ. Contoh di Al-Qur’an adalah QS Yunus 10:15

Kata ٱئْتِ bila tidak disambung dengan bacaan sebelumnya bukan dibaca “i’-ti”, tetapi dibaca “ii-ti” (اِيْتِ). Ini adalah kata perintah untuk 1 orang laki-laki. Bila yang diperintah lebih dari 2 orang laki-laki, bentuknya berubah menjadi ٱئْتُوا, cara membacanya bukan “u’-tuu” atau “i’-tuu” tetapi “ii-tuu” (اِيْتُوْا). Contoh di Al-Qur’an ada di QS Toha 20:64

Semua contoh yang saya beri kotak merah di atas memang bukan di awal ayat ataupun sesudah tanda waqaf, jadi tidak perlu dihafalkan karena biasanya membacanya disambung dengan bacaan sebelumnya. Namun bila ingin memulai bacaan pada kata-kata semacam contoh di atas harus mengikuti aturan yang telah saya tuliskan.

Walaupun contoh-contoh di atas tidak perlu dihafal, tetapi ada 1 ayat yang mesti diingat, yaitu QS Al-Ahqaf 46:4
Sesuai dengan contoh QS Toha 20:64, kata yang saya beri lingkaran merah di atas bukan dibaca “u’-tuu-nii” atau “i’-tuu-nii”, tetapi dibaca “ii-tuu-nii” (اِيْتُوْنِيْ). Karena kata ini didahului dengan tanda waqaf ( ۖ), maka biasanya kita memulai bacaan dari kata ini, jadi perlu diingat cara membacanya.

Ada satu hal lagi yang saya ingin peringatkan agar berhati-hati, yaitu huruf alif dan lam di awal kata. Tidak semua alif washal yang diikuti huruf lam mati adalah penanda isim ma’rifah. Misalnya kata ٱلْتَقَى yang ada di QS Al-Anfal 8:41
Kata ٱلْتَقَى bukan isim tetapi fi’il, sehingga huruf alim dan lam yang saya lingkari merah di atas bukan penanda isim ma’rifah, karena itu tidak boleh dibaca “al-ta-qo”. Kata ٱلْتَقَى bila tidak disambung dengan bacaan sebelumnya dibaca “il-ta-qo”. Jangan khawatir bila tidak bisa membedakan huruf alim dan lam penanda isim ma’rifah atau bukan, karena di dalam Al-Qur’an tidak ada kata yang diawali huruf alif dan lam yang bukan penanda isim ma’rifah seperti “il-ta-qo”, yang berada di awal ayat atau sesudah tanda waqaf. Tetapi, bila ingin memulai bacaan di tengah ayat bukan setelah tanda waqaf pada kata yang diawali huruf alim-lam, hendaknya hati-hati jangan sampai keliru membedakan antara penanda isim ma’rifah atau bukan.

Kesimpulan.

Apabila kita membaca Al-Qur’an dengan berhenti di akhir ayat atau tanda waqaf, cukup 1 pengecualian yang perlu diingat yaitu QS Al-Ahqaf 46:4: kata ٱئْتُونِي bukan dibaca “u’-tuu-nii” atau “i’-tuu-nii”, tetapi dibaca “ii-tuu-nii” (اِيْتُوْنِيْ).
Apabila kita terpaksa berhenti di tengah ayat yang tidak ada tanda waqaf karena nafas tidak kuat, kemudian memulai lagi bacaannya pada kata yang diawali dengan huruf alif washal, sebaiknya paham tentang fi’il bina ghair salim dan alif-lam yang bukan penanda isim ma’rifah. Apabila tidak paham, sebaiknya jangan memulai dari kata yang diawali dengan huruf alif washal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s