Bolehkah Menanyakan Kondisi Iman dan Hati Seseorang

Bolehkah Menanyakan Kondisi Iman dan Hati Seseorang
Bolehkah Menanyakan Kondisi Iman dan Hati SeseorangOleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Dalam kehidupan, kita pastinya sering berjumpa dengan saudara seiman. Saat bertemu itulah, sapa dan bertanya kabar terucap. Namun pertanyaan terkadang terlampau jauh sehingga menanyakan sesuatu yang ada dalam hati, yaitu keimanan. Yang boleh jadi hakikatnya tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala saja. Apalagi jika yang ditanya menjawab dengan penuh keyakinan akan keshalihan dan kesempurnaan imannya, maka dia telah mentazkiyah dirinya sendiri. Maka pantaskah menanyakan hal itu kepada orang lain?.

Sesungguhnya kewajiban seorang muslim adalah menasihati orang yang ditemuinya untuk memegang kebenaran dalam perkataan dan perbuatannya, bersabar di atasnya dan terus mendakwahkannya sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Dari Abu Madinah al-Darimi, bahwa seorang sahabatnya menceritakan: Adalah dua orang laki-laki dari sahabat Nabi Shallalahu ‘alaihi Wasallam, apabila mereka bertemu maka tidaklah keduanya berpisah sehingga salah seorang darinya membacakan kepada yang lain surat al-’Ashr ini. (HR. al-Thabrani dalam al-Ausath no. 5124, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 8639. Imam al-Haitsami dalam al-Majma’ 10/233 mengatakan, Para perawinya adalah para perawi yang shahih.”)

Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata: “Saudara kamu yang setiap bertemu denganmu ia mengingatkanmu akan kedudukanmu di sisi Allah adalah lebih baik bagimu daripada saudara kamu yang setiap bertemu denganmu ia meletakkan dinar di telapak tanganmu.” (Lihat: Hilyah al-Auliya’: 5/225)

Namun pertanyaan semacam itu (keadaan hati dan kondisi iman dalam hati) apabila ditujukan kepada seseorang, dikhawatirkan menjadikan orang tadi merasa sok suci atau malah sebaliknya membuat penanyanya riya’ dihadapan manusia; seolah-olah dia berhati mukmin dan selalu bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Boleh jadi juga pertanyaan itu sebagai tuduhan kepada orang yang ditanya, dia meninggalkan hak Allah Ta’ala atau malah menjadikannya sok baik dihadapan orang yang menanyainya. Dan masih banyak efek-efek negative lain yang sangat berbahaya.

Adapun hadits yang masyhur yang dari al-Harits bin Malik al-Anshari, pernah ia melewati Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam, lalu beliau bertanya padanya, “Bagaimanakah engkau pagi ini wahai Harits?”

Haritsah menjawab: Di pagi ini saya adalah mukmin yang sesungguhnya.

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam bersabda: Pikirkanlah baik-baik apa yang engkau katakan itu, sebab segala sesuatu pasti ada hakekatnya, maka apakah hakekat keimananmu itu?

Harits menjawab: Jiwaku tidak memperhatikan lagi urusan dunia, karena itu diwaktu malam saya berjaga dan waktu siang saya haus (malam bangun shalat dan siang berpuasa). Seolah-olah saya melihat ‘arsy Tuhan-ku yang tampak jelas, seolah-olah saya melihat ahli surga saling ziarah-menziarahi, dan seolah-olah saya melihat para ahli neraka sama-sama berteriak-teriak di dalamnya.

Kemudian Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam bersabda: Engkau sudah benar-benar mengerti itu wahai Haritsah, maka tetapilah!!

Hadits di atas diriwayatkan  al-Thabrani dalam al-Kabir 3/266, dan statusnya adalah dhaif, tidak shahih. Al-Uqaily rahimahullah berkata: Hadits ini tidak memiliki isnad yang mapan. (lihat al-Dhu’afa al-Kabiir: 4/455)

Ibnu Taimiyah berkata: Diriwayatkan dari sumber dhaif yang tidak mapan.” (Lihat: al-Istiqamah: 1/194)

Dari sini, sebaiknya pertanyaan semacam itu ditinggalkan karena bisa menimbulkan banyak keburukan. Bertanya tentang kondisinya secara umum itu sudah mencukupi, maka sebaiknya dia memilih sesuatu yang jelas-jelas aman dan meninggalkan hal-hal yang bisa menimbulkan kerusakan. Misalnya dia menanyakan, Bagaimana keadaanmu? Bagaimana kondisimu di pagi ini? Dan semacam itu.

Diriwayatkan dari Aisyah, ada wanita tua yang dating menemui Nabi Shallalahu ‘alaihi Wasallam yang pada saat itu beliau berada bersama ‘Aisyah. Kemudian Nabi Shallalahu ‘alaihi Wasallam bertanya kepadanya, Siapa Anda? Bagaimana Keadaan kalian? (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak: 1/62 dan dihassankan oleh Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 216. Wallahu a’lam.

– See more at: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2011/04/07/14021/bolehkah-menanyakan-kondisi-iman-dan-hati-seseorang/#sthash.a4YSNMBK.dpuf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s