Pembangun Akhlak

Tazkiyatun Nafs

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Sesungguhnya pembentukan kepribadian yang lurus, tidak akan sempurna tanda-tandanya, kecuali dengan pembersihan jiwa. Yaitu penyucian lubuk hati manusia paling dalam. Seseorang yang tidak kuasa membetulkan jiwa serta diri sendiri, niscaya tak mampu melakukan hal yang sama pada orang lain. Bagaimanapun jiwa manusia itu mempunyai pengaruh serta dorogan-dorongan yang bisa mempengaruhi tingkah laku pembawaan seseorang. Jiwa tersebut mempunyai godaan-godaan yang senantiasa bergerak, serta gangguan-gangguan yang mengarah kepada kebimbangan, yang mengakibatkan seseorang melakukan penyimpangan, kejahatan, kekejian, dan kemungkaran.
B.  Rumusan Masalah.
a.       Apa yang dimaksud dengan Tazkiyatun nafs?
b.      Bagaimana metode penyucian an nafs dan cara penyuciannya?
c.       Bagaimana nafsu dalam pertumbuhan psikologi dalam spiritualnya?
C.  Pembahasan Masalah.
a.       Mengetahui pengertian Tazkiyatun nafs.
b.      Mengetahui metode penyucian an nafs dan cara penyuciannya.
c.       Mengetahui nafsu dalam pertumbuhan psikologi dalam spiritualnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Tujuan Tazkiyatun Nafs.
1.    Pengertian Tazkiyatun Nafs
Tazkiyatun Nafs berasal dari Bahasa Arab yang terdiri dari dua kata tazkyat dan nafs. Secara kebahasaan (etimologi) tazkiyat berarti menyucikan, menguatkan dan mengembangkan. Sedangkan Nafs adalah diri atau jiwa seseorang. Dengan demikian istilah tazkiyatun nafsi memiliki makna mensucikan, menguatkan dan mengembangkan jiwa sesuai dengan potensi dasarnya (fitrah) takni potensi iman, islam, dan ihsan kepada Allah.[1]
Dalam buku tasawuf tematik di sebutkan bahwa, tazkiyatun nafs esensinya cenderung pada pembicaraan soal jiwa(an-nafs).  ada empat istilah yang berkaitan dengan an-nafs yaitu al-qalb, ar-roh, an-nafs, dan al-aql. Al-Ghazali mengartikan tazkiyatun nafs yaitu suatu proses penyucian jiwa manusia dari kotoran-kotoran, baik kotoran lahir maupun batin.[2]
Berdasarkan makna itu pula tazkiyatun nafsi bertujuan untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya, yaitu fitrah tauhid, fitrah iman, islam, dan ihsan, disertai dengan upaya menguatkan dan mengembangkan potensi tersebut agar setiap orang selalu dekat  kepada Allah, menjalaknkan segal ajaran dan kehendak-Nya, dan menegakkan tugas dan misinya seagai hamba dan khalifah-Nya di bumi.
Dengan tazkiyatun nafs, seseorang dibawa kepada kualitas jiwa yang prima sebagai hamba Allah, sekaligus prima sebagai khalifah Allah. Artinya dengan tazkiyatun nafs, seseorang menjadi ahlul ibadah, yakni orang yang selalu taat beribadah kepada Allah dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya serta menjadi khalifah, yakni kecerdasan dalam missi memimpin, mengelola dan memakmurkan bumi dan seisinya sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama Allah untuk kerahmatan bagi semua makhluk.
2. Tujuan Tazkiyatun Nafs
Tujuan Tazkiyatun Nafs adalah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya, takwa hanya dapat terwujud melalui pembersihan serta penyucian jiwa. Sementara, kebersihan jiwa juga tidak dapat terjadi tanpa takwa. Jadi keduanya saling terkait dan saling membutuhkan. Itulah mengapa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَنَفْسٍ وَمَاسَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (perilaku) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams/91 : 7-10)
Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa seseorang dapat membersihkan jiwanya melalui ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَلاَ تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci.Allah lebih mengetahui tentang siapa yang bertakwa. (QS. An-Najm/53: 32)
Serta firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَسَيُجَنَّبُهَا اْلأَتْقَى . الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى
Dan orang yang paling bertakwa akan dijauhkan dari api neraka, yaitu orang yang menginfakkan hartanya serta menyucikan dirinya. (QS. Al-Lail 92: 17-18).
Kedua ayat ini menjelaskan bahwa pembersihan jiwa pada hakikatnya adalah ketakwaan kepada Allah.Dan memang tujuannya adalah ketakwaan kepada Allah.
Di sini perlu juga difahami dengan baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:
اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا. رواه مسلم
Ya Allah! Anugerahkanlah ketakwaan pada jiwaku, bersihkanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik yang membersihkan jiwa. Engkaulah Penguasa dan Pemiliknya.HR. Muslim.
Dengan qalbu serta jiwa yang bersih dan bertakwa, akan tercapailah maksud diciptakannya manusia. Yaitu hanya beribadah dan menyembah kepada Allah saja.
Allah berfirman:
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu saja. (QS. Adz-Dzaariyaat/51 : 56)[3]
Tujuan tazkiyatun nafs tidak lepas dari tujuan hidup manusia itu sendiri, yakni untuk mendapatkan kebahagiaan jasmani maupun rohani, material maupun spiritual, dan duniawi maupun ukhrawi. Kesempurnaan itu akan diperoleh manusia jika berbagai sarana yang menuju ke arah itu dapat dipenuhi. berbagai hambatan yang menghalangi tujuan kesempurnaan jiwa itu harus disingkirkan. Adapun yang menghalangi kesempurnaan jiwa itu adalah kotoran atau noda yang ditorehkan oleh sifat-sifat jelek yang melekat pada jiwa manusia.  Tujuan khusus tazkiyatun nafs dijabarkan oleh Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum Ad-Din.
a.     pembentukan manusia yang bersih akidahnya, suci jiwanya, luas ilmunya, dan seluruh aktivitas hidupnya bernilai ibadah.
b.    membentuk manusia yang berjiwa suci dan beakhlak mulia dalam pergaulan dengan sesamanya, yang sadar akan hak dan kewajiban, tugas seta tanggung jawabnya.
c.     membentuk manusia yang berjiwa sehat dengan terbebasnya jiwa dari perilaku tercela yang membahayakan jiwa itu sendiri.
d.    memebentuk manusia yang berjiwa suci dan berakhlak mulia, baik terhadap Allah, diri sendiri maupun manusia sekitarnya.[4]
B.      Metode Penyucian An Nafs dan Penyuciannya.
1.      Metode Mujahadat.
Istilah mujahadat berasal dari kata “jahada”, satu rumpun dengan “ijtahada”, yang berarti berusaha keras, atau penuh kesungguhan hati dan perilaku dengan penuh ketekunan. menurut Al-Ghazali, mujahadat berada dibawah norma-norma syariat dan akal. Sebagai contoh untuk mujahadat ini misalnya seseorang yang terbiasa ghibah, maka mulutnya seolah-olah gatal bila tidak melakukannya.Mujahadat yang dilakukan disini adalah dengan menahan dengan sekuat hati untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain. Apalagi membicarakan orang lain itu dalam syariat dilarang, dan menurut akal itu juga tidak baik. Bahkan, logis kalau dibukakan aibnya di depan orang lain.
2.      Metode Riyadhat.
Adapun riyadhat disini adalah pembebanan diri dengan membiasakan melatih suatu perbuatan yang pada fase awal yang merupakan beban yang sangat berat dan pada fase akhir menjadi sebuah karakter menjadi sebuah karakter atau kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan itu menjadi tertanam kuat. Sebagai contoh dari riyadhat ini, misalnya seseorang yang telah terbiasa dengan sifat kikir, dapat menghilangkan sifat kikir itu dengan melatih diri untuk menyumbang kepentingan sarana-sarana ibadah, sarana umum, dan fasilitas sosial lainnya. Pada mulanya dia akan merasa berat mengeluarkan atau menginfakkan harat itu, karena memang sudah terbiasa denagtn kekikirannya, tetapi setelah dilatih atau dibiasakan, sedikit demi sedikit ia akan menjadi seorang pemurah atau dermawan.
Dapat dipahami bahwa mujahadat dan riyadhat merupakan metode tazkyatun nafs dalam upaya meningkatkan akhlak. Dalam upaya menyucikan jiwa dan membuatnya bersinar, keduanya saling bergandengan. misalnya ketika seorang terbiasa dengan bohong, mujahadat yang dilakukan adalah berjuang secara sungguh-sungguh untuk meninggalkan sifat bohong, sedangkan riyadhat yang dilakukan adalah selalu berkata benar disertai kejujuran.[5]
C.     Nafsu Dalam Pertumbuhan Psikologi dan Spiritualnya.
1.      Nafsu Amarah.
Kepribadian amarah adalah keptibadian yang cenderung pada tabiat jasad dan mengejar pada prinsip – prinsip kenikmatan (pleasure princible).Ia menari kalbu manusia untuk melakukan perbuatan perbuatan yang rendah yang sesuai dengan naluri primitifnya, sehingga ia merupakan tempat dan sumber kejelekan dan tingkah laku yang tercela. Firman Allah SWT :
ٳن ٲﻠﻨﻔﺱ ﻷﻤﺍ ﺭﺓ ﺒﺍ ﻠﻭﺀ ﺇﻻﻤﺍ ﺭﻴﻡ ﺭﺒﻲ
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyerukan pada perbuatan buruk, kecuali nafsu yang di beri rahmat oleh Tuhannku” [QS. Yusuf : 53]
Kepribadian amarah adalah kepribadian di bawah sadar manusia. Sedangkan manusia yang berkepribadian amarah tidak saja merusak dirinya sendiri, tetapi juga merusak diri orang lain.
Keberadaannya di tentukan oleh dua daya yaitu:
a. Daya syahwat yang selalu mengiginkan birahi, kesukaan diri, ingin tahu dan caampur tangan urusan orang lain.
b. Daya ghadab yang selalu mengiginkan tamak, serakah mencekal, berkelahi, ingin menguasai yang lain, keras kepala, sombong dan angkuh.
Kepribadian ammarah dapat beranjak ke pribadian yang baik apabila ia telah di beri rahmat oleh Allah SWT. Kepribadian ammarah menuju ke tingkat kepribadian yang lebih baik hanya dapat mencapai satu tingkat dari tingkatan kepribadian yang ada yaitu lawwamah.ini diperlukan latihan khisus untuk menekan daya nafsu dari hawa seperti puasa, sholat, berdo`a.
2.      Nafsu Lawwamah.
Lawwamah berasal dari kata al–talum yang berarti al–taraddun (bimbang dan ragu-ragu). Dikatakan lawwamah karena sifatnya al-lawm yang berarti celaan kerena meninggalkan iman atau celaan karena berbuat maksiat dan meninggalkan ketaatan. Kepribadian lawwamah adalah kepribadian yang telah memperoleh cahaya kalbu, lalu dia bangkit untuk memperbaiki kebimbangannya antara dua hal. Kepribadian lawwamah berada dalam kebimbangan antara kepribadian ammarah dan kepribadian muthmainnah.
Firaman Allah SWT:
ﻭﻻ ﺃﻘﺴﻡ ﺒﺍ ﺃﻠﻨﻔﺱ ﺃﻭﺍﻤﺔ
“ Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali “ [QS. al – Qiyamah : 2]
Kepribadian lawwamah merupakan kepribadian yang di dominasi oleh komponen akal, komponen yang bernatur insaniah, akal mengikuti prinsip kerja rasionalistik dan realistic yang membawa manusia pada tingkat ke sadaran. Apabila akal di beri percikan nur kalbu maka fungsinya berubah menjadi baik. Al–Ghazali sendiri meskipun sangat mengutamakan pendekatan cita rasa, namun ia masih menggunakan kemampuan akal. Sedangkan menurut Ibn Sina, akal mampu mencapai pemahaman yang abstrak dan akal juga mampu mencapai akal mustafat. Karena kedudukannya yang tidak stabil ini maka Ibn Qayyim al–Jauziyah membagi kepribadian lawwamah menjadi dua bagian, yaitu:
a.Kepribadian Lawwamah malumah, Yaitu kepribadian lawwamah yang bodoh dan zalim.
b.Kepribadian Lawwamah ghayr malumah, Yaitu kepribadian yang mencela atas perbuatannya yang buruk dan berusaha untuk memperbaikinya.
Dalam buku tazkiyatun nafs karangan Ibnu Rajab Al-Hambali dan kawan-kawan juga disebutkan bahwa nafs lawwamah ada dua yaitu tercela dan terpuji. yang pertama adalah nafs yang dungu dan menganiaya diri sendiri. Ia dicela oleh Allah dan para malaikat. sedangkan yang kedua adalah nafsu yang selalu mencela pemiliknya karena kekuragannya dalam ketaatan kepada Allah, padahal ia sudah berusaha sekuatnya.[6]
3.      Nafsu Mulhammah.
Nafsu Mulhamah yaitu nafsu yang memperolrh ilham dari Allah SWT, dikaruniai ilmu pengetahuan.Ia telah dihiasi akhlak mahmudah (akhlak terpuji), dan ia merupakan sumber kesabaran, keuletan dan ketabahan. Pada tingkat ini nafsu itu telah terbuka kepada berbagai petunjuk (ilham) dari Allah SWT. Dengan itu pula seseorang telah memiliki sifat–sifat yang menunjukkan kepribadian yang kuat, sebagaimana yang di tunjukkan Allah SWT dalam surah as – Syams ayat 7-10:
“Dalam jiwa serta penyempurnaanya (ciptaannya), maka Allah SWT mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
4.      An Nafsul Muthma’innah.
Kepribadian mutmainnah adalah kepribadian yang telah di beri kesempurnaan nur kalbu, sehingga dapat meninggalkan sifat–sifat tercela dan tumbuh sifat–sifat yang baik.Kepribadian ini selalu berorientasi ke komponen kalbu untuk mendapat kesucian dan menghilangkan segala kotoranm sehingga dirinya menjadi tenang. Begitu tenangnya kepribadian ini sehingga dirinya menjadi tenang. Begitu tenangnya kepribadian ini sehingga ia di panggil oleh Allah SWT. Firman Allah SWT:
ﻴﺍ ﺃﻴﺘﻬﺍ ﺍﻠﻨﻔﺱ ﺃﻠﻤﻁﻤﺌﻨﺔ ﺇﺭﺠﻌﻲ ﺇﻟﻰ ﺭﺒﻙ ﺭﺍﻀﻴﺔ
“Hai kepribadian yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.” [QS. AL – Fajr : 27-28] .
Kepribadian mutmainnah bersumber dari kalbu manusia, sebab hanya kalbu yang mampu merasakan thuma`ninah.Kepribadian muthmainnah merupakan kepribadian atas dasar atau supra kesadaran manusia.
Dikatakan demikian sebab kepribadian ini merasa tenag dalam meneriama keyakinan fitrah yang dihujamkan pada ruh manusia di alam arwah dan kediaman di legitimasi oleh wahyu illahi. Al- Ghazali menyatakan bahwa daya kalbu mampu mencapai pengetahuan melalui daya cita rasa dan kasyf. Sedangkan Ibn Khaldun menyatakan dalam muqadimat bahwa ruh kalbu itu di singgahi oleh ruh akal. Ruh akal secara substansi mampu mengetahui apa saja di alam amr, sebab ia berpotensi demikian.
Ada beberapa indikator yang bisa dijadikan acuan, sebagai bahan evaluasi apakah proses Tazkiyatun Nafs yang kita lakukan sudah berhasil atau belum. Indikator tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Iman bertambah kuat, bagus, dan kokoh. Tahan atas godaan syetan untuk menegakkan kebatilan.
2.      Tumbuh semangat beramal shaleh di tengah masyarakat.
3.      Mampu menahan hawa nafsu, yangmendoronguntukmenghalalkan segala cara dan merampas hak orang lain.
4.      Mampu menghindarkan diri dari maksiat kepada Alloh. Sebaliknya melaksanakan ketaatan dalam segala bentuk persoalan.
5.      Menerima takdir Alloh dan tidak membencinya, diawali dengan usaha terbaik.
6.      Tidak pernah bosan beribadah kepada Alloh. Ber-dzikir saat bekerja, belajar dan lain sebagainya.
7.      Tidak pernah jenuh menghadapi godaan syetan. Dalam dirinya takut jatuh saat melangkah hidup, baik di tengah maupun akhir hidupnya.
8.      Kerjanya hanya berusaha mencari ridho Alloh. Kekayaan dan jabatan hanya sebagai sarana untuk mencapai rido Alloh, bukan sebagai tujuan utama hidup.
9.      Mudah diberi nasehat, saat melakukan kesalahan.
10.  Tidak pernah berhenti berdoa, dan menyadari atas kelemahaan diri atas-Nya.
11.  Selalu bertaubat kepada Alloh atas kesalahan yang dilakukan selama beramal.
12.  Mampu menghindari diri dari pekerjaan sia-sia.
13.  Mengubah kejahatan dengan kebaikan.
Bagaimana cara untuk mewujudkan indikator di atas?, caranya adalah sebagai berikut:
1. Memperkuat keimanan secara terus menerus
2. Berusahan tidak melanggar perintah Alloh
3. Memelihara dan waspada diri terhadap adzab Alloh
4. Memelihara keikhlasan dan beribadah dan beramal
5. Mengutamakan / konsentrasi akhirat
6. Mengutamakan keridhoan Alloh atas segala-galanya.[7]
BAB III
PENUTUP
1.      KESIMPULAN
Tazkiyatun Nafs berasal dari Bahasa Arab yang terdiri dari dua kata tazkyat dan nafs. Secara kebahasaan (etimologi) tazkiyat berarti menyucikan, menguatkan dan mengembangkan. Sedangkan Nafs adalah diri atau jiwa seseorang. Dengan demikian istilah tazkiyatun nafsi memiliki makna mensucikan, menguatkan dan mengembangkan jiwa sesuai dengan potensi dasarnya (fitrah) takni potensi iman, islam, dan ihsan kepada Allah. Ada beberapa bentuk dari an nafs atau jiwa yaitu di antaranya nafs amarah, nafs mulhammah, nafs lawwamah, nafs muthmainnah, yang dari masing masing nafs itu berbeda dari satu dengan yang lain. Metode yang digunakan untuk menyucikan jiwa kita yaitu yang pertama dengan metode mujahadat atau yang disebut dengan berusaha keras, atau penuh kesungguhan hati dan perilaku dengan penuh ketekunan. metode yang kedua yaitu dengan riyadhat atau yang disebut dengan pembebanan diri dengan melatih suatu erbuatan yang pada fase awal yang merupakan beban yang sangat berat dan pada fase akhir menjadi sebuah karakter atau kebiasaan yang tentunya baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s