Peristiwa Isro & Mi’raj dalam perspektif IPTEK

angkasa luarManusia dalam keistimewaan akalnya dan memiliki kemampuan untuk menjelajah seantero jagat raya dengan kekuasannya

يمعشر الجن والانس ان استطعتم ان تنفذوا من اقطارالسموت والارض فانذوا  لا تنفذون الا بسلطن

Artinya :  Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. (QS.Ar Rahman:33).

Menurut Mufassirin (ahli afsir) seperti : Khazin, Al Baidlawi, dan An Nasai telah memberi tafsiran bahwa arah kata سلطن (sulthan)  atau kekuasanannya ialah ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh kecerdasan otak lahir dan ilmu pengetahuan yang dihasilkan otak batin. Otak lahir disebut juga indera badani atau jasmani, sedangkan otak batin disebut indra rohani.

Rasulullah SAW sebelum DIJALANKAN   اسرى pada diri beliau telah diproteksi (dioperasi) dibedah untuk diisi dengan iman dan hikmah sebagai media proteksi  terhadap  situasi dan kondisi (ruang & waktu) lingkungan yang sangat ekstrim dan adaptasi terhadap  alam Syahadah maupun alam ghoib (yg tdk terikat ruang & waktu tadi)  dalam perjalanan misi isro & mi’raj disamping juga bahwa adalah dalam kata asraa, yang telah memperjalankan. Ini berarti bahwa perjalanan Isra Mi’raj bukan atas kehendak Rasulullah, melainkan kehendak Allah. Dengan kata lain, kita juga memperoleh ‘bocoran’ bahwa Rasul tidak akan sanggup melakukan perjalanan itu atas kehendaknya sendiri. Saking dahsyatnya perjalanan ini, jangankan manusia biasa, Rasul sekali pun tidak akan bisa tanpa diperjalankan oleh Allah.

Allah SWT dengan Qudrat & IradatNya mengutus malaikat Jibril untuk membawa Nabi melanglang ‘ruang’ dan ‘waktu’ didalam alam semesta ciptaan Allah. Mengapa Jibril? Sebab Jibril merupakan makhluk dari langit ke tujuh yang berbadan cahaya. Dengan badan cahayanya itu, Jibril bisa membawa Rasulullah melintasi dimensi-dimensi yang tak kasat mata.

Dalam beberapa catatan dalam beberapa postingan disebutkan bahwa :

Menurut ilmu Fisika bahwa suata zat yang bernama eter menjadi zat pembawa sekaligus pelantara daya elektromagnetik. Eter adalah udara yang ringan sekali, lebih ringan dari udara yang dihirup oleh manusia: O2. Dalam bahasa Arab disebut dengan “Itsir”. Jika eter bergetar, niscaya membutuhkan pula zat pembawa yang lebih halus lagi dari eter itu sendiri, agar getaran eter itu bisa tersebar ke mana-mana.

Sedangkan menurut Ilmu Metafisika, Rasul naik ke ruang angkasa melakukan perjalanan Mi’rajnya tentu membutuhkan zat pembawa yang lebih halus dari jiwa atau rohaninya. Oleh karena itu, makhluk hidup yang memiliki dua jasad: jasmani dan rohani, maka diperlukan zat pembawa yang lebih halus dari rohani itu sendiri dan mampu mengangkat jasmani Rasul sekaligus. Dan ternyata makhluk yang sangat halus itu bernama Jibril.

Selain Jibril, perjalanan super istimewa itu disertai juga oleh kendaraan spesial yang didesain Allah dengan sangat spesial bernama Buraq. Ia adalah makhluk berbadan cahaya yang berasal dari alam malakut yang dijadikan tunggangan selama perjalanan tersebut. Buraq berasal dari kata Barqum yang berarti kilat. Maka, ketika menunggang Buraq itu mereka bertiga melesat dengan melebihi kecepatan cahaya sekitar 300.000 kilometer per detik (Mustofa, 2006).

Kalau masalah cerita israiliyat,,,kami mohon maaf tidak punya ilmu yang memadai utk membedakannya (mana yang cerita israiliyat mana yang tidak) hal ini sudah menyangkut ilmunya orang Muhaditsiin (ahli ulumulhadits) yang menyangkut tentang shahih-daif, hasan, mutawair, marfu-mardut,asbabulwurud (sebab2 turunnya hadits itu sendiri) nasikh wal mansukh hadist, sanad,mudawwin, perawi, dabith tidak dabith, putus dk putus sanadnya, rawi cacat , thariqatul tarjih, -jami, tawaqquf , mujmal-mutlaq, , dll yang menyangkut lingkup bahasan ulumulhadist Yang jelas masyarakat kita lebih suku cerita2 non logical karena kita masih punya tradisi taklid buta (ingin yang serba instan) tanpa mau sedikit menyelidiki belajar disiplin ilmu agama yang cukup membebaskan kita dari jahil-murakab ke taklid yang dianggap benar (kompetent)

Seperti contoh  kutipan (nukilan) berikut ini
1. Berita yang disahkan oleh Islam dan disahkan benar.
Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahawa daripada Ibnu Mas’ud
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : جاء حبر من الأحبار إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا محمد ، إنا نجد أن الله يجعل السماوات على إصبع ، وسائر الخلائق على إصبع فيقول : أنا الملك ، فضحك النبي صلى الله عليه وسلم حتى بدت نواجذه تصديقا لقول الحبر ، ثم قرأ رسول الله صلى الله عليه وسلم : (وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ) (الزمر:67)

Maksud : “Telah datang seorang pendita Yahudi kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya kami dapati (dalam kitab kami) bahawa Allah meletakkan tujuh petala langit atas satu jari, tujuh petala bumi atas satu jari, segala pokok atas satu jari, air dan tanah atas satu jari dan seluruh makhluk atas satu jari lalu berkata, “Akulah raja.”

Mendengar itu, Nabi tergelak sehingga ternampak gusinya, membenarkan kata-kata pendita itu. Kemudian Baginda membaca (ayat 67 surah al-Zumar 39 yang bermaksud):

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNya. Maha suci Tuhan dan maha tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (H/R Bukhari)
2. Berita yang ditolak oleh Islam dan disahkan bohong.
Contohnya seperti
Sesungguhnya bumi berada di atas sebiji batu. Batu tersebut berada di atas tanduk seekor lembu jantan. Apabila lembu jantan itu menggerakkan tanduknya, maka batu tersebut pun bergerak dan bergeraklah bumi. Itulah gempa bumi.” (Disahkan palsu oleh Ibnul Qayyim dalam al-manar al-munif)
3. Berita yang tidak diiktiraf dan tidak pula ditolak
Dari Abu hurairah
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : كان أهل الكتاب يقرؤون التوراة بالعبرانية ، ويفسرونها بالعربية لأهل الإسلام ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم ، وقولوا: ( آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ)(العنكبوت: من الآية
Maksud : “Dahulu Ahli Kitab membaca al-Taurat dalam bahasa Ibraniyah dan mentafsirkannya dalam bahasa Arab untuk orang Islam. Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jangan percaya Ahli Kitab dan jangan dustakan mereka. Katakanlah “Kami telah beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada kamu.” (al-Ankabut 29:46). (H/R Bukhari)

Advertisements

About mmusthofa124

Pemerhati Pendidkan Agama Islam
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s