PERBEDAAN PENDAPAT DALAM KORIDOR ISLAM

Foto0405
Hidayat Al-Basahapy

السلام عليكم و رحمة الله و بر كا ته

Bagaimanakah sebenarnya perbedaan pendapat dalam koridor Islam, ada beberapa hal yang harus kita ketahui :

1. Mengedepankan persatuan dan persamaan.
2. Kemungkinan perbedaan.
3. Menyikapi perbedaan
4. Adab berdiskusi dan perbedaan pendapat

1. PESAN PERSATUAN

Allah SWT menyerukan umat manusia untuk bersatu dan tidak berbeda-beda dalam beragama, berpadu dan tidak berselisih faham dalam menegakkan syari’ah-Nya (QS. 3:103)

واعتصموا بحبل الله جميعا ولاتفرقوا , واذكروا نعمت الله عليكم اذ كنتم اعداء فالف بين قلوبكم فا صبحتم بنعمته, اخونا وكنتم على شفا حفرة من النار فانقذكم منها, كذلك يبين االله لكم ءايته لعلكم تهتدون

dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk

Allah SWT memperingatkan umat Islam agar tidak terjebak dalam perselisihan beragama seperti yang pernah terjadi pada umat sebelumnya. (QS. 3:105)

ولا تكونوا كاالذين تفرقوا واختلفوا من بعد ما جا ءهم البينت, واولئك لهم عذاب عظيم

dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,

2. KEMUNGKINAN PERBEDAAN

Perbedaan dalam alam semesta adalah sunnatullah yang membuat kehidupan menjadi harmonis. Perbedaan warna membuat kehidupan menjadi indah, kita tidak akan dapat mengetahui putih jika tidak pernah ada hitam, merah, hijau dan warna lainnya. Kita tidak akan dapat bekerja dengan baik jika jari-jari tangan kita ukuran dan bentuknya sama, seperti telunjuk semua misalnya, atau kita akan kesulitan mengunyah makanan jika bentuk gigi kita semuanya sama, taring semua misalnya, dst. Demikanlah harmoni kehidupan, alam semesta menjadi indah ketika ada perbedaan wujud dan fungsinya. Perbedaan pada wasa’ilulhayat (sarana hidup).

Permasalahan muncul ketika perbedaan terjadi pada minhajul hayah (jalan hidup). Perbedaan itu menjadi sangat membahayakan ketika terjadi pada dzatuddin (esensi agama). Firman Allah : “ Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya” QS. 40:13, atau perbedaan yang terjadi pada ushul (dasar-dasar) yang telah ditetapkan oleh Al Qur’an, AS Sunnah, maupun Ijma’. Sebab prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Al Qur’an, As Sunnah maupun Ijma’ adalah esensi dasar dari ajaran agama yang mempersatukan ajaran Muhammad SAW dengan ajaran para Nabi sebelumnya (QS. 29: 69, 5:15-16, 2:208), kemudian perbedaan tanawwu’ (penganeka ragaman) dalam pelaksanaan syari’ah, antara wajib atau sunnah. Wajib ain atau kifayah, dst.

Dengan demikian perbedaan itu dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok berikut ini:

1. Perbedaan pada Dzatuddin (esensi) dan Ushul (dasar-dasar) prinsipil. Perbedaan inilah diisyaratkan Allah : (QS. 11: 118-119)

ولو شاء ربك لجعل الناس امة وحدة, ولايزالون مختلفين * الا من رحم ربك, وذلك خلقهم, وتمت كلمة ربك لاملان جهنم من الجنة والنار اجمعين *

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka Senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.

Inilah perbedaan yang menghasilkan perbedaan agama seperti , Yahudi, Nasrani, Majusi, dst. Dan untuk itulah Allah utus para Nabi dan Rasul untuk menilai dan meluruskan mereka. Firman Allah :

كا ن الناس امة وحدة فبهث الله النبين مبشرين ومنذرين وانزل معهم الكتب بل الحق ليحكم بين الناس فيما اختلفوا فيه, وما اختلف فيه الا الذين اوتوه من بعد ما جاءتهم البينت بغيا بينهم, فهدى الله الذين ءامنوا لما اختلفوا فيه من الحق باذنه, والله يهدى من يشاء الى صرط مستقيم

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.(QS. 2 :213)

2. Perbedaan umat Islam pada Qaidah Kulliyah (kaidah umum). Perbedaan ini muncul setelah terjadi kesepakatan pada dasar prinsipil agama Islam. Perbedaan pada masalah inilah yang dapat kita fahami dari hadits Nabi yang memprediksikan terjadinya perpecahan hingga tujuh puluh tiga golongan. Perbedaan ini lebih terjadi pada minhaj (konsep) akibat infiltrasi ajaran Agama dengan konsep lainnya. Seperti akibat infiltrasi konsep Yahudi, faham materialis, Budhis, dsb. Rasulullah memberitahukan bahwa di antara umat ini ada yang mengikuti umat sebelumnya sejengkal demi sejengkal hingga tidak ada lagi eksistensi agama ini kecuali tinggal namanya. Perbedaan ini berada dalam rentangan dhalal (sesat) dan hidayah (benar), sunnah dan bid’ah. Seperti perbedaan Ahlussunnah dan Mu’tazilah, Qadariyah, Rafidhah, dsb.

3. Perbedaan pada Furu’iyyah (cabang). Perbedaan ini muncul pada tataran aplikatif, setelah terjadi kesepakatan pada masalah-masalah dasar prinsipil dan kaidah kulliyah. Perbedaan aplikasi ini sangat mungkin terjadi karena memang Allah telah jadikan furu’ (cabang) syari’ah agama terbuka untuk dianalisa dan dikaji aplikasinya. Al Hasan pernah ditanya tentang ayat :” …mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah …”QS 11: 118-119, ia katakan : “adapun orang-orang yang telah memperoleh rahmat Allah, maka mereka tidak akan berselisih dengan perselisihan yang membahayakannya.

Karena perbedaan pada tataran apliskasi ini suatu keniscayaan Allah memberikan referensi dasar untuk menjadi titik temu dari semua perbedaan pemahamam (QS. 4:59 )

يايها الذين ءامنوا اطيعوا الله واطيعوا لرسول واوالامرمنكم, فان تنزعتم فى شيء فردوه الى الله والرسول ان كنتم تؤمنون بالله واليوم الاخر, ذلك جير واحسن تاويلا *

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Maka perbedaan apapun yang muncul dalam tataran aplikasi/furu’iyyah harus dikembalikan kepada kitab Allah, dan rasul-Nya semasa hidup atau kepada Sunnahnya setelah rasul wafat.

Porsi perbedaan ini dilakukan oleh para Fuqaha (ahli fiqh) dalam persoalan furu’iyyah setelah terjadi kesepakatan pada masalah ushul. Al Baghdadiy, mengatakan : “ Siapapun yang mengidentikkan diri dengan Islam, menyadari sepenuhnya bahwa perbedaan yang tercela (sebagai ahlunnar dari 73 golongan) adalah perbedaan fuqaha dalam masalah furu’iyyah fiqh. Untuk menghadapi perbedaan halal-haram dalam masalah fiqh saja terdapat dua alur:

pendapat yang membenarkan semua pendapat mujtahid dalam masalah fiqh, atau dengan kata lain ijtihad fiqhiyyah/furu’iyyah adalah “semua benar”
pandangan yang menganggap bahwa ada satu kebenaran dari perbedaan yang bermacam-macam itu, selainnya salah, tetapi berpahala juga, artinya tidak tersesat.

Sampai di sini dapat kita fahami pandangan Imam Syahid Hasan Al Banna yang mengatakan bahwa khilaf (perbedaan) fiqhiy dalam masalah-masalah furu’iyyah tidak boleh menjadi sebab perpecahan, permusuhan, dan kebencian. Setiap mujtahid telah memperoleh balasannya. Sabda Nabi : “Jika seorang hakim berijtihad dan ijtihadnya benar maka memperoleh dua pahala, dan jika ijtihadnya salah ia memperoleh satu pahala”.

3. MENYIKAPI PERBEDAAN

Perbedaan dalam masalah ijtihadiyyah diakui dalam syari’ah samawiyah (agama samawiy) terdahulu seperti yang terjadi antara Nabi Sulaiman dan Nabi Dawud dalam masalah tanaman yang dimakan kambing seperti yang diceritakan pada surah Al Anbiya/21:78 dst. Pada kasus ini Nabi Dawud memutuskan bahwa pemilik kambing harus membayar ganti rugi sebesar nilai kerusakan, dan ternyata harga kambing senilai kerusakan. Maka kambing itu diserahkan kepada pemilik kebun. Berbeda dengan Nabi Sulaiman yang memutuskan agar kambing diserahkan kepada pemilik kebun untuk diambil manfaatnya (susu dan bulu), sedang ladang diserahkan kepada pemilik kambing untuk dirawat, dan masing-masing akan mendapat miliknya kembali setelah klop. Allah memilih ijtihad Nabi Sulaiman, akan tetapi hal ini tidak akan mengurangi derajat Nabi Dawud di sisi Allah, karena masing-masing telah diberi kelebihan hikmah dan ilmu. Dan masing-masing adalah mujtahid yang mengambil keputusan setelah berfikir mendalam.

Dalam Islam kejadian serupa pernah pula terjadi, seperti ijtihad Rasulullah pada peristiwa qath’ulliynah (penebangan pohon kurma, QS. 59:5), tebusan tawanan perang Badr ( QS. 8:67) dsb.

Demikian juga Rasulullah SAW menyikapi perbedaan yang terjadi di kalangan sahabat, dengan memberikan pembenaran kepada mereka yang berbeda pendapat dalam ijtihad aplikatif. Seperti perbedaan pendapat dua sahabat yang diutus ke Bani Quraidhah, antara yang shalat ashar di tengah perjalanan dan yang shalat menunggu sampai di tempat tujuan setelah lewat waktu Ashar. Begitu juga sikap Nabi terhadap dua sahabat yang berbeda pendapat tentang shalat dengan tayammum, karena tidak ada air. Kemudian sebelum habis waktu shalat, mendapati air. Ada yang mengulang dan ada yang tidak.

Salafus-shalih menempatkan perbedaan pendapat ini sebagai salah satu bentuk rahmat Allah. Umar bin Abdul Azis mengatakan :” Saya tidak suka jika para sahabat tidak berbeda pendapat. Sebab jika mereka berada dalam satu kata saja tentu akan menyulitkan umat Islam. Merekalah aimmah (para pemimpin) yang menjadi teladan, siapapun yang mengambil salah satu pendapat mereka tentulah sesuai dengan Sunnah”.

Ketika Abu Ja’far Al Mansur hendak menjadikan umat hanya berkiblat pada Al Muwattha’nya Imam Malik rahimahullah. Kata Imam Malik : “ Jangan kamu lakukan wahai khalifah. Karena sesungguhnya umat telah banyak memperoleh fatwa, mendengar hadits, meriwayatkan hadits. Dan mereka telah menjadikannya sebagai panduan amal. Merubah mareka dari kebiasaan itu sungguh sesuatu yang sulit, maka biarkanlah umat mengerjakan apa yang mereka fahami ”

Dari penjelasan di atas, maka perlu dirumuskan adab yang harus dipegang oleh setiap mujtahid dalam melakukan penelitian masalah khilaf far’iy sebagaimana yang pernah ada pada sahabat dan para pengikutnya. Spirit perbedaan itu harus tetap berada dalam semangat mahabbah fillah (cinta karena Allah) ta’awun (kerja sama) untuk mencapai kebenaran, dengan tetap menjauhkan diri dari perdebatan dan fanatisme aliran.

4. ADAB BERDISKUSI DAN BERBEDA PENDAPAT

Ketika diskusi dijadikan sebagai salah satu cara efektif dalam mencari kebenaran, maka mutlak dirumuskan syarat dan adab dalam berdiskusi, agar tujuan menggapai ridha Allah dalam penelitian dapat terealisir. Adab itu ialah :

1. Tidak mendahului fardhu ain (yang harus dikerjakan setiap orang) dengan fardhu kifayah yang menjadi otoritasnya dalam standar syar’iy. Ada ulama yang mengatakan :”Barang siapa yang belum melaksanakan fardhu ain lalu ia menyibukkan diri dengan fardhu kifayah, dan menganggapnya mencari kebenaran, maka anggapannya itu dusta”

2. Tidak mendiskusikan sesuatu kecuali yang waqi’iy (faktual) atau yang mungkin terjadi pada umumnya. Para salaf hanya mendiskusikan sesuatu yang terjadi atau mungkin terjadi.

3. Dialog tertutup lebih baik dari pada forum terbuka di hadapan para pembesar maupun penguasa. Suasana tertutup lebih mencerminkan mahabbatullah (cinta Allah) dan kejernihan hati dan perasaan untuk memperoleh kebenaran. Sedang dalam forum terbuka akan mendorong kecenderungan riya’ atau semangat mengalahkan lawan, benar atau salah.

4. Dialog adalah mencari kebenaran. Tidak boleh membedakan sikap apakah kebenaran itu muncul dari dirinya atau dari orang lain. Memandang teman bicara sebagai pendamping mencari kebenaran bukan lawan yang harus dikalahkan. Bersyukur ketika ia bisa menunjukkan kesalahan dan menawarkan kebenaran. Umar bin Khatthab setelah menetapkan jumlah bilangan mahar, lalu ditegur oleh seorang wanita yang menolak ketetapan itu, kata Umar : “Betul wanita itu dan Umar salah”. As Syafi’iy berkata: “ Saya tidak pernah berdiskusi dengan siapapun, kecuali saya berharap agar kebenaran akan keluar darinya”

5. Tidak menghalangi fihak lain menggunakan satu dalil ke dalil lain, atau dari satu problem ke problem lain.

6. Tidak melakukan diskusi kecuali dengan orang yang dianggap akan dapat diambil ilmunya.

Dengan memperhatikan adab dan syarat dalam berdiskusi ini maka spirit mahabbah fillah (cinta karena Allah) dan Ta’awun (kerja sama) untuk mencapai kebenaran akan terealisir.

هدانا الله واياكم اجمعين

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menuju Titik Temu Hisab Wujudul Hilal dan Hisab Imkan Rukyat

Kontributor: Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Thomas Jamaludin

Jalan menuju persatuan terbuka lebar. Titik temu harus terus kita upayakan, walau awalnya terasa berat. Ego organisasi harus sama-sama kita tanggalkan demi ummat. Keseragaman  mengawali Ramadhan dan mengakhirinya dengan Idul Fitri, serta dalam melaksanakan Idul Adha merupakan syiar yang luar biasa untuk menunjukkan bahwa ummat Islam bisa bersatu.  Keseragaman Idul Fitri dan Idul Adha bukan hanya bermakna ketenteraman dalam beribadah, tetapi juga punya makna sosial yang sangat penting. Sebab utama perbedaan penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha di Indonesia saat ini hanya pada masalah kriteria hisab rukyat, khususnya perbedaan implementasi kriteria wujudul hilal (bulan sabit di atas ufuk) dan imkan rukyat (kemungkinan terlihatnya bulan sabit). Sementara kita abaikan dulu sebab-sebab perbedaan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil yang pada dasarnya terjadi karena ketidakpahaman aspek teknis hisab rukyat.

Penentuan awal bulan qamariyah menjadi dasar dimulainya shaum (puasa) Ramadhan dan mengakhirinya dengan Idul Fitri serta dalam penentuan hari Idul Adha. Metodenya bisa dengan rukyat (pengamatan) dan bisa pula dengan hisab (perhitungan). Hisab tidak cukup sekadar menghasilkan angka posisi bulan dan matahari serta data lainnya, tetapi perlu adanya kriteria (batasan) untuk menentukan masuk atau belumnya awal bulan. Kriteria itu merupakan interpretasi sains astronomis atas dalil syar’i (hukum agama).

Secara umum kriteria hisab yang saat ini digunakan terbagi dua:  kriteria wujudul hilal (bulan sabit di atas ufuk) dan kriteria imkan rukyat (kemungkinan bisa dirukyat). Sebagian besar ormas Islam sudah menggunakan hisab kriteria imkan rukyat dalam pembuatan kalendernya yang juga menjadi dasar rukyat bila diperlukan. Muhammadiyah yang menganut hisab kriteria wujudul hilal di dalam “Pedoman Hisab Muhammadiyah” menyatakan “… karena tulis baca sudah berkembang dan pengetahuan hisab astronomi sudah maju, maka rukyat tidak diperlukan lagi dan tidak berlaku lagi”. Pernyataan yang cenderung “anti rukyat” itu sebenarnya tidak tepat karena sesungguhnya kriteria wujudul hilal bergantung pada konsep rukyat. Ya, memang hisab tidak mungkin meninggalkan rukyat sama sekali. Hisab disempurnakan dengan hasil rukyat yang terus menerus dilakukan. Dalam sains tidak boleh ada klaim kesempurnaan. Hisab dan rukyat terus saling membutuhkan untuk penyempurnaan. Tingkat keusangan dalam sains semakin cepat, sehingga kita harus bersiap dengan perubahan dan tidak boleh memutlakkan satu kriteria.

Secara astronomi, kriteria awal bulan yang disebut “newmoon” (bulan baru) adalah saat konjungsi atau ijtimak yaitu bersatunya bulan dan matahari pada satu garis bujur ekliptika dilihat dari pusat bumi (geosentris). Garis bujur ekliptika adalah garis yang tegak lurus terhadap ekliptika, yaitu lintasan semu matahari di antara rasi-rasi bintang. Orbit bulan selalu berada di sekitar ekliptika, paling jauh hanya sekitar 5 derajat dari ekliptika. Bila saat ijtimak bulan berada tepat di ekliptika, saat itulah terjadi gerhana matahari sentral, baik gerhana matahari total maupun cincin. Itulah ijtimak yang teramati. Selain gerhana, ijtimak tidak mungkin teramati. Ijtimak (newmoon) merupakan informasi dasar astronomi bulan yang paling mudah diperoleh. Tetapi tidak ada fuqaha (ahli fiqih hukum Islam) atau ahli hisab yang menjadikan “bulan baru” astronomis itu sebagai batas awal bulan qamariyah, terutama dalam penentuan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Mengapa tidak menggunakan saja “bulan baru” astronomis tersebut, kalau alasannya hanya demi konsistensi dan kemudahan? Jawabnya sederhana, untuk ibadah harus didasarkan pada dalil syar’i (hukum agama). Hukum dasar yang dijadikan rujukan adalah penggunaan hilal (QS 2:185) dan perintah rukyat yang hanya terjadi sesaat setelah matahari terbenam. Itulah sebabnya generasi awal ahli hisab sekadar menambahkan kriteria waktu matahari terbenam pada kriteria bulan baru astronomis, dengan rumusan “ijtimak qablal ghurub”, yaitu ijtimak sebelum matahari terbenam.

Dalam perkembangan selanjutnya, ahli hisab menambahkan kriteria bulan masih berada di atas ufuk saat matahari terbenam yang dikenal sebagai kriteria “wujudul hilal”. Jadi, kriteria wujudul hilal mensyaratkan tiga hal: (1) telah terjadi ijtimak, (2) ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam, dan (3) pada saat terbenamnya matahari bulan berada di atas ufuk.

Mengapa syarat (2) dan (3) wajib ditambahkan pada syarat (1) sebagai “bulan baru” astronomis? Syarat rukyat yang dikehendaki dalil syar’i tidak boleh ditinggalkan. Itulah yang secara tegas dinyatakan juga di dalam “Pedoman Hisab Muhammadiyah” dengan ungkapan lugas “Keberadaan bulan di atas ufuk itu penting mengingat ia adalah inti makna yang dapat disarikan dari perintah Nabi SAW melakukan rukyat dan menggenapkan bulan 30 hari bila tidak dapat dilakukan rukyat”. Bulan yang terlihat pastilah di atas ufuk saat matahari terbenam dan bulan pasti berada di atas ufuk saat matahari terbenam apabila bulan qamariah berjalan digenapkan 30 hari.

Kalau kita cermati, kriteria wujudul hilal yang dirumuskan dalam “Pedoman Hisab Muhammadiyah” tersebut pada hakikatnya adalah kriteria “imkan rukyat” (kemungkinan bisa dirukyat) juga. Namun, itu masih sangat sederhana, baru mensyaratkan keberadaan di atas ufuk. Dalam bahasa matematika, itu baru “syarat perlu” yang terpenuhi. Untuk lengkapnya perlu “syarat cukup” untuk imkan rukyat.

Syarat cukup kriteria imkan rukyat adalah “cahaya hilal bisa mengalahkan cahaya syafak (cahaya senja)” sehingga hilal nyata terlihat. Agar ada kontras cahaya hilal relatif terhadap cahaya senja perlu syarat-syarat tertentu yang menjadi topik menarik penelitian astronomis terkait visibilitas hilal (ketampakan hilal). Jadi, kriteria wujudul hilal bisa menjadi kriteria imkan rukyat dengan menambahkan syarat visibilitas hilal agar “syarat perlu dan cukup” terpenuhi.

Kriteria visibilitas hilal itu sangat beragam parameternya. Ada yang mendasarkan pada ketinggian hilal, jarak bulan-matahari, umur hilal, lebar sabit, atau beda waktu terbenam bulan-matahari. Ada yang didasarkan penelitian sederhana hanya beberapa bukti pengamatan. Ada pula yang berdasarkan analisis komprehensif atas kompilasi data tertentu.

Kriteria MABIMS atau kriteria “2,3,8” (ketinggian minimal 2 derajat, jarak bulan-matahari minimal 3 derajat, dan umur bulan minimal 8 jam) yang saat ini digunakan di Indonesia adalah contoh kriteria yang didasarkan data sederhana. “Kriteria LAPAN” yang merevisi kriteria “2,3,8” adalah contoh kriteria yang didasarkan pada data terbatas di Indonesia yang dikompilasi dari data dokumentasi sidang itsbat Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama) sejak 1962 – 1996. Kriteria Ilyas, Yallop, SAAO, Odeh, dan usulan saya “Kriteria Hisab Rukyat Indonesia” adalah contoh kriteria yang didasarkan pada kompilasi data internasional yang komprehensif. Untuk membuat kriteria tidak harus mengamatinya sendiri, karena dapat memanfaatkan data yang dikompilasi dari banyak pengamat di seluruh dunia.

Kriteria mana yang akan dipilih dalam mencari titik temu wujudul hilal dan imkan rukyat? Dalam implementasinya, kita harus memperhatikan kelaziman praktek hisab rukyat yang dilakukan di Indonesia. Dari sekian pilihan kriteria, perlu ada kesepakatan ahli hisab rukyat. Kalau sampai saat ini disepakati kriteria “2,3,8”, terimalah dulu kriteria itu untuk persatuan ummat. Nantinya, setelah kemampuan dan pemahaman hisab rukyat makin canggih, kita bisa tingkatkan menuju kriteria imkan rukyat yang benar-benar berdasarkan kriteria visibilitas hilal secara astronomis. Kriteria yang disepakati menjadi pedoman bersama yang memberikan kepastian dan konsistensi. Dengan kriteria imkan rukyat yang disepakati, kita bisa membuat kalender sampai sekian puluh  tahun ke depan yang insya-Allah akan konsisten dengan hasil rukyat. Namun, kita harus ingat bahwa kriteria itu perlu terus disempurnakan, sehingga perlu ada kesepakatan-kesepakatan baru yang memperhatikan juga perkembangan terbaru hasil penelitian astronomi tentang visibilitas hilal.

Jadi, selangkah lagi kita bisa menuju titik temu antara hisab wujudul hilal dan hisab imkan rukyat. Selanjutnya kriteria imkan rukyat itu akan menjadi titik temu antara metode rukyat dan metode hisab sehingga hasil hisab yang tercantum di dalam kalender akan bersesuaian dengan hasil rukyat. Hisab dan rukyat akan benar-benar setara dan saling menguatkan. Kalau itu bisa tercapai, kita akan mempunyai satu kalender hijriyah yang mapan yang memberikan kepastian beribadah dan bermuamalah (bisnis umum).

Tentang Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal C… Selengkapnya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/01/16043/menuju-titik-temu-hisab-wujudul-hilal-dan-hisab-imkan-rukyat/#ixzz2aabA343y
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab

 Kontributor: Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Thomas Jamaludin

 Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha sering terjadi di Indonesia. Penyebab utama BUKAN perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi pada perbedaan kriterianya. Kalau mau lebih spesifik merujuk akar masalah, sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan sudah positif di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih sekitar batas kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat, batas kemungkinan untuk diamati) atau lebih rendah lagi, dapat dipastikan terjadi perbedaan. Perbedaan terakhir kita alami pada Idul Fitri 1327 H/2006 M dan 1428 H/2007 H serta Idul Adha 1431/2010. Idul Fitri 1432/2011 juga hampir dipastikan terjadi perbedaan. Kalau kriteria Muhammadiyah tidak diubah, dapat dipastikan awal Ramadhan 1433/2012, 1434/2013, dan 1435/2014 juga akan beda. Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, “mari kita saling menghormati”. Adakah solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya.

Mengapa perbedaan itu pasti terjadi ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk? Kita ambil kasus penentuan Idul Fitri 1432/2011. Pada saat Maghrib 29 Ramadhan 1432/29 Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya. Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (“hilal”) sudah wujud di atas ufuk saat Maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat Maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/2006 dan 1428/2007, laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal.

Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan.  Seperti apa sesungguhnya hisab wujudul hilal itu? Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat.  Tentu saja mereka anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak paham ilmu hisab.  Oktober 2003 saya diundang Muhammadiyah sebagai narasumber pada Munas Tarjih ke-26 di Padang. Saya diminta memaparkan “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Saya katakan  wujudul hilal hanya ada dalam teori, tidak mungkin bisa teramati. Pada kesempatan lain saya sering mengatakan teori/kriteria wujudul hilal tidak punya landasan kuat dari segi syar’i dan astronomisnya. Dari segi syar’i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan. Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.

Kita ketahui, metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi (yang kini digunakan oleh beberapa kelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnya beda dengan metode hisab atau rukyat). Lalu berkembang hisab imkan rukyat, tetapi masih menggunakan hisab taqribi (pendekatan) yang akurasinya maish rendah. Muhammadiyah pun sempat menggunakannya pada awal sejarahnya. Kemudian untuk menghindari kerumitan imkan rukyat, digunakan hisab ijtimak qablal ghurub (konjungsi sebelum matahari terbenam) dan hisab wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambat daripada matahari). Kini kriteria wujudul hilal mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok atau negara yang masih kekurangan ahli hisabnya, seperti oleh Arab Saudi untuk kalender Ummul Quro-nya. Kini para pembuat kalender cenderung menggunakan kriteria imkan rukyat karena bisa dibandingkan dengan hasil rukyat. Perhitungan imkan rukyat sudah sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi. Informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses secara online di internet.

Muhammadiyah yang tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak pada kejumudan (kebekuan pemikiran) dalam ilmu falak atau astronomi terkait penentuan sistem kalendernya. Mereka cukup puas dengan wujudul hilal, kriteria lama yang secara astronomi dapat dianggap usang. Mereka mematikan tajdid (pembaharuan) yang sebenarnya menjadi nama lembaga think tank mereka, Majelis Tarjih dan Tajdid. Sayang sekali. Sementara ormas Islam lain terus berubah. NU yang pada awalnya cenderung melarang rukyat dengan alat, termasuk kacamata, kini sudah melengkapi diri dengan perangkat lunak astronomi dan teleskop canggih. Mungkin jumlah ahli hisab di NU jauh lebih banyak daripada di Muhammadiyah, walau mereka pengamat rukyat. Sementara Persis (Persatuan Islam), ormas “kecil” yang sangat aktif dengan Dewan Hisab Rukyat-nya berani beberapa kali mengubah kriteria hisabnya. Padahal, Persis  kadang mengidentikkan sebagai “saudara kembar” Muhammadiyah karena memang mengandalkan hisab, tanpa menunggu hasil rukyat. Persis beberapa kali mengubah kriterianya, dari ijtimak qablal ghrub, imkan rukyat 2 derajat, wujudul hilal di seluruh wilayah Indonesia, sampai imkan rukyat astronomis yang diterapkan. Lalu mau ke mana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Semoga!

Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Tentang Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal C… Selengkapnya.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/08/27/14299/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/#ixzz2aXG8n9EZ
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Puasa tidak menghapuskan Dosa Besar

Benarkah puasa Ramadhan dapat menghapus semua dosa orang yang melaksanakannya?

Sehingga pada waktu Iedul Fitri seperti bayi yang baru dilahirkan?

Mari kita kaji berdasarkan dalil-dali berikut ini :

Memang benar ada hadits yang sangat terkenal, Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفرله ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa puasa pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala Alloh Swt, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no 1901)

Tetapi apakah semua dosa diampuni? Mayoritas ulama berpendapat bahwa ampunan dosa tersebut hanya berlaku pada dosa-dosa kecil, karena Allah subhanhu wa ta’ala berfirman :

“Jika kamu menjauhi dosa dosa besar di antara dosa dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS An Nisa:31)

Dan berdasar hadits riwayat Muslim dibawah ini :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُوْلُ: اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ. وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ. وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ. مُكَفِّرَاتُ

مَا بَيْنَهُنَّ. إَذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Sholat lima waktu, dari Jum’at ke jum’at dan dari Ramadhan ke Ramadhan ialah menghapuskan dosa diantara masing-masing apabila dijauhinya dosa-dosa besar.” (Hadits Riwayat Muslim)

Hadits dan ayat diatas memiliki dua konotasi :

  • Pertama : Bahwasanya penghapusan dosa itu terjadi dengan syarat menghindari dan menjauhi dosa-dosa besar.
  • Kedua : Hal itu dimaksudkan bahwa kewajiban-kewajiban tersebut hanya menghapus dosa-dosa kecil.

Sahabat Hikmah…

Lalu apa saja dosa-dosa besar tersebut? Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Amaliyah tidak dapat menghapus Dosa Besar

shalat lima waktuKita telah diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala tatkala kita berada dalam keadaan sendirian maupun di hadapan orang banyak. Namun sudah merupakan kepastian dalam melakukan ketaatan tersebut, terkadang kita lalai. Boleh jadi kita meninggalkan hal yang diperintahkan atau terjerumus dalam hal yang dilarang. Ketika dalam keadaan demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan kita untuk menghapus kejelekan tersebut dengan kebajikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan sebuah nasehat berharga kepada Abu Dzar Al Ghifariy Jundub bin Junadah,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi, hasan dilihat dari jalur lain. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib 2655)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)

Ketika Allah menceritakan sifat-sifat orang yang bertakwa, Allah pun berfirman,

إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ

Apabila mereka mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.” (QS. Ali Imran: 135). Ayat ini menunjukkan bahwa sifat orang yang bertakwa adalah terkadang terjerumus dalam dosa-dosa besar (faahisyah) dan juga dosa-dosa kecil (zhulmun nafs). Akan tetapi mereka tidak terus menerus berbuat dosa. Bahkan mereka mengingat Allah setelah mereka terjerumus dalam dosa tersebut. Mereka pun memohon ampunan kepada-Nya dan bertaubat.

Shalat Lima Waktu Pelebur Dosa

Maksud “perbuatan-perbuatan yang baik” dalam surat Huud ayat 14 di atas adalah shalat lima waktu. Karena ayat ini dalam konteks membicarakan masalah shalat. Tafsiran ini adalah tafsiran dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama.[1] Sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan-perbuatan yang buruk dalam ayat tersebut adalah dosa-dosa kecil dan bukan semua dosa.[2] Tafsiran ini berdasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)

Bahkan dikuatkan pula dengan ayat dalam surat An Nisa’,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS. An Nisa’: 31). “Kesalahan-kesalahanmu” ditafsirkan dengan dosa-dosamu yang kecil sebagaimana yang dikatakan oleh As Sudiy[3]. Dalam tafsir Al Jalalain juga dikatakan bahwa yang dimaksudkan adalah dosa-dosa kecil dan dosa tersebut dihapus dengan ketaatan[4].[5]

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa dosa-dosa kecil bisa terhapus dengan amalan ketaatan, di antaranya adalah shalat wajib. Antara shalat Shubuh dan Zhuhur, Ashar dan Maghrib, Maghrib dan Isya, Isya dan Shubuh, di dalamnya terdapat pengampunan dosa (yaitu dosa kecil) dengan sebab melaksanakan shalat lima waktu.

Namun perlu diketahui bahwa dosa-dosa kecil ini bisa terhapus dengan amalan wajib apabila seseorang menjauhi dosa-dosa besar. Pendapat inilah yang dianut mayoritas ulama salaf. Artinya, menjauhi dosa besar merupakan syarat agar dosa kecil itu bisa dihapus dengan amalan-amalan wajib. Jika dosa besar tidak dijauhi, maka dosa kecil tidak bisa terhapus dengan sekedar melakukan amalan wajib.[6]

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Shalat lima waktu menghapuskan setiap dosa di antara waktu-waktu tersebut selama seseorang menjauhi dosa besar.”[7]

Salman mengatakan, “Jagalah shalat lima waktu karena shalat lima waktu adalah pelebur dosa yang diperbuat tubuh ini selama seseorang tidak melakukan dosa pembunuhan.”[8]

Adapun dosa besar bisa terhapus dengan taubat nashuhah[9]. Yang namanya taubat adalah dengan menyesali setiap dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, tidak terus menerus dalam dosa.

Semoga Allah mengampuni setiap dosa kita dan memberi taufik untuk menjadi lebih baik dengan bertaubat pada-Nya.

Masih ada amalan lainnya sebagai pelebur dosa, mudah-mudahan dapat kami sajikan dalam tulisan lainnya. Semoga sajian yang singkat ini bermanfaat.

 

Artikel www.rumaysho.com

Diselesaikan di Panggang-GK, di pagi penuh berkah, 3 Rajab 1431 H, 15/06/2010

Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal (Semoga Allah mengampuni dosanya, kedua orang tuanya dan keluarganya).

 


[1] Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 3/388, Mawqi’ At Tafaasir.

[2] Idem

[3] Zaadul Masiir, 2/22

[4] Tafsir Al Jalalain, hal. 83, Maktabah Ash Shofaa, cetakan pertama, 1425 H.

[5] Lihat pembahasan tafsir surat Hud ayat 114 dalam Taisir Al Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 391, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama 1420 H.

[6] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 204-205, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H.

[7] Jaami’ul ‘Ulum, hal. 205.

[8] Idem.

[9] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 206.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hal-hal yang Ghaib

 Memahami yang Ghaib sesuai Syariah

Beriman kepada hal yang ghoib/ghaib atau gaib merupakan salah satu tanda orang yang bertakwa sebagaimana tercancum dalam Surat Al Baqarah:2-3. “Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib …“

Percaya akan adanya Allah, malaikat, rasul, jin, iblis, surga dan neraka merupakan bagian dari keimanan akan adanya hal-hal yang ghaib. Namun.demikian kita sebagai Muslim perlu memahami hal-hal yang ghaib dengan benar berdasarkan syariat sehingga tidak sampai keluar dari koridor syar’i.

Untuk lebih memahami dan mengimani hal-hal ghaib sesuai dengan syariah Anda kami ajak menyimak artikel yang kami salin dari Majalah Ghoib edisi   26/2. Majalah yang bermoto”Mengimani yang Ghoib Sesuai Syariat” ini mengupas masalah ghaib dengan gamblang berjudul Ghaib dalam Terminologi Islam.

Ghaib secara bahasa adalah sesuatu yang tidak tampak. Sedangkan ghaib menurut istilah adalah sesuatu yang tidak tampak oleh panca indra tapi ada dalil tertulis yang menjelaskan akan keberadaannya. Apabila ada dalil dari ayat atau hadits yang shahih akan keberadaan sesuatu yang ghaib itu lalu diingkari, maka pengingkaran itu bisa menjadikan pelakunya kafir. Karena dia telah mengingkari bagian dari ajaran agama yang penting.

Misalnya keberadaan makhluk Allah yang bernama jin. Allah telah menginformasikan kepada kita semua akan keberadaan jin di dalam Al-Quran bahkan salah satu dari surat Al-Quran ada yang bernama surat Jin, yaitu surat ke 72. Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Begitu juga dalam hadits Rasulullah telah bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah).” (HR. Muslim).

Dalam ayat dan hadits di atas dijelaskan bahwa Allah telah menciptakan jin sebagaimana Dia telah menciptakan manusia dan malaikat. Berarti keberadaan jin tidak boleh kita ingkari, walaupun kita tidak bisa melihat wujud dan keberadaan mereka, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah “Sesungguhnya ia (iblis) dan teman-temannya melihat kamu (manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-Araf: 27). Oleh sebab itu makhluk Allah yang bernama jin itu dikategorikan sebagai makhluk ghaib, yang informasi keberadaannya ada dalam nash (teks), tapi kita tidak bisa melihatnya dengan panca indra kita.

Al-Quran sendiri telah menyebutkan kata “ghaib” kurang lebih sebanyak 56 kali. Dan di permulaan surat Al-Baqarah, Allah meyebutkan salah satu dari karakter orang-orang yang bertakwa adalah, orang-orang yang beriman kepada yang ghaib. “Alif Lam Mim. Kitab Al-Quran ini tidak ada keraguan di dalam padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib..” (QS. Al-Baqarah: 1 – 3)

Ayat tersebut sebagai dalil akan pentingnya mengetahui hal yang ghaib secara benar, lalu mempercayainya dan menjadikannya sebagai pilar-pilar keimanan. Kalau kita salah dalam memahami hal yang ghaib, berarti salah pula pilar iman yang kita miliki. Maka dari itu untuk memahami hal yang ghaib kita membutuhkan referensi yang valid dan akurat, agar tidak menghasilkan pemahaman yang salah dan menyimpang. Dan referensi itu bernama Al-Quran dan al-Hadits.

Seorang ahli tafsir yang bernama Abul Aliyah berkata, “Yang dimaksud dengan ghaib pada ayat tersebut adalah Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, Surga dan Neraka-Nya, pertemuan dengan-Nya serta hari kebangkitan dan kehidupan setelah kematian”. (Tafsir lbnu Katsir: l/45). Dan kalau kita kalkulasi jumlah persentase hal yang ghaib di sekitar kita terutama masalah akidah, maka akan kita dapatkan persentase hal yang ghaib dan harus kita percayai akan lebih banyak jumlahnya dari pada yang nyata. Tapi karena keberadaannya ada dalam Al-Quran dan disebutkan Rasulullah dalam haditsnya yang shahih, maka kita sebagai orang yang beriman dan bertakwa harus memercayainya dan meyakini dengan seyakin-yakinnya tanpa ragu sama sekali.

Jadi, kita tidak boleh bicara tentang suatu yang ghaib hanya berdasarkan akal pikiran belaka, atau bersumber dari bisikan-bisikan ghaib, mimipi-mimpi, atau mitos-mitos yang berkembang. Kesemuanya itu harus kita filter dengan syariat lslam. Bila sesuai dan disahkan oleh syariat, berarti kita terima dan kita jadikan sebagai pilar keimanan. Tapi bila menyimpang dari syariat atau bertolak belakang, maka harus kita tolak kebenarannya.

Masalah ghaib tidak hanya seputar kehidupan jin dan syetan sebagaimana yang banyak diekspos oleh media massa akhir-akhir ini. Karena jin dan syetan hanya bagian kecil dari masalah keghaiban yang sangat luas cakupannya. Kita belum pernah melihat suratan takdir kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, tapi kita harus percaya akan adanya takdir yang telah digariskan Allah untuk kita, yang baik maupun yang buruk. Begitu juga dengan umur kita, Allah telah menentukan batasannya dan kita harus memercayainya, walaupun kita belum tahu berapa lama ketentuan umur kita. Dan masih banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan kita, yang masuk dalam kategori ghaib karena tidak bisa kita indra dengan panca indra kita.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada selembar daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tiada suatu pun yang basah dan kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Al-An’am: 59).

Nah, Apakah informasi keghaiban yang Anda miliki sudah sesuai syariat lslam? Atau malah bertentangan dengan syari’at lslam? Mari kita sesuaikan dengan Al-Quran dan hadits agar tidak salah.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Urgensi Masyarakat Sadar Halal

New Picture (4)Urgensi Pola Hidup Halalan Toyyiban

Bagi seorang mu’min, makanan bukanlah sekedar pengganjal perut kala lapar, akan tetapi ia bisa membawa manusia kedalam api neraka jika apa yang dimakan itu jika tidak halal (haram). Disamping itu makanan haram menyebabkan ibadah yang kita lakukan serta do’a yang kita panjatkan akan sia-sia. Mari kita perhatikan salah satu dari sekian banyak hadist terkait makanan haram berikut:

“Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah.” Apa jawaban Rasulullah SAW, “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya.” (HR At-Thabrani)

Sebagian ulama berpendapat bahwa makanan yang kita makan berpengaruh terhadap pembentukan sifat dan karakter kita. Maka Bukan tidak mungkin jika ada kenakalan dan ketidak patuhan anak-anak kita, budaya korupsi para pejabat kita, maraknya kemaksiatan dan sikap meremehkan dosa dan lain-lain sedikit banyak akibat dari masuknya makanan haram pada tubuh mereka. Untuk lebih detail memahami dampak buruk makanan haram bagi kita dan keluarga silahkan dibaca artikel kami lainnya yang berjudul “Dahsyatnya Dampak Buruk Makanan dan Harta Haram”.

Oleh karena itu, sebagai mu’min yang taat, kita harus mampu memilih hanya makanan yang baik dan halal saja yang kita konsumsi. Yang dimaksud halal disini baik halal pada zatnya maupun pada cara mendapatkannya.

Realita Masyarakat Muslim Indonesia

Namun sungguh sangat ironis bahwa masih banyak kaum muslimin yang hampir tidak Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hukum Bank Konvesional dalam Islam

Bank Konvensional menurut Islam
bank konvensioanlBNI
Hukum perbankan konvensional non-syariah dalam pandangan ulama Islam salaf (klasik) dan kontemporer dan hukum bekerja di dan memakan gaji dari bank.

DAFTAR ISI

Riba
Definisi Riba
Hukum Riba
Macam-macam Riba
Dalil Haramnya Riba
Pendapat Haramnya Bank Konvensional
Praktik Perbankan yang Haram
Prakthk Perbankan yang Halal
Ulama dan Lembaga yang Mengharamkan Bank Konvensional
Hukum Gaji Pegawai Bank Konvensional
Pandangan Halalnya Bank Konvensional
Ulama dan Lembaga yang Menghalalkan Bank Konvensional
Alasan yang Menghalalkan Bank Konvensional
Aneka Layanan Bank Kovensional
Kesimpulan Hukum Bank Kovensional dalam Islam
Catatan dan Referensi

RIBA

Di bidang transaksi ekonomi, Islam melarang keras praktik riba. Al-Dhahabi dalam kitab Al-Kabair menjadikan riba sebagai salah atu perilaku dosa besar yang harus dijauhi. Secara sederhana riba berarti menggandakan uang yang dipinjamkan atau dihutangkan pada seseorang.

DEFINISI RIBA

Secara etimologis (lughawi) riba (الربا) adalah isim maqshur, berasal dari rabaa yarbuu. Asal arti kata riba adalah ziyadah yakni tambahan atau kelebihan.

Secara terminologis (istilah) riba adalah setiap kelebihan antara nilai barang yang diberikan dengan nilai-tandingnya (nilai barang yang diterimakan). (Lihat Ibnul Arabi dalam أحكام القرأن).

MACAM-MACAM RIBA DALAM ISLAM

Ada dua macam jenis riba yaitu riba al-fadhl (ربا الفضل) dan riba al-nasi’ah (ربا النسيئة).

Riba al-Fadhl disebut juga dengan riba jual beli adalah penambahan dalam jual-beli barang yang sejenis.
Riba ini terjadi apabila seseorang menjual sesuatu dengan sejenisnya dengan tambahan, seperti menjual emas dengan emas, mata uang dirham dengan dirham, gandum dengan gandum dan seterusnya.

Lebih jelasnya dapat dilihat dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim berikut:

Bilal datang kepada Rasulullah SAW dengan membawa korma kualitas Barni (baik). Lalu Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Dari mana kurma itu ?”. Ia menjawab , “Kami punya kurma yang buruk lalu kami tukar bdli dua liter dengan satu liter”. Maka Rasulullah bersabda: “Masya Allah, itu juga adalah perbuatan riba. Jangan kau lakukan. Jika kamu mau membeli, juallah dahulu kurmamu itu kemudian kamu beli kurma yang kamu inginkan.

Riba an-Nasi’ah disebut juga riba hutang piutang adalah kelebihan (bunga) yang dikenakan pada orang yang berhutang oleh yang menghutangi pada awal transaksi atau karena penundaan pembayaran hutang.

Riba nasi’ah ada dua jenis sebagai berikut:

1. A meminjamkan/menghutangkan uang atau benda berharga lain pada B. Bentuknya ada dua: Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Muhammad bin Abdul Wahhab : Mujaddid atau Fitnah dari Najd ?

Muhammad bin Abdul Wahhab : Mujaddid atau Fitnah dari Najd? najd 1 Posisi Najd dan Kufah Iraq terhadap Madinah Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab sangat kontroversial. Ada yang menyukai. Ada juga yang membencinya. Pengikutnya, kelompok Muwahhidun atau sekarang menamakan dirinya Salafi (oleh lawannya disebut Wahabi), Muhammad bin Abdul Wahhab disebut sebagai Pejuang Tauhid yang memurnikan Islam. Namun oleh lawannya, Muhammad bin Abdul Wahhab disebut sebagai sosok yang ekstrim. Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung ‘Uyainah (Najd), lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang. Beliau meninggal dunia pada 29 Syawal 1206 H (1793 M) dalam usia 92 tahun, setelah mengabdikan diri selama lebih 46 tahun dalam memangku jabatan sebagai menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi . Nama lengkapnya: Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi. Syekh Abdul Wahab tergolong Banu Siman, dari Tamim. Pendidikannya dimulai di Madinah yakni berguru pada ustadz Sulaiman al-Kurdi dan Muhammad Hayat al-Sind. Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pendiri kelompok Wahabi yang mazhab fikihnya dijadikan mazhab resmi kerajaan Saudi Arabia, hingga saat ini. Di situs Arrahmah disebut: Gerakan al-Muwahhidun atau yang kini sering disebut sebagai gerakan “wahabi” ini menjadi ancaman bagi kekuasaan Inggris di daerah perbatasan dan Punjab sampai 1871. Ketika itu pemerintah Inggris bersekongkol untuk mengeluarkan ‘fatwa’ guna memfitnah kaum Wahhabi sebagai orang-orang kafir. http://arrahmah.com/read/2011/11/22/16492-syekh-muhammad-bin-abdul-wahhab-pejuang-tauhid-yang-memurnikan-islam.html Sebetulnya jika kita teliti sejarah, justru Muhammad Bin Abdul Wahhab bersama dengan Ibnu Saud dibantu dengan dana dan senjata oleh Pemerintah Inggris guna melawan Kekhalifahan Islam Turki Usmani. Tidak ada catatan sejarah yang menuliskan Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Ibnu Saud atau Arab Saudi berperang melawan Inggris. Semua melawan ummat Islam seperti pasukan Pemerintah Khalifah Turki Usmani. Dari situs Isnet yang pro Wahabi disebut bagaimana Muhammad bin Abdul Wahhab berdakwah dengan pedang atau perang sebagaimana Nabi Muhammad SAW. Namun jika Nabi Muhammad SAW itu memerangi orang-orang kafir bersama orang-orang yang beriman, Muhammad bin Abdul Wahab justru memerangi ummat Islam yang dia tuduh sebagai Musyrik atau Kafir dengan bantuan persenjataan Inggris seperti senapan dan peluru: Demikianlah perjuangan Tuan Syeikh yang berawal dengan lisan, lalu dengan pena dan seterusnya dengan senjata, telah didukung sepenuhnya oleh Amir Muhammad bin Saud, penguasa Dar’iyah. Beliau memulakan jihadnya dengan pedang pada tahun 1158 H. Sebagaimana kita ketahui bahwa seorang da’i ilallah, apabila tidak didukung oleh kekuatan yang mantap, pasti dakwahnya akan surut, meskipun pada tahap pertama mengalami kemajuan. Namun pada akhirnya orang akan jemu dan secara beransur-ansur dakwah itu akan ditinggalkan oleh para pendukungnya. Oleh kerana itu, maka kekuatan yang paling ampuh untuk mempertahankan dakwah dan pendukungnya, tidak lain harus didukung oleh senjata. Kerana masyarakat yang dijadikan sebagai objek daripada dakwah kadangkala tidak mampan dengan lisan maupun tulisan, akan tetapi mereka harus diiring dengan senjata, maka waktu itulah perlunya memainkan peranan senjata. Alangkah benarnya firman Allah SWT [Al Hadiid}: Namun semua itu tidak mungkin berjalan dengan lancar dan stabil tanpa ditunjang oleh kekuatan besi (senjata) yang menurut keterangan al-Qur’an al-Hadid fihi basun syadid iaitu, besi waja yang mempunyai kekuatan dahsyat. Iaitu berupa senjata tajam, senjata api, peluru, senapang, meriam, kapal perang, nuklear dan lain-lain lagi, yang pembuatannya mesti menggunakan unsur besi. Sungguh besi itu amat besar manfaatnya bagi kepentingan umat manusia yang mana al-Qur’an menta’birkan dengan Wama nafiu linasi iaitu dan banyak manfaatnya bagi umat manusia. Apatah lagi jika dipergunakan bagi kepentingan dakwah dan menegakkan keadilan dan kebenaran seperti yang telah dimanfaatkan oleh Tuan Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab semasa gerakan tauhidnya tiga abad yang lalu. Orang yang mempunyai akal yang sihat dan fikiran yang bersih akan mudah menerima ajaran-ajaran agama, sama ada yang dibawa oleh Nabi, maupun oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang zalim dan suka melakukan kejahatan, yang diperhambakan oleh hawa nafsunya, mereka tidak akan tunduk dan tidak akan mau menerimanya, melainkan jika mereka diiring dengan senjata. Demikianlah Tuan Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab dalam dakwah dan jihadnya telah memanfaatkan lisan, pena serta pedangnya seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sendiri, di waktu baginda mengajak kaum Quraisy kepada agama Islam pada waktu dahulu. http://media.isnet.org/islam/Etc/Wahab.html Arab Saudi bukanlah negara pembuat/industri senjata. Oleh karena itu senjata canggih mereka dapatkan dari sekutunya, Inggris, guna melawan Turki.

pasukanwahabi

Sama sekali tidak ada peperangan melawan Inggris. Yang ada adalah peperangan dengan ummat Islam dari Thaif, Mekkah, dan Madinah. Berikutnya dengan Turki dan Mesir: Berangkatlah Imam Saud bin ‘Abdul ‘Aziz menuju tanah Haram Mekah dan Madinah (Haramain) yang dikenal juga dengan nama tanah Hijaz. Mula-mula beliau bersama pasukannya berjaya menawan Ta’if. Penaklukan Ta’if tidak begitu banyak mengalami kesukaran kerana sebelumnya Imam Saud bin ‘Abdul ‘Aziz telah mengirimkan Amir Uthman bin ‘Abdurrahman al-Mudhayifi dengan membawa pasukannya dalam jumlah yang besar untuk mengepung Ta’if. Pasukan ini terdiri dari orang-orang Najd dan daerah sekitarnya. Oleh kerana itu Ibnu ‘Abdul ‘Aziz tidak mengalami banyak kerugian dalam penaklukan negeri Ta’if, sehingga dalam waktu singkat negeri Ta’if menyerah dan jatuh ke tangan Wahabi. Di Ta’if, pasukan muwahidin membongkar beberapa maqam yang di atasnya didirikan masjid, di antara maqam yang dibongkar adalah maqam Ibnu Abbas r.a. Masyarakat tempatan menjadikan maqam ini sebagai tempat ibadah, dan meminta syafaat serta berkat daripadanya. Dari Ta’if pasukan Imam Saud bergerak menuju Hijaz dan mengepung kota Mekah. Manakala gabenor Mekah mengetahui hal ehwal pengepungan tersebut (waktu itu Mekah di bawah pimpinan Syarif Husin), maka hanya ada dua pilihan baginya, menyerah kepada pasukan Wahabi atau melarikan diri ke negeri lain. Ia memilih pilihan kedua, iaitu melarikan diri ke Jeddah. Kemudian, pasukan Saud segera masuk ke kota Mekah untuk kemudian menguasainya tanpa perlawanan sedikit pun. Tepat pada waktu fajar, Muharram 1218 H, kota suci Mekah sudah berada di bawah kekuasaan muwahidin sepenuhnya. Lihat bagaimana para “Muwahhidun” atau Salafi memerangi ummat Islam sehingga jatuh banyak korban di kalangan ummat Islam. Pemerintah Kekhalifahan Islam Turki pun lemah sehingga bisa dikalahkan Inggris: Setelah lapan tahun wilayah ini berada di bawah kekuasaan Imam Saud, pemerintah Mesir bersama sekutunya Turki, mengirimkan pasukannya untuk membebaskan tanah Hijaz, terutama Mekah dan Madinah dari tangan muwahidin sekaligus hendak mengusir mereka keluar dari daerah tersebut. Adapun sebab campurtangan pemerintah Mesir dan Turki itu adalah seperti yang telah dikemukakan pada bahagian yang lalu, iaitu kerana pergerakan muwahidin mendapat banyak tentangan dari pihak musuh-musuhnya, sama ada ianya dari pihak dalam Islam sendiri ataupun dari luarnya, yang mana tujuan mereka sama iaitu untuk memulau dan memadamkan api gerakan dakwah salafiyyah. Oleh kerana musuh-musuh gerakan salafiyyah tidak mempunyai kekuatan yang memadai untuk menentang pergerakan Wahabiyah, maka mereka menghasut pemerintah Mesir dan Turki dengan menggunakan nama agama, seperti yang telah diterangkan pada bahagian yang lalu. Maka menyerbulah pasukan Mesir dan Turki ke negeri Hijaz untuk membebaskan kedua-dua kota suci Mekah dan Madinah dari cengkaman kaum muwahiddin, sehingga terjadilah peperangan di antara Mesir bersama sekutunya Turki di satu pihak menentang pasukan muwahidin dari Najd dan Hijaz di pihak lain. Peperangan ini telah berlangsung selama tujuh tahun, iaitu dari tahun 1226 hingga 1234 H. Dalam masa perang tujuh tahun itu tidak sedikit kerugian yang dialami oleh kedua belah pihak, terutama dari pihak pasukan Najd dan Hijaz, selain kerugian harta benda, tidak sedikit pula kerugian nyawa dan tubuh manusia Dari tulisan di website Isnet yang pro Wahabi kita paham bahwa dengan dalih membersihkan Islam dari kemusyrikan dan kekafiran, Wahabi menyerang ummat Islam di Thaif, Mekkah, Madinah, dsb. Banyak ummat Islam yang jadi korban. Ada satu pertanyaan, jika ummat Islam di Mekkah dan Madinah disebut Musyrik dan Kafir, di mana ummat Islam yang lurus? Bagaimana ummat Islam diperangi dan dibunuh sementara kaum kafir Inggris justru aman dari tangan mereka? Sejalankan tindakan kaum Salafi dengan firman Allah di bawah? “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..” [Al Fath 29] “..kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir..” [Al Maa-idah 54] Dari situs Arrahmah.com disebut: Perjuangan tauhid beliau terkristalisasi dalam ungkapan la ilaha illa Allah. Menurut beliau, aqidah atau tauhid umat telah dicemari oleh berbagai hal seperti takhayul, bid’ah dan khurafat (TBC) yang bisa menjatuhkan pelakunya kepada syirik. Aktivitas-aktivitas seperti mengunjungi para wali, mempersembahkan hadiah dan meyakini bahwa mereka mampu mendatangkan keuntungan atau kesusahan, mengunjungi kuburan mereka, mengusap-usap kuburan tersebut dan memohon keberkahan kepada kuburan tersebut. Seakan-akan Allah SWT sama dengan penguasa dunia yang dapat didekati melalui para tokoh mereka, dan orang-orang dekat-Nya. Bahkan manusia telah melakukan syirik apabila mereka percaya bahwa pohon kurma, pepohonan yang lain, sandal atau juru kunci makam dapat diambil berkahnya, dengan tujuan agar mereka dapat memperoleh keuntungan. Menurut Muhammad bin Abdul Wahhab, ummat Islam sekarang lebih musyrik daripada kaum kafir Mekkah yang menyembah berhala serta ingkar kepada Allah, Al Qur’an, dan Nabi Muhammad. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Qawaidul Arba’ berkata, “Kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu, karena (kaum musyrikin) dahulu berbuat syirik (ketika) keadaan senang dan mereka ikhlas dalam keadaan susah. Sementara kaum musyrikin zaman kita, kesyirikan mereka terus-menerus dalam keadaan senang maupun susah, dan dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut: 65) Surah Al-’Ankabut adalah surah ke-29 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 69 ayat serta termasuk golongan surah-surrah Makkiyah. Dinamai Al-’Ankabut berhubung terdapatnya kata Al-’Ankabut yang berarti Laba-Laba pada ayat 41 surah ini, dimana Allah mengumpamakan para penyembah berhala-berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur. Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syu’aib, kaum Saleh, dan lain-lain. Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka. Jadi jika dengan memakai ayat-ayat Al Qur’an yang diperuntukkan kepada orang2 kafir Mekkah kepada ummat Islam bahkan menyatakan ummat Islam lebih syirik daripada orang2 musyrik tersebut apalagi sampai membantai sesama Muslim, itu tidak selaras dengan ajaran Islam. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762) Janganlah kita sembarang menuduh sesama Muslim Syirik atau nama lain yang tidak menyenangkan (Al Hujuraat 11-12) Saat ini ada 7 milyar manusia di mana ummat Islam cuma 1,3 milyar. Harusnya ayat2 kemusyrikan tsb ditujukan pada orang2 kafir yang masih menyembah selain Allah dan berhala seperti Hindu, Budha, Kristen, dsb. Bukan orang2 Islam. Ingin meluruskan Tauhid dan membersihkan Syirik bagus. Tapi lakukan dengan cara yang benar. Muhammad bin Abdul Wahhab terlalu su’u zhon atau berprasangka buruk terhadap ummat Islam. Orang yang melakukan ziarah kubur, ditudingnya sebagai penyembah kuburan atau musyrik. Padahal ziarah kubur itu adalah sunnah Nabi: Dari Buraidah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Saya telah pernah -dahulu- melarang engkau semua perihal ziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah ke kubur itu!” (Riwayat Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka barangsiapa yang hendak berziarah kubur, maka baiklah berziarah, sebab ziarah kubur itu dapat mengingatkan kepada akhirat.” Dari Aisyah ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu setiap malam gilirannya di tempat Aisyah, beliau s.a.w. lalu keluar pada akhir malam ke makam Baqi’, kemudian mengucapkan -yang artinya-: “Keselamatan atasmu semua hai perkampungan kaum mu’minin, akan datang padamu semua apa-apa yang engkau semua dijanjikan besok yakni masih ditangguhkan waktunya. Sesungguhnya kita semua ini Insya Allah menyusul engkau semua pula. Ya Allah, ampunilah para penghuni makam Baqi’ Algharqad ini.” (Riwayat Muslim) Berbagai tuduhan seperti Dzikir berjama’ah, Doa Qunut, Pengajaran Sifat 20, bid’ah dan sesat ternyata tidak benar karena ada dalil-dalil yang kuat dari Al Qur’an dan Hadits: http://kabarislam.wordpress.com/2012/01/25/dzikir-berjamaah-doa-qunut-dan-sifat-20-bukan-bidah/ Tudingan bid’ah dan sesat itu terjadi karena memahami Al Qur’an dan Hadits setengah-setengah dengan cara yang keliru. Tidak menyeluruh dan benar. Karena pandangannya yang ekstrim itulah Muhammad bin Abdul Wahab ditentang bahkan oleh saudara-saudaranya sendiri yang juga ulama. Dari situs Arrahman ditulis: Pada awalnya, idenya tidak begitu mendapat tanggapan bahkan banyak mendapatkan tantangan, kebanyakan dari saudaranya sendiri, termasuk kakaknya Sulaiman dan sepupunya Abdullah bin Husain. Dari referensi lain seperti Buku yang ditulis oleh Syekh Idahram, bukan cuma kakaknya yang menentang, tapi juga ayahnya, Abdul Wahhab, menentang pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab. Oleh sebab itulah sebagian ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menuding Muhammad bin Abdul Wahab tidak bersanad karena gurunya sendiri yang juga ayah kandungnya, menolak pemahamannya yang ekstrim dan aneh. Tudingan Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap sesama Muslim seperti Musyrik, Kafir, Penyembah Kuburan, dsb yang belum tentu benar dan kemudian membantainya/memeranginya jelas tidak sesuai dengan perintah Allah dalam Al Qur’an dan juga sunnah Nabi: Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim itu bersaudara terhadap muslim lainnya, ia tidak boleh menganiaya dan menghinanya. Seseorang cukup dianggap berlaku jahat karena ia menghina saudaranya sesama muslim.”(HR.Muslim) Termasuk perbuatan mencaci muslim di antaranya adalah menyakiti, mencela, mengadu domba serta senang menyebarkan gosip yang tidak benar, mencemarkan nama baik sehingga bisa merusak keluhuran martabat saudaranya, dan membuka rahasia pribadi yang tidak patut diketahui orang lain. Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki atau perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. AlAhzab:58) Apa pun dalihnya, sesungguhnya haram mencaci dan membunuh sesama Muslim. Kecuali betul-betul ada pengadilan di bawah Khalifah Islam yang membuktikan bahwa orang itu memang harus dihukum mati. Namun kalau cuma kelompok seperti firqoh atau golongan tak boleh melakukan itu. Minimal harus ada Ijma’/Kesepakatan Ulama agar tidak jadi golongan Khawarij yang mudah mengkafirkan dan membunuh sesama Muslim. “Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” (Bukhari no.46,48, muslim no. .64,97, Tirmidzi no.1906,2558, Nasa’I no.4036, 4037, Ibnu Majah no.68, Ahmad no.3465,3708) http://media-islam.or.id/2012/02/07/larangan-mencaci-dan-membunuh-sesama-muslim/ Ada yang membela Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai orang asing yang dimusuhi oleh orang-orang yang sesat. Namun orang asing yang dimaksud Nabi adalah orang yang mengasingkan diri dari para Sultan demi menghindari fitnah. Ini beda dengan Muhammad bin Abdul Wahhab yang justru bergaul dengan Sultan dan mengobarkan peperangan terhadap sesama Muslim dengan dalih memerangi kemusyrikan dan kekafiran: Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami) Tudingan Muhammad bin Abdul Wahhab bekerjasama dengan Inggris dalam rangka bughot/berontak terhadap Kekhalifahan Islam Turki Usmani mungkin dianggap fitnah oleh pengikutnya. Mereka menganggap itu cuma fitnah dari Syi’ah Rafidhoh, Ahlul Bid’ah, Sufi, dan sebagainya. Namun dari berbagai tulisan, termasuk dari kelompok Pro Wahabi sendiri, dan juga foto-foto menunjukkan hal itu. Kerjasama dengan Inggris yang dilanjutkan oleh Pemerintah Arab Saudi dan Wahabi seperti dengan Lawrence of Arabia memerangi Kekhalifahan Islam Turki Usmani. Kemudian berlanjut dengan kerjasama dengan Amerika Serikat seperti menyediakan pangkalan militer bagi AS guna memerangi Iraq. Ini tulisan dari Eramuslim.com: Bukan hanya Pangeran Bandar yang begitu, beberapa kebijakan dan sikap kerajaan terkadang juga agak membingungkan. Siapa pun tak kan bisa menyangkal bahwa Kerajaan Saudi amat dekat—jika tidak bisa dikatakan sekutu terdekat—Amerika Serikat. Di mulut, para syaikh-syaikh itu biasa mencaci maki Zionis-Israel dan Amerika, tetapi mata dunia melihat banyak di antara mereka yang berkawan akrab dan bersekutu dengannya. Barangkali kenyataan inilah yang bisa menjawab mengapa Kerajaan Saudi menyerahkan penjagaan keamanan bagi negerinya—termasuk Makkah dan Madinah—kepada tentara Zionis Amerika. Ketika umat Islam dunia melihat pasukan Amerika Serikat yang hendak mendirikan pangkalan militer utama AS dalam menghadapi invasi Irak atas Kuwait beberapa tahun lalu, maka hal itu tidak lepas dari kebijakan orang-orang yang berada dalam kerajaan tersebut. Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada profesor yang sangat pakar. Pergilah ke tempat penyewaan VCD atau DVD, cari sebuah film yang dirilis tahun 1962 berjudul ‘Lawrence of Arabia’ dan tontonlah. Di dalam film yang banyak mendapatkan penghargaan internasional tersebut, dikisahkan tentang peranan seorang letnan dari pasukan Inggris bernama lengkap Thomas Edward Lawrence, anak buah dari Jenderal Allenby (jenderal ini ketika merebut Yerusalem menginjakkan kakinya di atas makam Salahuddin Al-Ayyubi dan dengan lantang berkata, “Hai Saladin, hari ini telah kubalaskan dendam kaumku dan telah berakhir Perang Salib dengan kemenangan kami!”). Film ini memang agak kontroversial, ada yang membenarkan namun ada juga yang menampiknya. Namun produser mengaku bahwa film ini diangkat dari kejadian nyata, yang bertutur dengan jujur tentang siapa yang berada di balik berdirinya Kerajaan Saudi Arabia. Konon kala itu Jazirah Arab merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, sebuah kekhalifahan umat Islam dunia yang wilayahnya sampai ke Aceh. Lalu dengan bantuan Lawrence dan jaringannya, suatu suku atau klan melakukan pemberontakan (bughot) terhadap Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dan mendirikan kerajaan yang terpisah, lepas, dari wilayah kekhalifahan Islam itu. Bahkan di film itu digambarkan bahwa klanSaud dengan bantuan Lawrence mendirikan kerajaan sendiri yang terpisah dari khilfah Turki Utsmani. Sejarahwan Inggris, Martin Gilbert, di dalam tulisannya “Lawrence of Arabia was a Zionist” seperti yang dimuat di Jerusalem Post edisi 22 Februari 2007, menyebut Lawrence sebagai agen Zionisme. Sejarah pun menyatakan, hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zonisme setelah Sultan Mahmud II menolak keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia. Entah apa yang terjadi, namunhingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau Makkah al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu terdekat Amerika Serikat. Mereka tetap menjadi sahabat yang manis bagi Amerika. Selain film ‘Lawrence of Arabia’, ada beberapa buku yang bisa menggambarkan hal ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Antara lain: • Wa’du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali—mantan Dekan Fakultas Akidah Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazera, 2005) • Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia (Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006) • Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992) • History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006) Sebab itu, banyak kalangan yang berasumsi bawah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia adalah akibat “pemberontakan” terhadap Kekhalifahan Islam Turki Utsmani dan diback-up oleh Lawrence, seorang agen Zionis dan bawahan Jenderal Allenby yang sangat Islamofobia. Mungkin realitas ini juga yang sering dijadikan alasan, mengapa Arab Saudi sampai sekarang kurang perannya sebagai pelindung utama bagi kekuatan Dunia Islam,wallahu a’lam. (Rz) http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/peran-quot-lawrence-of-arabia-quot-di-balik-berdirinya-kerajaan-saudi.htm

lawrenceofarabia

Terakhir ada berita dari catatan harian Mr. Hempher, agen Inggris yang mengatakan agar Penjajahan Inggris bisa bertahan, mereka harus menciptakan aliran Islam sesat guna memecah-belah kekuatan Islam di daerah jajahannya. Di Inggris dan Pakistan mereka ciptakan Ahmadiyyah yang menghilangkan Jihad. Di Iran mereka buat aliran Baha’i. Ada pun di Arab Saudi yang Islamnya sangat kuat, mereka ciptakan Wahabi yang meski kelihatannya ingin memurnikan Islam, namun dengan isyu memurnikan Islam itulah tercipta perpecahan dan peperangan antar ummat Islam sehingga Pemerintah Kekhalifahan Islam Turki pun melemah akibat diserang Wahabi. Di Indonesia sendiri, AS yang merupakan penerus Inggris membentuk dan mendanai aliran sesat Islam Liberal yang menyatakan semua agama sama benarnya dan menghapuskan jihad serta Hukum Allah. Paling mudah bagi AS dan Inggris untuk menghancurkan Islam adalah dengan menghancurkannya dari dalam dengan membentuk aliran sesat sehingga ummat Islam saling perang/bunuh. Meski kebenarannya harus diteliti lebih jauh, namun beberapa situs Islam memuatnya seperti: Walaupun Ibn Abdul-Wahhab dianggap sebagai Bapak Wahabisme, namun aktualnya Kerajaan Inggeris-lah yang membidani kelahirannya dengan gagasan-gagasan Wahabisme dan merekayasa Ibn Abdul-Wahhab sebagai Imam dan Pendiri Wahabisme, untuk tujuan menghancurkan Islam dari dalam dan meruntuhkan Daulah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki. Seluk-beluk dan rincian tentang konspirasi Inggeris dengan Ibn Abdul-Wahhab ini dapat Anda temukan di dalam memoar Mr. Hempher : “Confessions of a British Spy” http://ummatipress.com/2011/01/31/fakta-wahabi-peran-mr-hempher-dan-campur-tangan-inggris-di-balik-kelahiran-wahabisme/ Memoirs Of Mr. Hempher, The British Spy To The Middle East is the title of a document that was published in series (episodes) in the German paper Spiegel and later on in a prominent French paper. A Lebanese doctor translated the document to the Arabic language and from there on it was translated to English and other languages. Waqf Ikhlas publications put out and circulated the document in English in hard copy and electronically under the title: Confessions of a British spy and British enmity against Islam. This document reveals the true background of the Wahhabi movement which was innovated by Mohammad bin abdul Wahhab and explains the numerous falsehood they spread in the name of Islam and exposes their role of enmity towards the religion of Islam and towards prophet Mohammad sallallahu ^alayhi wa sallam and towards Muslims at large. No wonder the Wahhabis today stand as the backbone of terrorism allowing and financing and planning shedding the blood of Muslims and other innocent people. Their well known history of terrorism as documented in Fitnatul Wahhabiyyah by the mufti of Makkah, Sheikh Ahmad Zayni Dahlan, and their current assassinations and contravention is due to their ill belief that all are blasphemers save themselves. May Allah protect our nation from their evils. http://www.sunna.info/antiwahabies/wahhabies/htm/spy1.htm Mungkin itu sulit dipercaya. Namun Wahabi memang bekerjasama dengan Raja Arab Saudi. Wahabi adalah Mazhab Resmi Kerajaan Arab Saudi. Posisi Mufti Agama selalu dipegang ulama Wahabi. Sementara Raja Arab Saudi memang biasa bekerjasama dengan Inggris saat melawan Turki dan sekarang dengan AS saat melawan Iraq. Berita tentang itu begitu banyak/mutawatir dari berbagai sumber/sanad. Sulit dipungkiri:

suratsaudi

Dokumen Ekspos Pendiri Saudi Yakinkan Inggris untuk Dirikan Negara Yahudi Eramuslim.com. Sebuah dokumen kuno mengungkapkan bagaimana Sultan Abdul Aziz, pendiri Arab Saudi meyakinkan Inggris untuk menciptakan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina, sebuah laporan berita mengatakan. http://www.eramuslim.com/berita/dunia/dokumen-kuno-ekspos-pendiri-saudi-yakinkan-inggris-untuk-dirikan-negara-yahudi-di-palestina.htm http://www.al-khilafah.org/2011/11/dokumen-ekspos-pendiri-saudi-yakinkan.html Foto-foto Persekutuan Arab Saudi dengan Inggris dan AS:

arabas

http://syiarislam.wordpress.com/2012/01/04/salafi-wahabi-memecah-belah-islam-dari-dalam/ Oleh pengikut Salafi, itu dianggap fitnah keji. DIjelaskan apa itu Wahabi di sini: http://muslim.or.id/manhaj/apa-itu-wahabi-1.html http://muslim.or.id/manhaj/apa-itu-wahabi-2.html Pengikut Abdul Wahhab mungkin menganggap itu fitnah yang keji. Sementara yang anti terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab justru menuduh Muhammad bin Abdul Wahhab lah yang gemar memfitnah sesama Muslim dengan sebutan Ahlul Bid’ah, Musyrik, Kafir, dan sebagainya kemudian memeranginya. Agar tidak bingung terhadap 2 pendapat yang berbeda tersebut, hendaknya kita kembali kepada Al Qur’an dan Hadits. Kita imani apa adanya. Jangan ditakwilkan sehingga berubah maknanya. Sebagaimana kita ketahui, Muhammad bin Abdul Wahhab lahir dan besar di Najd, sehingga beliau disebut juga Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi. Nah ternyata Nabi telah mengisahkan kepada kita tentang Najd yang merupakan tempat timbulnya fitnah: Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari] Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda sambil menghadap ke arah timur: Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana. Yaitu tempat muncul tanduk setan. (Shahih Muslim No.5167) حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410 dengan sanad shahih]

najd 2

http://kabarislam.wordpress.com/2012/01/16/najd-tempat-khawarijfitnah-di-najd-atau-di-iraq/ Boleh dikata saat ini Muhammad bin Abdul Wahhab dengan pengikutnya, Muwahhidun atau Salafi, sering menimbulkan fitnah. Insya Allah hadits Nabi di atas adalah benar karena Nabi sebelum jadi Nabi pun sudah dikenal sebagai Al Amiin yang dapat dipercaya. Silahkan baca juga: Salafi Wahabi Memecah Belah Islam dari Dalam Beberapa Kekeliruan Salafi Wahabi Najd Tempat Khawarij/Fitnah: Di Najd atau Di Iraq? Referensi: http://arrahmah.com/read/2011/11/22/16492-syekh-muhammad-bin-abdul-wahhab-pejuang-tauhid-yang-memurnikan-islam.html http://media.isnet.org/islam/Etc/Wahab.html http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/peran-quot-lawrence-of-arabia-quot-di-balik-berdirinya-kerajaan-saudi.htm Ibn Saud meets Sir Percy Cox in Uqair to draw boundaries (2) Sir Percy therefore thought it wise to try to resolve the issue of the borders with Ibn Saud before the situation deteriorated. The two men met at Uqair on the Gulf coast, opposite Bahrain. There, after days of negotiation a compromise was reached. For the most part, the two men agreed, and the northern borders of present-day Saudi Arabia were set but there were two areas where the border remained contentious, one with Kuwait, the other with Iraq. These were designated neutral zones. In the two zones, sovereignty was to be shared, the nomads would be free to wander and neither side would be permitted to fortify the borders or engage in any military activity within them. http://www.ibnsaud.info/main/3103.htm

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Isra’ Mij’raj dari Perspektif Modern

Isra’ Mi’raj“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Al Isroo’:1]

Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan pengalamannya pergi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit ke 7 hingga Sidratul Muntaha dalam waktu semalam, maka orang-orang kafir Quraisy mentertawakannya, sementara banyak orang yang telah masuk Islam, akhirnya murtad kembali karena tidak percaya akan Isra’ dan Mi’raj.

Abu Bakar ra, ketika ditanyakan apakah dia mempercayai Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, dengan penuh keyakinan berkata, “Jika yang berkata demikian itu adalah Muhammad bin Abdullah, maka yang lebih aneh dari itu pun aku percaya, karena sesungguhnya Muhammad itu tidak pernah berbohong.” Meski Nabi Muhammad SAW tidak pernah berbohong sehingga sampai dijuluki Al Amin (Yang Terpercaya) oleh orang Quraisy Mekkah, tapi hanya sedikit Muslim sajalah yang beriman akan cerita Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar adalah salah satu dari sedikit orang itu yang dengan tegas menyatakan keyakinannya, sehingga beliau dijuluki Ash Shiddiq.

Hingga sekarangpun banyak Muslim yang masih ragu akan kebenaran Isra’ dan Mi’raj, meski itu nyata tertuang dalam Al Qur’an dan juga hadits Nabi yang shahih. Bagaimana mungkin orang bisa pergi dari Mekkah hingga Yerusalem, kemudian ke langit ke 7 dan kembali lagi dalam semalam? Itu tidak rasional, begitu pendapat mereka. Ada juga yang berpendapat apa yang dialami Nabi tidak lebih dari mimpi (perjalanan rohani) belaka.

Padahal jika hanya mimpi, itu bukan mu’jizat Allah! Kita semua bisa mimpi pergi ke negeri asing, ke bulan, bahkan ke langit dalam sekejap. Selain itu, tak mungkin terjadi kegemparan yang demikian heboh, sehingga orang-orang kafir pada tertawa, orang-orang

Islam yang imannya pas-pasan murtad kembali, dan Abu Bakar sampai digelari Ash Shiddiq.

Jika itu dikatakan tidak masuk akal juga keliru. Di zaman baheula, di mana belum ada pesawat terbang atau pesawat ruang angkasa seperti space shuttle, mungkin pendapat itu masih wajar.

Tapi di zaman sekarang ini, perjalanan sejauh itu dalam waktu sedemikian singkat, seharusnya sudah mulai masuk di akal kita. Dulu orang menganggap perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem dalam semalam mustahil. Itu wajar, karena mereka masih naik onta yang kecepatannya tak lebih dari 60 km per jam. Tapi sekarang dengan pesawat tempur yang canggih (contohnya pesawat SR-71 Blackbird) yang kecepatannya sampai mach 3 (3 kali kecepatan suara atau sekitar 3000 km per jam), maka perjalanan itu bisa di tempuh dalam waktu kurang dari 4 jam dengan teknologi manusia pada zaman ini! Bahkan manusia telah mampu menciptakan roket yang bisa melaju hingga lebih dari 40 ribu kilometer per jam. Artinya dalam waktu kurang dari satu jam, bumi sudah selesai dikitari!

Teknologi telpon, memungkinkan suara seseorang bisa diterima hampir seketika meski jaraknya sampai 20 ribu kilometer (misalnya dari Hawaii ke Eropa), walaupun kecepatan suara itu cuma sekitar 1000 kilometer per jam. Menurut nalar manusia primitif, seharusnya suaranya tertunda hingga 20 jam. Teknologi manusia memungkinkan hal itu terjadi.

Sekarang kita bisa mengirim e-mail atau berita dengan sekejap meski jaraknya puluhan ribu kilometer. Di zaman kuno, hal itu tidak mungkin. Begitu pikiran orang-orang yang kuno.

Di zaman yang akan datang, teknologimanusia akan terus berkembang dan berkembang, sehingga kecepatan pesawat akhirnya bisa mendekati kecepatan cahaya.

Nah yang saya sebut di atas adalah contoh dari teknologi buatan MANUSIA. Bagaimana dengan teknologi ciptaan Allah? Lebih jelek atau lebih baik dari buatan makhluknya? Jika akal kita masih sehat, tentulah kita akan mengakui bahwa Allah Maha Kuasa tentu akan jauh lebih hebat kemampuannya ketimbang manusia yang cuma makhluk ciptaannya..

Manusia hanya bisa membuat dari bahan yang sudah diciptakan oleh Allah SWT, sementara Allah mampu menciptakan sesuatu dari ketidak-adaan. Jika manusia bisa membuat logam mati yang tidak bergerak menjadi pesawat yang berkecepatan tinggi hingga beberapa kali kecepatan suara, bukankah Allah SWT yang telah menciptakan cahaya dengan kecepatan 300 ribu kilometer per DETIK lebih mampu lagi menciptakan kendaraan atau makhluk yang jauh lebih cepat dari cahaya?

Ada satu cerita. Konon ada seekor semut yang hinggap di kopiah seorang haji. Pak Haji ini, kemudian pergi dari Surabaya ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari. Ketika semut itu berkata, bahwa dia telah pergi ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari, maka teman-temannya tidak percaya. “Tidak mungkin!” Demikian kata teman-temannya. Surabaya dan Banjarmasin itukan jaraknya lebih dari 1000 km dan terpisah laut yang luas, bagaimana mungkin kamu pulang pergi ke sana cuma dalam sehari?”

Begitulah pikiran semut. Jika semut itu yang pergi sendiri, itu memang tidak mungkin. Tapi kalau semut itu menumpang pada teknologi manusia, bukankah hal itu jadi mungkin?

Demikian pula Nabi Muhammad SAW. Jika Nabi Muhammad SAW pergi sendiri, tentulah tak akan bisa melakukannya dalam semalam, meski hanya pergi ke Yerusalem. Tapi karena Allah SWT yang menyediakan kendaraannya serta memperjalankan Nabi, maka hal itu mungkin saja, karena Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Allah SWT adalah pencipta segalanya, termasuk ruang dan waktu.

Menurut pikiran manusia (yang cuma makhluk ciptaan Allah SWT), hal itu mungkin tidak mungkin (terutama bagi orang yang imannya berada “di bawah garis kemiskinan”:), tapi kalau bagi Allah SWT, itu adalah hal yang mudah sekali.

Sesungguhnya, perjalanan melintas penjuru langit dan bumi itu dapat dilakukan oleh manusia (meski tidak sehebat Israa’ Mi’raj). Allah SWT telah menyatakan hal ini bahwa jin dan manusia bisa melakukan itu jika mereka memakai kekuatan (power):

“Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” [Ar Rahman:33]

Sekarang manusia telah menciptakan berbagai pesawat dari yang kekuatannya ribuan tenaga kuda (HP), hingga jutaan tenaga kuda (bahkan lebih di masa depan nanti).

Semakin modern kita, di mana terjadi banyak penemuan kendaraan-kendaraan yang berkecepatan makin lama makin tinggi, seharusnya perjalanan seperti Israa’ Mi’raj itu akan makin mudah diterima. Jika ada yang menganggap tidak masuk akal, tentu pikirannya tidak berbeda jauh dengan pikiran primitif orang-orang kafir Quraisy macam Abu Jahal dan Abu Lahab yang tinggal di zaman baheula.

Berikut adalah hadits Nabi Muhammad SAW tentang Israa’ Mi’raj:

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Anas Ibnu Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Didatangkan untukku Buraq yang merupakan hewan putih,

panjangnya diatas himar dan dibawah bagal, kukunya berada di akhir ujungnya. Beliau bersabda, `Aku segera menunggainya hingga tiba di Baitul Maqdis.’ Beliau bersabda, `Lalu ia mengikatnya dengan tali (rantai) yang biasa dipakai oleh para nabi untuk mengikat.’

Beliau melanjutkan, `Kemudian aku memasuki masjid (Baitul Maqdis) dan mendirikan shalat dua rakaat.

Setelah itu, aku keluar. Lalu Malaikat Jibril a.s. mendatangiku dan menyodorkan dua buah gelas yang satu berisi khamar dan lainnya berisi susu. Aku memilih gelas yang berisi susu dan Jibril a.s. berkata, `Engkau telah memilih kesucian.’

Kemudian ia naik bersamaku ke langit yang pertama. Jibril meminta dibukakan pintu. Lalu (malaikat penjaga langit pertama) bertanya, `Siapakah kamu.’ Jibril a.s. menjawab, `Jibril.’ Kemudian ia ditanya lagi, `Siapakah yang besertamu?’ Jibril a.s. menjawab, `Muhammad.’ Malaikat itu bertanya, `Apakah kamu diutus?’

Jibril menjawab, `Ya, aku diutus.’ Lalu pintu langit dibukakan untuk kami. Ternyata aku bertemu dengan Nabi Adam a.s. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Setelah itu Jibril a.s. naik bersamaku kelangit yang kedua dan meminta dibukakan pintu. Lalu pintu langit kedua dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan dua putra paman Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria a.s., keduanya menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Lalu Jibril a.s. naik bersamaku ke langit yang ketiga dan meminta dibukakan pintu langit ketiga. Lalu pintu langit ketiga dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Yusuf a.s. yang telah dianugerahi sebagian nikmat ketampanan. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Kemudian Jibril a.s. naik bersamaku kelangit keempat dan meminta dibukakan pintu langit keempat. Lalu pintu langit keempat dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Idris a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah SWT berfirman, `Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’

Setelah itu Jibril a.s. kembali naik bersamaku kelangit yang kelima dan meminta dibukakan pintu langit kelima. Lalu ia membukakan pintu langit yang kelima untuk kami, Di sana aku bertemu dengan Harun a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Malaikat Jibril a.s. kembali naik bersamaku ke langit yang keenam dan meminta dibukakan pintu untuk kami. Lalu ia membukakan pintu keenam untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Musa a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Lalu Jibril a.s. naik lagi bersamaku ke langit yang ketujuh dan meminta dibukakan pintu langit ketujuh. Kemudian malaikat penjaga pintu langit ketujuh membukakan pintu untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Ibrahim a.s. yang menyandarkan punggungnya ke

Baitul Ma’mur yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat dan tidak kembali kepadanya –sebelum menyelesaikan urusannya.

Setelah itu, ia pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata, daun-daunnya sebesar kuping gajah dan buah-buahannya menyerupai buah anggur. Begitu perintah Allah SWT menyelubunginya dan menyelubungi apa-apa yang akan diselubungi, ia segera berubah. Tidak ada seorang makhluk Allah pun yang mampu menyifati keindahan dan keelokannya.

Lalu Allah Maha Agung mewahyukan apa-apa yang akan diwahyukan-Nya kepadaku dan mewajibkanku untuk mendirikan shalat lima puluh kali setiap hari sehari semalam. Setelah itu, aku turun menemui Musa a.s..

Ia bertanya kepadaku, `Apakah gerangan yang telah diwajibkan Allah SWT atas umatmu.’ Aku menjawab, ‘Mendirikan shalat sebanyak lima puluh kali.’ Kemudian ia berkata, `Kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah kepada-Nya keringanan. Sesungguhnya umatmu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Sesungguhnya aku telah berpengalaman mencobanya kepada Bani Israel.’ Beliau melanjutkan sabdanya, `Kemudian aku kembali kepada Rabb-ku dan memohon, `Wahai Rabb, berikanlah keringan untuk umatku.’ Dan Ia mengurangi menjadi lima kali.

Setelah itu, aku kembali menemui Musa a.s. dan kukatakan kepadanya, `Ia telah mengurangi menjadi lima kali.’ Namun Musa a.s. kembali berkata, `Sesungguhnya umatmu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Karena itu kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah keringanan.’ Lalu aku bolak-balik bertemu antara Rabb-ku Yang Maha Tinggi dengan Musa a.s.. Lalu Dia berfirman, `Wahai Muhammad, sesungguhnya kelima shalat itu dilaksanakan setiap sehari semalam. Setiap shalat dihitung sepuluh yang berarti berjumlah lima puluh shalat.

Barang siapa yang ingin melakukan suatu kebaikan kemudian tidak melaksanakannya, maka Ku-tuliskan untuknya satu kebaikan. Dan jika ia mengerjakannya, maka Ku-tuliskan untuknya sepuluh kebaikan.

Barangsiapa ingin melakukan kejelekan kemudian tidak melakukannya, maka Aku tidak menulis apa-apa padanya. Dan jika ia mengerjakannya, maka Aku menuliskannya satu kejelekan.’ Beliau kembali melanjutkan sabdanya,

`Lalu aku turun hingga sampai kepada Musa a.s. dan memberitahukan hal tersebut. Musa a.s. berkata, `Kembalilah kepada Rabb-mu dan memohonlah keringanan.’

Saat itu Rasulullah saw. bersabda, `Aku katakan kepadanya, `Aku telah berulang kali kembali kepada Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya.’”

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2007/09/14/isra%E2%80%99-mi%E2%80%99raj-dari-perspektif-modern/

Posted in Uncategorized | Leave a comment