Bahasa Arab

Situs nahwu & syarof  : http://nahwusharaf.wordpress.com/2012/03/10/pengertian-munada-tarkhim-dlm-ilmu-nahwu-alfiyah-bait-608-609-610-611/

أَقْسَامُ الْكَلِمَةُ

PEMBAGIAN KATA

Semua bahasa manusia tersusun dari tiga komponen dasar yaitu:

1. Satuan bunyi yang disebut “huruf” atau “abjad”.

Contoh: م – س – ج – د

2. Susunan huruf yang memiliki arti tertentu yang disebut “kata”.

Contoh: مَسْجِدٌ (= masjid)

3. Rangkaian kata yang mengandung pikiran yang lengkap yang disebut “kalimat”.

Contoh: أُصَلِّيْ فِي الْمَسْجِدِ (= saya shalat di masjid)

Dalam tata bahasa Arab, “kata” dibagi ke dalam tiga golongan besar:

1. ISIM ( اِسْم ) atau “kata benda”. Contoh: مَسْجِد (= masjid)

2. FI’IL ( فِعْل ) atau “kata kerja”. Contoh: أُصَلِّيْ (= saya shalat)

3. HARF ( حَرْف ) atau “kata tugas”. Contoh: فِيْ (= di, dalam)

Penggunaan istilah Kata Benda, Kata Kerja dan Kata Tugas dalam tata bahasa Indonesia, tidak sama persis dengan Isim, Fi’il dan Harf dalam tata bahasa Arab. Namun bisalah dipakai untuk sekadar mendekatkan pengertian.

اِسْم عَلَمُ
ISIM ‘ALAM (Kata Benda Nama)

Dalam golongan Isim, ada yang disebut dengan Isim ‘Alam yaitu Isim yang merupakan nama dari seseorang atau sesuatu.

Di bawah ini beberapa contoh Isim ‘Alam (nama) yang sering kita baca:

مُحَمَّد – آدَم – إِدْرِيْس – نُوْح – إِبْرَاهِيْم – إِسْمَاعِيْل – إِسْحَاق – يَعْقُوْب – يُوْسُف – مُوْسَى – سُلَيْمَان – يُوْنُس – عِيْسَى – مَرْيَم – خَدِيْجَة – عَائِشَة – فَاطِمَة – عُمَر – عُثْمَان – جِبْرِيْل – مِيْكَال – لُقْمَان – زَيْد – فِرْعَوْن – قَارُوْن – إِبْلِيْس – عِفْرِيْت – مَكَّة – مَدِيْنَة

Cari dan tuliskanlah Isim-isim Alam yang kamu ketahui!

مُذَكَّر – مُؤَنَّث
MUDZAKKAR (Laki-laki) – MUANNATS (Perempuan)

Dalam tata bahasa Arab, dikenal adanya penggolongan Isim ke dalam Mudzakkar (laki-laki) atau Muannats (perempuan). Penggolongan ini ada yang memang sesuai dengan jenis kelaminnya (untuk manusia dan hewan) dan adapula yang merupakan penggolongan secara bahasa saja (untuk benda dan lain-lain).
Contoh Isim Mudzakkar Contoh Isim Muannats
عِيْسَى (= ‘Isa) مَرْيَم (= Maryam)
اِبْنٌ (= putera) بِنْتٌ (= puteri)
بَقَرٌ (= sapi jantan) بَقَرَةٌ (= sapi betina)
بَحْرٌ (= laut) رِيْحٌ (= angin)

Dari segi bentuknya, Isim Muannats biasanya ditandai dengan adanya tiga jenis huruf di belakangnya yaitu:
a) Ta Marbuthah ( ة ). Misalnya: فَاطِمَة (=Fathimah), مَدْرَسَة (=sekolah)
b) Alif Maqshurah ( ى ). Misalnya: سَلْمَى (=Salma), حَلْوَى (=manisan)
c) Alif Mamdudah ( اء ). Misalnya: أَسْمَاء (=Asma’), سَمْرَاء (=pirang)

Namun adapula Isim Muannats yang tidak menggunakan tanda-tanda di atas.
Misalnya: رِيْحٌ (= angin), نَفْسٌ (= jiwa, diri), شَمْسٌ (= matahari)

Bahkan ada pula beberapa Isim Mudzakkar yang menggunakan Ta Marbuthah.
Contoh: حَمْزَة (= Hamzah), طَلْحَة (= Thalhah), مُعَاوِيَة (= Muawiyah)

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal kosakata yang baru anda temukan!

مُذَكَّر – مُؤَنَّث
MUDZAKKAR (Laki-laki) – MUANNATS (Perempuan)

Dalam tata bahasa Arab, dikenal adanya penggolongan Isim ke dalam Mudzakkar (laki-laki) atau Muannats (perempuan). Penggolongan ini ada yang memang sesuai dengan jenis kelaminnya (untuk manusia dan hewan) dan adapula yang merupakan penggolongan secara bahasa saja (untuk benda dan lain-lain).
Contoh Isim Mudzakkar Contoh Isim Muannats
عِيْسَى (= ‘Isa) مَرْيَم (= Maryam)
اِبْنٌ (= putera) بِنْتٌ (= puteri)
بَقَرٌ (= sapi jantan) بَقَرَةٌ (= sapi betina)
بَحْرٌ (= laut) رِيْحٌ (= angin)

Dari segi bentuknya, Isim Muannats biasanya ditandai dengan adanya tiga jenis huruf di belakangnya yaitu:
a) Ta Marbuthah ( ة ). Misalnya: فَاطِمَة (=Fathimah), مَدْرَسَة (=sekolah)
b) Alif Maqshurah ( ى ). Misalnya: سَلْمَى (=Salma), حَلْوَى (=manisan)
c) Alif Mamdudah ( اء ). Misalnya: أَسْمَاء (=Asma’), سَمْرَاء (=pirang)

Namun adapula Isim Muannats yang tidak menggunakan tanda-tanda di atas.
Misalnya: رِيْحٌ (= angin), نَفْسٌ (= jiwa, diri), شَمْسٌ (= matahari)

Bahkan ada pula beberapa Isim Mudzakkar yang menggunakan Ta Marbuthah.
Contoh: حَمْزَة (= Hamzah), طَلْحَة (= Thalhah), مُعَاوِيَة (= Muawiyah)

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal kosakata yang baru anda temukan!

مُفْرَد – مُثَنَّى – جَمْع

MUFRAD (Tunggal) – MUTSANNA (Dual) – JAMAK

Dari segi bilangannya, bentuk-bentuk Isim dibagi tiga:

1) ISIM MUFRAD (tunggal) kata benda yang hanya satu atau sendiri.
2) ISIM MUTSANNA (dual) kata benda yang jumlahnya dua.
3) ISIM JAMAK (plural) atau kata benda yang jumlahnya lebih dari dua.

Isim Mutsanna (Dual) bentuknya selalu beraturan yakni diakhiri dengan huruf Nun Kasrah ( نِ ), baik untuk Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats. Contoh:
Mufrad Tarjamah Mutsanna Tarjamah
رَجُلٌ = seorang laki-laki رَجُلاَنِ = dua orang laki-laki
جَنَّةٌ = sebuah kebun جَنَّتَانِ = dua buah kebun
مُسْلِمٌ = seorang muslim مُسْلِمَانِ = dua orang muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah مُسْلِمَتَانِ = dua orang muslimah

Adapun Isim Jamak, dari segi bentuknya terbagi dua macam:

1. JAMAK SALIM ( جمْع سَالِم ) yang bentuknya beraturan:
Mufrad Tarjamah Jamak Tarjamah
اِبْنٌ = seorang putera بَنُوْنَ = putera-putera
بِنْتٌ = seorang puteri بَنَاتٌ = puteri-puteri
مُسْلِمٌ = seorang muslim مُسْلِمُوْنَ = muslim-muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah مُسْلِمَاتٌ = muslimah-muslimah

2. JAMAK TAKSIR (جَمْع تَكْسِيْر ) yang bentuknya tidak beraturan:
Mufrad Tarjamah Jamak Tarjamah
رَسُوْلٌ = seorang rasul رُسُلٌ = rasul-rasul
عَالِمٌ = seorang alim عُلَمَاءُ = orang-orang alim
رَجُلٌ = seorang laki-laki رِجَالٌ = para laki-laki
اِمْرَأَةٌ = seorang perempuan نِسَاءٌ = perempuan-perempuan

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!

مُفْرَد – مُثَنَّى – جَمْع

MUFRAD (Tunggal) – MUTSANNA (Dual) – JAMAK

Dari segi bilangannya, bentuk-bentuk Isim dibagi tiga:

1) ISIM MUFRAD (tunggal) kata benda yang hanya satu atau sendiri.
2) ISIM MUTSANNA (dual) kata benda yang jumlahnya dua.
3) ISIM JAMAK (plural) atau kata benda yang jumlahnya lebih dari dua.

Isim Mutsanna (Dual) bentuknya selalu beraturan yakni diakhiri dengan huruf Nun Kasrah ( نِ ), baik untuk Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats. Contoh:
Mufrad Tarjamah Mutsanna Tarjamah
رَجُلٌ = seorang laki-laki رَجُلاَنِ = dua orang laki-laki
جَنَّةٌ = sebuah kebun جَنَّتَانِ = dua buah kebun
مُسْلِمٌ = seorang muslim مُسْلِمَانِ = dua orang muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah مُسْلِمَتَانِ = dua orang muslimah

Adapun Isim Jamak, dari segi bentuknya terbagi dua macam:

1. JAMAK SALIM ( جمْع سَالِم ) yang bentuknya beraturan:
Mufrad Tarjamah Jamak Tarjamah
اِبْنٌ = seorang putera بَنُوْنَ = putera-putera
بِنْتٌ = seorang puteri بَنَاتٌ = puteri-puteri
مُسْلِمٌ = seorang muslim مُسْلِمُوْنَ = muslim-muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah مُسْلِمَاتٌ = muslimah-muslimah

2. JAMAK TAKSIR (جَمْع تَكْسِيْر ) yang bentuknya tidak beraturan:
Mufrad Tarjamah Jamak Tarjamah
رَسُوْلٌ = seorang rasul رُسُلٌ = rasul-rasul
عَالِمٌ = seorang alim عُلَمَاءُ = orang-orang alim
رَجُلٌ = seorang laki-laki رِجَالٌ = para laki-laki
اِمْرَأَةٌ = seorang perempuan نِسَاءٌ = perempuan-perempuan

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!

اِسْم مَوْصُوْل
ISIM MAUSHUL (Kata Sambung)

Isim Maushul (Kata Sambung) adalah Isim yang berfungsi untuk menghubungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Dalam bahasa Indonesia, Kata Sambung semacam ini diwakili oleh kata: “yang”.

Bentuk asal/dasar dari Isim Maushul adalah: الَّذِيْ (=yang). Perhatikan contoh penggunaan Isim Maushul dalam menggabungkan dua kalimat di bawah ini:
Kalimat I جَاءَ الْمُدَرِّسُ = datang guru itu
Kalimat II اَلْمُدَرِّسُ يَدْرُسُ الْفِقْهَ = guru itu mengajar Fiqh
Kalimat III جَاءَ الْمُدَرِّسُ الَّذِيْ يَدْرُسُ الْفِقْهَ = datang guru yang mengajar Fiqh

Kalimat III menghubungkan Kalimat I dan II dengan Isim Maushul: الَّذِيْ

Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Muannats maka: الَّذِيْ menjadi: الَّتِيْ
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَةُ الَّتِيْ تَدْرُسُ الْفِقْهَ = datang guru (pr) yang mengajar Fiqh itu

Bila Isim Maushul itu digunakan untuk Mutsanna (Dual) maka:

1) الَّذِيْ menjadi: الَّذَانِ sedangkan الَّتِيْ menjadi: الَّتَانِ
جَاءَ الْمُدَرِّسَانِ الَّذَانِ يَدْرُسَانِ الْفِقْهَ = datang dua orang guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَتَانِ الَّتَانِ تَدْرُسَانِ الْفِقْهَ = datang dua orang guru (pr) yang mengajar Fiqh

Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Jamak maka:

1) الَّذِيْ menjadi: الَّذِيْنَ sedangkan: الَّتِيْ menjadi: اللاَّتِيْ/اللاَّئِيْ
جَاءَ الْمُدَرِّسُوْنَ الَّذِيْنَ يَدْرُسُوْنَ الْفِقْهَ = datang guru-guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَاتُ اللاَّتِيْ يَدْرُسْنَ الْفِقْهَ = datang guru-guru (pr) yang mengajar Fiqh itu

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!

اِسْم مَوْصُوْل
ISIM MAUSHUL (Kata Sambung)

Isim Maushul (Kata Sambung) adalah Isim yang berfungsi untuk menghubungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Dalam bahasa Indonesia, Kata Sambung semacam ini diwakili oleh kata: “yang”.

Bentuk asal/dasar dari Isim Maushul adalah: الَّذِيْ (=yang). Perhatikan contoh penggunaan Isim Maushul dalam menggabungkan dua kalimat di bawah ini:
Kalimat I جَاءَ الْمُدَرِّسُ = datang guru itu
Kalimat II اَلْمُدَرِّسُ يَدْرُسُ الْفِقْهَ = guru itu mengajar Fiqh
Kalimat III جَاءَ الْمُدَرِّسُ الَّذِيْ يَدْرُسُ الْفِقْهَ = datang guru yang mengajar Fiqh

Kalimat III menghubungkan Kalimat I dan II dengan Isim Maushul: الَّذِيْ

Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Muannats maka: الَّذِيْ menjadi: الَّتِيْ
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَةُ الَّتِيْ تَدْرُسُ الْفِقْهَ = datang guru (pr) yang mengajar Fiqh itu

Bila Isim Maushul itu digunakan untuk Mutsanna (Dual) maka:

1) الَّذِيْ menjadi: الَّذَانِ sedangkan الَّتِيْ menjadi: الَّتَانِ
جَاءَ الْمُدَرِّسَانِ الَّذَانِ يَدْرُسَانِ الْفِقْهَ = datang dua orang guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَتَانِ الَّتَانِ تَدْرُسَانِ الْفِقْهَ = datang dua orang guru (pr) yang mengajar Fiqh

Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Jamak maka:

1) الَّذِيْ menjadi: الَّذِيْنَ sedangkan: الَّتِيْ menjadi: اللاَّتِيْ/اللاَّئِيْ
جَاءَ الْمُدَرِّسُوْنَ الَّذِيْنَ يَدْرُسُوْنَ الْفِقْهَ = datang guru-guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَاتُ اللاَّتِيْ يَدْرُسْنَ الْفِقْهَ = datang guru-guru (pr) yang mengajar Fiqh itu

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!

صِفَة-مَوْصُوْف / مُضَاف-مُضَاف إِلَيْهِ / مُبْتَدَأ-خَبَر

SIFAT – MAUSHUF (Sifat dan Yang Disifati)
MUDHAF – MUDHAF ILAIH (Kata Majemuk)
MUBTADA’ – KHABAR (Subjek dan Predikat)

Berkaitan dengan Nakirah dan Ma’rifah, khususnya penggunaan Alif-Lam di awal kata atau baris Tanwin di akhir kata, ada beberapa pola kalimat (rangkaian kata) yang perlu kita ketahui perbedaannya dengan baik. Yaitu:

1. SHIFAT ( صِفَة ) dan MAUSHUF ( مَوْصُوْف )
Bila rangkaian dua buah Isim atau lebih, semuanya dalam keadaan Nakirah (tanwin) atau semuanya dalam keadaan Ma’rifah (alif-lam) maka kata yang di depan dinamakan Maushuf (yang disifati) sedang yang di belakang adalah Shifat.

بَيْتٌ جَدِيْدٌ
= (sebuah) rumah baru

اَلْبَيْتُ الْجَدِيْدُ
= rumah yang baru

بَيْتٌ كَبِيْرٌ وَاسِعٌ
= (sebuah) rumah besar lagi luas

اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ الْوَاسِعُ
= rumah yang besar lagi luas

2. MUDHAF ( مُضَاف ) dan MUDHAF ILAIH ( مُضَاف إِلَيْه )

Bila dua buah Isim atau lebih digabung menjadi sebuah kesatuan kata yang baru (Kata Majemuk) maka satu kata yang di depan dinamakan Mudhaf sedang kata yang di belakang dinamakan Mudhaf Ilaih. Kombinasi Mudhaf-Mudhaf Ilaih ini membentuk Isim Ma’rifah. Adapun ciri-ciri Mudhaf dan Mudhaf Ilaih adalah:

a) Mudhaf selalu dalam keadaan Nakirah (tanpa Alif-Lam) tapi tanpa tanwin. Sedangkan Mudhaf Ilaih selalu dalam keadaan Ma’rifah, baik dengan Alif-Lam maupun dengan Isim Ma’rifah yang lain (misalnnya Isim Alam atau Dhamir). كِتَابُ الْمُدَرِّسِ (=buku guru) —> Mudhaf Ilaih dengan Alif-Lam
بَيْتُ زَيْدٍ (=rumah Zaid guru) —> Mudhaf Ilaih dengan Isim Alam
بَيْتُهُمْ (=rumah mereka) —> Mudhaf Ilaih dengan Dhamir هُمْ (=mereka)
Mudhaf Ilaih huruf akhirnya selalu berbaris Kasrah (perhatikan contoh pertama dan kedua) kecuali untuk Dhamir karena Dhamir sifatnya tetap tidak berubah.

b) Bila Mudhaf berupa Isim Mutsanna atau Jamak Mudzakkar Salim maka huruf Nun di akhirnya dihilangkan. Perhatikan contoh di bawah ini:
مُسْلِمَا الْجَاوِيِّ (=dua muslim Jawa) —> Mutsanna
مُسْلِمُو الْجَاوِيِّ (=muslim-muslim Jawa) —> Jamak Mudzakkar Salim

c) Bila Mudhaf Ilaih lebih dari satu kata maka Isim Ma’rifah yang ber-Alif-Lam hanya diberikan pada kata yang terakhir. Perhatikan contoh berikut:
مِفْتَاحُ بَيْتِ الْمُدَرِّسِ (=kunci rumah guru)
مِفْتَاحُ بَيْتِ مُدَرِّسِ الْفِقْهِ (=kunci rumah guru Fiqh)

Baik Shifat-Maushuf maupun Mudhaf-Mudhaf Ilaih, bukanlah merupakan sebuah Kalimat Sempurna menurut Tata Bahasa Arab, sebanyak apapun kata yang menyusunnya. Berbeda halnya dengan Mubtada’-Khabar yang merupakan sebuah Jumlah atau Kalimat Sempurna, meskipun hanya terdiri dari dua kata.

3. MUBTADA’ ( مُبْتَدَأ ) dan KHABAR ( خَبَر )
Sebuah JUMLAH ISMIYYAH (جُمْلَة اِسْمِيَّة) atau Kalimat Nominal (kalimat sempurna yang semua katanya adalah Isim), selalu terdiri dari dua bagian kalimat yakni Mubtada’ (Subjek) dan Khabar (Predikat). Pada umumnya seluruh Mubtada’ dalam keadaan Ma’rifah sedangkan seluruh Khabar (Predikat) dalam keadaan Nakirah. Perhatikan contoh kalimat-kalimat di bawah ini:
Jumlah Ismiyyah Mubtada’ Khabar
اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ
(=rumah itu besar) (=rumah itu) (=besar)
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌ اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌ
(=rumah yang besar itu mahal) (=rumah yang besar itu) (=mahal)
بَيْتُ الْكَبِيْرِ جَمِيْلٌ بَيْتُ الْكَبِيْرِ جَمِيْلٌ
(=rumah besar itu indah) (=rumah besar itu) (= indah)
مِفْتَاحُ بَيْتِ الْكَبِيْرِ صَغِيْرٌ مِفْتَاحُ بَيْتِ الْكَبِيْرِ صَغِيْرٌ
(=kunci rumah besar itu kecil) (=kunci rumah besar itu) (=kecil)

Dari contoh kalimat di atas diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Baik Mubada’ maupun Khabar, bisa terdiri dari satu kata ataupun lebih.
2. Mubtada’ pada umumnya selalu dalam keadaan Ma’rifah.
3. Khabar pada umumnya selalu dalam keadaan Nakirah.
4. Mubtada’ yang terdiri dari beberapa kata bisa merupakan Shifat-Maushuf (contoh kalimat II) maupun Mudhaf-Mudhaf Ilaih (contoh kalimat III dan IV)

Perbedaan makna antara Mubtada’ (Shifat-Maushuf) pada kalimat II dengan Mubtada’ (Mudhaf-Mudhaf Ilaih) pada kalimat III bisa dijelaskan sebagai berikut: pada kalimat II menyatakan “rumah yang besar” artinya semua rumah (rumah mana saja) yang besar pasti mahal, sedangkan pada kalimat III menyatakan “rumah besar itu” menunjukkan pada satu rumah tertentu yang diketahui oleh si pembicara dan lawan bicara bahwa rumah itu indah.

Sebagai penutup, untuk mengingat-ingat perbedaan antara Shifat-Maushuf, Mudhaf-Mudhaf Ilaih dan Mubtada’-Khabar, perhatikanlah perbedaan bentuk dan makna masing-masing pola tersebut dalam kalimat sederhana di bawah ini:

Shifat-Maushuf

Mudhaf-Mudhaf Ilaih

Mubtada’-Khabar

بَيْتٌ جَدِيْدٌ

بَيْتُ الْجَدِيْدِ

اَلْبَيْتُ جَدِيْدٌ

(sebuah rumah baru)

(rumah baru)

(rumah itu baru)

اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ

بَيْتُ الْكَبِيْرِ

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ

(rumah yang besar)

(rumah besar)

(rumah itu besar)

Selanjutnya kita akan membahas tentang Isim Dhamir atau Kata Ganti.

ضَمِيْر
DHAMIR (Kata Ganti)

Dhamir atau “kata ganti” ialah Isim yang berfungsi untuk menggantikan atau mewakili penyebutan sesuatu/seseorang maupun sekelompok benda/orang.

Contoh:

أَحْمَدُ يَرْحَمُ اْلأَوْلاَدَ = Ahmad menyayangi anak-anak
هُوَ يَرْحَمُهُمْ = Dia menyayangi mereka

Pada contoh di atas, kata أَحْمَدُ diganti dengan هُوَ (=dia), sedangkan الأَوْلاَد (=anak-anak) diganti dengan هُمْ (=mereka).
Kata هُوَ dan هُمْ dinamakan Dhamir atau Kata Ganti.

Menurut fungsinya, ada dua golongan Dhamir yaitu:

1) DHAMIR RAFA’ ( ضَمِيْر رَفْع ) yang berfungsi sebagai Subjek.
2) DHAMIR NASHAB ( ضَمِيْر نَصْب ) yang berfungsi sebagai Objek.

Dhamir Rafa’ dapat berdiri sendiri sebagai satu kata, sedangkan Dhamir Nashab tidak dapat berdiri sendiri atau harus terikat dengan kata lain dalam kalimat.

Dalam kalimat: هُوَ يَرْحَمُهُمْ (= Dia menyayangi mereka):
– Kata هُوَ (=dia) adalah Dhamir Rafa’, sedangkan:
– Kata هُمْ (=mereka) adalah Dhamir Nashab.

ضَمِيْر رَفْع

DHAMIR RAFA’ (Kata Ganti Subjek)

Semua Dhamir dapat dikelompokkan menjadi tiga macam:

1. MUTAKALLIM ( مُتَكَلِّم ) atau pembicara (orang pertama).
a) Mufrad: أَنَا (= aku, saya) untuk Mudzakkar maupun Muannats.
b) Mutsanna/Jamak: نَحْنُ (= kami, kita) untuk Mudzakkar maupun Muannats.

2. MUKHATHAB ( مُخَاطَب ) atau lawan bicara (orang kedua). Terdiri dari:
a) Mufrad: أَنْتَ (= engkau) untuk Mudzakkar dan أَنْتِ untuk Muannats.
b) Mutsanna: أَنْتُمَا (= kamu berdua) untuk Mudzakkar maupun Muannats.
c) Jamak: أَنْتُمْ (= kalian) untuk Mudzakkar dan أَنْتُنَّ untuk Muannats.

3. GHAIB ( غَائِب ) atau tidak berada di tempat (orang ketiga). Terdiri dari:
a) Mufrad: هُوَ (= dia) untuk Mudzakkar dan هِيَ untuk Muannats.
b) Mutsanna: هُمَا (= mereka berdua) untuk Mudzakkar maupun Muannats.
c) Jamak: هُمْ (= mereka) untuk Mudzakkar dan هُنَّ untuk Muannats.

Hafalkanlah keduabelas bentuk Dhamir Rafa’ di atas beserta artinya masing-masing sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya!

ضَمِيْر نَصْب
DHAMIR NASHAB (Kata Ganti Objek)

Dhamir Nashab adalah turunan (bentuk lain) dari Dhamir Rafa’ yaitu:

Dhamir Rafa’

Dhamir Nashab

Dhamir Rafa’

Dhamir Nashab

أَنَا

ي

أَنْتُنَّ

كُنَّ

نَحْنُ

نَا

هُوَ

هُ

أَنْتَ

كَ

هِيَ

هَا

أَنْتِ

كِ

هُمَا

هُمَا

أَنْتُمَا

كُمَا

هُمْ

هُمْ

أَنْتُمْ

كُمْ

هُنَّ

هُنَّ

Dhamir Nashab berfungsi sebagai objek dan tidak dapat berdiri sendiri; ia terikat dengan kata lain dalam suatu kalimat, baik itu dengan Isim, Fi’il ataupun Harf.

1) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Isim dalam kalimat:

أَنَا مُسْلِمٌ، دِيْنِيَ اْلإِسْلاَمُ
= saya seorang muslim, agamaku Islam

نَحْنُ مُسْلِمُوْنَ، دِيْنُنَا اْلإِسْلاَمُ
= kami orang-orang muslim, agama kami Islam

أَنْتَ مُسْلِمٌ، دِيْنُكَ اْلإِسْلاَمُ
= engkau (lk) seorang muslim, agamamu Islam

أَنْتِ مُسْلِمَةٌ، دِيْنُكِ اْلإِسْلاَمُ
= engkau (pr) seorang muslim, agamamu Islam

2) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Fi’il dalam kalimat:

أَنْتُمَا مَخْلُوْقَانِ، اَللهُ خَلَقَكُمَا
= kamu berdua adalah makhluq, Allah menciptakan kamu berdua

أَنْتُمْ مَخْلُوْقُوْنَ، اَللهُ خَلَقَكُمْ
= kalian (lk) adalah makhluq, Allah menciptakan kalian

أَنْتُنَّ مَخْلُوْقَاتٌ، اَللهُ خَلَقَكُنَّ
= kalian (pr) adalah makhluq, Allah menciptakan kalian

هُوَ مَخْلُوْقٌ، اَللهُ خَلَقَهُ
= dia (lk) adalah makhluq, Allah menciptakannya

3) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Harf dalam kalimat:

هِيَ نَاجِحٌ، لَهَا شَهَادَةٌ
= dia (pr) lulus, untuknya sebuah ijazah

هُمَا نَاجِحَانِ، لَهُمَا شَهَادَتَانِ
= mereka berdua lulus, untuk mereka berdua: dua buah ijazah

هُمْ نَاجِحُوْنَ، لَهُمْ شَهَادَاتٌ
= mereka (lk) lulus, untuk mereka ijazah-ijazah

هُنَّ نَاجِحَاتٌ، لَهُنَّ شَهَادَاتٌ
= mereka (pr) lulus, untuk mereka ijazah-ijazah

Hafalkanlah semua Dhamir Nashab di atas beserta artinya masing-masing sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya!

فِعْل مَاضِي – فِعْل مُضَارِع
FI’IL MADHY (Kata Kerja Lampau)
FI’IL MUDHARI’ (Kata Kerja Kini/Nanti)

Fi’il dibagi atas dua golongan besar menurut waktu terjadinya:

1. FI’IL MADHY ( فِعْل مَاضِي ) atau Kata Kerja Lampau.
2. FI’IL MUDHARI’ ( فِعْل مُضَارِع ) atau Kata Kerja Kini/Nanti.

Baik Fi’il Madhy maupun Fi’il Mudhari’, senantiasa mengalami perubahan bentuk sesuai dengan jenis Dhamir dari Fa’il ( فَاعِل ) atau Pelaku dari pekerjaan itu. Untuk Fi’il Madhy, perubahan bentuk tersebut terjadi di akhir kata, sedangkan untuk Fi’il Mudhari’, perubahan bentuknya terjadi di awal kata dan di akhir kata.
Dhamir Fi’il Madhy Fi’il Mudhari’ Tarjamah
أَنَا فَعَلْتُ أَفْعَلُ = saya mengerjakan
نَحْنُ فَعَلْنَا نَفْعَلُ = kami mengerjakan
أَنْتَ فَعَلْتَ تَفْعَلُ = engkau (lk) mengerjakan
أَنْتِ فَعَلْتِ تَفْعَلِيْنَ = engkau (pr) mengerjakan
أَنْتُمَا فَعَلْتُمَا تَفْعَلاَنِ = kamu berdua mengerjakan
أَنْتُمْ فَعَلْتُمْ تَفْعَلُوْنَ = kalian (lk) mengerjakan
أَنْتُنَّ فَعَلْتُنَّ تَفْعَلْنَ = kalian (pr) mengerjakan
هُوَ فَعَلَ يَفْعَلُ = dia (lk) mengerjakan
هِيَ فَعَلَتْ تَفْعَلُ = dia (pr) mengerjakan
هُمَا فَعَلاَ يَفْعَلاَنِ = mereka berdua (lk) mengerjakan
هُمَا فَعَلَتَا تَفْعَلاَنِ = mereka berdua (pr) mengerjakan
هُمْ فَعَلُوْا يَفْعَلُوْنَ = mereka (lk) mengerjakan
هُنَّ فَعَلْنَ يَفْعَلْنَ = mereka (pr) mengerjakan

Perlu diketahui, bahwa dalam sebuah JUMLAH FI’LIYYAH ( جُمْلَة فِعْلِيَّة ) atau Kalimat Verbal (kalimat sempurna yang mengandung Kata Kerja), letak Fa’il (Pelaku) bisa di depan dan bisa pula di belakang Fi’il (Kata Kerja).

1) Untuk Dhamir Ghaib atau “orang ketiga” ( هُنَّ – هُمْ – هُمَا – هِيَ – هُوَ ).

a. Bila Fa’il mendahului Fi’il maka perubahan bentuk dari Fi’il tersebut harus mengikuti ketentuan Mudzakkar/Muannats dan Mufrad/Mutsanna/Jamak.

Contoh Jumlah Fi’liyyah dengan Fi’il Madhy yang terletak setelah Fa’il:
اَلْمُسْلِمُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ = muslim itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَةُ دَخَلَتِ الْمَسْجِدَ = muslimah itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَانِ دَخَلاَ الْمَسْجِدَ = dua muslim itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَتَانِ دَخَلَتَا الْمَسْجِدَ = dua muslimah itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمُوْنَ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ = kaum muslimin memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَاتُ دَخَلْنَ الْمَسْجِدَ = kaum muslimat memasuki masjid

Contoh Jumlah Fi’liyyah dengan Fi’il Mudhari’ yang terletak setelah Fa’il:
اَلْمُسْلِمُ يَدْخُلُ الْمَسْجِدَ = muslim itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَةُ تَدْخُلُ الْمَسْجِدَ = muslimah itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَانِ يَدْخُلاَنِ الْمَسْجِدَ = dua muslim itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَتَانِ تَدْخُلاَنِ الْمَسْجِدَ = dua muslimah itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمُوْنَ يَدْخُلُوْنَ الْمَسْجِدَ = kaum muslimin memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَاتُ يَدْخُلْنَ الْمَسْجِدَ = kaum muslimat memasuki masjid

b. Sedangkan bila Fi’il mendahului Fa’il, maka bentuk Fi’il tersebut selalu Mufrad, (meskipun Fa’il-nya Mutsanna atau Jamak). Tetapi untuk bentuk Mudzakkar dan Muannats tetap dibedakan dengan adanya huruf Ta Ta’nits ( ت تَأْنِيْث ) atau “Ta Penanda Muannats” pada Fi’il yang Fa’il-nya adalah Muannats.

Contoh Jumlah Fi’liyyah dengan Fi’il Madhy yang terletak sebelum Fa’il:
دَخَلَ اَلْمُسْلِمُ الْمَسْجِدَ = muslim itu memasuki masjid
دَخَلَتِ الْمُسْلِمَةُ الْمَسْجِدَ = muslimah itu memasuki masjid
دَخَلَ الْمُسْلِمَانِ الْمَسْجِدَ = dua muslim itu memasuki masjid
دَخَلَتِ الْمُسْلِمَتَانِ الْمَسْجِدَ = dua muslimah itu memasuki masjid
دَخَلَ الْمُسْلِمُوْنَ الْمَسْجِدَ = kaum muslimin memasuki masjid
دَخَلَتِ الْمُسْلِمَاتُ الْمَسْجِدَ = kaum muslimat memasuki masjid

Contoh Jumlah Fi’liyyah dengan Fi’il Mudhari’ yang terletak sebelum Fa’il:
يَدْخُلُ اَلْمُسْلِمُ الْمَسْجِدَ = muslim itu memasuki masjid
تَدْخُلُ الْمُسْلِمَةُ الْمَسْجِدَ = muslimah itu memasuki masjid
يَدْخُلُ الْمُسْلِمَانِ الْمَسْجِدَ = dua muslim itu memasuki masjid
تَدْخُلُ الْمُسْلِمَتَانِ الْمَسْجِدَ = dua muslimah itu memasuki masjid
يَدْخُلُ الْمُسْلِمُوْنَ الْمَسْجِدَ = kaum muslimin memasuki masjid
تَدْخُلُ الْمُسْلِمَاتُ الْمَسْجِدَ = kaum muslimat memasuki masjid

2) Untuk Fa’il lainnya ( أَنْتُنَّ – أَنْتُمْ – أَنْتُمَا – أَنْتَ – أَنْتِ – نَحْنُ – أَنَا )

tetap mengikuti pola perubahan bentuk Fi’il sebagaimana mestinya.
Fi’il Madhy Fi’il Mudhari’

دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ

(أَنَا) أَدْخُلُ الْمَسْجِدَ
saya telah memasuki masjid saya memasuki masjid

دَخَلْنَا الْمَسْجِدَ

(نَحْنُ) نَدْخُلُ الْمَسْجِدَ
kami telah memasuki masjid kami memasuki masjid

دَخَلْتَ الْمَسْجِدَ

(أَنْتَ) تَدْخُلُ الْمَسْجِدَ
engkau telah memasuki masjid engkau memasuki masjid

دَخَلْتِ الْمَسْجِدَ

(أَنْتِ) تَدْخُلِيْنَ الْمَسْجِدَ
engkau (pr) telah memasuki masjid engkau (pr) memasuki masjid

دَخَلْتُمَا الْمَسْجِدَ

(أَنْتُمَا) تَدْخُلاَنِ الْمَسْجِدَ
kamu berdua telah memasuki masjid kamu berdua memasuki masjid

دَخَلْتُمُ الْمَسْجِدَ

(أَنْتُمْ) تَدْخُلُوْنَ الْمَسْجِدَ
kalian (lk) telah memasuki masjid kalian (lk) memasuki masjid

دَخَلْتُنَّ الْمَسْجِدَ

(أَنْتُنَّ) تَدْخُلْنَ الْمَسْجِدَ
kalian (pr) telah memasuki masjid kalian (pr) memasuki masjid

Carilah sebanyak-banyaknya contoh-contoh Fi’il Madhy dan Fi’il Mudhari’ dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

فِعْل اْلأمْر
FI’IL AMAR (Kata Kerja Perintah)

Fi’il Amar atau Kata Kerja Perintah adalah fi’il yang berisi pekerjaan yang dikehendaki oleh Mutakallim (pembicara) sebagai orang yang memerintah agar dilakukan oleh Mukhathab (lawan bicara) sebagai orang yang diperintah.

Perlu diingat bahwa yang menjadi Fa’il (Pelaku) dari Fi’il Amar (Kata Kerja Perintah) adalah Dhamir Mukhathab (lawan bicara) atau “orang kedua” sebagai orang yang diperintah untuk melakukan pekerjaan yang dimaksud. Dhamir Mukhathab terdiri dari: أَنْتُنَّ – أَنْتُمْ – أَنْتُمَا – أَنْتِ – أَنْتَ .
Fa’il Fi’il Amar Tarjamah
أَنْتَ اِفْعَلْ = (engkau -lk) kerjakanlah!
أَنْتِ اِفْعَلِيْ = (engkau -pr) kerjakanlah!
أَنْتُمَا اِفْعَلاَ = (kamu berdua) kerjakanlah!
أَنْتُمْ اِفْعَلُوْا = (kalian -lk) kerjakanlah!
أَنْتُنَّ اِفْعَلْنَ = (kalian -pr) kerjakanlah!

Contoh dalam kalimat: dari fi’il عَمِلَ (= beramal, bekerja) menjadi Fi’il Amar:

اِعْمَلْ لآِخِرَتِكَ
= bekerjalah untuk akhiratmu (lk)

اِعْمَلِيْ لآِخِرَتِكِ
= bekerjalah untuk akhiratmu (pr)

اِعْمَلاَ لآِخِرَتِكُمَا
= bekerjalah untuk akhirat kamu berdua

اِعْمَلُوْا لآِخِرَتِكُمْ
= bekerjalah untuk akhirat kalian (lk)

اِعْمَلْنَ لآِخِرَتِكُنَّ
= bekerjalah untuk akhirat kalian (pr)

Dari fi’il أَقَامَ (=mendirikan) menjadi Fi’il Amar:

أَقِمْ صَلاَتَكَ
= dirikanlah shalatmu (lk)

أَقِمِيْ صَلاَتَكِ
= dirikanlah shalatmu (pr)

أَقِمَا صَلاَتَكُمَا
= dirikanlah shalat kamu berdua

أَقِيْمُوْا صَلاَتَكُمْ
= dirikanlah shalat kalian (lk)

أَقِمْنَ صَلاَتَكُنَّ
= dirikanlah shalat kalian (pr)

Dari fi’il كَبَّرَ (=membesarkan) menjadi Fi’il Amar:

كَبِّرْ رَبَّكَ
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kamu (lk)

كَبِّرِيْ رَبَّكِ
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kamu (pr)

كَبِّرَا رَبَّكُمَا
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kamu berdua

كَبِّرُوْا رَبَّكُمْ
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kalian (lk)

كَبِّرْنَ رَبَّكُنَّ
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kalian (pr)

Sebagai catatan, bila huruf akhir yang sukun dari sebuah Fi’il bertemu dengan awalan Alif-Lam dari sebuah Isim Ma’rifah, maka baris sukun dari huruf akhir fi’il tersebut berubah menjadi baris kasrah. Contoh:
الصَّلاَةَ

+

أَقِمْ

=

أَقِمِ الصَّلاَةَ

(=shalat)

(=dirikanlah)

(=dirikanlah shalat)

Carilah contoh-contoh Fi’il Amar dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

فِعْل النَّهْي

FI’IL NAHY (Kata Kerja Larangan)

Fi’il Nahy atau “kata kerja larangan” adalah bentuk negatif dari Fi’il Amar. Untuk membentuk Fi’il Nahy, kita tinggal menambahkan harf لاَ (=jangan) dan memasukkan huruf تَ di awal Fi’il Amar. Perhatikan polanya di bawah ini:
Fa’il Fi’il Amar Fi’il Nahy Tarjamah
أَنْتَ اِفْعَلْ لاَ تَفْعَلْ = jangan (engkau -lk) kerjakan
أَنْتِ اِفْعَلِيْ لاَ تَفْعَلِيْ = jangan (engkau -pr) kerjakan
أَنْتُمَا اِفْعَلاَ لاَ تَفْعَلاَ = jangan (kamu berdua) kerjakan
أَنْتُمْ اِفْعَلُوْا لاَ تَفْعَلُوْا = jangan (kalian -lk) kerjakan
أَنْتُنَّ اِفْعَلْنَ لاَ تَفْعَلْنَ = jangan (kalian -pr) kerjakan

Contoh dalam kalimat:

Dari fi’il خَافَ (= takut) dan fi’il حَزِنَ (= sedih) menjadi Fi’il Nahy:

لاَ تَخَفْ وَلاَ تَحْزَنْ
= jangan (engkau -lk) takut dan jangan sedih

لاَ تَخَافِيْ وَلاَ تَحْزَنِيْ
= jangan (engkau -pr) takut dan jangan sedih

لاَ تَخَافَا وَلاَ تَحْزَنَا
= jangan (kamu berdua) takut dan jangan sedih

لاَ تَخَافُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا
= jangan (kalian -lk) takut dan jangan sedih

لاَ تَخَفْنَ وَلاَ تَحْزَنَّ
= jangan (kalian -pr) takut dan jangan sedih

Carilah contoh-contoh Fi’il Nahy dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

فِعْل مَعْلُوْم – فِعْل مَجْهُوْل
FI’IL MA’LUM (Kata Kerja Aktif) – FI’IL MAJHUL (Kata Kerja Pasif)

Dalam tata bahasa Indonesia, dikenal istilah Kata Kerja Aktif dan Kata Kerja Pasif. Perhatikan contoh berikut ini:

Abubakar membuka pintu. –> kata “membuka” disebut Kata Kerja Aktif.
Pintu dibuka oleh Abubakar. –> kata “dibuka” disebut Kata Kerja Pasif.

Dalam tata bahasa Arab, dikenal pula istilah Fi’il Ma’lum dan Fi’il Majhul yang fungsinya mirip dengan Kata Kerja Aktif dan Kata Kerja Pasif.

Perhatikan contoh kalimat di bawah ini:

ضَرَبَ عُمَرُ

ضُرِبَ عُمَرُ

(= Umar memukul)

(= Umar dipukul)

Fi’il ضَرَبَ (=memukul) adalah Fi’il Ma’lum (Kata Kerja Aktif). Fa’il atau Pelakunya adalah Umar bersifat aktif (melakukan pekerjaan yakni memukul).

Fi’il ضُرِبَ (=dipukul) adalah Fi’il Majhul (Kata Kerja Pasif). Fa’il atau Pelakunya tidak diketahui (tidak disebutkan). Untuk itu, dalam Fi’il Majhul, dikenal istilah Naib al-Fa’il ( نَائِبُ الْفَاعِل ) atau Pengganti Fa’il (Pelaku). Dalam contoh di atas, Umar adalah Naib al-Fa’il (pengganti Pelaku).

Fi’il Majhul dibentuk dari Fi’il Ma’lum dengan perubahan sebagai berikut:
a) Huruf pertamanya menjadi berbaris Dhammah
b) Huruf sebelum huruf terakhirnya menjadi berbaris Kasrah untuk Fi’il Madhy dan menjadi berbaris Fathah untuk Fi’il Mudhari’.

Fi’il Madhy

Fi’il Mudhari’

Fi’il Ma’lum

Fi’il Majhul

Fi’il Ma’lum

Fi’il Majhul

فَعَلَ

فُعِلَ

يَفْعَلُ

يُفْعَلُ

Contoh-contoh dalam kalimat:

Fi’il Madhy أَمَرَ (=memerintah) menjadi Fi’il Majhul أُمِرَ (=diperintah):

أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللهَ
= aku diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْنَا أَنْ نَعْبُدَ اللهَ
= kami diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْتَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ
= engkau (lk) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْتِ أَنْ تَعْبُدِي اللهَ
= engkau (pr) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْتُمَا أَنْ تَعْبُدَا اللهَ
= kamu berdua diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْتُمْ أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ
= kalian (lk) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْتُنَّ أَنْ تَعْبُدْنَ اللهَ
= kalian (pr) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرَ أَنْ يَعْبُدَ اللهَ
= dia (lk) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرَتْ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ
= dia (pr) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرَا أَنْ يَعْبُدَا اللهَ
= mereka (2 lk) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرَتَا أَنْ تَعْبُدَا اللهَ
= mereka (2 pr) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرُوْا أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ
= mereka (lk) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْنَ أَنْ يَعْبُدْنَ اللهَ
= mereka (pr) diperintah agar menyembah Allah

Fi’il Mudhari’ يَعْرِفُ (=mengenal) menjadi Fi’il Majhul يُعْرَفُ (=dikenal):

أُعْرَفُ بِكَلاَمِيْ
= aku dikenal dari bicaraku

نُعْرَفُ بِكَلاَمِنَا
= kami dikenal dari bicara kami

تُعْرَفُ بِكَلاَمِكَ
= engkau (lk) dikenal dari bicaramu

تُعْرَفِيْنَ بِكَلاَمِكِ
= engkau (pr) dikenal dari bicaramu

تُعْرَفَانِ بِكَلاَمِكُمَا
= kamu berdua dikenal dari bicara kamu berdua

تُعْرَفُوْنَ بِكَلاَمِكُمْ
= kalian (lk) dikenal dari bicara kalian

تُعْرَفْنَ بِكَلاَمِكُنَّ
= kalian (pr) dikenal dari bicara kalian

يُعْرَفُ بِكَلاَمِهِ
= dia (lk) dikenal dari bicaranya

تُعْرَفُ بِكَلاَمِهَا
= dia (pr) dikenal dari bicaranya

يُعْرَفَانِ بِكَلاَمِهِمَا
= mereka (2 lk) dikenal dari bicara mereka

يُعْرَفُوْنَ بِكَلاَمِهِمْ
= mereka (lk) dikenal dari bicara mereka

يُعْرَفْنَ بِكَلاَمِهِنَّ
= mereka (pr) dikenal dari bicara mereka

Carilah contoh-contoh Fi’il Majhul dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

أَدَوَاتُ الاِسْتِفْهَام
ADAWAT AL-ISTIFHAM (Kata Tanya)

Di bawah ini dicantumkan sejumlah Kata Tanya dengan contohnya masing-masing dalam kalimat beserta contoh jawabannya:
Kata Tanya Contoh Kalimat Tanya Contoh Jawaban
هَلْ / أَ هَلْ أََنْتَ مَرِيْضٌ ؟ لاَ، أَنَا فِيْ صِحَّةٍ
(=apakah) (=apakah engkau sakit?) (=tidak, saya sehat)
مَاذَا / مَا مَاذَا تَكْتُبُ ؟ أَكْتُبُ رِسَالَةً
(=apa) (=apa yang kau tulis?) (=aku menulis surat)
مَنْ ذَا / مَنْ مَنْ كَتَبَ هَذَا ؟ أَحْمَدُ كَتَبَ هَذَا
(=siapa) (=siapa yang menulis ini?) (=Ahmad yang menulis ini)
أَيَّةُ / أَيُّ أَيُّ قَلَمٍ تُحِبُّ ؟ أُحِبُّ قَلَمَ اْلأَسْوَدِ
(=yang mana) (=pena yang mana kau suka?) (=aku suka pena yang hitam)
مَتَى مَتَى تَذْهَبُ ؟ أَذْهَبُ غَدًا
(=kapan) (=kapan engkau pergi?) (=aku pergi besok)
أَيْنَ أَيْنَ تَذْهَبُ ؟ أَذْهَبُ إِلَى الْقَرْيَةِ
(=dimana) (=dimana engkau pergi?) (=aku pergi ke kampung)
كَيْفَ كَيْفَ تَذْهَبُ ؟ أَذْهَبُ بِالْحَافِلَةِ
(=bagaimana) (=bagaimana engkau pergi?) (=aku pergi dengan bus)
كَمْ كَمْ يَوْمًا تَذْهَبُ ؟ أَذْهَبُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ
(=berapa) (=berapa hari engkau pergi?) (=aku pergi selama tiga hari)
لِمَاذَا / لِمَا لِمَاذَا تَأَخَّرْتَ ؟ الطَّرِيْقُ مُزْدَحِمَةٌ
(=mengapa) (=mengapa kau terlambat?) (=jalanan padat)
لِمَ لِمَ سَأَلْتَ ذَلِكَ ؟ حَقِيْقَةً لاَ أَفْهَمُ
(=kenapa) (=kenapa kau bertanya itu?) (=sungguh aku tidak paham)
لِمَنْ لِمَنْ هَذَا الْقَلَمُ ؟ هَذَا قَلَمُ أَحْمَدِ
(=punya siapa) (=kepunyaan siapa pena ini?) (=ini pena Ahmad)

Buatlah sendiri kalimat-kalimat tanya dari setiap kata-kata tanya di atas!

اِسْم جَامِد
ISIM JAMID

Menurut asal kata dan pembentukannya, Isim terbagi dua:

1. ISIM JAMID ( اِسْم جَامِد ) yaitu Isim yang tidak terbentuk dari kata lain.
2. ISIM MUSYTAQ ( اِسْم مُشْتَق ) yaitu Isim yang dibentuk dari kata lain.

Isim Jamid terbagi dua:

a) ISIM DZAT ( اِسْم ذَات ) atau ISIM JINS ( اِسْم جِنْس )
Contoh: رَجُلٌ (=orang), أَسَدٌ (=singa), نَهْرٌ (=sungai)
b) ISIM MA’NA ( اِسْم مَعْنَى ) atau MASHDAR ( مَصْدَر )
Contoh: عِلْمٌ (=ilmu), عَدْلٌ (=keadilan), شَجَاعَةٌ (=keberanian)

Mashdar adalah Isim yang menunjukkan peristiwa atau kejadian yang tidak disertai dengan penunjukan waktu. Berbeda dengan Fi’il yang terikat dengan waktu, apakah di waktu lampau, sekarang atau akan datang. Contoh:

أُرِيْدُ أَنْ أُصَلِّيْ (= aku ingin shalat) –> أُصَلِّي (= aku shalat) : Fi’il
أُرِيْدُ صَلاَةً (= aku ingin shalat) –> صَلاَةً (= shalat) : Mashdar

Setiap Fi’il memiliki Mashdar. Dengan kata lain, Mashdar adalah bentuk Isim dari sebuah Fi’il. WAZAN (وَزْن) atau Timbangan (pola pembentukan) Mashdar sangat beragam. Perhatikan contoh pembentukan Mashdar di bawah ini:
Wazan Madhy-Mudhari’-Mashdar Tarjamah
فَعْلٌ

نَصَرَ – يَنْصُرُ – نَصْرٌ
= menolong
فِعْلٌ

ذَكَرَ – يَذْكُرُ – ذِكْرٌ
= mengingat, menyebut
فُعَالٌ

بَكَى – يَبْكِيَ – بُكَاءٌ
= menangis
فِعَالٌ

قَامَ – يَقُوْمُ – قِيَامٌ
= berdiri
فُعُوْلٌ

سَجَدَ – يَسْجُدُ – سُجُوْدٌ
= bersujud
إِفْعَالٌ

أَطْعَمَ – يُطْعِمُ – إِطْعَامٌ
= memberi makan
فِعَالَةٌ

زَرَعَ – يَزْرَعُ – زِرَاعَةٌ
= bertani
تَعْفِيْلٌ

عَلَّمَ – يُعَلِّمُ – تَعْلِيْمٌ
= mengajar, memberitahu
تَفْعِلَةٌ

ذَكَّرَ – يُذَكِّرُ – تَذْكِرَةٌ
= mengingatkan

Pahamilah baik-baik nama-nama dan bentuk-bentuk Isim yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

اِسْم مُشْتَق
ISIM MUSYTAQ

Isim Musytaq ialah Isim yang dibentuk dari kata lain dan memiliki makna yang berbeda dari kata pembentuknya. Isim Musytaq itu ada tujuh macam:

1. ISIM FA’IL ( اِسْم فَاعِل ) atau Isim Pelaku (yang melakukan pekerjaan).

Isim Fa’il ada dua wazan (pola pembentukan) yaitu:

a) فَاعِلٌ bila berasal dari Fi’il Tsulatsi (Fi’il yang terdiri dari tiga huruf)
b) مُفْعِلٌ bila berasal dari Fi’il yang lebih dari tiga huruf
Fi’il Isim Fa’il
عَلِمَ – يَعْلَمُ (=mengetahui) عَالِمٌ (=yang mengetahui)
نَامَ – يَنَامُ (=tidur) نَائِمٌ (=yang tidur)
أَكَلَ – يَأْكُلُ (=makan) آكِلٌ (=yang makan)
أَسْلَمَ – يُسْلِمُ (=menyerah) مُسْلِمٌ (=yang menyerah)
أَنْفَقَ – يُنْفِقُ (=berinfak) مُنْفِقٌ (=yang berinfak)
اِسْتَغْفَرَ – يَسْتَغْفِرُ (=mohon ampun) مُسْتَغْفِرٌ (=yang mohon ampun)

Disamping itu dikenal pula istilah bentuk MUBALAGHAH ( مُبَالَغَة ) dari Isim Fa’il yang berfungsi untuk menguatkan atau menyangatkan artinya. Contoh:
Fi’il Isim Fa’il Isim Mubalaghah
عَلِمَ-يَعْلَمُ عَالِمٌ عَلِيْمٌ / عَلاَّمٌ (=yang sangat mengetahui)
غَفَرَ-يَغْفِرُ غَافِرٌ غَفُوْرٌ / غَفَّارٌ (=yang suka mengampuni)
نَامَ-يَنَامُ نَائِمٌ نَئِيْمٌ / نَوَّامٌ (=yang banyak tidur)
أَكَلَ-يَأْكُلُ آكِلٌ أَكِيْلٌ / أَكَّالٌ (=yang banyak makan)

2. SIFAT MUSYABBAHAH ( صِفَة مُشَبَّهَة ) ialah Isim yang menyerupai Isim Fa’il tetapi lebih condong pada arti sifatnya yang tetap. Misalnya:
Fi’il Isim Fa’il Sifat Musyabbahah
فَرِحَ-يَفْرَحُ (=senang) فَارِحٌ فَرِحٌ (=orang senang)
عَمِيَ-يَعْمَى (=buta) عَامِيٌ أَعْمَى (=orang buta)
مَاتَ-يَمُوْتُ (=mati) مَائِتٌ مَيِّتٌ (= orang mati)
جَاعَ-يَجُوْعُ (=lapar) جَائِعٌ جَوْعَانٌ (= orang kelaparan)

3. ISIM MAF’UL ( اِسْم مَفْعُوْل ) yaitu Isim yang dikenai pekerjaan.
Fi’il Isim Maf’ul
غَفَرَ – يَغْفِرُ (=mengampuni) مَغْفُوْرٌ (=yang diampuni)
عَلِمَ – يَعْلَمُ (=mengetahui) مَعْلُوْمٌ (=yang diketahui)
بَاعَ – يَبِيْعُ (=menjual) مَبِيْعٌ (=yang dijual)
قَالَ – يَقُوْلُ (=berkata) مَقَالٌ (=yang diucapkan)

4. ISIM TAFDHIL ( اِسْم تَفْضِيْل ) ialah Isim yang menunjukkan arti “lebih” atau “paling”. Wazan (pola) umum Isim Tafdhil adalah: أَفْعَلُ . Contoh:
Isim Fa’il Isim Mubalaghah Isim Tafdhil
عَالِمٌ عَلِيْمٌ (=sangat mengetahui) أَعْلَمُ (=yang lebih mengetahui)
كَابِرٌ كَبِيْرٌ (=sangat besar) أَكْبَرُ (=yang lebih besar)
قَارِبٌ قَرِيْبٌ (=sangat dekat) أَقْرَبُ (=yang lebih dekat)
فَاضِلٌ فَضِيْلٌ (=sangat utama) أَفْضَلُ (=yang lebih utama)

Disamping itu, terdapat pula bentuk yang sedikit agak berbeda, seperti:
Sifat Musyabbahah Isim Tafdhil
شَدِيْدٌ (=yang sangat) أَشَدُّ (=yang lebih sangat)
حَقِيْقٌ (=yang berhak) أَحَقُّ (=yang lebih berhak)
عَزِيْزٌ (=yang mulia) أَعَزُّ (=yang lebih mulia)

5. ISIM ZAMAN ( اِسْم زَمَان ) yaitu Isim yang menunjukkan waktu dan ISIM MAKAN ( اِسْم مَكَان ) yaitu Isim yang menunjukkan tempat.
Fi’il Isim Zaman/Makan
كَتَبَ / يَكْتُبُ (=menulis) مَكْتَبٌ (=kantor)
لَعِبَ / يَلْعَبُ (=bermain) مَلْعَبٌ (=tempat bermain)
سَجَدَ / يَسْجُدُ (=bersujud) مَسْجِدٌ (=masjid)
وَلَدَ / يَلِدُ (=melahirkan) مَوْلِدٌ (=hari kelahiran)
وَعَدَ / يَعِدُ (=menjanjikan) مَوْعِدٌ (=hari yang dijanjikan)
اِجْتَمَعَ / يَجْتَمِعُ (=berkumpul) مُجْتَمَعٌ (=perkumpulan, pertemuan)

6. ISIM ALAT ( اِسْم آلَة ) yaitu Isim yang menunjukkan alat yang digunakan untuk melakukan suatu Fi’il atau pekerjaan.
Fi’il Isim Alat
فَتَحَ / يَفْتَحُ (=membuka) مِفْتَاحٌ (=kunci)
وَزَنَ / يَزِنُ (=menimbang) مِيْزَانٌ (=timbangan)
جَلَسَ / يَجْلِسُ (=duduk) مَجْلِسٌ (=tempat duduk)
جَهَرَ / يَجْهَرُ (=nyaring) مِجْهَرٌ (=pengeras suara)

Pahamilah baik-baik semua jenis-jenis Isim yang terdapat dalam pelajaran ini serta contoh-contohnya sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

فِعْل مُجَرَّد

FI’IL MUJARRAD

Menurut asal kata dan pembentukannya, Fi’il terbagi dua:
1. FI’IL MUJARRAD ( فِعْل مُجَرَّد ) yaitu fi’il yang semua hurufnya asli.
2. FI’IL MAZID ( فِعْل مَزِيْد ) yaitu fi’il yang mendapat huruf tambahan.

Fi’il Mujarrad pada umumnya terdiri dari tiga huruf sehingga dinamakan pula FI’IL MUJARRAD TSULATSI ( فِعْل مُجَرَّد ثُلاَثِي ) dan mempunyai enam wazan ( وَزْن ) atau timbangan (pola huruf dan harakat) yakni:

1. فَعَلَ – يَفْعُلُ misalnya: نَصَرَ – يَنْصُرُ (=menolong)
2. فَعَلَ – يَفْعِلُ misalnya: جَلَسَ – يَجْلِسُ (=duduk)
3. فَعَلَ – يَفْعَلُ misalnya: فَتَحَ – يَفْتَحُ (=membuka)
4. فَعِلَ – يَفْعَلُ misalnya: عَلِمَ – يَعْلَمُ (=mengetahui)
5. فَعُلَ – يَفْعُلُ misalnya: كَثُرَ – يَكْثُرُ (=menjadi banyak)
6. فَعِلَ – يَفْعِلُ misalnya: حَسِبَ – يَحْسِبُ (=menghitung)

Disamping Fi’il Mujarrad Tsulatsi yang terdiri dari tiga huruf, terdapat pula Fi’il Mujarrad Ruba’i ( فِعْل مُجَرَّد رُبَاعِي ) yang terdiri dari empat huruf. Fi’il Mujarrad Ruba’i ini hanya mempunyai satu wazan yaitu: فَعْلَلَ – يُفَعْلِلُ .
Contoh: تَرْجَمَ – يُتَرْجِمُ (=menerjemahkan), وَسْوَسَ – يُوَسْوِسُ (=membisikkan waswas), زَلْزَلَ – يُزَلْزِلُ (=menggoncang-goncangkan).

Carilah sebanyak-banyaknya contoh-contoh Fi’il Mujarrad Tsulatsi dari al-Quran dan al-Hadits untuk setiap wazan di atas, beserta artinya masing-masing.

فِعْل مَزِيْد
FI’IL MAZID

Fi’il Mazid berasal dari Fi’il Mujarrad yang mendapat tambahan huruf:

1) Fi’il Mazid dengan tambahan satu huruf. Terdiri dari beberapa wazan seperti:

a. أَفْعَلَ – يُفْعِلُ (huruf tambahannya: Hamzah di awal kata)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
دَخَلَ – يَدْخُلُ (=masuk) أَدْخَلَ – يُدْخِلُ (=memasukkan)
خَرَجَ – يَخْرُجُ (=keluar) أَخْرَجَ – يُخْرِجُ (=mengeluarkan)
رَسَلَ – يَرْسُلُ (=lepas) أَرْسَلَ – يُرْسِلُ (=melepas, mengirim)

b. فَعَّلَ – يُفَعِّلُ (huruf tambahannya: huruf tengah yang digandakan/tasydid)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
قَدِمَ – يَقْدِمُ (=datang) قَدَّمَ – يُقَدِّمُ (=mendatangkan)
عَلِمَ – يَعْلَمُ (=mengetahui) عَلَّمَ – يُعَلِّمُ (=mengajar)
نَزَلَ – يَنْزِلُ (=turun) نَزَّلَ – يُنَزِّلُ (=menurunkan)

c. فَاعَلَ – يُفَاعِلُ (huruf tambahannya: Mad Alif setelah huruf pertama)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
قَتَلَ – يَقْتُلُ (=membunuh) قَاتَلَ – يُقَاتِلُ (=berperang)
فَرَقَ – يَفْرَقُ (=memisah) فَارَقَ – يُفَارِقُ (=berpisah)
سَبَقَ – يَسْبِقُ (=mendahului) سَابَقَ – يُسَابِقُ (=berlomba)

2. Fi’il Mazid dengan tambahan dua huruf. Terdiri dari beberapa wazan seperti:

a. اِنْفَعَلَ – يَنْفَعِلُ (huruf tambahannya: Alif dan Nun di awal kata).
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
طَلَقَ – يَطْلِقُ (=menceraikan) اِنْطَلَقَ – يَنْطَلِقُ (=pergi)
فَطَرَ – يَفْطِرُ (=membelah) اِنْفَطَرَ – يَنْفَطِرُ (=terbelah)
قَلَبَ – يَقْلِبُ (=membalik) اِنْقَلَبَ – يَنْقَلِبُ (=terbalik)

b. اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ (huruf tambahannya: Alif di awal dan Ta di tengah)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
جَمَعَ – يَجْمَعُ (=mengumpulkan) اِجْتَمَعَ – يَجْتَمِعُ (=berkumpul)
نَشَرَ – يَنْشُرُ (=menyebarkan) اِنْتَشَرَ – يَنْتَشِرُ (=tersebar)
لَمَسَ – يَلْمِسُ (=meraba) اِلْتَمَسَ – يَلْتَمِسُ (=meraba-raba)

c. اِفْعَلَّ – يَفْعَلُّ (huruf tambahannya: Alif di awal dan huruf ganda di akhir)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
بَيَضَ – يَبِيْضُ (=putih) اِبْيَضَّ – يَبْيَضُّ (=memutih)
حَمُرَ – يَحْمِرُ (=merah) اِحْمَرَّ – يَحْمَرُّ (=memerah)
سَوِدَ – يَسْوِدُ (= hitam) اِسْوَدَّ – يَسْوَدُّ (=menghitam)

d. تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ (huruf tambahan: Ta di awal dan Mad Alif di tengah)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
حَسَدَ – يَحْسُدُ (=dengki) تَحَاسَدَ – يَتَحَاسَدُ (=saling dengki)
عَرَفَ – يَعْرِفُ (=kenal) تَعَارَفَ – يَتَعَارَفُ (=saling kenal)
سَأَلَ – يَسْأَلُ (= bertanya) تَسَائَلَ – يَتَسَائَلُ (=saling bertanya)

e. تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ (huruf tambahannya: Ta di awal dan huruf ganda di tengah)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
عَلِمَ – يَعْلَمُ (=mengetahui) تَعَلَّمَ – يَتَعَلَّمُ (=belajar)
كَبُرَ – يَكْبِرُ (=besar) تَكَبَّرَ – يَتَكَبَّرُ (=membesarkan diri)
فَكَرَ – يَفْكِرُ (= berfikir) تَفَكَّرَ – يَتَفَكَّرُ (=memusatkan fikiran)

3. Fi’il Mazid dengan tambahan tiga huruf. Wazan yang biasa ditemukan adalah: اِسْتَفْعَلَ – يَسْتَفْعِلُ (huruf tambahannya: Alif, Sin dan Ta di awal kata).
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
غَفَرَ – يَغْفِرُ (=mengampuni) اِسْتَغْفَرَ – يَسْتَغْفِرُ (=mohon ampun)
قَبِلَ – يَقْبَلُ (=menerima) اِسْتَقْبَلَ – يَسْتَقْبِلُ (=menghadap)
خَرَجَ – يَخْرُجُ (= keluar) اِسْتَخْرَجَ – يَسْتَخْرِجُ (=minta keluar)

Carilah contoh-contoh Fi’il Mazid dari al-Quran dan al-Hadits dan masukkan ke dalam wazan-wazan yang sesuai serta carilah artinya masing-masing.

إِعْرَاب اْلاِسْم
I’RAB ISIM

I’rab ialah perubahan baris/bentuk yang terjadi di belakang sebuah kata sesuai dengan kedudukan kata tersebut dalam susunan kalimat. Pada dasarnya, Isim bisa mengalami tiga macam I’rab yaitu:

1. I’RAB RAFA’ ( رَفْع ) atau Subjek; dengan tanda pokok: Dhammah ( ُ )
2. I’RAB NASHAB ( نَصْب ) atau Objek; dengan tanda pokok: Fathah ( َ )
3. I’RAB JARR ( جَرّ ) atau Keterangan; dengan tanda pokok: Kasrah ( ِ )

Perhatikan contoh dalam kalimat di bawah ini:
جَاءَ الطُّلاَّبُ = datang siswa-siswa
رَأَيْتُ الطُّلاَّبَ = aku melihat siswa-siswa
سَلَّمْتُ عَلَى الطُّلاَّبِ = aku memberi salam kepada siswa-siswa

Isim الطُّلاَّب (=siswa-siswa) pada contoh di atas mengalami tiga macam I’rab:

1) I’rab Rafa’ (Subjek) dengan tanda Dhammah di huruf akhirnya ( الطُّلاَّبُ )
2) I’rab Nashab (Objek) dengan tanda Fathah di huruf akhirnya ( الطُّلاَّبَ )
3) I’rab Jarr (Keterangan) dengan tanda Kasrah di huruf akhirnya ( الطُّلاَّبِ )

Alamat I’rab seperti ini dinamakan Alamat Ashliyyah (عَلاَمَات اْلأَصْلِيَّة) atau tanda-tanda asli (pokok).

Perlu diketahui bahwa tidak semua Isim bisa mengalami I’rab atau perubahan baris/bentuk di akhir kata. Dalam hal ini, Isim terbagi dua:

1) ISIM MU’RAB ( اِسْم مُعْرَب ) yaitu Isim yang bisa mengalami I’rab. Kebanyakan Isim adalah Isim Mu’rab artinya bisa berubah bentuk/baris akhirnya, tergantung kedudukannya dalam kalimat.

2) ISIM MABNI ( اِسْم مَبْنِي ) yaitu Isim yang tidak terkena kaidah-kaidah I’rab. Yang termasuk Isim Mabni adalah: Isim Dhamir (Kata Ganti), Isim Isyarat (Kata Tunjuk), Isim Maushul (Kata Sambung), Isim Istifham (Kata Tanya).

Perhatikan contoh Isim Mabni dalam kalimat-kalimat di bawah ini:
جَاءَ هَؤُلاَءِ = datang (mereka) ini
رَأَيْتُ هَؤُلاَءِ = aku melihat (mereka) ini
سَلَّمْتُ عَلَى هَؤُلاَءِ = aku memberi salam kepada (mereka) ini

Dalam contoh-contoh di atas terlihat bahwa Isim Isyarah هَؤُلاَءِ (=ini) tidak mengalami I’rab atau perubahan baris\bentuk di akhir kata, meskipun kedudukannya dalam kalimat berubah-ubah, baik sebagai Subjek, Objek maupun Keterangan. Isim Isyarah termasuk diantara kelompok Isim Mabni.

Bila anda telah memahami baik-baik tentang pengertian I’rab dan tanda-tanda aslinya, marilah kita melanjutkan pelajaran tentang Isim Mu’rab.

اِسْم مَرْفُوْع

ISIM MARFU’

Isim yang mengalami I’rab Rafa’ dinamakan Isim Marfu’ yang terdiri dari:

1) Mubtada’ (Subjek) dan Khabar (Predikat) pada Jumlah Ismiyyah (Kalimat Nominal). Perhatikan contoh-contoh Jumlah Ismiyyah di bawah ini:
اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ = rumah itu besar
اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ جَمِيْلٌ = rumah itu besar (lagi) indah
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ جَمِيْلٌ = rumah besar itu indah
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ جَمِيْلٌ غَالٌ = rumah besar itu indah (lagi) mahal

Dalam contoh di atas terlihat bahwa semua Isim yang terdapat dalam Jumlah Ismiyyah adalah Marfu’ (mengalami I’rab Rafa’), tandanya adalah Dhammah.

2) Fa’il (Subjek Pelaku) atau Naib al-Fa’il (Pengganti Subjek Pelaku) pada Jumlah Fi’liyyah (Kalimat Verbal). Contoh:
جَاءَ مُحَمَّدٌ = Muhammad datang
يَغْلِبُ عُمَرُ = Umar menang
يُغْلَبُ الْكَافِرُ = orang kafir itu dikalahkan
لُعِنَ الشَّيْطَانُ = syaitan itu dilaknat

مُحَمَّدٌ (=Muhammad) –> Fa’il –> Marfu’ dengan tanda Dhammah
عُمَرُ (=Umar) –> Fa’il –> Marfu’ dengan tanda Dhammah
الْكَافِرُ (=orang kafir) –> Naib al-Fa’il –> Marfu’ dengan tanda Dhammah.
الشَّيْطَانُ (=syaitan) –> Naib al-Fa’il –> Marfu’ dengan tanda Dhammah.

Pahamilah baik-baik semua kaidah-kaidah yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

اِسْم مَنْصُوْب
ISIM MANSHUB

Isim yang terkena I’rab Nashab disebut Isim Manshub. Yang menjadi Isim Manshub adalah semua Isim selain Fa’il atau Naib al-Fa’il dalam Jumlah Fi’liyyah.

1) MAF’UL (مَفْعُوْل) yakni Isim yang dikenai pekerjaan (Objek Penderita).
قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ = Muhammad membaca al-Quran

القُرْآنَ (= al-Quran) –> Maf’ul –> Manshub dengan tanda fathah.

2) MASHDAR ( مَصْدَر ) yakni Isim yang memiliki makna Fi’il dan berfungsi untuk menjelaskan atau menegaskan (menguatkan) arti dari Fi’il.
قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ تَرْتِيْلاً = Muhammad membaca al-Quran dengan tartil (perlahan-lahan)

تَرْتِيْلاً (= perlahan-lahan) –> Mashdar –> Manshub dengan tanda fathah.

3) HAL ( حَال ) ialah Isim yang berfungsi untuk menjelaskan keadaan Fa’il atau Maf’ul ketika berlangsungnya pekerjaan.

قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ خَاشِعًا
= Muhammad membaca al-Quran dengan khusyu’

خَاشِعًا (= orang yang khusyu’) –> Hal –> Manshub dengan tanda fathah.

4) TAMYIZ ( تَمْيِيْز ) ialah Isim yang berfungsi menerangkan maksud dari Fi’il dalam hubungannya dengan keadaan Fa’il atau Maf’ul.

قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ عِبَادَةً
= Muhammad membaca al-Quran sebagai suatu ibadah

عِبَادَةً (= ibadah) –> Tamyiz –> Manshub dengan tanda fathah.

5) ZHARAF ZAMAN (ظَرْف زَمَان) atau Keterangan Waktu dan ZHARAF MAKAN (ظَرْف مَكَان) atau Keterangan Tempat.
قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ لَيْلاً = Muhammad membaca al-Quran pada suatu malam

لَيْلاً (= malam) –> Zharaf Zaman –> Manshub dengan tanda fathah.

Diantara Zharaf Zaman: يَوْمَ (=pada hari), اَلْيَوْمَ (=pada hari ini), لَيْلاً (=pada malam hari), نَهَارًا (=pada siang hari), صَبَاحًا (=pada pagi hari), مَسَاءً (=pada sore hari), غَدًا (=besok), اْلآنَ (=sekarang), dan sebagainya.
Diantara Zharaf Makan: أَمَامَ (=di depan), خَلْفَ (=di belakang), وَرَاءَ (=di balik), فَوْقَ (=di atas), تَحْتَ (=di bawah), عِنْدَ (=di sisi), حَوْلَ (=di sekitar), بَيْنَ (=di antara), جَانِبَ (=di sebelah), dan sebagainya.

6) MUNADA ( مُنَادَى ) atau Seruan (Panggilan).
فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ = Wahai Pencipta langit dan bumi

فَاطِرَ (=Pencipta) –> Munada –> Manshub dengan tanda Fathah

Hafalkanlah istilah-istilah di atas beserta pengertian dan contoh-contohnya masing-masing sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

7) MUSTATSNA (

مُسْتَثْنَى ) atau Perkecualian ialah Isim yang terletak sesudah ISTITSNA (اِسْتِثْنَى ) atau Pengecuali. Contoh:
حَضَرَ الطُّلاَّبُ إِلاَّ زَيْدًا = para siswa telah hadir kecuali Zaid

إِلاَّ (=kecuali) –> Istitsna (Pengecuali).
زَيْدًا (=Zaid) –> Mustatsna (Perkecualian) –> Manshub dengan tanda Fathah

Kata-kata yang biasa menjadi Istitsna antara lain:

إِلاَّ – غَيْرَ – سِوَى – خَلاَ – عَدَا – حِشَا
Semuanya biasa diterjemahkan: kecuali, selain.

Isim yang berkedudukan sebagai Mustatsna tidak selalu harus Manshub. Mustatsna bisa menjadi Marfu’ dalam keadaan sebagai berikut:

a) Bila berada dalam Kalimat Negatif dan Subjek yang dikecualikan darinya disebutkan. Maka Mustatsna boleh Manshub dan boleh Marfu’. Contoh:
مَا قَامَ الطُّلاَّبُ إِلاَّ زَيْدًا = para siswa tidak berdiri kecuali Zaid
مَا قَامَ الطُّلاَّبُ إِلاَّ زَيْدٌ = para siswa tidak berdiri kecuali Zaid

Kalimat di atas adalah Kalimat Negatif (ada kata: tidak) dan disebutkan Subjek yang dikecualikan darinya yaitu الطُّلاَّبُ (=para siswa) maka Mustatsna boleh Manshub dan boleh pula Marfu’ (زَيْدًا atau زَيْدٌ).

b) Bila Mustatsna berada dalam kalimat Negatif dan Subjek yang dikecualikan darinya tidak disebutkan sedangkan Mustatsna itu berkedudukan sebagai Fa’il maka ia harus mengikuti kaidah I’rab yakni menjadi Marfu’. Contoh:
مَا قَامَ إِلاَّ زَيْدٌ = tidak berdiri kecuali Zaid

Mustatsna menjadi Marfu’ karena berkedudukan sebagai Fa’il (زَيْدٌ) dan berada dalam Kalimat Negatif yang tidak disebutkan Subjek yang dikecualikan darinya.

اِسْم مَجْرُوْر
ISIM MAJRUR

Isim yang terkena I’rab Jarr disebut Isim Majrur yang terdiri dari:

1) Isim yang diawali dengan Harf Jarr. Yang termasuk Harf Jarr adalah: بِ (=dengan), لِ (=untuk), فِيْ (=di, dalam), عَلَى (=atas), إِلَى (=ke), مِنْ (=dari), كَـ (=bagai), حَتَّى (=hingga), وَ / تَـ untuk sumpah (=demi …).

Perhatikan contoh-contoh berikut:
أَعُوْذُ بِاللهِ = aku berlindung kepada Allah
أُصَلِّيْ فِي الْمَسْجِدِ = aku shalat di masjid
وَالْعَصْرِ = demi masa!

الله / الْمَسْجِد/ الْعَصْر pada kalimat-kalimat di atas adalah Isim Majrur karena didahului/dimasuki oleh Harf Jarr. Tanda Majrurnya adalah Kasrah.

2) Isim yang berkedudukan sebagai Mudhaf Ilaih. Contoh:

رَسُوْلُ اللهِ (=Rasul Allah) –> رَسُوْلُ [Mudhaf], اللهِ [Mudhaf Ilaih]
أَهْلُ الْكِتَابِ (=ahlul kitab) –> أَهْلُ [Mudhaf], الْكِتَابِ [Mudhaf Ilaih]

Mudhaf Ilaih selalu sebagai Isim Majrur, sedangkan Mudhaf (Isim di depannya) bisa dalam bentuk Marfu’, Manshub maupun Majrur, tergantung kedudukannya dalam kalimat. Perhatikan contoh-contoh kalimat di bawah ini:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ = berkata Rasul Allah
أُحِبُّ رَسُوْلَ اللهِ = saya mencintai Rasul Allah
نُؤْمِنُ بِرَسُوْلِ اللهِ = kami beriman kepada Rasul Allah

Dalam contoh-contoh di atas, Isim رَسُوْل merupakan Mudhaf dan bentuknya bisa Marfu’ (contoh pertama), Manshub (contoh kedua) maupun Majrur (contoh ketiga). Adapun kata الله sebagai Mudhaf Ilaih selalu dalam bentuk Majrur.

3) Termasuk dalam Mudhaf Ilaih adalah Isim yang mengikuti Zharaf.
يَجْلِسُوْنَ أَمَامَ الْبَيْتِ = mereka duduk-duduk di depan rumah
أَقُوْمُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ = aku berdiri di bawah pohon

Dalam contoh di atas, Isim الْبَيْتِ (=rumah) dan Isim الشَّجَرَةِ (=pohon) adalah Isim Majrur dengan tanda Kasrah karena terletak sesudah Zharaf أَمَامَ (=di depan) dan تَحْتَ (=di bawah). Dalam hal ini, kedua Zharaf tersebut merupakan Mudhaf sedang Isim yang mengikutinya merupakan Mudhaf Ilaih.

Hafalkanlah istilah-istilah tata bahasa Arab yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

إِنَّ وَ كَانَ وَ أَخَوَاتُهُمَا

“INNA” DAN “KANA” SERTA “KAWAN-KAWANNYA”

Kata إِنَّ (=sesungguhnya) dan كَانَ (=adalah) serta kawan-kawannya sedikit mengubah kaidah I’rab yang telah kita pelajari sebelumnya sebagai berikut:

1) Bila Harf إِنَّ (=sesungguhnya) atau kawan-kawannya memasuki sebuah Jumlah Ismiyyah ataupun Jumlah Fi’liyyah maka Mubtada’ atau Fa’il yang asalnya Isim Marfu’ akan menjadi Isim Manshub. Perhatikan contoh di bawah ini:
Jumlah tanpa Inna Jumlah dengan Inna
اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ إِنَّ الْبَيْتَ كَبِيْرٌ
(=rumah itu besar) (=sesungguhnya rumah itu besar)
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌ لَكِنَّ اَلْبَيْتَ الْكَبِيْرَ غَالٌ
(=rumah besar itu mahal) (=akan tetapi rumah besar itu mahal)
نَصَرَ اللهُ الْمُؤْمِنَ لَعَلَّ اللهَ يَنْصُرُ الْمُؤْمِنَ
(=Allah menolong mukmin) (=semoga Allah menolong mukmin)

Yang termasuk kawan-kawan إِنَّ antara lain:
أَنَّ (=bahwasanya), كَأَنَّ (=seolah-olah), لَكِنَّ (=akan tetapi), لَعَلَّ (=agar supaya), لَيْتَ (=andaisaja), لاَ (=tidak, tidak ada).

2) Bila Fi’il كَانَ (=adalah) atau kawan-kawannya memasuki sebuah Jumlah Ismiyyah maka Khabar yang asalnya Isim Marfu’ akan menjadi Isim Manshub.
Jumlah tanpa Kana Jumlah dengan Kana

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ

كَانَ الْبَيْتُ كَبِيْرًا
(=rumah itu besar) (=adalah rumah itu besar)

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ جَمِيْلٌ

ظَلَّ الْبَيْتُ كَبِيْرًا جَمِيْلاً
(=rumah itu besar lagi cantik) (=jadilah rumah itu besar lagi cantik)

مُحَمَّدٌ سَعِيْدٌ

مَا زَالَ مُحَمَّدٌ سَعِيْدًا
(=Muhammad bahagia) (=Muhammad senantiasa bahagia)

Adapun yang termasuk kawan-kawan كَانَ (=adalah) antara lain:
أَصْبَحَ / أَضْحَى / ظَلَّ / أَمْسَى / بَاتَ / صَارَ (=menjadi),
مَا زَالَ (=senantiasa), مَا دَامَ (=selama), مَا (=tidak), لَيْسَ (=tidak).

Pahamilah baik-baik semua kaidah-kaidah yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

عَلاَمَات الْفَرْعِيَّة
ALAMAT FAR’IYYAH (TANDA-TANDA CABANG)

Dalam pelajaran-pelajaran yang lalu kita sudah melihat Alamat Ashliyyah atau tanda-tanda asli (pokok) dari I’rab yaitu baris Dhammah untuk I’rab Rafa’, baris Fathah untuk I’rab Nashab, dan baris Kasrah untuk I’rab Jarr.

Diantara bentuk-bentuk Isim, ada yang menggunakan tanda-tanda yang berbeda dari Alamat Ashliyyah untuk menunjukkan I’rab Rafa’, Nashab atau Jarr tersebut, karena bentuknya yang khas, mereka menggunakan Alamat Far’iyyah yaitu:

1) Isim Mutsanna (Kata Benda Dual).
a. I’rab Rafa’ ditandai dengan huruf Alif-Nun ( ان )
b. I’rab Nashab dan I’rab Jarr ditandai dengan huruf Ya-Nun ( ين )
جَاءَ رَجُلاَنِ = datang dua orang lelaki
رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ = aku melihat dua orang lelaki
سَلَّمْتُ عَلَى رَجُلَيْنِ = aku memberi salam kepada dua orang lelaki

2) Isim Jamak Mudzakkar Salim (Kata Benda Jamak Laki-laki Beraturan).
a. I’rab Rafa’ ditandai dengan huruf Wau-Nun ( ون )
b. I’rab Nashab dan I’rab Jarr ditandai dengan huruf Ya-Nun ( ين )
جَاءَ الْمُسْلِمُوْنَ = datang kaum muslimin
رَأَيْتُ الْمُسْلِمِيْنَ = aku melihat kaum muslimin
سَلَّمْتُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ = aku memberi salam kepada kaum muslimin

3) Al-Asma’ al-Khamsah ( اَلأَسْمَاء الْخَمْسَة ) atau “isim-isim yang lima” yakni: أَبٌ (=ayah), أَخٌ (=saudara), حَمٌ (=ipar), ذُوْ (=pemilik) dan فَمٌ (=mulut). Isim-isim ini memiliki perubahan bentuk yang khas sebagai berikut:
a. I’rab Rafa’ ditandai dengan huruf Wau ( و ) di akhirnya
b. I’rab Nashab ditandai dengan huruf Alif ( ا ) di akhirnya
c. I’rab Jarr ditandai dengan huruf Ya ( ي ) di akhirnya
جَاءَ أَبُوْ بَكْرٍ = datang Abubakar
رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ = aku melihat Abubakar
سَلَّمْتُ عَلَى أَبِيْ بَكْرٍ = aku memberi salam kepada Abubakar

Hafalkanlah kelompok-kelompok Isim yang mempunyai tanda-tanda I’rab yang khas ini, sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

PEMBAGIAN KATA

Semua bahasa manusia tersusun dari tiga komponen dasar yaitu:

1. Satuan bunyi yang disebut “huruf” atau “abjad”.

Contoh: م – س – ج – د

2. Susunan huruf yang memiliki arti tertentu yang disebut “kata”.

Contoh: مَسْجِدٌ (= masjid)

3. Rangkaian kata yang mengandung pikiran yang lengkap yang disebut “kalimat”.

Contoh: أُصَلِّيْ فِي الْمَسْجِدِ (= saya shalat di masjid)

Dalam tata bahasa Arab, “kata” dibagi ke dalam tiga golongan besar:

1. ISIM ( اِسْم ) atau “kata benda”. Contoh: مَسْجِد (= masjid)

2. FI’IL ( فِعْل ) atau “kata kerja”. Contoh: أُصَلِّيْ (= saya shalat)

3. HARF ( حَرْف ) atau “kata tugas”. Contoh: فِيْ (= di, dalam)

Penggunaan istilah Kata Benda, Kata Kerja dan Kata Tugas dalam tata bahasa Indonesia, tidak sama persis dengan Isim, Fi’il dan Harf dalam tata bahasa Arab. Namun bisalah dipakai untuk sekadar mendekatkan pengertian.

اِسْم عَلَمُ
ISIM ‘ALAM (Kata Benda Nama)

Dalam golongan Isim, ada yang disebut dengan Isim ‘Alam yaitu Isim yang merupakan nama dari seseorang atau sesuatu.

Di bawah ini beberapa contoh Isim ‘Alam (nama) yang sering kita baca:

مُحَمَّد – آدَم – إِدْرِيْس – نُوْح – إِبْرَاهِيْم – إِسْمَاعِيْل – إِسْحَاق – يَعْقُوْب – يُوْسُف – مُوْسَى – سُلَيْمَان – يُوْنُس – عِيْسَى – مَرْيَم – خَدِيْجَة – عَائِشَة – فَاطِمَة – عُمَر – عُثْمَان – جِبْرِيْل – مِيْكَال – لُقْمَان – زَيْد – فِرْعَوْن – قَارُوْن – إِبْلِيْس – عِفْرِيْت – مَكَّة – مَدِيْنَة

Cari dan tuliskanlah Isim-isim Alam yang kamu ketahui!

مُذَكَّر – مُؤَنَّث
MUDZAKKAR (Laki-laki) – MUANNATS (Perempuan)

Dalam tata bahasa Arab, dikenal adanya penggolongan Isim ke dalam Mudzakkar (laki-laki) atau Muannats (perempuan). Penggolongan ini ada yang memang sesuai dengan jenis kelaminnya (untuk manusia dan hewan) dan adapula yang merupakan penggolongan secara bahasa saja (untuk benda dan lain-lain).
Contoh Isim Mudzakkar Contoh Isim Muannats
عِيْسَى (= ‘Isa) مَرْيَم (= Maryam)
اِبْنٌ (= putera) بِنْتٌ (= puteri)
بَقَرٌ (= sapi jantan) بَقَرَةٌ (= sapi betina)
بَحْرٌ (= laut) رِيْحٌ (= angin)

Dari segi bentuknya, Isim Muannats biasanya ditandai dengan adanya tiga jenis huruf di belakangnya yaitu:
a) Ta Marbuthah ( ة ). Misalnya: فَاطِمَة (=Fathimah), مَدْرَسَة (=sekolah)
b) Alif Maqshurah ( ى ). Misalnya: سَلْمَى (=Salma), حَلْوَى (=manisan)
c) Alif Mamdudah ( اء ). Misalnya: أَسْمَاء (=Asma’), سَمْرَاء (=pirang)

Namun adapula Isim Muannats yang tidak menggunakan tanda-tanda di atas.
Misalnya: رِيْحٌ (= angin), نَفْسٌ (= jiwa, diri), شَمْسٌ (= matahari)

Bahkan ada pula beberapa Isim Mudzakkar yang menggunakan Ta Marbuthah.
Contoh: حَمْزَة (= Hamzah), طَلْحَة (= Thalhah), مُعَاوِيَة (= Muawiyah)

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal kosakata yang baru anda temukan!

مُذَكَّر – مُؤَنَّث
MUDZAKKAR (Laki-laki) – MUANNATS (Perempuan)

Dalam tata bahasa Arab, dikenal adanya penggolongan Isim ke dalam Mudzakkar (laki-laki) atau Muannats (perempuan). Penggolongan ini ada yang memang sesuai dengan jenis kelaminnya (untuk manusia dan hewan) dan adapula yang merupakan penggolongan secara bahasa saja (untuk benda dan lain-lain).
Contoh Isim Mudzakkar Contoh Isim Muannats
عِيْسَى (= ‘Isa) مَرْيَم (= Maryam)
اِبْنٌ (= putera) بِنْتٌ (= puteri)
بَقَرٌ (= sapi jantan) بَقَرَةٌ (= sapi betina)
بَحْرٌ (= laut) رِيْحٌ (= angin)

Dari segi bentuknya, Isim Muannats biasanya ditandai dengan adanya tiga jenis huruf di belakangnya yaitu:
a) Ta Marbuthah ( ة ). Misalnya: فَاطِمَة (=Fathimah), مَدْرَسَة (=sekolah)
b) Alif Maqshurah ( ى ). Misalnya: سَلْمَى (=Salma), حَلْوَى (=manisan)
c) Alif Mamdudah ( اء ). Misalnya: أَسْمَاء (=Asma’), سَمْرَاء (=pirang)

Namun adapula Isim Muannats yang tidak menggunakan tanda-tanda di atas.
Misalnya: رِيْحٌ (= angin), نَفْسٌ (= jiwa, diri), شَمْسٌ (= matahari)

Bahkan ada pula beberapa Isim Mudzakkar yang menggunakan Ta Marbuthah.
Contoh: حَمْزَة (= Hamzah), طَلْحَة (= Thalhah), مُعَاوِيَة (= Muawiyah)

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal kosakata yang baru anda temukan!

مُفْرَد – مُثَنَّى – جَمْع

MUFRAD (Tunggal) – MUTSANNA (Dual) – JAMAK

Dari segi bilangannya, bentuk-bentuk Isim dibagi tiga:

1) ISIM MUFRAD (tunggal) kata benda yang hanya satu atau sendiri.
2) ISIM MUTSANNA (dual) kata benda yang jumlahnya dua.
3) ISIM JAMAK (plural) atau kata benda yang jumlahnya lebih dari dua.

Isim Mutsanna (Dual) bentuknya selalu beraturan yakni diakhiri dengan huruf Nun Kasrah ( نِ ), baik untuk Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats. Contoh:
Mufrad Tarjamah Mutsanna Tarjamah
رَجُلٌ = seorang laki-laki رَجُلاَنِ = dua orang laki-laki
جَنَّةٌ = sebuah kebun جَنَّتَانِ = dua buah kebun
مُسْلِمٌ = seorang muslim مُسْلِمَانِ = dua orang muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah مُسْلِمَتَانِ = dua orang muslimah

Adapun Isim Jamak, dari segi bentuknya terbagi dua macam:

1. JAMAK SALIM ( جمْع سَالِم ) yang bentuknya beraturan:
Mufrad Tarjamah Jamak Tarjamah
اِبْنٌ = seorang putera بَنُوْنَ = putera-putera
بِنْتٌ = seorang puteri بَنَاتٌ = puteri-puteri
مُسْلِمٌ = seorang muslim مُسْلِمُوْنَ = muslim-muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah مُسْلِمَاتٌ = muslimah-muslimah

2. JAMAK TAKSIR (جَمْع تَكْسِيْر ) yang bentuknya tidak beraturan:
Mufrad Tarjamah Jamak Tarjamah
رَسُوْلٌ = seorang rasul رُسُلٌ = rasul-rasul
عَالِمٌ = seorang alim عُلَمَاءُ = orang-orang alim
رَجُلٌ = seorang laki-laki رِجَالٌ = para laki-laki
اِمْرَأَةٌ = seorang perempuan نِسَاءٌ = perempuan-perempuan

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!

مُفْرَد – مُثَنَّى – جَمْع

MUFRAD (Tunggal) – MUTSANNA (Dual) – JAMAK

Dari segi bilangannya, bentuk-bentuk Isim dibagi tiga:

1) ISIM MUFRAD (tunggal) kata benda yang hanya satu atau sendiri.
2) ISIM MUTSANNA (dual) kata benda yang jumlahnya dua.
3) ISIM JAMAK (plural) atau kata benda yang jumlahnya lebih dari dua.

Isim Mutsanna (Dual) bentuknya selalu beraturan yakni diakhiri dengan huruf Nun Kasrah ( نِ ), baik untuk Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats. Contoh:
Mufrad Tarjamah Mutsanna Tarjamah
رَجُلٌ = seorang laki-laki رَجُلاَنِ = dua orang laki-laki
جَنَّةٌ = sebuah kebun جَنَّتَانِ = dua buah kebun
مُسْلِمٌ = seorang muslim مُسْلِمَانِ = dua orang muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah مُسْلِمَتَانِ = dua orang muslimah

Adapun Isim Jamak, dari segi bentuknya terbagi dua macam:

1. JAMAK SALIM ( جمْع سَالِم ) yang bentuknya beraturan:
Mufrad Tarjamah Jamak Tarjamah
اِبْنٌ = seorang putera بَنُوْنَ = putera-putera
بِنْتٌ = seorang puteri بَنَاتٌ = puteri-puteri
مُسْلِمٌ = seorang muslim مُسْلِمُوْنَ = muslim-muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah مُسْلِمَاتٌ = muslimah-muslimah

2. JAMAK TAKSIR (جَمْع تَكْسِيْر ) yang bentuknya tidak beraturan:
Mufrad Tarjamah Jamak Tarjamah
رَسُوْلٌ = seorang rasul رُسُلٌ = rasul-rasul
عَالِمٌ = seorang alim عُلَمَاءُ = orang-orang alim
رَجُلٌ = seorang laki-laki رِجَالٌ = para laki-laki
اِمْرَأَةٌ = seorang perempuan نِسَاءٌ = perempuan-perempuan

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!

اِسْم مَوْصُوْل
ISIM MAUSHUL (Kata Sambung)

Isim Maushul (Kata Sambung) adalah Isim yang berfungsi untuk menghubungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Dalam bahasa Indonesia, Kata Sambung semacam ini diwakili oleh kata: “yang”.

Bentuk asal/dasar dari Isim Maushul adalah: الَّذِيْ (=yang). Perhatikan contoh penggunaan Isim Maushul dalam menggabungkan dua kalimat di bawah ini:
Kalimat I جَاءَ الْمُدَرِّسُ = datang guru itu
Kalimat II اَلْمُدَرِّسُ يَدْرُسُ الْفِقْهَ = guru itu mengajar Fiqh
Kalimat III جَاءَ الْمُدَرِّسُ الَّذِيْ يَدْرُسُ الْفِقْهَ = datang guru yang mengajar Fiqh

Kalimat III menghubungkan Kalimat I dan II dengan Isim Maushul: الَّذِيْ

Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Muannats maka: الَّذِيْ menjadi: الَّتِيْ
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَةُ الَّتِيْ تَدْرُسُ الْفِقْهَ = datang guru (pr) yang mengajar Fiqh itu

Bila Isim Maushul itu digunakan untuk Mutsanna (Dual) maka:

1) الَّذِيْ menjadi: الَّذَانِ sedangkan الَّتِيْ menjadi: الَّتَانِ
جَاءَ الْمُدَرِّسَانِ الَّذَانِ يَدْرُسَانِ الْفِقْهَ = datang dua orang guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَتَانِ الَّتَانِ تَدْرُسَانِ الْفِقْهَ = datang dua orang guru (pr) yang mengajar Fiqh

Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Jamak maka:

1) الَّذِيْ menjadi: الَّذِيْنَ sedangkan: الَّتِيْ menjadi: اللاَّتِيْ/اللاَّئِيْ
جَاءَ الْمُدَرِّسُوْنَ الَّذِيْنَ يَدْرُسُوْنَ الْفِقْهَ = datang guru-guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَاتُ اللاَّتِيْ يَدْرُسْنَ الْفِقْهَ = datang guru-guru (pr) yang mengajar Fiqh itu

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!

اِسْم مَوْصُوْل
ISIM MAUSHUL (Kata Sambung)

Isim Maushul (Kata Sambung) adalah Isim yang berfungsi untuk menghubungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Dalam bahasa Indonesia, Kata Sambung semacam ini diwakili oleh kata: “yang”.

Bentuk asal/dasar dari Isim Maushul adalah: الَّذِيْ (=yang). Perhatikan contoh penggunaan Isim Maushul dalam menggabungkan dua kalimat di bawah ini:
Kalimat I جَاءَ الْمُدَرِّسُ = datang guru itu
Kalimat II اَلْمُدَرِّسُ يَدْرُسُ الْفِقْهَ = guru itu mengajar Fiqh
Kalimat III جَاءَ الْمُدَرِّسُ الَّذِيْ يَدْرُسُ الْفِقْهَ = datang guru yang mengajar Fiqh

Kalimat III menghubungkan Kalimat I dan II dengan Isim Maushul: الَّذِيْ

Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Muannats maka: الَّذِيْ menjadi: الَّتِيْ
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَةُ الَّتِيْ تَدْرُسُ الْفِقْهَ = datang guru (pr) yang mengajar Fiqh itu

Bila Isim Maushul itu digunakan untuk Mutsanna (Dual) maka:

1) الَّذِيْ menjadi: الَّذَانِ sedangkan الَّتِيْ menjadi: الَّتَانِ
جَاءَ الْمُدَرِّسَانِ الَّذَانِ يَدْرُسَانِ الْفِقْهَ = datang dua orang guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَتَانِ الَّتَانِ تَدْرُسَانِ الْفِقْهَ = datang dua orang guru (pr) yang mengajar Fiqh

Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Jamak maka:

1) الَّذِيْ menjadi: الَّذِيْنَ sedangkan: الَّتِيْ menjadi: اللاَّتِيْ/اللاَّئِيْ
جَاءَ الْمُدَرِّسُوْنَ الَّذِيْنَ يَدْرُسُوْنَ الْفِقْهَ = datang guru-guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَاتُ اللاَّتِيْ يَدْرُسْنَ الْفِقْهَ = datang guru-guru (pr) yang mengajar Fiqh itu

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!

صِفَة-مَوْصُوْف / مُضَاف-مُضَاف إِلَيْهِ / مُبْتَدَأ-خَبَر

SIFAT – MAUSHUF (Sifat dan Yang Disifati)
MUDHAF – MUDHAF ILAIH (Kata Majemuk)
MUBTADA’ – KHABAR (Subjek dan Predikat)

Berkaitan dengan Nakirah dan Ma’rifah, khususnya penggunaan Alif-Lam di awal kata atau baris Tanwin di akhir kata, ada beberapa pola kalimat (rangkaian kata) yang perlu kita ketahui perbedaannya dengan baik. Yaitu:

1. SHIFAT ( صِفَة ) dan MAUSHUF ( مَوْصُوْف )
Bila rangkaian dua buah Isim atau lebih, semuanya dalam keadaan Nakirah (tanwin) atau semuanya dalam keadaan Ma’rifah (alif-lam) maka kata yang di depan dinamakan Maushuf (yang disifati) sedang yang di belakang adalah Shifat.

بَيْتٌ جَدِيْدٌ
= (sebuah) rumah baru

اَلْبَيْتُ الْجَدِيْدُ
= rumah yang baru

بَيْتٌ كَبِيْرٌ وَاسِعٌ
= (sebuah) rumah besar lagi luas

اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ الْوَاسِعُ
= rumah yang besar lagi luas

2. MUDHAF ( مُضَاف ) dan MUDHAF ILAIH ( مُضَاف إِلَيْه )

Bila dua buah Isim atau lebih digabung menjadi sebuah kesatuan kata yang baru (Kata Majemuk) maka satu kata yang di depan dinamakan Mudhaf sedang kata yang di belakang dinamakan Mudhaf Ilaih. Kombinasi Mudhaf-Mudhaf Ilaih ini membentuk Isim Ma’rifah. Adapun ciri-ciri Mudhaf dan Mudhaf Ilaih adalah:

a) Mudhaf selalu dalam keadaan Nakirah (tanpa Alif-Lam) tapi tanpa tanwin. Sedangkan Mudhaf Ilaih selalu dalam keadaan Ma’rifah, baik dengan Alif-Lam maupun dengan Isim Ma’rifah yang lain (misalnnya Isim Alam atau Dhamir). كِتَابُ الْمُدَرِّسِ (=buku guru) —> Mudhaf Ilaih dengan Alif-Lam
بَيْتُ زَيْدٍ (=rumah Zaid guru) —> Mudhaf Ilaih dengan Isim Alam
بَيْتُهُمْ (=rumah mereka) —> Mudhaf Ilaih dengan Dhamir هُمْ (=mereka)
Mudhaf Ilaih huruf akhirnya selalu berbaris Kasrah (perhatikan contoh pertama dan kedua) kecuali untuk Dhamir karena Dhamir sifatnya tetap tidak berubah.

b) Bila Mudhaf berupa Isim Mutsanna atau Jamak Mudzakkar Salim maka huruf Nun di akhirnya dihilangkan. Perhatikan contoh di bawah ini:
مُسْلِمَا الْجَاوِيِّ (=dua muslim Jawa) —> Mutsanna
مُسْلِمُو الْجَاوِيِّ (=muslim-muslim Jawa) —> Jamak Mudzakkar Salim

c) Bila Mudhaf Ilaih lebih dari satu kata maka Isim Ma’rifah yang ber-Alif-Lam hanya diberikan pada kata yang terakhir. Perhatikan contoh berikut:
مِفْتَاحُ بَيْتِ الْمُدَرِّسِ (=kunci rumah guru)
مِفْتَاحُ بَيْتِ مُدَرِّسِ الْفِقْهِ (=kunci rumah guru Fiqh)

Baik Shifat-Maushuf maupun Mudhaf-Mudhaf Ilaih, bukanlah merupakan sebuah Kalimat Sempurna menurut Tata Bahasa Arab, sebanyak apapun kata yang menyusunnya. Berbeda halnya dengan Mubtada’-Khabar yang merupakan sebuah Jumlah atau Kalimat Sempurna, meskipun hanya terdiri dari dua kata.

3. MUBTADA’ ( مُبْتَدَأ ) dan KHABAR ( خَبَر )
Sebuah JUMLAH ISMIYYAH (جُمْلَة اِسْمِيَّة) atau Kalimat Nominal (kalimat sempurna yang semua katanya adalah Isim), selalu terdiri dari dua bagian kalimat yakni Mubtada’ (Subjek) dan Khabar (Predikat). Pada umumnya seluruh Mubtada’ dalam keadaan Ma’rifah sedangkan seluruh Khabar (Predikat) dalam keadaan Nakirah. Perhatikan contoh kalimat-kalimat di bawah ini:
Jumlah Ismiyyah Mubtada’ Khabar
اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ
(=rumah itu besar) (=rumah itu) (=besar)
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌ اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌ
(=rumah yang besar itu mahal) (=rumah yang besar itu) (=mahal)
بَيْتُ الْكَبِيْرِ جَمِيْلٌ بَيْتُ الْكَبِيْرِ جَمِيْلٌ
(=rumah besar itu indah) (=rumah besar itu) (= indah)
مِفْتَاحُ بَيْتِ الْكَبِيْرِ صَغِيْرٌ مِفْتَاحُ بَيْتِ الْكَبِيْرِ صَغِيْرٌ
(=kunci rumah besar itu kecil) (=kunci rumah besar itu) (=kecil)

Dari contoh kalimat di atas diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Baik Mubada’ maupun Khabar, bisa terdiri dari satu kata ataupun lebih.
2. Mubtada’ pada umumnya selalu dalam keadaan Ma’rifah.
3. Khabar pada umumnya selalu dalam keadaan Nakirah.
4. Mubtada’ yang terdiri dari beberapa kata bisa merupakan Shifat-Maushuf (contoh kalimat II) maupun Mudhaf-Mudhaf Ilaih (contoh kalimat III dan IV)

Perbedaan makna antara Mubtada’ (Shifat-Maushuf) pada kalimat II dengan Mubtada’ (Mudhaf-Mudhaf Ilaih) pada kalimat III bisa dijelaskan sebagai berikut: pada kalimat II menyatakan “rumah yang besar” artinya semua rumah (rumah mana saja) yang besar pasti mahal, sedangkan pada kalimat III menyatakan “rumah besar itu” menunjukkan pada satu rumah tertentu yang diketahui oleh si pembicara dan lawan bicara bahwa rumah itu indah.

Sebagai penutup, untuk mengingat-ingat perbedaan antara Shifat-Maushuf, Mudhaf-Mudhaf Ilaih dan Mubtada’-Khabar, perhatikanlah perbedaan bentuk dan makna masing-masing pola tersebut dalam kalimat sederhana di bawah ini:

Shifat-Maushuf

Mudhaf-Mudhaf Ilaih

Mubtada’-Khabar

بَيْتٌ جَدِيْدٌ

بَيْتُ الْجَدِيْدِ

اَلْبَيْتُ جَدِيْدٌ

(sebuah rumah baru)

(rumah baru)

(rumah itu baru)

اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ

بَيْتُ الْكَبِيْرِ

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ

(rumah yang besar)

(rumah besar)

(rumah itu besar)

Selanjutnya kita akan membahas tentang Isim Dhamir atau Kata Ganti.

ضَمِيْر
DHAMIR (Kata Ganti)

Dhamir atau “kata ganti” ialah Isim yang berfungsi untuk menggantikan atau mewakili penyebutan sesuatu/seseorang maupun sekelompok benda/orang.

Contoh:

أَحْمَدُ يَرْحَمُ اْلأَوْلاَدَ = Ahmad menyayangi anak-anak
هُوَ يَرْحَمُهُمْ = Dia menyayangi mereka

Pada contoh di atas, kata أَحْمَدُ diganti dengan هُوَ (=dia), sedangkan الأَوْلاَد (=anak-anak) diganti dengan هُمْ (=mereka).
Kata هُوَ dan هُمْ dinamakan Dhamir atau Kata Ganti.

Menurut fungsinya, ada dua golongan Dhamir yaitu:

1) DHAMIR RAFA’ ( ضَمِيْر رَفْع ) yang berfungsi sebagai Subjek.
2) DHAMIR NASHAB ( ضَمِيْر نَصْب ) yang berfungsi sebagai Objek.

Dhamir Rafa’ dapat berdiri sendiri sebagai satu kata, sedangkan Dhamir Nashab tidak dapat berdiri sendiri atau harus terikat dengan kata lain dalam kalimat.

Dalam kalimat: هُوَ يَرْحَمُهُمْ (= Dia menyayangi mereka):
– Kata هُوَ (=dia) adalah Dhamir Rafa’, sedangkan:
– Kata هُمْ (=mereka) adalah Dhamir Nashab.

ضَمِيْر رَفْع

DHAMIR RAFA’ (Kata Ganti Subjek)

Semua Dhamir dapat dikelompokkan menjadi tiga macam:

1. MUTAKALLIM ( مُتَكَلِّم ) atau pembicara (orang pertama).
a) Mufrad: أَنَا (= aku, saya) untuk Mudzakkar maupun Muannats.
b) Mutsanna/Jamak: نَحْنُ (= kami, kita) untuk Mudzakkar maupun Muannats.

2. MUKHATHAB ( مُخَاطَب ) atau lawan bicara (orang kedua). Terdiri dari:
a) Mufrad: أَنْتَ (= engkau) untuk Mudzakkar dan أَنْتِ untuk Muannats.
b) Mutsanna: أَنْتُمَا (= kamu berdua) untuk Mudzakkar maupun Muannats.
c) Jamak: أَنْتُمْ (= kalian) untuk Mudzakkar dan أَنْتُنَّ untuk Muannats.

3. GHAIB ( غَائِب ) atau tidak berada di tempat (orang ketiga). Terdiri dari:
a) Mufrad: هُوَ (= dia) untuk Mudzakkar dan هِيَ untuk Muannats.
b) Mutsanna: هُمَا (= mereka berdua) untuk Mudzakkar maupun Muannats.
c) Jamak: هُمْ (= mereka) untuk Mudzakkar dan هُنَّ untuk Muannats.

Hafalkanlah keduabelas bentuk Dhamir Rafa’ di atas beserta artinya masing-masing sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya!

ضَمِيْر نَصْب
DHAMIR NASHAB (Kata Ganti Objek)

Dhamir Nashab adalah turunan (bentuk lain) dari Dhamir Rafa’ yaitu:

Dhamir Rafa’

Dhamir Nashab

Dhamir Rafa’

Dhamir Nashab

أَنَا

ي

أَنْتُنَّ

كُنَّ

نَحْنُ

نَا

هُوَ

هُ

أَنْتَ

كَ

هِيَ

هَا

أَنْتِ

كِ

هُمَا

هُمَا

أَنْتُمَا

كُمَا

هُمْ

هُمْ

أَنْتُمْ

كُمْ

هُنَّ

هُنَّ

Dhamir Nashab berfungsi sebagai objek dan tidak dapat berdiri sendiri; ia terikat dengan kata lain dalam suatu kalimat, baik itu dengan Isim, Fi’il ataupun Harf.

1) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Isim dalam kalimat:

أَنَا مُسْلِمٌ، دِيْنِيَ اْلإِسْلاَمُ
= saya seorang muslim, agamaku Islam

نَحْنُ مُسْلِمُوْنَ، دِيْنُنَا اْلإِسْلاَمُ
= kami orang-orang muslim, agama kami Islam

أَنْتَ مُسْلِمٌ، دِيْنُكَ اْلإِسْلاَمُ
= engkau (lk) seorang muslim, agamamu Islam

أَنْتِ مُسْلِمَةٌ، دِيْنُكِ اْلإِسْلاَمُ
= engkau (pr) seorang muslim, agamamu Islam

2) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Fi’il dalam kalimat:

أَنْتُمَا مَخْلُوْقَانِ، اَللهُ خَلَقَكُمَا
= kamu berdua adalah makhluq, Allah menciptakan kamu berdua

أَنْتُمْ مَخْلُوْقُوْنَ، اَللهُ خَلَقَكُمْ
= kalian (lk) adalah makhluq, Allah menciptakan kalian

أَنْتُنَّ مَخْلُوْقَاتٌ، اَللهُ خَلَقَكُنَّ
= kalian (pr) adalah makhluq, Allah menciptakan kalian

هُوَ مَخْلُوْقٌ، اَللهُ خَلَقَهُ
= dia (lk) adalah makhluq, Allah menciptakannya

3) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Harf dalam kalimat:

هِيَ نَاجِحٌ، لَهَا شَهَادَةٌ
= dia (pr) lulus, untuknya sebuah ijazah

هُمَا نَاجِحَانِ، لَهُمَا شَهَادَتَانِ
= mereka berdua lulus, untuk mereka berdua: dua buah ijazah

هُمْ نَاجِحُوْنَ، لَهُمْ شَهَادَاتٌ
= mereka (lk) lulus, untuk mereka ijazah-ijazah

هُنَّ نَاجِحَاتٌ، لَهُنَّ شَهَادَاتٌ
= mereka (pr) lulus, untuk mereka ijazah-ijazah

Hafalkanlah semua Dhamir Nashab di atas beserta artinya masing-masing sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya!

فِعْل مَاضِي – فِعْل مُضَارِع
FI’IL MADHY (Kata Kerja Lampau)
FI’IL MUDHARI’ (Kata Kerja Kini/Nanti)

Fi’il dibagi atas dua golongan besar menurut waktu terjadinya:

1. FI’IL MADHY ( فِعْل مَاضِي ) atau Kata Kerja Lampau.
2. FI’IL MUDHARI’ ( فِعْل مُضَارِع ) atau Kata Kerja Kini/Nanti.

Baik Fi’il Madhy maupun Fi’il Mudhari’, senantiasa mengalami perubahan bentuk sesuai dengan jenis Dhamir dari Fa’il ( فَاعِل ) atau Pelaku dari pekerjaan itu. Untuk Fi’il Madhy, perubahan bentuk tersebut terjadi di akhir kata, sedangkan untuk Fi’il Mudhari’, perubahan bentuknya terjadi di awal kata dan di akhir kata.
Dhamir Fi’il Madhy Fi’il Mudhari’ Tarjamah
أَنَا فَعَلْتُ أَفْعَلُ = saya mengerjakan
نَحْنُ فَعَلْنَا نَفْعَلُ = kami mengerjakan
أَنْتَ فَعَلْتَ تَفْعَلُ = engkau (lk) mengerjakan
أَنْتِ فَعَلْتِ تَفْعَلِيْنَ = engkau (pr) mengerjakan
أَنْتُمَا فَعَلْتُمَا تَفْعَلاَنِ = kamu berdua mengerjakan
أَنْتُمْ فَعَلْتُمْ تَفْعَلُوْنَ = kalian (lk) mengerjakan
أَنْتُنَّ فَعَلْتُنَّ تَفْعَلْنَ = kalian (pr) mengerjakan
هُوَ فَعَلَ يَفْعَلُ = dia (lk) mengerjakan
هِيَ فَعَلَتْ تَفْعَلُ = dia (pr) mengerjakan
هُمَا فَعَلاَ يَفْعَلاَنِ = mereka berdua (lk) mengerjakan
هُمَا فَعَلَتَا تَفْعَلاَنِ = mereka berdua (pr) mengerjakan
هُمْ فَعَلُوْا يَفْعَلُوْنَ = mereka (lk) mengerjakan
هُنَّ فَعَلْنَ يَفْعَلْنَ = mereka (pr) mengerjakan

Perlu diketahui, bahwa dalam sebuah JUMLAH FI’LIYYAH ( جُمْلَة فِعْلِيَّة ) atau Kalimat Verbal (kalimat sempurna yang mengandung Kata Kerja), letak Fa’il (Pelaku) bisa di depan dan bisa pula di belakang Fi’il (Kata Kerja).

1) Untuk Dhamir Ghaib atau “orang ketiga” ( هُنَّ – هُمْ – هُمَا – هِيَ – هُوَ ).

a. Bila Fa’il mendahului Fi’il maka perubahan bentuk dari Fi’il tersebut harus mengikuti ketentuan Mudzakkar/Muannats dan Mufrad/Mutsanna/Jamak.

Contoh Jumlah Fi’liyyah dengan Fi’il Madhy yang terletak setelah Fa’il:
اَلْمُسْلِمُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ = muslim itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَةُ دَخَلَتِ الْمَسْجِدَ = muslimah itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَانِ دَخَلاَ الْمَسْجِدَ = dua muslim itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَتَانِ دَخَلَتَا الْمَسْجِدَ = dua muslimah itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمُوْنَ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ = kaum muslimin memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَاتُ دَخَلْنَ الْمَسْجِدَ = kaum muslimat memasuki masjid

Contoh Jumlah Fi’liyyah dengan Fi’il Mudhari’ yang terletak setelah Fa’il:
اَلْمُسْلِمُ يَدْخُلُ الْمَسْجِدَ = muslim itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَةُ تَدْخُلُ الْمَسْجِدَ = muslimah itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَانِ يَدْخُلاَنِ الْمَسْجِدَ = dua muslim itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَتَانِ تَدْخُلاَنِ الْمَسْجِدَ = dua muslimah itu memasuki masjid
اَلْمُسْلِمُوْنَ يَدْخُلُوْنَ الْمَسْجِدَ = kaum muslimin memasuki masjid
اَلْمُسْلِمَاتُ يَدْخُلْنَ الْمَسْجِدَ = kaum muslimat memasuki masjid

b. Sedangkan bila Fi’il mendahului Fa’il, maka bentuk Fi’il tersebut selalu Mufrad, (meskipun Fa’il-nya Mutsanna atau Jamak). Tetapi untuk bentuk Mudzakkar dan Muannats tetap dibedakan dengan adanya huruf Ta Ta’nits ( ت تَأْنِيْث ) atau “Ta Penanda Muannats” pada Fi’il yang Fa’il-nya adalah Muannats.

Contoh Jumlah Fi’liyyah dengan Fi’il Madhy yang terletak sebelum Fa’il:
دَخَلَ اَلْمُسْلِمُ الْمَسْجِدَ = muslim itu memasuki masjid
دَخَلَتِ الْمُسْلِمَةُ الْمَسْجِدَ = muslimah itu memasuki masjid
دَخَلَ الْمُسْلِمَانِ الْمَسْجِدَ = dua muslim itu memasuki masjid
دَخَلَتِ الْمُسْلِمَتَانِ الْمَسْجِدَ = dua muslimah itu memasuki masjid
دَخَلَ الْمُسْلِمُوْنَ الْمَسْجِدَ = kaum muslimin memasuki masjid
دَخَلَتِ الْمُسْلِمَاتُ الْمَسْجِدَ = kaum muslimat memasuki masjid

Contoh Jumlah Fi’liyyah dengan Fi’il Mudhari’ yang terletak sebelum Fa’il:
يَدْخُلُ اَلْمُسْلِمُ الْمَسْجِدَ = muslim itu memasuki masjid
تَدْخُلُ الْمُسْلِمَةُ الْمَسْجِدَ = muslimah itu memasuki masjid
يَدْخُلُ الْمُسْلِمَانِ الْمَسْجِدَ = dua muslim itu memasuki masjid
تَدْخُلُ الْمُسْلِمَتَانِ الْمَسْجِدَ = dua muslimah itu memasuki masjid
يَدْخُلُ الْمُسْلِمُوْنَ الْمَسْجِدَ = kaum muslimin memasuki masjid
تَدْخُلُ الْمُسْلِمَاتُ الْمَسْجِدَ = kaum muslimat memasuki masjid

2) Untuk Fa’il lainnya ( أَنْتُنَّ – أَنْتُمْ – أَنْتُمَا – أَنْتَ – أَنْتِ – نَحْنُ – أَنَا )

tetap mengikuti pola perubahan bentuk Fi’il sebagaimana mestinya.
Fi’il Madhy Fi’il Mudhari’

دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ

(أَنَا) أَدْخُلُ الْمَسْجِدَ
saya telah memasuki masjid saya memasuki masjid

دَخَلْنَا الْمَسْجِدَ

(نَحْنُ) نَدْخُلُ الْمَسْجِدَ
kami telah memasuki masjid kami memasuki masjid

دَخَلْتَ الْمَسْجِدَ

(أَنْتَ) تَدْخُلُ الْمَسْجِدَ
engkau telah memasuki masjid engkau memasuki masjid

دَخَلْتِ الْمَسْجِدَ

(أَنْتِ) تَدْخُلِيْنَ الْمَسْجِدَ
engkau (pr) telah memasuki masjid engkau (pr) memasuki masjid

دَخَلْتُمَا الْمَسْجِدَ

(أَنْتُمَا) تَدْخُلاَنِ الْمَسْجِدَ
kamu berdua telah memasuki masjid kamu berdua memasuki masjid

دَخَلْتُمُ الْمَسْجِدَ

(أَنْتُمْ) تَدْخُلُوْنَ الْمَسْجِدَ
kalian (lk) telah memasuki masjid kalian (lk) memasuki masjid

دَخَلْتُنَّ الْمَسْجِدَ

(أَنْتُنَّ) تَدْخُلْنَ الْمَسْجِدَ
kalian (pr) telah memasuki masjid kalian (pr) memasuki masjid

Carilah sebanyak-banyaknya contoh-contoh Fi’il Madhy dan Fi’il Mudhari’ dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

فِعْل اْلأمْر
FI’IL AMAR (Kata Kerja Perintah)

Fi’il Amar atau Kata Kerja Perintah adalah fi’il yang berisi pekerjaan yang dikehendaki oleh Mutakallim (pembicara) sebagai orang yang memerintah agar dilakukan oleh Mukhathab (lawan bicara) sebagai orang yang diperintah.

Perlu diingat bahwa yang menjadi Fa’il (Pelaku) dari Fi’il Amar (Kata Kerja Perintah) adalah Dhamir Mukhathab (lawan bicara) atau “orang kedua” sebagai orang yang diperintah untuk melakukan pekerjaan yang dimaksud. Dhamir Mukhathab terdiri dari: أَنْتُنَّ – أَنْتُمْ – أَنْتُمَا – أَنْتِ – أَنْتَ .
Fa’il Fi’il Amar Tarjamah
أَنْتَ اِفْعَلْ = (engkau -lk) kerjakanlah!
أَنْتِ اِفْعَلِيْ = (engkau -pr) kerjakanlah!
أَنْتُمَا اِفْعَلاَ = (kamu berdua) kerjakanlah!
أَنْتُمْ اِفْعَلُوْا = (kalian -lk) kerjakanlah!
أَنْتُنَّ اِفْعَلْنَ = (kalian -pr) kerjakanlah!

Contoh dalam kalimat: dari fi’il عَمِلَ (= beramal, bekerja) menjadi Fi’il Amar:

اِعْمَلْ لآِخِرَتِكَ
= bekerjalah untuk akhiratmu (lk)

اِعْمَلِيْ لآِخِرَتِكِ
= bekerjalah untuk akhiratmu (pr)

اِعْمَلاَ لآِخِرَتِكُمَا
= bekerjalah untuk akhirat kamu berdua

اِعْمَلُوْا لآِخِرَتِكُمْ
= bekerjalah untuk akhirat kalian (lk)

اِعْمَلْنَ لآِخِرَتِكُنَّ
= bekerjalah untuk akhirat kalian (pr)

Dari fi’il أَقَامَ (=mendirikan) menjadi Fi’il Amar:

أَقِمْ صَلاَتَكَ
= dirikanlah shalatmu (lk)

أَقِمِيْ صَلاَتَكِ
= dirikanlah shalatmu (pr)

أَقِمَا صَلاَتَكُمَا
= dirikanlah shalat kamu berdua

أَقِيْمُوْا صَلاَتَكُمْ
= dirikanlah shalat kalian (lk)

أَقِمْنَ صَلاَتَكُنَّ
= dirikanlah shalat kalian (pr)

Dari fi’il كَبَّرَ (=membesarkan) menjadi Fi’il Amar:

كَبِّرْ رَبَّكَ
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kamu (lk)

كَبِّرِيْ رَبَّكِ
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kamu (pr)

كَبِّرَا رَبَّكُمَا
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kamu berdua

كَبِّرُوْا رَبَّكُمْ
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kalian (lk)

كَبِّرْنَ رَبَّكُنَّ
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kalian (pr)

Sebagai catatan, bila huruf akhir yang sukun dari sebuah Fi’il bertemu dengan awalan Alif-Lam dari sebuah Isim Ma’rifah, maka baris sukun dari huruf akhir fi’il tersebut berubah menjadi baris kasrah. Contoh:
الصَّلاَةَ

+

أَقِمْ

=

أَقِمِ الصَّلاَةَ

(=shalat)

(=dirikanlah)

(=dirikanlah shalat)

Carilah contoh-contoh Fi’il Amar dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

فِعْل النَّهْي

FI’IL NAHY (Kata Kerja Larangan)

Fi’il Nahy atau “kata kerja larangan” adalah bentuk negatif dari Fi’il Amar. Untuk membentuk Fi’il Nahy, kita tinggal menambahkan harf لاَ (=jangan) dan memasukkan huruf تَ di awal Fi’il Amar. Perhatikan polanya di bawah ini:
Fa’il Fi’il Amar Fi’il Nahy Tarjamah
أَنْتَ اِفْعَلْ لاَ تَفْعَلْ = jangan (engkau -lk) kerjakan
أَنْتِ اِفْعَلِيْ لاَ تَفْعَلِيْ = jangan (engkau -pr) kerjakan
أَنْتُمَا اِفْعَلاَ لاَ تَفْعَلاَ = jangan (kamu berdua) kerjakan
أَنْتُمْ اِفْعَلُوْا لاَ تَفْعَلُوْا = jangan (kalian -lk) kerjakan
أَنْتُنَّ اِفْعَلْنَ لاَ تَفْعَلْنَ = jangan (kalian -pr) kerjakan

Contoh dalam kalimat:

Dari fi’il خَافَ (= takut) dan fi’il حَزِنَ (= sedih) menjadi Fi’il Nahy:

لاَ تَخَفْ وَلاَ تَحْزَنْ
= jangan (engkau -lk) takut dan jangan sedih

لاَ تَخَافِيْ وَلاَ تَحْزَنِيْ
= jangan (engkau -pr) takut dan jangan sedih

لاَ تَخَافَا وَلاَ تَحْزَنَا
= jangan (kamu berdua) takut dan jangan sedih

لاَ تَخَافُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا
= jangan (kalian -lk) takut dan jangan sedih

لاَ تَخَفْنَ وَلاَ تَحْزَنَّ
= jangan (kalian -pr) takut dan jangan sedih

Carilah contoh-contoh Fi’il Nahy dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

فِعْل مَعْلُوْم – فِعْل مَجْهُوْل
FI’IL MA’LUM (Kata Kerja Aktif) – FI’IL MAJHUL (Kata Kerja Pasif)

Dalam tata bahasa Indonesia, dikenal istilah Kata Kerja Aktif dan Kata Kerja Pasif. Perhatikan contoh berikut ini:

Abubakar membuka pintu. –> kata “membuka” disebut Kata Kerja Aktif.
Pintu dibuka oleh Abubakar. –> kata “dibuka” disebut Kata Kerja Pasif.

Dalam tata bahasa Arab, dikenal pula istilah Fi’il Ma’lum dan Fi’il Majhul yang fungsinya mirip dengan Kata Kerja Aktif dan Kata Kerja Pasif.

Perhatikan contoh kalimat di bawah ini:

ضَرَبَ عُمَرُ

ضُرِبَ عُمَرُ

(= Umar memukul)

(= Umar dipukul)

Fi’il ضَرَبَ (=memukul) adalah Fi’il Ma’lum (Kata Kerja Aktif). Fa’il atau Pelakunya adalah Umar bersifat aktif (melakukan pekerjaan yakni memukul).

Fi’il ضُرِبَ (=dipukul) adalah Fi’il Majhul (Kata Kerja Pasif). Fa’il atau Pelakunya tidak diketahui (tidak disebutkan). Untuk itu, dalam Fi’il Majhul, dikenal istilah Naib al-Fa’il ( نَائِبُ الْفَاعِل ) atau Pengganti Fa’il (Pelaku). Dalam contoh di atas, Umar adalah Naib al-Fa’il (pengganti Pelaku).

Fi’il Majhul dibentuk dari Fi’il Ma’lum dengan perubahan sebagai berikut:
a) Huruf pertamanya menjadi berbaris Dhammah
b) Huruf sebelum huruf terakhirnya menjadi berbaris Kasrah untuk Fi’il Madhy dan menjadi berbaris Fathah untuk Fi’il Mudhari’.

Fi’il Madhy

Fi’il Mudhari’

Fi’il Ma’lum

Fi’il Majhul

Fi’il Ma’lum

Fi’il Majhul

فَعَلَ

فُعِلَ

يَفْعَلُ

يُفْعَلُ

Contoh-contoh dalam kalimat:

Fi’il Madhy أَمَرَ (=memerintah) menjadi Fi’il Majhul أُمِرَ (=diperintah):

أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللهَ
= aku diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْنَا أَنْ نَعْبُدَ اللهَ
= kami diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْتَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ
= engkau (lk) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْتِ أَنْ تَعْبُدِي اللهَ
= engkau (pr) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْتُمَا أَنْ تَعْبُدَا اللهَ
= kamu berdua diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْتُمْ أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ
= kalian (lk) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْتُنَّ أَنْ تَعْبُدْنَ اللهَ
= kalian (pr) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرَ أَنْ يَعْبُدَ اللهَ
= dia (lk) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرَتْ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ
= dia (pr) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرَا أَنْ يَعْبُدَا اللهَ
= mereka (2 lk) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرَتَا أَنْ تَعْبُدَا اللهَ
= mereka (2 pr) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرُوْا أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ
= mereka (lk) diperintah agar menyembah Allah

أُمِرْنَ أَنْ يَعْبُدْنَ اللهَ
= mereka (pr) diperintah agar menyembah Allah

Fi’il Mudhari’ يَعْرِفُ (=mengenal) menjadi Fi’il Majhul يُعْرَفُ (=dikenal):

أُعْرَفُ بِكَلاَمِيْ
= aku dikenal dari bicaraku

نُعْرَفُ بِكَلاَمِنَا
= kami dikenal dari bicara kami

تُعْرَفُ بِكَلاَمِكَ
= engkau (lk) dikenal dari bicaramu

تُعْرَفِيْنَ بِكَلاَمِكِ
= engkau (pr) dikenal dari bicaramu

تُعْرَفَانِ بِكَلاَمِكُمَا
= kamu berdua dikenal dari bicara kamu berdua

تُعْرَفُوْنَ بِكَلاَمِكُمْ
= kalian (lk) dikenal dari bicara kalian

تُعْرَفْنَ بِكَلاَمِكُنَّ
= kalian (pr) dikenal dari bicara kalian

يُعْرَفُ بِكَلاَمِهِ
= dia (lk) dikenal dari bicaranya

تُعْرَفُ بِكَلاَمِهَا
= dia (pr) dikenal dari bicaranya

يُعْرَفَانِ بِكَلاَمِهِمَا
= mereka (2 lk) dikenal dari bicara mereka

يُعْرَفُوْنَ بِكَلاَمِهِمْ
= mereka (lk) dikenal dari bicara mereka

يُعْرَفْنَ بِكَلاَمِهِنَّ
= mereka (pr) dikenal dari bicara mereka

Carilah contoh-contoh Fi’il Majhul dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

أَدَوَاتُ الاِسْتِفْهَام
ADAWAT AL-ISTIFHAM (Kata Tanya)

Di bawah ini dicantumkan sejumlah Kata Tanya dengan contohnya masing-masing dalam kalimat beserta contoh jawabannya:
Kata Tanya Contoh Kalimat Tanya Contoh Jawaban
هَلْ / أَ هَلْ أََنْتَ مَرِيْضٌ ؟ لاَ، أَنَا فِيْ صِحَّةٍ
(=apakah) (=apakah engkau sakit?) (=tidak, saya sehat)
مَاذَا / مَا مَاذَا تَكْتُبُ ؟ أَكْتُبُ رِسَالَةً
(=apa) (=apa yang kau tulis?) (=aku menulis surat)
مَنْ ذَا / مَنْ مَنْ كَتَبَ هَذَا ؟ أَحْمَدُ كَتَبَ هَذَا
(=siapa) (=siapa yang menulis ini?) (=Ahmad yang menulis ini)
أَيَّةُ / أَيُّ أَيُّ قَلَمٍ تُحِبُّ ؟ أُحِبُّ قَلَمَ اْلأَسْوَدِ
(=yang mana) (=pena yang mana kau suka?) (=aku suka pena yang hitam)
مَتَى مَتَى تَذْهَبُ ؟ أَذْهَبُ غَدًا
(=kapan) (=kapan engkau pergi?) (=aku pergi besok)
أَيْنَ أَيْنَ تَذْهَبُ ؟ أَذْهَبُ إِلَى الْقَرْيَةِ
(=dimana) (=dimana engkau pergi?) (=aku pergi ke kampung)
كَيْفَ كَيْفَ تَذْهَبُ ؟ أَذْهَبُ بِالْحَافِلَةِ
(=bagaimana) (=bagaimana engkau pergi?) (=aku pergi dengan bus)
كَمْ كَمْ يَوْمًا تَذْهَبُ ؟ أَذْهَبُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ
(=berapa) (=berapa hari engkau pergi?) (=aku pergi selama tiga hari)
لِمَاذَا / لِمَا لِمَاذَا تَأَخَّرْتَ ؟ الطَّرِيْقُ مُزْدَحِمَةٌ
(=mengapa) (=mengapa kau terlambat?) (=jalanan padat)
لِمَ لِمَ سَأَلْتَ ذَلِكَ ؟ حَقِيْقَةً لاَ أَفْهَمُ
(=kenapa) (=kenapa kau bertanya itu?) (=sungguh aku tidak paham)
لِمَنْ لِمَنْ هَذَا الْقَلَمُ ؟ هَذَا قَلَمُ أَحْمَدِ
(=punya siapa) (=kepunyaan siapa pena ini?) (=ini pena Ahmad)

Buatlah sendiri kalimat-kalimat tanya dari setiap kata-kata tanya di atas!

اِسْم جَامِد
ISIM JAMID

Menurut asal kata dan pembentukannya, Isim terbagi dua:

1. ISIM JAMID ( اِسْم جَامِد ) yaitu Isim yang tidak terbentuk dari kata lain.
2. ISIM MUSYTAQ ( اِسْم مُشْتَق ) yaitu Isim yang dibentuk dari kata lain.

Isim Jamid terbagi dua:

a) ISIM DZAT ( اِسْم ذَات ) atau ISIM JINS ( اِسْم جِنْس )
Contoh: رَجُلٌ (=orang), أَسَدٌ (=singa), نَهْرٌ (=sungai)
b) ISIM MA’NA ( اِسْم مَعْنَى ) atau MASHDAR ( مَصْدَر )
Contoh: عِلْمٌ (=ilmu), عَدْلٌ (=keadilan), شَجَاعَةٌ (=keberanian)

Mashdar adalah Isim yang menunjukkan peristiwa atau kejadian yang tidak disertai dengan penunjukan waktu. Berbeda dengan Fi’il yang terikat dengan waktu, apakah di waktu lampau, sekarang atau akan datang. Contoh:

أُرِيْدُ أَنْ أُصَلِّيْ (= aku ingin shalat) –> أُصَلِّي (= aku shalat) : Fi’il
أُرِيْدُ صَلاَةً (= aku ingin shalat) –> صَلاَةً (= shalat) : Mashdar

Setiap Fi’il memiliki Mashdar. Dengan kata lain, Mashdar adalah bentuk Isim dari sebuah Fi’il. WAZAN (وَزْن) atau Timbangan (pola pembentukan) Mashdar sangat beragam. Perhatikan contoh pembentukan Mashdar di bawah ini:
Wazan Madhy-Mudhari’-Mashdar Tarjamah
فَعْلٌ

نَصَرَ – يَنْصُرُ – نَصْرٌ
= menolong
فِعْلٌ

ذَكَرَ – يَذْكُرُ – ذِكْرٌ
= mengingat, menyebut
فُعَالٌ

بَكَى – يَبْكِيَ – بُكَاءٌ
= menangis
فِعَالٌ

قَامَ – يَقُوْمُ – قِيَامٌ
= berdiri
فُعُوْلٌ

سَجَدَ – يَسْجُدُ – سُجُوْدٌ
= bersujud
إِفْعَالٌ

أَطْعَمَ – يُطْعِمُ – إِطْعَامٌ
= memberi makan
فِعَالَةٌ

زَرَعَ – يَزْرَعُ – زِرَاعَةٌ
= bertani
تَعْفِيْلٌ

عَلَّمَ – يُعَلِّمُ – تَعْلِيْمٌ
= mengajar, memberitahu
تَفْعِلَةٌ

ذَكَّرَ – يُذَكِّرُ – تَذْكِرَةٌ
= mengingatkan

Pahamilah baik-baik nama-nama dan bentuk-bentuk Isim yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

اِسْم مُشْتَق
ISIM MUSYTAQ

Isim Musytaq ialah Isim yang dibentuk dari kata lain dan memiliki makna yang berbeda dari kata pembentuknya. Isim Musytaq itu ada tujuh macam:

1. ISIM FA’IL ( اِسْم فَاعِل ) atau Isim Pelaku (yang melakukan pekerjaan).

Isim Fa’il ada dua wazan (pola pembentukan) yaitu:

a) فَاعِلٌ bila berasal dari Fi’il Tsulatsi (Fi’il yang terdiri dari tiga huruf)
b) مُفْعِلٌ bila berasal dari Fi’il yang lebih dari tiga huruf
Fi’il Isim Fa’il
عَلِمَ – يَعْلَمُ (=mengetahui) عَالِمٌ (=yang mengetahui)
نَامَ – يَنَامُ (=tidur) نَائِمٌ (=yang tidur)
أَكَلَ – يَأْكُلُ (=makan) آكِلٌ (=yang makan)
أَسْلَمَ – يُسْلِمُ (=menyerah) مُسْلِمٌ (=yang menyerah)
أَنْفَقَ – يُنْفِقُ (=berinfak) مُنْفِقٌ (=yang berinfak)
اِسْتَغْفَرَ – يَسْتَغْفِرُ (=mohon ampun) مُسْتَغْفِرٌ (=yang mohon ampun)

Disamping itu dikenal pula istilah bentuk MUBALAGHAH ( مُبَالَغَة ) dari Isim Fa’il yang berfungsi untuk menguatkan atau menyangatkan artinya. Contoh:
Fi’il Isim Fa’il Isim Mubalaghah
عَلِمَ-يَعْلَمُ عَالِمٌ عَلِيْمٌ / عَلاَّمٌ (=yang sangat mengetahui)
غَفَرَ-يَغْفِرُ غَافِرٌ غَفُوْرٌ / غَفَّارٌ (=yang suka mengampuni)
نَامَ-يَنَامُ نَائِمٌ نَئِيْمٌ / نَوَّامٌ (=yang banyak tidur)
أَكَلَ-يَأْكُلُ آكِلٌ أَكِيْلٌ / أَكَّالٌ (=yang banyak makan)

2. SIFAT MUSYABBAHAH ( صِفَة مُشَبَّهَة ) ialah Isim yang menyerupai Isim Fa’il tetapi lebih condong pada arti sifatnya yang tetap. Misalnya:
Fi’il Isim Fa’il Sifat Musyabbahah
فَرِحَ-يَفْرَحُ (=senang) فَارِحٌ فَرِحٌ (=orang senang)
عَمِيَ-يَعْمَى (=buta) عَامِيٌ أَعْمَى (=orang buta)
مَاتَ-يَمُوْتُ (=mati) مَائِتٌ مَيِّتٌ (= orang mati)
جَاعَ-يَجُوْعُ (=lapar) جَائِعٌ جَوْعَانٌ (= orang kelaparan)

3. ISIM MAF’UL ( اِسْم مَفْعُوْل ) yaitu Isim yang dikenai pekerjaan.
Fi’il Isim Maf’ul
غَفَرَ – يَغْفِرُ (=mengampuni) مَغْفُوْرٌ (=yang diampuni)
عَلِمَ – يَعْلَمُ (=mengetahui) مَعْلُوْمٌ (=yang diketahui)
بَاعَ – يَبِيْعُ (=menjual) مَبِيْعٌ (=yang dijual)
قَالَ – يَقُوْلُ (=berkata) مَقَالٌ (=yang diucapkan)

4. ISIM TAFDHIL ( اِسْم تَفْضِيْل ) ialah Isim yang menunjukkan arti “lebih” atau “paling”. Wazan (pola) umum Isim Tafdhil adalah: أَفْعَلُ . Contoh:
Isim Fa’il Isim Mubalaghah Isim Tafdhil
عَالِمٌ عَلِيْمٌ (=sangat mengetahui) أَعْلَمُ (=yang lebih mengetahui)
كَابِرٌ كَبِيْرٌ (=sangat besar) أَكْبَرُ (=yang lebih besar)
قَارِبٌ قَرِيْبٌ (=sangat dekat) أَقْرَبُ (=yang lebih dekat)
فَاضِلٌ فَضِيْلٌ (=sangat utama) أَفْضَلُ (=yang lebih utama)

Disamping itu, terdapat pula bentuk yang sedikit agak berbeda, seperti:
Sifat Musyabbahah Isim Tafdhil
شَدِيْدٌ (=yang sangat) أَشَدُّ (=yang lebih sangat)
حَقِيْقٌ (=yang berhak) أَحَقُّ (=yang lebih berhak)
عَزِيْزٌ (=yang mulia) أَعَزُّ (=yang lebih mulia)

5. ISIM ZAMAN ( اِسْم زَمَان ) yaitu Isim yang menunjukkan waktu dan ISIM MAKAN ( اِسْم مَكَان ) yaitu Isim yang menunjukkan tempat.
Fi’il Isim Zaman/Makan
كَتَبَ / يَكْتُبُ (=menulis) مَكْتَبٌ (=kantor)
لَعِبَ / يَلْعَبُ (=bermain) مَلْعَبٌ (=tempat bermain)
سَجَدَ / يَسْجُدُ (=bersujud) مَسْجِدٌ (=masjid)
وَلَدَ / يَلِدُ (=melahirkan) مَوْلِدٌ (=hari kelahiran)
وَعَدَ / يَعِدُ (=menjanjikan) مَوْعِدٌ (=hari yang dijanjikan)
اِجْتَمَعَ / يَجْتَمِعُ (=berkumpul) مُجْتَمَعٌ (=perkumpulan, pertemuan)

6. ISIM ALAT ( اِسْم آلَة ) yaitu Isim yang menunjukkan alat yang digunakan untuk melakukan suatu Fi’il atau pekerjaan.
Fi’il Isim Alat
فَتَحَ / يَفْتَحُ (=membuka) مِفْتَاحٌ (=kunci)
وَزَنَ / يَزِنُ (=menimbang) مِيْزَانٌ (=timbangan)
جَلَسَ / يَجْلِسُ (=duduk) مَجْلِسٌ (=tempat duduk)
جَهَرَ / يَجْهَرُ (=nyaring) مِجْهَرٌ (=pengeras suara)

Pahamilah baik-baik semua jenis-jenis Isim yang terdapat dalam pelajaran ini serta contoh-contohnya sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

فِعْل مُجَرَّد

FI’IL MUJARRAD

Menurut asal kata dan pembentukannya, Fi’il terbagi dua:
1. FI’IL MUJARRAD ( فِعْل مُجَرَّد ) yaitu fi’il yang semua hurufnya asli.
2. FI’IL MAZID ( فِعْل مَزِيْد ) yaitu fi’il yang mendapat huruf tambahan.

Fi’il Mujarrad pada umumnya terdiri dari tiga huruf sehingga dinamakan pula FI’IL MUJARRAD TSULATSI ( فِعْل مُجَرَّد ثُلاَثِي ) dan mempunyai enam wazan ( وَزْن ) atau timbangan (pola huruf dan harakat) yakni:

1. فَعَلَ – يَفْعُلُ misalnya: نَصَرَ – يَنْصُرُ (=menolong)
2. فَعَلَ – يَفْعِلُ misalnya: جَلَسَ – يَجْلِسُ (=duduk)
3. فَعَلَ – يَفْعَلُ misalnya: فَتَحَ – يَفْتَحُ (=membuka)
4. فَعِلَ – يَفْعَلُ misalnya: عَلِمَ – يَعْلَمُ (=mengetahui)
5. فَعُلَ – يَفْعُلُ misalnya: كَثُرَ – يَكْثُرُ (=menjadi banyak)
6. فَعِلَ – يَفْعِلُ misalnya: حَسِبَ – يَحْسِبُ (=menghitung)

Disamping Fi’il Mujarrad Tsulatsi yang terdiri dari tiga huruf, terdapat pula Fi’il Mujarrad Ruba’i ( فِعْل مُجَرَّد رُبَاعِي ) yang terdiri dari empat huruf. Fi’il Mujarrad Ruba’i ini hanya mempunyai satu wazan yaitu: فَعْلَلَ – يُفَعْلِلُ .
Contoh: تَرْجَمَ – يُتَرْجِمُ (=menerjemahkan), وَسْوَسَ – يُوَسْوِسُ (=membisikkan waswas), زَلْزَلَ – يُزَلْزِلُ (=menggoncang-goncangkan).

Carilah sebanyak-banyaknya contoh-contoh Fi’il Mujarrad Tsulatsi dari al-Quran dan al-Hadits untuk setiap wazan di atas, beserta artinya masing-masing.

فِعْل مَزِيْد
FI’IL MAZID

Fi’il Mazid berasal dari Fi’il Mujarrad yang mendapat tambahan huruf:

1) Fi’il Mazid dengan tambahan satu huruf. Terdiri dari beberapa wazan seperti:

a. أَفْعَلَ – يُفْعِلُ (huruf tambahannya: Hamzah di awal kata)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
دَخَلَ – يَدْخُلُ (=masuk) أَدْخَلَ – يُدْخِلُ (=memasukkan)
خَرَجَ – يَخْرُجُ (=keluar) أَخْرَجَ – يُخْرِجُ (=mengeluarkan)
رَسَلَ – يَرْسُلُ (=lepas) أَرْسَلَ – يُرْسِلُ (=melepas, mengirim)

b. فَعَّلَ – يُفَعِّلُ (huruf tambahannya: huruf tengah yang digandakan/tasydid)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
قَدِمَ – يَقْدِمُ (=datang) قَدَّمَ – يُقَدِّمُ (=mendatangkan)
عَلِمَ – يَعْلَمُ (=mengetahui) عَلَّمَ – يُعَلِّمُ (=mengajar)
نَزَلَ – يَنْزِلُ (=turun) نَزَّلَ – يُنَزِّلُ (=menurunkan)

c. فَاعَلَ – يُفَاعِلُ (huruf tambahannya: Mad Alif setelah huruf pertama)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
قَتَلَ – يَقْتُلُ (=membunuh) قَاتَلَ – يُقَاتِلُ (=berperang)
فَرَقَ – يَفْرَقُ (=memisah) فَارَقَ – يُفَارِقُ (=berpisah)
سَبَقَ – يَسْبِقُ (=mendahului) سَابَقَ – يُسَابِقُ (=berlomba)

2. Fi’il Mazid dengan tambahan dua huruf. Terdiri dari beberapa wazan seperti:

a. اِنْفَعَلَ – يَنْفَعِلُ (huruf tambahannya: Alif dan Nun di awal kata).
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
طَلَقَ – يَطْلِقُ (=menceraikan) اِنْطَلَقَ – يَنْطَلِقُ (=pergi)
فَطَرَ – يَفْطِرُ (=membelah) اِنْفَطَرَ – يَنْفَطِرُ (=terbelah)
قَلَبَ – يَقْلِبُ (=membalik) اِنْقَلَبَ – يَنْقَلِبُ (=terbalik)

b. اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ (huruf tambahannya: Alif di awal dan Ta di tengah)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
جَمَعَ – يَجْمَعُ (=mengumpulkan) اِجْتَمَعَ – يَجْتَمِعُ (=berkumpul)
نَشَرَ – يَنْشُرُ (=menyebarkan) اِنْتَشَرَ – يَنْتَشِرُ (=tersebar)
لَمَسَ – يَلْمِسُ (=meraba) اِلْتَمَسَ – يَلْتَمِسُ (=meraba-raba)

c. اِفْعَلَّ – يَفْعَلُّ (huruf tambahannya: Alif di awal dan huruf ganda di akhir)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
بَيَضَ – يَبِيْضُ (=putih) اِبْيَضَّ – يَبْيَضُّ (=memutih)
حَمُرَ – يَحْمِرُ (=merah) اِحْمَرَّ – يَحْمَرُّ (=memerah)
سَوِدَ – يَسْوِدُ (= hitam) اِسْوَدَّ – يَسْوَدُّ (=menghitam)

d. تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ (huruf tambahan: Ta di awal dan Mad Alif di tengah)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
حَسَدَ – يَحْسُدُ (=dengki) تَحَاسَدَ – يَتَحَاسَدُ (=saling dengki)
عَرَفَ – يَعْرِفُ (=kenal) تَعَارَفَ – يَتَعَارَفُ (=saling kenal)
سَأَلَ – يَسْأَلُ (= bertanya) تَسَائَلَ – يَتَسَائَلُ (=saling bertanya)

e. تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ (huruf tambahannya: Ta di awal dan huruf ganda di tengah)
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
عَلِمَ – يَعْلَمُ (=mengetahui) تَعَلَّمَ – يَتَعَلَّمُ (=belajar)
كَبُرَ – يَكْبِرُ (=besar) تَكَبَّرَ – يَتَكَبَّرُ (=membesarkan diri)
فَكَرَ – يَفْكِرُ (= berfikir) تَفَكَّرَ – يَتَفَكَّرُ (=memusatkan fikiran)

3. Fi’il Mazid dengan tambahan tiga huruf. Wazan yang biasa ditemukan adalah: اِسْتَفْعَلَ – يَسْتَفْعِلُ (huruf tambahannya: Alif, Sin dan Ta di awal kata).
Fi’il Mujarrad Fi’il Mazid
غَفَرَ – يَغْفِرُ (=mengampuni) اِسْتَغْفَرَ – يَسْتَغْفِرُ (=mohon ampun)
قَبِلَ – يَقْبَلُ (=menerima) اِسْتَقْبَلَ – يَسْتَقْبِلُ (=menghadap)
خَرَجَ – يَخْرُجُ (= keluar) اِسْتَخْرَجَ – يَسْتَخْرِجُ (=minta keluar)

Carilah contoh-contoh Fi’il Mazid dari al-Quran dan al-Hadits dan masukkan ke dalam wazan-wazan yang sesuai serta carilah artinya masing-masing.

إِعْرَاب اْلاِسْم
I’RAB ISIM

I’rab ialah perubahan baris/bentuk yang terjadi di belakang sebuah kata sesuai dengan kedudukan kata tersebut dalam susunan kalimat. Pada dasarnya, Isim bisa mengalami tiga macam I’rab yaitu:

1. I’RAB RAFA’ ( رَفْع ) atau Subjek; dengan tanda pokok: Dhammah ( ُ )
2. I’RAB NASHAB ( نَصْب ) atau Objek; dengan tanda pokok: Fathah ( َ )
3. I’RAB JARR ( جَرّ ) atau Keterangan; dengan tanda pokok: Kasrah ( ِ )

Perhatikan contoh dalam kalimat di bawah ini:
جَاءَ الطُّلاَّبُ = datang siswa-siswa
رَأَيْتُ الطُّلاَّبَ = aku melihat siswa-siswa
سَلَّمْتُ عَلَى الطُّلاَّبِ = aku memberi salam kepada siswa-siswa

Isim الطُّلاَّب (=siswa-siswa) pada contoh di atas mengalami tiga macam I’rab:

1) I’rab Rafa’ (Subjek) dengan tanda Dhammah di huruf akhirnya ( الطُّلاَّبُ )
2) I’rab Nashab (Objek) dengan tanda Fathah di huruf akhirnya ( الطُّلاَّبَ )
3) I’rab Jarr (Keterangan) dengan tanda Kasrah di huruf akhirnya ( الطُّلاَّبِ )

Alamat I’rab seperti ini dinamakan Alamat Ashliyyah (عَلاَمَات اْلأَصْلِيَّة) atau tanda-tanda asli (pokok).

Perlu diketahui bahwa tidak semua Isim bisa mengalami I’rab atau perubahan baris/bentuk di akhir kata. Dalam hal ini, Isim terbagi dua:

1) ISIM MU’RAB ( اِسْم مُعْرَب ) yaitu Isim yang bisa mengalami I’rab. Kebanyakan Isim adalah Isim Mu’rab artinya bisa berubah bentuk/baris akhirnya, tergantung kedudukannya dalam kalimat.

2) ISIM MABNI ( اِسْم مَبْنِي ) yaitu Isim yang tidak terkena kaidah-kaidah I’rab. Yang termasuk Isim Mabni adalah: Isim Dhamir (Kata Ganti), Isim Isyarat (Kata Tunjuk), Isim Maushul (Kata Sambung), Isim Istifham (Kata Tanya).

Perhatikan contoh Isim Mabni dalam kalimat-kalimat di bawah ini:
جَاءَ هَؤُلاَءِ = datang (mereka) ini
رَأَيْتُ هَؤُلاَءِ = aku melihat (mereka) ini
سَلَّمْتُ عَلَى هَؤُلاَءِ = aku memberi salam kepada (mereka) ini

Dalam contoh-contoh di atas terlihat bahwa Isim Isyarah هَؤُلاَءِ (=ini) tidak mengalami I’rab atau perubahan baris\bentuk di akhir kata, meskipun kedudukannya dalam kalimat berubah-ubah, baik sebagai Subjek, Objek maupun Keterangan. Isim Isyarah termasuk diantara kelompok Isim Mabni.

Bila anda telah memahami baik-baik tentang pengertian I’rab dan tanda-tanda aslinya, marilah kita melanjutkan pelajaran tentang Isim Mu’rab.

اِسْم مَرْفُوْع

ISIM MARFU’

Isim yang mengalami I’rab Rafa’ dinamakan Isim Marfu’ yang terdiri dari:

1) Mubtada’ (Subjek) dan Khabar (Predikat) pada Jumlah Ismiyyah (Kalimat Nominal). Perhatikan contoh-contoh Jumlah Ismiyyah di bawah ini:
اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ = rumah itu besar
اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ جَمِيْلٌ = rumah itu besar (lagi) indah
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ جَمِيْلٌ = rumah besar itu indah
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ جَمِيْلٌ غَالٌ = rumah besar itu indah (lagi) mahal

Dalam contoh di atas terlihat bahwa semua Isim yang terdapat dalam Jumlah Ismiyyah adalah Marfu’ (mengalami I’rab Rafa’), tandanya adalah Dhammah.

2) Fa’il (Subjek Pelaku) atau Naib al-Fa’il (Pengganti Subjek Pelaku) pada Jumlah Fi’liyyah (Kalimat Verbal). Contoh:
جَاءَ مُحَمَّدٌ = Muhammad datang
يَغْلِبُ عُمَرُ = Umar menang
يُغْلَبُ الْكَافِرُ = orang kafir itu dikalahkan
لُعِنَ الشَّيْطَانُ = syaitan itu dilaknat

مُحَمَّدٌ (=Muhammad) –> Fa’il –> Marfu’ dengan tanda Dhammah
عُمَرُ (=Umar) –> Fa’il –> Marfu’ dengan tanda Dhammah
الْكَافِرُ (=orang kafir) –> Naib al-Fa’il –> Marfu’ dengan tanda Dhammah.
الشَّيْطَانُ (=syaitan) –> Naib al-Fa’il –> Marfu’ dengan tanda Dhammah.

Pahamilah baik-baik semua kaidah-kaidah yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

اِسْم مَنْصُوْب
ISIM MANSHUB

Isim yang terkena I’rab Nashab disebut Isim Manshub. Yang menjadi Isim Manshub adalah semua Isim selain Fa’il atau Naib al-Fa’il dalam Jumlah Fi’liyyah.

1) MAF’UL (مَفْعُوْل) yakni Isim yang dikenai pekerjaan (Objek Penderita).
قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ = Muhammad membaca al-Quran

القُرْآنَ (= al-Quran) –> Maf’ul –> Manshub dengan tanda fathah.

2) MASHDAR ( مَصْدَر ) yakni Isim yang memiliki makna Fi’il dan berfungsi untuk menjelaskan atau menegaskan (menguatkan) arti dari Fi’il.
قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ تَرْتِيْلاً = Muhammad membaca al-Quran dengan tartil (perlahan-lahan)

تَرْتِيْلاً (= perlahan-lahan) –> Mashdar –> Manshub dengan tanda fathah.

3) HAL ( حَال ) ialah Isim yang berfungsi untuk menjelaskan keadaan Fa’il atau Maf’ul ketika berlangsungnya pekerjaan.

قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ خَاشِعًا
= Muhammad membaca al-Quran dengan khusyu’

خَاشِعًا (= orang yang khusyu’) –> Hal –> Manshub dengan tanda fathah.

4) TAMYIZ ( تَمْيِيْز ) ialah Isim yang berfungsi menerangkan maksud dari Fi’il dalam hubungannya dengan keadaan Fa’il atau Maf’ul.

قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ عِبَادَةً
= Muhammad membaca al-Quran sebagai suatu ibadah

عِبَادَةً (= ibadah) –> Tamyiz –> Manshub dengan tanda fathah.

5) ZHARAF ZAMAN (ظَرْف زَمَان) atau Keterangan Waktu dan ZHARAF MAKAN (ظَرْف مَكَان) atau Keterangan Tempat.
قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ لَيْلاً = Muhammad membaca al-Quran pada suatu malam

لَيْلاً (= malam) –> Zharaf Zaman –> Manshub dengan tanda fathah.

Diantara Zharaf Zaman: يَوْمَ (=pada hari), اَلْيَوْمَ (=pada hari ini), لَيْلاً (=pada malam hari), نَهَارًا (=pada siang hari), صَبَاحًا (=pada pagi hari), مَسَاءً (=pada sore hari), غَدًا (=besok), اْلآنَ (=sekarang), dan sebagainya.
Diantara Zharaf Makan: أَمَامَ (=di depan), خَلْفَ (=di belakang), وَرَاءَ (=di balik), فَوْقَ (=di atas), تَحْتَ (=di bawah), عِنْدَ (=di sisi), حَوْلَ (=di sekitar), بَيْنَ (=di antara), جَانِبَ (=di sebelah), dan sebagainya.

6) MUNADA ( مُنَادَى ) atau Seruan (Panggilan).
فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ = Wahai Pencipta langit dan bumi

فَاطِرَ (=Pencipta) –> Munada –> Manshub dengan tanda Fathah

Hafalkanlah istilah-istilah di atas beserta pengertian dan contoh-contohnya masing-masing sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

7) MUSTATSNA (

مُسْتَثْنَى ) atau Perkecualian ialah Isim yang terletak sesudah ISTITSNA (اِسْتِثْنَى ) atau Pengecuali. Contoh:
حَضَرَ الطُّلاَّبُ إِلاَّ زَيْدًا = para siswa telah hadir kecuali Zaid

إِلاَّ (=kecuali) –> Istitsna (Pengecuali).
زَيْدًا (=Zaid) –> Mustatsna (Perkecualian) –> Manshub dengan tanda Fathah

Kata-kata yang biasa menjadi Istitsna antara lain:

إِلاَّ – غَيْرَ – سِوَى – خَلاَ – عَدَا – حِشَا
Semuanya biasa diterjemahkan: kecuali, selain.

Isim yang berkedudukan sebagai Mustatsna tidak selalu harus Manshub. Mustatsna bisa menjadi Marfu’ dalam keadaan sebagai berikut:

a) Bila berada dalam Kalimat Negatif dan Subjek yang dikecualikan darinya disebutkan. Maka Mustatsna boleh Manshub dan boleh Marfu’. Contoh:
مَا قَامَ الطُّلاَّبُ إِلاَّ زَيْدًا = para siswa tidak berdiri kecuali Zaid
مَا قَامَ الطُّلاَّبُ إِلاَّ زَيْدٌ = para siswa tidak berdiri kecuali Zaid

Kalimat di atas adalah Kalimat Negatif (ada kata: tidak) dan disebutkan Subjek yang dikecualikan darinya yaitu الطُّلاَّبُ (=para siswa) maka Mustatsna boleh Manshub dan boleh pula Marfu’ (زَيْدًا atau زَيْدٌ).

b) Bila Mustatsna berada dalam kalimat Negatif dan Subjek yang dikecualikan darinya tidak disebutkan sedangkan Mustatsna itu berkedudukan sebagai Fa’il maka ia harus mengikuti kaidah I’rab yakni menjadi Marfu’. Contoh:
مَا قَامَ إِلاَّ زَيْدٌ = tidak berdiri kecuali Zaid

Mustatsna menjadi Marfu’ karena berkedudukan sebagai Fa’il (زَيْدٌ) dan berada dalam Kalimat Negatif yang tidak disebutkan Subjek yang dikecualikan darinya.

اِسْم مَجْرُوْر
ISIM MAJRUR

Isim yang terkena I’rab Jarr disebut Isim Majrur yang terdiri dari:

1) Isim yang diawali dengan Harf Jarr. Yang termasuk Harf Jarr adalah: بِ (=dengan), لِ (=untuk), فِيْ (=di, dalam), عَلَى (=atas), إِلَى (=ke), مِنْ (=dari), كَـ (=bagai), حَتَّى (=hingga), وَ / تَـ untuk sumpah (=demi …).

Perhatikan contoh-contoh berikut:
أَعُوْذُ بِاللهِ = aku berlindung kepada Allah
أُصَلِّيْ فِي الْمَسْجِدِ = aku shalat di masjid
وَالْعَصْرِ = demi masa!

الله / الْمَسْجِد/ الْعَصْر pada kalimat-kalimat di atas adalah Isim Majrur karena didahului/dimasuki oleh Harf Jarr. Tanda Majrurnya adalah Kasrah.

2) Isim yang berkedudukan sebagai Mudhaf Ilaih. Contoh:

رَسُوْلُ اللهِ (=Rasul Allah) –> رَسُوْلُ [Mudhaf], اللهِ [Mudhaf Ilaih]
أَهْلُ الْكِتَابِ (=ahlul kitab) –> أَهْلُ [Mudhaf], الْكِتَابِ [Mudhaf Ilaih]

Mudhaf Ilaih selalu sebagai Isim Majrur, sedangkan Mudhaf (Isim di depannya) bisa dalam bentuk Marfu’, Manshub maupun Majrur, tergantung kedudukannya dalam kalimat. Perhatikan contoh-contoh kalimat di bawah ini:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ = berkata Rasul Allah
أُحِبُّ رَسُوْلَ اللهِ = saya mencintai Rasul Allah
نُؤْمِنُ بِرَسُوْلِ اللهِ = kami beriman kepada Rasul Allah

Dalam contoh-contoh di atas, Isim رَسُوْل merupakan Mudhaf dan bentuknya bisa Marfu’ (contoh pertama), Manshub (contoh kedua) maupun Majrur (contoh ketiga). Adapun kata الله sebagai Mudhaf Ilaih selalu dalam bentuk Majrur.

3) Termasuk dalam Mudhaf Ilaih adalah Isim yang mengikuti Zharaf.
يَجْلِسُوْنَ أَمَامَ الْبَيْتِ = mereka duduk-duduk di depan rumah
أَقُوْمُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ = aku berdiri di bawah pohon

Dalam contoh di atas, Isim الْبَيْتِ (=rumah) dan Isim الشَّجَرَةِ (=pohon) adalah Isim Majrur dengan tanda Kasrah karena terletak sesudah Zharaf أَمَامَ (=di depan) dan تَحْتَ (=di bawah). Dalam hal ini, kedua Zharaf tersebut merupakan Mudhaf sedang Isim yang mengikutinya merupakan Mudhaf Ilaih.

Hafalkanlah istilah-istilah tata bahasa Arab yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

إِنَّ وَ كَانَ وَ أَخَوَاتُهُمَا

“INNA” DAN “KANA” SERTA “KAWAN-KAWANNYA”

Kata إِنَّ (=sesungguhnya) dan كَانَ (=adalah) serta kawan-kawannya sedikit mengubah kaidah I’rab yang telah kita pelajari sebelumnya sebagai berikut:

1) Bila Harf إِنَّ (=sesungguhnya) atau kawan-kawannya memasuki sebuah Jumlah Ismiyyah ataupun Jumlah Fi’liyyah maka Mubtada’ atau Fa’il yang asalnya Isim Marfu’ akan menjadi Isim Manshub. Perhatikan contoh di bawah ini:
Jumlah tanpa Inna Jumlah dengan Inna
اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ إِنَّ الْبَيْتَ كَبِيْرٌ
(=rumah itu besar) (=sesungguhnya rumah itu besar)
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌ لَكِنَّ اَلْبَيْتَ الْكَبِيْرَ غَالٌ
(=rumah besar itu mahal) (=akan tetapi rumah besar itu mahal)
نَصَرَ اللهُ الْمُؤْمِنَ لَعَلَّ اللهَ يَنْصُرُ الْمُؤْمِنَ
(=Allah menolong mukmin) (=semoga Allah menolong mukmin)

Yang termasuk kawan-kawan إِنَّ antara lain:
أَنَّ (=bahwasanya), كَأَنَّ (=seolah-olah), لَكِنَّ (=akan tetapi), لَعَلَّ (=agar supaya), لَيْتَ (=andaisaja), لاَ (=tidak, tidak ada).

2) Bila Fi’il كَانَ (=adalah) atau kawan-kawannya memasuki sebuah Jumlah Ismiyyah maka Khabar yang asalnya Isim Marfu’ akan menjadi Isim Manshub.
Jumlah tanpa Kana Jumlah dengan Kana

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ

كَانَ الْبَيْتُ كَبِيْرًا
(=rumah itu besar) (=adalah rumah itu besar)

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ جَمِيْلٌ

ظَلَّ الْبَيْتُ كَبِيْرًا جَمِيْلاً
(=rumah itu besar lagi cantik) (=jadilah rumah itu besar lagi cantik)

مُحَمَّدٌ سَعِيْدٌ

مَا زَالَ مُحَمَّدٌ سَعِيْدًا
(=Muhammad bahagia) (=Muhammad senantiasa bahagia)

Adapun yang termasuk kawan-kawan كَانَ (=adalah) antara lain:
أَصْبَحَ / أَضْحَى / ظَلَّ / أَمْسَى / بَاتَ / صَارَ (=menjadi),
مَا زَالَ (=senantiasa), مَا دَامَ (=selama), مَا (=tidak), لَيْسَ (=tidak).

Pahamilah baik-baik semua kaidah-kaidah yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

عَلاَمَات الْفَرْعِيَّة
ALAMAT FAR’IYYAH (TANDA-TANDA CABANG)

Dalam pelajaran-pelajaran yang lalu kita sudah melihat Alamat Ashliyyah atau tanda-tanda asli (pokok) dari I’rab yaitu baris Dhammah untuk I’rab Rafa’, baris Fathah untuk I’rab Nashab, dan baris Kasrah untuk I’rab Jarr.

Diantara bentuk-bentuk Isim, ada yang menggunakan tanda-tanda yang berbeda dari Alamat Ashliyyah untuk menunjukkan I’rab Rafa’, Nashab atau Jarr tersebut, karena bentuknya yang khas, mereka menggunakan Alamat Far’iyyah yaitu:

1) Isim Mutsanna (Kata Benda Dual).
a. I’rab Rafa’ ditandai dengan huruf Alif-Nun ( ان )
b. I’rab Nashab dan I’rab Jarr ditandai dengan huruf Ya-Nun ( ين )
جَاءَ رَجُلاَنِ = datang dua orang lelaki
رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ = aku melihat dua orang lelaki
سَلَّمْتُ عَلَى رَجُلَيْنِ = aku memberi salam kepada dua orang lelaki

2) Isim Jamak Mudzakkar Salim (Kata Benda Jamak Laki-laki Beraturan).
a. I’rab Rafa’ ditandai dengan huruf Wau-Nun ( ون )
b. I’rab Nashab dan I’rab Jarr ditandai dengan huruf Ya-Nun ( ين )
جَاءَ الْمُسْلِمُوْنَ = datang kaum muslimin
رَأَيْتُ الْمُسْلِمِيْنَ = aku melihat kaum muslimin
سَلَّمْتُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ = aku memberi salam kepada kaum muslimin

3) Al-Asma’ al-Khamsah ( اَلأَسْمَاء الْخَمْسَة ) atau “isim-isim yang lima” yakni: أَبٌ (=ayah), أَخٌ (=saudara), حَمٌ (=ipar), ذُوْ (=pemilik) dan فَمٌ (=mulut). Isim-isim ini memiliki perubahan bentuk yang khas sebagai berikut:
a. I’rab Rafa’ ditandai dengan huruf Wau ( و ) di akhirnya
b. I’rab Nashab ditandai dengan huruf Alif ( ا ) di akhirnya
c. I’rab Jarr ditandai dengan huruf Ya ( ي ) di akhirnya
جَاءَ أَبُوْ بَكْرٍ = datang Abubakar
رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ = aku melihat Abubakar
سَلَّمْتُ عَلَى أَبِيْ بَكْرٍ = aku memberi salam kepada Abubakar

Hafalkanlah kelompok-kelompok Isim yang mempunyai tanda-tanda I’rab yang khas ini, sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

Mohon tuliskan..komentar dan testimoni anda..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s